My Original Love

My Original Love
Bab 41 Pertarungan Gio Dan Davin



Malam telah tiba, jam telah menunjukan pukul 19.00 malam. Kyra lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Kayaknya udah malem, aku izin pulang sekarang ya," ucap Kyra akan beranjak pergi.


"Biar aku antar ya," ucap Davin yang juga berdiri dari tempat duduknya itu.


Tak mau kalah dari Davin, Gio juga menarwarkan tumpangan untuk sahabatnya itu.


"Biar aku saja yang antar Kyra, lagian rumah Kyra denganku kan dekat," lontar Gio.


"Iya aku di antar sama Gio saja," ucap Kyra.


Tak ingin pujaan hatinya itu di antar oleh saingannya, Davin lalu menarik lengan Kyra, memaksanya untuk di antar olehnya.


"Aku tetap akan ngantar kamu," ucap Davin menarik Kyra ke arah tempat motornya di parkirkan.


"Tapi Vin, mending aku di antar sama Gio saja," ucap Kyra yang berusaha melepaskan genggaman dari Davin.


Gio juga tak ingin kalah dari sainganya itu, ia pun juga menyusul sahabatnya tersebut. Lalu ketika ia ia berhasil menyusul sahabatnya itu, Gio langsung saja menarik sebelah lengan dari sahabatnya dan langsung saja menghentikan langkah Davin.


"Kamu harus pulang bareng sama aku," ucap Gio memegang lengan Kyra.


"Engga! Kyra tetep di antar sama gue," ucap Davin yang juga menarik lengan Kyra.


Adu mulut antara Davin dan Gio kembali terjadi, setelah tadi sore mereka berebut membonceng Kyra kini perebutan tersebut kembali terjadi. Gio dan Davin saling menarik lengan Kyra, tak ada yang mau mengalah di antara mereka. Mereka selalu saja bersikap kekanak-kanak, apabila memperebutkan sang pujaan hatinya. Pria-pria itu terus saja membuat Kyra sangat kesal dengan sikap mereka yang seperti anak kecil itu. Dengan sekuat tenaga, Kyra lalu melepaskan kedua tangannya dari genggaman Gio dan Davin.


"Sudah cukup!" ucap Kyra dengan intonasi nada yang tinggi.


Seketika adu mulut antara Gio dan Davin terhenti. Davin dan Gio cukup syok pada saat Kyra berteriak seakan membentak mereka. Tak biasanya perempuan lembut seperti Kyra bisa mengeraskan suaranya seperti itu. Lalu semua teman-teman Davin keluar dan menghampiri mereka.


"Ada apa? kenapa ribut-ribut sih," ucap Githa heran.


"Pasti ini sebuah pertarungan pttsss," lontar Nicko terseyum menertawakan ketiga orang tersebut.


Karena tak ingin pertarungan tersebut berlanjut, Kyra lalu melangkah pergi tanpa meminta Gio maupun Davin untuk mengantarnya pulang.


"Aku pulang naik Angkot saja," ucap Kyra yang masih kesal terhadap Gio dan Davin.


"Ini udah malem, kamu itu cewek gimana kalau kamu kenapa-napa... mending di antar saja ya," ucap Davin mengejar Kyra.


"Iya gimana kalau kamu kenapa-napa, mending pulang bareng aku," bujuk Gio memegang lengan Kyra.


"Ga perlu! lagian aku bisa jaga diri, jadi kalian ga usah ikutin aku," tegas Kyra menolak tumpangan yang di tawarkan Gio maupun Davin.


Gio dan Davin terdiam setelah Kyra menolak tawaran dari mereka. Raut wajah Kyra tampak marah, karena tak ingin Kyra semakin marah Gio dan Davin akhirnya tak memaksa Kyra untuk menumpangi motor mereka. Kyra lalu pergi ke arah jalan raya, menunggu angkot maupun bis yang lewat. Namun ketika Kyra pergi, diam-diam Gio mengikuti Kyra dari arah belakang. Gio merasa khawatir terhadap sahabatnya itu, oleh sebab itu ia mengikuti Kyra secara diam-diam tanpa di ketahui oleh Kyra.


Lalu ketika Kyra sedang menunggu kendaraan umum, tiba-tiba saja cuaca berubah jadi mendung. kilat mulai bertebaran di langit.


"Kayaknya udah mau hujan... gimana nih, kalau hujan turun sebelum angkot datang," gumam Kyra.


Lalu tiba-tiba saja Nicko datang menghampiri, menawarkan sebuah tumpangan kepada Kyra.


"Kyra, ayo naik! aku antar kamu pulang," ucap Nicko.


"Udah naik saja, lagian aku ga kerepotan ko," ucap Nicko memaksa Kyra untuk menumpangi motornya itu.


"Aku naik bis atau angkot saja deh," ucap Kyra menolak tawaran di berikan Nicko.


"Udah mau hujan nih... kalau kamu nunggu kendaraan umum bisa keburu kehujanan," ucap Nicko yang masih memaksa tawarannya.


"Hm, iya deh," ucap Kyra lalu segera naik ke motor Nicko.


Setelah Kyra di beri tumpangan oleh Nicko, Gio pun akhirnya pergi terlebih dahulu tanpa mengikuti Kyra. Gio lebih merasa tenang jika bukan Davin yang mengantar Kyra. Karena Gio tahu bahwa Nicko tak memiliki perasaan terhadap sahabatnya tersebut. Satu sekolah memang tahu bahwa Nicko menyukai Agatha, karena Nicko selalu terang-terangan menggoda Agatha tanpa tahu malu. Oleh sebab itu Gio pergi tanpa memaksa Kyra lagi untuk pulang bersamanya.


Kyra di antar oleh Nicko, namun pada saat di tengah perjalanan. Nicko berbelok ke arah jalan yang bukan di lalui untuk menuju ke rumah Kyra.


"Nicko kenapa jalan sini... kalau jalan sini, ke rumahku jadi sangat jauh," ucap Kyra heran.


"Tunggu sebentar aku ada urusan dulu... kamu tenang dulu, aku pasti bakal antar kamu pulang," ucap Nicko.


Dengan berat hati, Kyra menuruti Nicko tanpa memaksanya untuk segera mengantarnya pulang. Karena mau bagaimana lagi, Kyra hanya menumpang menaiki motor Nicko.


Tak berselang lama, Nicko berhenti di pinggir trotoar. Dan ketika Nicko menghentikan motornya, tiba-tiba saja Davin datang menghampiri.


"Nah sekarang turun... pindah naik motornya sama Davin," ucap Nicko.


"Oh jadi tadi kamu maksa nawarin tumpangan, pasti di suruh dia," ucap Kyra menunjuk Davin lalu turun dari motor Nicko.


"Iya aku yang suruh... kalau aku ga kayak gini, mungkin kamu ga bakal mau di antar olehku," ucap Davin tersenyum karena rencananya berhasil dengan sempurna tanpa ada gangguan dari sainganya tersebut.


Kyra memang sedikit kesal terhadap Nicko yang tak langsung mengantarnya pulang. Namun mau bagaimana lagi, ia harus sampai ke rumah sebelum hari semakin larut.


Setengah perjalanan telah di lalui oleh Kyra dan Davin. Namun langit yang mendung mulai meneteskan air perlahan. Seketika hujan pun mulai lebat. Karena tak ingin kebasahan, Davin lalu menghentikan motornya untuk berteduh.


"Hujannya besar, kita berteduh dulu," ucap Davin memarkirkan motornya di tempatnya berteduh.


Ketika mereka berteduh, Kyra merasa resah karena ia takut jika di marahi oleh ayahnya. Pikiran Kyra tak fokus, ia terus saja menatap ke arah langit berharap hujan akan segera reda.


"Kenapa hujannya belum juga reda," gumam Kyra menatap ke atas sembari mengelus lenganya karena kedingingan.


Melihat perempuan yang di cintainya itu kedinginan, Davin menggosok kedua tangannya lalu memberikan kehangatan dengan memegang kedua pipi Kyra.


"Gimana hangat kan," ucap Davin menatap wajah Kyra.


Deg...


Jantung keduanya mulai berdegup cukup kencang. keduanya saling menatap, lalu wajah Kyra mulai mengeluarkan rona merah. Tiba-tiba saja tubuh Kyra memanas ketika Davin menatap wajanya itu.


"Akhirnya berhasil, wajah kamu jadi hangat," ucap Davin tersenyum.


Karena merasa malu, Kyra lalu melepaskan tangan Davin dari kedua pipinya itu.