My Original Love

My Original Love
Bab 61 Tak Bisa Ku Hindari



Sepulang sekolah Kyra berpapasan dengan Gio tepat saat Kyra akan hendak keluar dari pintu gerbang sekolah. Kecangungan menyelimuti keduanya, beberapa kali Kyra mengalihkan pandangannya dari tatapan Gio.


"Hm, Kyra mau pulang bareng ga?" tanya Gio.


"Pulang naik bis?" tanya balik Kyra bernada gugup.


"Tidak, naik motor bersamaku," ucap Gio yang juga merasa gugup.


"Aku naik bis saja bareng Bella," ucap Kyra menghindari tatapan Gio sembari memainkan jari tangannya karena gugup.


Bella tampak bingung dengan gelagat kedua sahabatnya itu. Tampak asing untuk di pandangnya, selayaknya orang yang baru saling mengenal. Bella berdiam diri memperhatikan Kyra dan Gio yang sedang merasa canggung itu.


"Kalian aneh," gerutu Bella mengerutkan kedua alisnya.


"Aneh gimana," ucap Kyra dengan senyuman yang seakan terpaksa. Kyra lalu menarik lengan Bella menuju halte, "Kita kesana sekarang yuk." ucapnya melangkahkan kaki dengan terburu-buru.


Bella semakin kebingungan dengan sikap Kyra yang tiba-tiba menarik lengannya secara paksa. Bella pun melepaskan lengannya itu dari genggaman sahabatnya. "Ada apa sih? kamu ada masalah dengan Gio?" tanyanya menghentikan langkahnya.


Kyra semakin gugup dan gelisah saja dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu. Kyra menelan salivanya, ia hanya terdiam menatap Bella tanpa berucap.


"Ada masalah dengan Gio? tanya kembali Bella.


"Hm, i...ya, cuma masalah kecil ko," jawab Kyra gugup.


"Sudah saling memaafkan?" tanya Bella menatap lurus mata Kyra.


"Iy~ ucap Kyra yang tiba-tiba terpotong karena kedatangan Ludy.


"Ayo naik aku antar pulang," ajak Ludy menghentikan motornya di hadapan Bella.


Belum usai Bella mendengar penjelasan dari Kyra, dengan terpaksa ia harus mengiyakan ajakan pacarnya itu. Bella pun segera berpamitan dengan sahabatnya tersebut. "Maaf ya aku pulang duluan." ucapnya menaiki motor.


Dan seperti biasa, kali ini Kyra harus pulang sendiri lagi. Setelah Bella memiliki pacar, kini waktu untuk di habiskan bersama mulai berkurang. Kyra berdiam diri di halte menunggu kedatangan bis, ia tampak kesepian seorang diri. Kali ini ia benar-benar kesepian, di tambah hubungannya dengan Gio yang sedang renggang membuatnya gundah.


Tak di sangka ketika ia benar-benar kesepian, sesosok pria yang dicintai datang. Ia datang sembari menyodorkan sekotak coklat dengan senyuman yang terpampang jelas di wajah tampannya itu.


"Coklat manis untuk perempuanku yang paling manis," ucap Davin.


Rasa bahagia jelas terasa pada benak Kyra, kehadirannya membuat kesepian yang di rasa telah sirna seketika. Namun rasa bahagia tersebut harus pudar, ketika kalimat yang di ucapkan Gio kemarin terlintas dalam pikirannya. Tanpa mengambil coklat yang di berikan Davin, Kyra malah memundurkan langkah kakinya. Dua langkah ia berjalan menjauhkan tubuhnya dari sosok pria yang sangat dicintainya itu. Kyra merasa kebingungan untuk menghadapi Davin, isi pikirannya terus terlintas kata menghindar. Kyra hanya berdiam diri menatapnya tanpa berucap. Apa yang harus di lakukannya, ketika kejujuran membuatnya takut akan rasa kecewa yang terjadi pada diri Davin.


Sementara Davin tampak heran dan juga merasa bingung dengan sikap Kyra yang sejak tadi pagi hingga saat ini terus menghindarinya. Davin lalu memegang tanga Kyra, "Kenapa dari tadi kamu terus menghindariku?"


Kyra mengalihkan pandanganya dari tatapan Davin, entah apa yang harus di jelaskannya. Resah untuk memintanya berhenti mengharapkanya, ketika rasa cinta yang di rasa terus mengalahkan segalanya.


"Aku bukan menghindarimu, setelah ulangan berlangsung aku merasa banyak beban di dalam pikiranku. Kuharap kamu mengerti," ucap Kyra melepaskan tangan Davin.


"Kalau begitu hari ini aku antar kamu pulang ya," pinta Davin.


"Tidak perlu! aku akan naik bis saja," ucap Kyra melepas genggaman Davin dari tangannya.


Namun sayangnya sebelum Davin kembali, Kyra malah terburu-buru memasuki bis. Saat kembali dari parkiran, Davin segera mengikuti Kyra dari arah belakang. Davin memang berniat mengantar Kyra, ya walaupun hanya sekedar mengikutinya dari arah belakang. Itu pun bisa memastikan wanita yang di cintainya bisa pulang dengan selamat.


Davin memacu cepat sepeda motornya, agar menyamakan lajuannya dengan bis tersebut. Saat sepeda motornya sudah berada di samping bis, Davin menatap Kyra yang sedang terduduk dengan kepala yang menyeder ke jendela bis. Raut wajahnya nampak sedih, tatapannya kosong menatap ke arah depan. Sampai ia tak sadar bahwa Davin sedang mengikutinya dari arah samping bis yang di tumpanginya itu.


Perlahan kedua matanya mulai berlinang air dan menetes membasahi kedua pipinya. Rasa khawatir mulai terasa pada diri Davin. Ia lalu menyalakan klakson motornya sembari berteriak memanggil nama perempuan yang sedang menangis itu.


"Kyra... Kyra...


Kyra pun mulai tersadar dengan teriakan yang memanggil namanya. Kyra segera menyeka air mata yang membasahi tiap pipinya, kemudian ia menegok ke arah suara itu berasal.


"Kenapa dia ngikutin sih," gerutu Kyra dengan mata sembabnya.


Kegelisahan mulai terjadi pada diri Kyra, bagaimana bisa ia menghindarinya jika Davin terus saja mengejarnya. Bagaimana ia bisa menghapus perasaannya ketika Davin terus saja muncul di dekatnya. Ia berharap bahwa bis akan segera sampai di halte tempat biasa ia turun untuk pulang ke rumahnya.


***


15 menit telah berlalu, bis telah sampai di tempat tujuan, Kyra terburu-buru turun dari bis tersebut. Pada saat ia turun dari bis, sebisa mungkin ia berlari untuk menghindari Davin. Namun lariannya tak sekencang mesin motor, hingga ia bisa terkejar oleh Davin.


Davin turun dari motornya, kemudian menarik Kyra mendekatkan tubuhnya dan sekuat mungkin memeluknya. "Kamu ga apa-apa kan," ucapnya dengan penuh kecemasan.


"Lepaskan aku," ucap Kyra yang berusaha keras melepaskan tubuhnya dari pelukan Davin. Namun pelukannya terlalu erat dan kuat, hingga ia tak bisa melepasnya. Tubuh Kyra mulai melemas, dengan terpaksa ia tak lagi melawan untuk melepaskan pelukan pria yang dicintainya itu.


Dalam pelukannya Kyra merasa nyaman seakan beban yang dirasa sekejap telah sirna. Ia tak bisa berkata-kata, namun matanya memberi respon. Tiap sudut matanya mulai menetesi air dan membanjiri kedua pipinya.


Sangat sial, ketika mereka masih berpelukan tiba-tiba saja dari jauh Gio muncul tepat di belakang Davin berdiri. Dengan sekuat tenaga Kyra langsung mendorong tubuh Davin hingga terjatuh.


"Aku butuh waktu sendiri, kenapa kamu malah ngikutin aku," bentak Kyra.


Davin terbangun dan langsung memegang lengan Kyra, "Apa aku berbuat salah? hingga dari tadi kamu terus menghindariku," ucapnya dengan penuh kecemasan.


"Iya kamu berbuat salah padaku," tegas Kyra dengan tatapannya yang tajam.


"Jika aku salah, aku minta maaf. Tapi janganlah kamu menghindariku, kumohon jangan pernah jauhi aku," ucap Davin dengan tangan yang masih menggenggam lengan Kyra.


"Lepaskan aku!" bentak kembali Kyra.


Gio menghampiri Davin dan Kyra, lalu dengan paksa ia melespakan tangan Davin dari lengan sahabatnya tersebut. "Dia bilang lepaskan! kamu tuli ya."


"Ga usah ikut campur," tegas Davin menatap tajam Gio.


Gio lalu menarik kerah baju Davin dengan raut wajahnya yang penuh amarah. Suasana yang semakin memanas membuat Kyra semakin gelisah dan ketakutan. Kyra segera melerai pertengkaran, dan dengan paksa ia melepaskan tangan Gio dari kerah baju Davin.


"Sudah cukup! kamu Davin, cepat pergi dari sini, dan kamu juga Gio pergi," tegas Kyra.


Tanpa berucap keduanya pun pergi dari hadapan Kyra dengan raut wajah yang masih memancarkan amarah.