
Bersitegang antara Davin dan Gio semakin memanas saja. Gio memegang lengan Kyra, ketika Kyra hendak menyuapi Davin. "Punya tangan kan, makan saja sendiri!" tegas Gio.
Tindakan Gio membuat Davin semakin naik pitam, rasanya ia ingin sekali memukul wajah pria yang jadi sainganya itu. Namun Davin hanya bisa menahan kekesalannya dengan mengepalkan telapak tangannya di atas meja. Davin menatap tajam Gio selayaknya orang marah, namun kemarahan yang dirasakannya sulit terucapkan saat Kyra berada di dekatnya. Davin hanya ingin menghargai Kyra, oleh sebab itu ia menahan amarahnya tanpa diluapkan. Andai saja Gio bukan sahabat Kyra, mungkin Davin sudah memukuli Gio tanpa harus berpikir panjang. Tingkah laku Gio memang sangat menyebalkan, kedatangannya sangat mengganggu dan membuat Davin kesal saja.
Seketika keadaan menjadi sangat hening, untuk mengalihkan rasa kesalnya, sebisa mungkin Davin terus memfokuskan diri membaca buku. Sementara Gio hanya terdiam duduk sembari mengawasi Kyra dan Davin yang tengah sibuk membaca buku. Keadaan ini memang sedikit membuat Kyra tak nyaman, apa lagi melihat ekspresi dari raut wajah Davin yang tampak kesal.
Sembari memegang buku, Kyra mulai memikirkan sebuah ide untuk mencairkan suasana yang menegangkan ini. Dan satu hal yang terlintas dalam pikirannya hanya kembali membuka kotak makanan yang dibawa oleh Davin. Kyra mengambil sandwich yang berada di kotak makan tersebut. Secara tiba-tiba Kyra memasukan Sandwich tersebut ke mulut Davin.
"Hei, dia kan punya tang~ ucap Gio yang terpotong karena Kyra memasukan sandwich ke mulutnya.
Seketika Kyra pun menertawai Gio dan Davin, karena mulut mereka yang di penuhi oleh sandwich.
"Kalian kan belum makan siang, kenapa malah diam saja di saat perut kalian merasa lapar." lontar Kyra.
"Tapi ga gini juga kali, aku sampai kaget karena suapan kamu sangat memaksa," ucap Davin sembari menguyah.
"Hehe... iya maaf," ucap Kyra mengacungkan dua jarinya.
ketika Gio dan Davin belum usai menelan habis sandwich tersebut, tiba-tiba saja bel berbunyi.
"Teng...teng...
"Udah bunyi, kalau gitu aku ke kelas sekarang," ucap Kyra berdiri dari tempat duduknya.
Davin memegang lengan Kyra dan menghentikan langkahnya, "tunggu! kamu belum makan siang, kamu bawa saja sandwichnya," ucapnya menyodorkan kotak makanan dan sebotol minuman yang di bawanya.
Tak hanya Davin saja yang menawarkan makanan kepada Kyra. Gio pun juga tak membiarkan wanita yang disukainya merasa lapar saat nanti pembelajaran berlangsung.
"Iya tunggu jangan dulu pergi, aku bakal beli makanan ke kantin."
"Tidak perlu, sandwich yang tadi pagi di beri Davin belum ku makan," ucap Kyra lalu mengambil air minum yang di sodorkan Davin. "Aku cuma butuh air minumnya," lalu melangkah pergi.
...****************...
Ketika jam sekolah telah usai, Kyra seperti biasa menunggu bis di halte. Namun kali ini ia menunggu bis sendiri tanpa Bella, karena sahabatnya tersebut sudah pulang terlebih dahulu bersama dengan pacar barunya. Sedikit kesepian, karena tak biasanya Kyra pulang sendiri tanpa di temani oleh Bella.
"Dasar Bella kalau sudah punya pacar lupa sama sahabatnya," gumam Kyra dalam batinnya
Lalu tiba-tiba saja Gio menghampiri Kyra, namun Gio menghampirinya tanpa membawa motor.
"Pulang bareng yuk," ucap Gio.
"Loh ko kemana motornya?" tanya Kyra heran.
"Tadi pagi motorku mogok, dan ke sekolah pun aku harus naik kendaraan umum. Jadi hari ini aku pulang dan pergi naik bis hehe," ucap Gio menggaruk kepalanya.
Tak lama mereka menunggu, bis pun datang. Kyra dan Gio segera bergegas menaiki bis tersebut. Ketika bis melaju dari arah belakang Davin tampak memanggil Kyra. Namun Kyra tak menyadari hal itu, hanya Gio lah yang menyadari bahwa Davin sedang memanggil sahabatnya tersebut. Gio lalu segera mengalihkan perhatian Kyra dengan mengajaknya mengobrol, agar ia semakin tak menyadari bahwa Davin sedang memanggilnya.
Beberapa kali Davin memanggil, namun Kyra tak sedikit pun menengoknya. Mungkin karena suara bising dari mesin bis dan juga ia sedang fokus mengobrol dengan sahabatnya. Sehingga teriakan Davin tak dapat di dengarnya.
"Apa suaraku kurang kencang ya," gerutu Davin.
Tak berselang lama bis melaju, akhirnya bis sampai di tempat tujuan. Kyra dan Gio segera turun dari bis tersebut. Namun dalam perjalanan pulangnya, Gio tampak gelisah dan ia hanya terdiam tak berucap. Tiap kali ia menghela nafasnya seakan ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Kyra pun merasa heran dengan gelagat Gio tersebut. Kyra menghentikan langkahnya, "Kamu ada masalah?"
"Hm... engga, sebenarnya aku mau bicara serius sih sama kamu," ucap Gio bernada gugup.
"Ya sudah bicara saja sekarang," ucap Kyra heran.
"Tapi bukan disini, gimana kalau kita duduk disana," ucap Gio menunjuk ke arah tempat duduk di taman bermain yang berada di sampingnya.
"Baiklah," ucap Kyra melangkah ke arah tempat duduk tersebut.
Kyra pun juga merasa gelisah, entah apa yang akan di ucapkan oleh Gio padanya. Kyra hanya merasa perasaannya sedikit tak enak.
"Pembicaraan serius apa yang akan di bicarakan Gio," gumam Kyra dalam batinnya.
Kyra dan Gio pun duduk di bangku taman. Gio masih saja tampak gelisah, tanganya bergetar dan beberapa kali ia menghela nafasnya. Kyra hanya terdiam menatapnya dengan alis yang mengerut.
"Ada apa sih? memangnya kamu mau ngomong apa, kenapa sampai gugup gitu?" tanya Kyra penasaran.
Seketika Gio memegang tangan Kyra, namun tanganya masih saja bergetar dan ketika bersentuhan pun tanganya mengeluarkan sebuah keringat dingin. Kyra sedikit terkejut ketika sahabatnya itu secara tiba-tiba memegang erat tanganya.
"Kenapa sih, ko malah peggang aku ya?" tanya Kyra heran.
Gio menelan salivanya lalu menatap mata Kyra dan perlahan mulai mengeluarkan suaranya. "Hm, sebenarnya aku suka kamu sejak lama."
Kyra tersenyum dengan peryataan Gio, pernyataan yang di lontarkannya memang tak membuat Kyra percaya. "Aku juga suka sama kamu, karena kamu sahabatku," ucap Kyra yang juga menatap mata Gio.
"Aku suka sama kamu bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai lawan jenis... aku mau kita memiliki hubungan lebih," ucap Gio dengan tatapan serius.
Sontak Kyra terkejut setelah mendengarkan pernyataan Gio padanya. Kyra mengalihkan padangnya, ia masih saja merasa tak percaya dengan ucapan Gio tersebut. Yang di pikirkannya hanyalah sebuah mimpi atau pun mungkin ada yang salah dengan pendengarannya.
"Aku serius! aku suka sama kamu, bukan suka lagi tapi mungkin ini cinta," tegas Gio.
"Tapi... maaf Gio aku ga punya perasaan lebih sama kamu, aku cuma anggap kamu sebagai sahabat dan mungkin seterusnya kita akan jadi sahabat," Kyra melepaskan genggaman Gio.
Raut wajah Gio berubah jadi murung, ia lalu menundukan kepalanya.
"Hm, baiklah... apa kamu sedang menyukai seseorang?" tanya Gio.
Kini giliran Kyra yang merasa gugup dan gelisah dengan pertanyaan yang di lontarkan Gio padanya.
"Hm... iya aku sedang menyukai seseorang," jawab Kyra mengigit bibir bawahnya.
"Kamu bisa menghargai perasaanku kan," ucap Gio dengan kepala yang masih tertunduk.
"Maksud kamu apa Gio?" tanya balik Kyra.
"Kamu boleh menyukai orang itu asal jangan memiliki hubungan dengan orang yang aku kenal terutama di sekolah. Kalau sampai kamu berpacaran dengan orang yang ku kenal, hubungan persahabatan kita berakhir," tegas Gio.