My Original Love

My Original Love
Bab 20 Perasaan Agatha Yang Tak Terkendali



Ryan membantu Agatha berdiri dengan menarik tangan Agatha. Namun ketika tangan Ryan bersentuhan dengan tangan Agatha, jantung Agatha berdebar kencang. Dan raut wajahnya yang memerah seakan canggung ketika harus bersentuhan dengan tangan Ryan.


Tangan Agatha mulai berkeringat. Suasana yang canggung membuat perasaannya tak karuan. Ketika ingin mengucap kata terima kasih yang terucap di mulut, seakan tertahan dengan gugupnya.


"Te...rima kasih," ucap Agatha yang begitu gugup.


"Tak perlu berterima kasih, harusnya aku yang meminta maaf...gara-gara aku kamu terjatuh," ucap Ryan memancarkan senyumnya.


Wajah Agatha semakin memerah, dengan sikap Ryan yang ramah dan lembut terhadap Agatha. Pria lembut dan ramah seperti Ryan adalah pria idaman untuk wanita, begitulah pemikiran Agatha terhadap Ryan.


"Teryata di dunia ini masih ada cowok ramah," batin agatha.


"Hei kenapa bengong lagi?" tanya Ryan sembari melambaikan tangannya ke arah wajah Agatha.


"Oh... i...ya," ucap Agatha terbata-bata.


"Hm, kalau gitu aku permisi pergi dulu... ingat jangan kebanyakan bengong nanti jatuh lagi," ucap Ryan sembari melangkah pergi.


Raut wajah Agatha semakin malu, karena ucapan Ryan tersebut. Namun rasa penasaran siapa sebenarnya Ryan, Agatha menghentikan langkah Ryan dan mulai bertanya, "Hei tunggu! sebenarnya kamu siapa, apa kamu teman Kyra juga?"


"Hah, aku bukan teman Kyra, aku Ryan kakaknya Kyra," ucap Ryan tertawa kecil.


"Oh, aku pikir teman Kyra," ucap Agatha sembari membalikan badannya karena malu.


Agathapun pergi ke arah balkon rumah. Saking malunya, tubuh Agatha seakan merasakan panas, iapun mulai mengipas-ngipas wajahnya dengan tanganya.


"Kenapa jangtungku berdebar kencang sih... sadar Agatha kamu cuma suka sama Davin... jantung berdebar, mungkin karena aku malu," gumam Agatha.


Ketika Agatha sedang mengipas-ngipas, tak sadar Nicko datang dari arah belakang menepuk pundaknya sampai Agatha kaget, "Hei."


"Ya ampun Nicko...dasar nyebelin," ucap Agatha yang terkejut.


"Ya makanya jangan bengong dong beb," ucap Nicko menggoda Agatha.


"Apa sih jijik banget dengernya."


"Lah ko gitu sih, nanti juga kalau udah sayang pasti seneng dengernya," ucap Nicko.


"Terserah kamu...jangan ikutin aku! aku mau pergi ke dapur, bantuin Davin cuci piring," ucap Agatha melangkah pergi.


Agathapun pergi ke arah dapur. Namun pada saat sampai di dapur, Davin sedang menjahili Kyra dengan menempelkan busa di wajahnya dan saling membalas satu sama lain. Davin dan Kyra tampak sangat akrab, membuat hati Agatha sakit karena perasaan cemburu terhadap Kyra dan Davin.


Niat hati ingin tenang. Namun melihat kebersamaan Kyra dan Davin, hati Agatha malah semakin sakit. Agatha hanya terdiam melihat sembari menahan air matanya.


Lalu tiba-tiba Ryan lewat ke arah Dapur mengambil minum di lemari es dan berucap menyindir Agatha yang terdiam melihat Kyra dan Davin dari arah belakang, "Tadi kan aku sudah bilang jangan kebanyakan begong."


Agatha tersadar lalu segera mengambil mangkuk yang sudah di cuci.


"Kyra mangkuknya mau di simpan dimana?" tanya Agatha gugup.


"Simpan saja di rak piring sebelah sana," jawab Kyra.


Namun ketika Agatha hendak akan menyimpan dan merapikan mangkuknya, tiba-tiba mangkuknya terjatuh dan pecah.


"Prang....


"Agatha kenapa bisa pecah gitu sih, hati-hati dong beresinnya... aku sama Kyra yang cuci piring dan beresin semuanya...kamu malah ikut campur" ucap Davin memarahi Agatha.


"Iya maaf," ucap agatha sembari membereskan pecahan belingnya.


Ketika Agatha sedang membereskan pecahan belingnya, Ryan datang ikut membantu. Namun pecahan beling tersebut melukai salah satu jarinya sampai berdarah.


"Eh tanganya terluka, Kyra cepat ambil plaster sama obat merahnya," pinta Ryan.


"Iya kak,"


Lalu ketika Ryan sedang mengobati luka Agatha, dengan refleks air mata Agatha menetes.


Agathapun menangis, bukan menangis karena sakit akibat lukanya. Akan tetapi sakit hati karena Davin memarahinya, di tambah lagi akibat kekesalannya terhadap kedekatan Kyra dan Davin.


"Sttt, jangan menangis bentar lagi juga sembuh ko," ucap Ryan sembari meniup lukanya Agatha.


Perasaan Agathapun merasa tenang.


"Nah sekarang sudah selesai,"


"Terima kasih kak," ucap Agatha.


"Iya, lain kali hati-hati," ucap Ryan sembari mengelus-mengelus kepala Agatha, lalu beranjak pergi.


Rona merah di wajah Agathapun kembali muncul, akibat Ryan yang mengelus kepalanya. Kini perasaan Agatha telah tenang. Lalu setelah selesai mencuci dan membereskan piring, Davin, Kyra, dan Agathapun pergi ke ruang tengah dimana teman-temannya berada.


Saat Davin, Kyra dan Agatha, sampai di ruang tengah. Nicko bertanya kepada Agatha karena raut wajahnya yang nampak sendu.


"Tha kamu kenapa?"


"Ga apa-apa?" jawab Agatha dengan raut wajah yang masih sendu.


"Vin lu apain Agatha sampe ekspresinya kaya gitu," lontar Nicko.


"Lah gue ga ngapain dia, tadi dia mecahin mangkuk lalu tangannya terluka dan dia akhirnya nangis deh," pungkas Davin.


"Lebay banget," celutuk Bella memutar matanya.


Agatha hanya terdiam tanpa berucap. Dan ketika semuanya sedang asyik berbincang, Agatha hanya terdiam berada di tengah-tengah perbincangan. Agatha merasa tak nyaman ketika melihat ekspresi sinis Bella, di tambah Davin yang mengabaikannya.


"Tha kamu kenapa diam saja?" tanya Kyra.


"Kyra masih saja baik sama cewek sombong itu," gumam batin Bella.


Lalu tak lama mereka asyik berbincang, satu persatu mulai pamit untuk pulang. Di mulai dari Bella dan Gio, lalu Davin, Nicko dan Agatha.


"Tante saya pamit pulang, terima kasih atas hidangannya," ucap Gio kepada ibu Kyra.


"Iya hati-hati di jalannya," ucap ibu Kyra.


"Saya juga pamit tante... Gio kamu anter aku pulang ya," ucap Bella.


"Pulang saja sendiri."


"Pokoknya kamu harus anter aku pulang," paksa Bella sembari menggenggam lengan Gio.


"Iya... iya, tapi lepasin tanganku."


"Ok siap bos hehe...


Lalu Davin, Nicko, beserta Agatha ikut pamit pulang. Namun ketika Agatha akan pamit pulang, tiba-tiba ia kebelet ingin buang air.


"Duh... Kyra kamar mandinya sebelah mana ya?" tanya Agatha.


"Disana sebelah Kyri pintu dapur."


"Vin kamu tunggu aku, antar aku pulang ya," ucap Agatha sembari melangkah pergi terburu-buru menuju kamar mandi.


Namun Davin mengabaikan Agatha dan pergi begitu saja tanpa menunggu Agatha.


"Nick lu yang antar Agatha ya," ucap Davin.


"Tanpa di suruhpun, pasti Agatha bakal gue antar pulang."


"Ok kalau gitu, Kyra, tante aku pamit pulang ya,"


"Iya hati-hati di jalannya, ingat jangan ngebut bawa motornya," ucap ibu Kyra.


"Siap tante."


Setelah Davin pergi, lalu Agatha keluar dari kamar mandi. Agatha menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Davin.


"Nik, Davinnya kemana?" tanya Agatha.


"Udah pulang... ayo pulang aku antar sampai rumah," jawab Nicko.


Karena Davin telah pulang duluan, dengan terpaksa Agathapun harus pulang bersama Nicko. Akan tetapi ketika Nicko hendak menyalakan mesin motornya, tiba-tiba ban motor depannya kempes.


"Lah kenapa bannya kempes sih," ucap Nicko resah.


"Gimana sih, kenapa bisa kempes," ucap Agatha kesal.


Lalu ibu Kyra datang menghampiri


"Eh kenapa sama motornya Nicko?" tanya ibu Kyra.


"Ini tante bannya kempes...tante tau ga, tempat tambal ban yang deket daerah sini?"


"Oh itu ada di ujung jalan, dekat toko klontong sana," jawab ibu Kyra.


"Oh... Agatha kamu tunggu dulu disini ya, nanti aku kembali lagi," ucap Nicko bergegas pergi sembari mendorong motornya.


Agathapun menunggu Nicko di kursi balkon bersama Kyra dan ibunya. Namun telah lama Agatha menunggu, Nicko tak kunjung juga kembali.


"Agatha kayanya Nicko masih lama datangnya, kalau gitu mending kamu di antar Ryan saja," ucap ibu Kyra.


"Tapi tante, aku takut ngerepotin kak Ryan,"


"Ga apa-apa, ibu panggil dulu Ryannya," ucap ibu Kyra melangkah pergi menemui Ryan.


Setelah Ibu Kyra memanggil Ryan. Ryanpun keluar dari rumah sembari memakai helm, lalu segera meyalakan motornya.


"Yu naik," ajak Ryan sembari memberikan helm.


Agathapun memakaikan helmnya dan segera menaiki motor Ryan, lalu motorpun melaju.


"Rumahnya dimana," tanya Ryan.


"Di jalan buah batu," jawab Agatha.


Ryanpun mengarahkan motornya ke arah jalan buah batu dimana rumah Agatha berada. Sepanjang jalan perasaan Agatha tak karuan ketika harus di bonceng oleh Ryan. Jantungnya cukup berdebar kencang, Agatha hanya bisa menarik nafas perlahan mengendalikan jantungnya yang berdebar.


Hingga akhirnya motorpun telah sampai di gang menuju rumah Agatha.


"Kak sudah berhenti saja disini," ucap Agatha menepuk pundak Ryan.


Ryanpun lalu menghentikan lajuannya, dan Agathapun segera turun dari motornya.


"Kak makasih ya," ucap Agatha sembari pergi tanpa melepas helmnya.


"Hei tunggu! helmnya belum di lepas," teriak Ryan sembari terseyum mentertawai Agatha.


"Eh iya lupa, maaf," ucap Agatha melepas helm lalu mengembalikannya kepada Ryan.


Saking malunya Agathapun pergi berjalan ke arah rumahnya dengan tergesa-gesa.