My Original Love

My Original Love
Bab 47 Teringat Denganya



Bella memikirkan tentang permintaan Gio padanya, karena Bella terus mencurigai Kyra yang menyukai Davin.


"Apa kali ini aku harus menjauhkan Kyra dari Davin," gumam Bella dalam batinnya dengan mata yang terus menatap sahabatnya tersebut.


Namun di sisi lain, Bella tak bisa memaksakan perasaan Kyra. Jika memang orang yang berada tepat di hatinya ialah Davin, Bella tak bisa berbuat apapun terkecuali, jika Kyra belum sepenuhnya mencintai Davin. Maka dari itu Gio bisa berkesempatan untuk segera memasuki hati Kyra.


Dalam benak Bella, ia hanya menginginkan kedua sahabatnya bahagia. Dengan siapapun Kyra, Bella akan tetap mendukung sahabatnya tersebut. Begitupun kepada Gio, jika memang Gio akan lebih bahagia bersama Kyra, Bella pun akan menerimanya dengan senang hati. Walaupun masih terganjal dengan hatinya yang belum sepenuhnya merelakan.


Ketika itu Bella mulai menghubungi Gio, karena Bella sudah berjanji untuk membantu hubungan Gio berjalan baik dengan Kyra. Bella pun menghubungi Gio dengan cara mengirimkan pesan kepadanya untuk datang ke rumahnya saat ini.


Lalu tak lama Bella mengirimkan pesan, Gio pun akhirnya datang ke rumah. Gio lalu segera menghampiri Kyra.


"Loh ko ada Gio," ucap Kyra heran menatap sahabatnya tersebut.


"Aku yang hubungi Gio supaya datang ke rumahku... biar kamu bisa pulang di antar oleh Gio," lontar Bella.


"Kenapa kamu suruh dia datang, aku kan jadi repotin dia, lagian aku bisa pulang sendiri," ucap Kyra.


"Aku ga ngerasa di repotin ko, malah aku senang bisa nganter kamu pulang," lontar Gio sembari tersenyum.


"Oh kalau gitu kita pulang sekarang saja, soalnya sudah sore," ajak Kyra kepada sahabatnya tersebut.


Lalu ketika Kyra dan Gio akan hendak pergi, Bella pun mengantarnya sampai depan pintu gerbang. Pada saat Kyra dan Gio akan menaiki motor, seketika Bella menyuruh kedua sahabatnya itu berhenti sejenak.


Bella tiba-tiba saja memeluk Gio sembari membisikan sesuatu di telinganya, "Semangat, semoga berhasil ya."


Tak ingin Kyra menaruh rasa curiga, Bella pun juga memeluk sahabat tersebut.


"Hati-hati ya di jalannya," ucap Bella yang memeluk Kyra.


"Hei, kenapa tiba-tiba meluk kita, kayak yang lagi mau berpisah lama saja...lagian besok di sekolah kita pasti ketemu lagi ko," ucap Kyra yang merasa heran terhadap sahabatnya tersebut.


"Memangnya aku ga boleh meluk kalian hah," ucap Bella.


"Iya boleh lah, tapi aku merasa aneh saja tiba-tiba kamu meluk kita," ucap Kyra yang masih merasa heran.


"Hari ini aku cuma pengen meluk kalian saja... hm kalau gitu, kalian cepet pulang keburu malem," ucap Bella sembari tersenyum seakan menyembunyikan kesedihannya.


"Baiklah kami pulang dulu," ucap Gio menaiki motornya dan segera menyalakan mesin motornya tersebut.


Kyra dan Gio pun mulai pergi, Bella masih terdiam di depan gerbang rumahnya sembari menatap kedua sahabatnya yang perlahan mulai menjauh dari hadapannya tersebut. Ketika Kyra dan Gio sudah tak terlihat dari matanya, Bella pun menghela nafasnya, seakan ia berhasil mengontrol perasaannya di hadapan kedua sahabatnya tersebut. Rasa sedih dan cemburu berhasil Bella sembunyikan dari mereka.


Di tengah perjalan pulangnya, Gio tiba-tiba saja berbelok arah.


"Gio kenapa belok ke arah sini?" tanya Kyra heran.


"Kita ke cafe dulu yu," ucap Gio.


"Mau ngapain ke cafe, kita mending pulang saja," ucap Kyra.


"Aku udah terlanjur jalan ke arah sini, mending kita ke cafe saja, lagian kapan lagi kita bisa pergi berdua kayak gini," paksa Gio kepada sahabatnya itu.


"Ya sudah, tapi ga usah lama-lama, soalnya tadi ibuku menyuruh untuk tidak pulang kemalaman," ucap Kyra menerima ajakan tersebut.


"Baik bos," ucap Gio tersenyum dengan girang karena ajakannya di setujui oleh Kyra. Gio mengajak Kyra cafe hanya ingin menikmati waktu berdua tanpa ada orang yang mengganggunya. Karena mungkin ini awal mula bagi Gio untuk memberikan sebuah kode kepada sahabatnya tersebut.


"Ini kan cafe yang waktu itu aku datangi bersama Davin," gumam Kyra dalam batinnya dengan raut wajah yang menunjukan kesedihan.


"Hei Kyra kamu ga bakal turun," ucap Gio.


Kyra masih saja menatap cafe tersebut tanpa mendengar ucapan dari Gio.


"Kyra ayo turun," ucap Gio mengeraskan suara untuk menyadarkan sahabatnya itu.


"Eh iya ayo," ucap Kyra lalu turun dari motor.


Ketika Kyra dan Gio memasuki cafe tersebut, meja di dalam cafe terisi penuh. Terkecuali satu meja yang berada dekat dengan arah kaca. Meja tersebut semakin membuat Kyra teringat dengan sosok Davin. Meja yang pernah di tempatinya bersama Davin, kini akan di tempatinya kembali.


"Cafenya rame, untung masih ada satu tempat yang kosong," ucap Gio sembari menarik tangan Kyra menuju meja tersebut.


Kyra dan Gio pun terduduk di tempat tersebut, lalu segera memesan minuman dan makanan. Namun ketika makanan dan minuman tersebut tiba, Kyra hanya meminum seteguk dari minuman yang ia pesan. Kyra terus menatap kosong gelasnya sembari memutar sedotan yang berada di gelas tersebut. Kyra tak henti memikirkan Davin yang hingga kini masih belum membalas pesannya. Tak hanya merasa Khawatir saja, ia juga merasa resah dengan hubungannya bersama Davin setelah tadi siang ia mengabaikannya. Kyra merasa resah apabila hubungan baik bersama Davin akan menjadi buruk, apa lagi sewaktu berpapasan dengannya, Davin tampak bersikap dingin.


"Kyra kenapa dari tadi kamu cuma memainkan sedotan dan tidak memakan makananmu," ucap Gio yang merasa heran dengan Kyra yang terus melamun. Namun Kyra masih terdiam dan fokus memutar sedotan tersebut.


"Hei Kyra, hari ini kamu kenapa sih," ucap Gio mengeraskan suara dan merasa kesal dengan sikap Kyra tersebut.


"Eh iya Vin," ucap Kyra kaget yang seketika menyebut nama Davin.


"Vin, maksud kamu Davin... jadi dari tadi kamu ngelamun mikirin Davin," ucap Gio yang semakin kesal.


"Iya ma..af," ucap Kyra terbata-bata setelah terlontar nama Davin di ucapannya.


Gio merasa kesal, ia hanya ingin menikmati waktu berdua bersama dengan pujaan hatinya itu. Namun waktu tersebut sekejap tergores oleh kekesalannya, karena satu kata nama terlontar dari mulut Kyra.


"Gio kita pergi sekarang yuk, kamu antar aku ke rumah Davin," ucap Kyra berdiri dari tempat duduknya lalu menarik lengan Gio.


"Tunggu dulu, kenapa buru-buru," ucap Gio.


"Ayo cepet antar aku rumah Davin," ucap Kyra yang masih menarik lengan Gio.


Gio dan Kyra pun pergi ke meja kasir untuk membayar pesanannya tersebut. Namun ketika Gio akan hendak membayar, tiba-tiba saja Kyra mengeluarkan uang dan membayar semua pesanannya termasuk pesanan Gio.


"Kenapa kamu bayar semuanya, aku ajak kamu kesini untuk traktir kamu bukan untuk di traktir," ucap Gio yang semakin kesal.


"Ga apa-apa, aku yang bayar saja," ucap Kyra.


Setelah itu Gio dan Kyra pun segera beranjak pergi dari cafe tersebut. Namun ketika di perjalanan, Gio menjalankan motornya tanpa melewati ke arah jalan rumah Davin.


"Gio kenapa jalan sini, ini kan arah jalan pulang," ucap Kyra heran.


"Aku memang mau bawa kamu pulang," ucap Gio yang masih merasa kesal.


"Aku kan tadi suruh kamu buat antar aku ke rumah Davin," ucap Kyra yang juga merasa kesal.


"Tadi kan ibumu menyuruh untuk tidak pulang kemalaman," ucap Gio.


"Tapi kan Gio," ucap Kyra resah.


Gio lalu tak berucap dan hanya fokus menjalankan motornya tersebut. Ia merasa kesal dengan Kyra yang terus memikirkan Davin, ia juga merasa kesal dengan Kyra yang membayar semua tagihan makanannya. Waktu berdua yang sudah di bayangkan akan menyenangkan, sekejap berubah menjadi buruk karena ulah Kyra.