
Sepulang Sekolah, Davin mengirimkan sebuah pesan pada Kyra. "Aku tunggu di perempatan jalan, kita pulang bareng."
Setelah pesan di terima, Kyra bergegas menemui Davin. Namun sayangnya, ketika ia akan hendak menghampiri Davin, Gio malah datang menghampirinya.
"Mau pulang sekarang kan? ayo naik, aku antar kamu pulang," ucap Gio.
"Hm, aku ga bakal pulang sekarang. Mending kamu pulang saja duluan," ucap Kyra yang seketika gugup.
"Mau kemana dulu, biar aku temenin."
"Ga usah!! aku sendiri saja, mending kamu pulang duluan," ucap Kyra dengan mata yang terus tertuju menatap Davin dari kejauhan.
"Ini udah sore, aku temenin kamu ya," ucap Gio.
"Ga usah, kamu pulang duluan saja."
Pandangan Kyra terus tertuju ke arah Davin. Ia merasa tak enak dengan Davin yang sedari tadi menunggunya. Gio merasa heran dengan sikap Kyra yang tak fokus ketika berbicara dengannya. Gio pun melirik ke arah Kyra menatap.
"Oh jadi kamu mau menemuinya. Ayo aku temenin. Selesai menemuinya, kamu pulang bareng aku," ucap Gio yang seketika menarik lengan Kyra ke arah tempat Davin berada.
"Engga perlu kesana, kita pulang sekarang saja," ucap Kyra melepas paksa lengannya.
Kyra pun terpaksa harus pulang bersama Gio tanpa pamit terlebih dahulu kepada Davin. Hanya lewat pesanlah Kyra memberitahu Davin, bahwa saat ini ia tak bisa pulang bersama. Hubungan yang terjalin secara tersembunyi ini, membuat Kyra dan Davin tak bebas untuk bersama. Jangankan bersama, bertemu saja sangat sulit.
Sesampainya Kyra di depan rumah, tiba-tiba saja Gio menggenggam lengan Kyra. Gio tampak gugup ketika ia akan mengucapkan sebuah kata.
"Ada apa Yo?" tanya Kyra.
"Hm, ada yang perlu aku bicarakan," jawab Gio bernada gugup.
"Ya sudah, kamu bicara saja sekarang."
"Kalau bicara disini ga nyamam, mending kita pergi kesana," ucap Gio menunjuk ke arah taman bermain yang berada di sekitar komplek.
Sesampainya di taman bermain, Gio bergegas pergi ke mini market.
"Tunggu sebentar, aku ke mini market dulu," ucap Gio berlari arah mini market.
Seusai Gio kembali dari mini market, ia membawa kantong kresek yang berisi dua es krim. Gio memberikan satu es krimnya kepada Kyra. "Nih buat kamu."
"Makasih ya Gio," ucap Kyra tersenyum sembari mengambil es krim yang di berikan Gio.
Gio lalu duduk di ayunan, kemudian ia membuka es krim yang terbungkus rapat oleh kemasan. Namun, ia tampak gugup, beberapa kali ia menghela nafasnya yang berat akibat kegugupannya .
"Kyra," panggil Gio yang tak berani menatap sahabatnya tersebut.
"Iya Apa Yo," sahut Kyra yang tak berhenti menyatap es krim.
Gio masih saja tak berani menatap Kyra, matanya hanya fokus menatap ke arah bawah.
"Kyra aku mau minta maaf. Karena belakangan ini aku menjauhimu. aku tak berniat menjauhimu, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan hatiku. Aku berharap, kita bisa berhubungan seperti dulu lagi tanpa rasa canggung," ucap Gio menatap pilu sahabatnya.
"Kamu tak perlu minta maaf yo, aku juga bisa mengerti dengan perasaamu. Awalnya aku juga merasa kaget dengan pernyataanmu padaku. Aku juga sempat menjauh dan merasa canggung denganmu. Jadi, kamu tak perlu menyesal karena sudah jujur dengan perasaanmu. Aku hanya berharap, bahwa rasa sukamu hanya sebatas sahabat saja," ucap Kyra tersenyum menatap Gio.
Setelah Gio mengeluarkan beban di hatinya, akhirnya Gio merasa lega. Kini ia berani untuk menatap sahabatnya itu. Namun, pada saat ia menatap sahabatnya, tiba-tiba saja ia tertawa melihat sahabatnya yang tampak belepotan memakan es krim.
"Dasar bocah, udah gede masih saja belepotan," ucap Gio menyeka es krim yang menempel di sudut bibir Kyra.
Ketika Gio sedang menyeka sudut bibir Kyra. Tiba-tiba saja, suara tancapan gas dari mesin motor terdengar dari arah samping jalan yang berada di taman bermain. Seketika Kyra pun melirik ke arah tersebut. Namun, di saat Kyra melirik si pengendara motor tersebut. Tiba-tiba saja si pengendara tersebut melajukan motornya.
"Davin? kenapa kamu menyebut namanya? tanya Gio heran.
"Hm, bu...kan apa-apa," ucap Kyra bernada gugup. Seketika Kyra berdiri dari ayunan, "Aku pulang sekarang ya," ucapnya terburu-buru melangkahkan kaki.
Kyra pergi ke arah jalanan, menatap ke arah Davin pergi dengan motornya. Berharap Davin tak pergi terlalu jauh. Namun, ketika ia sedang mencari, Davin sudah tak ada. Kyra pun segera pulang ke rumah dengan perasaannya yang terasa kalut.
"Davin pasti mengerti, karena dia tau kalau Gio sahabatku. Tapi, kenapa perasaanku tidak enak," gumam Kyra ketika memasuki kamarnya.
Kyra mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mencoba menghubungi Davin. Beberapa kali Kyra menghubunginya, namun Davin tak kunjung juga mengangkat teleponnya.
"Davin pasti masih di jalan," ucap Kyra yang tampak gelisah.
Kyra mencoba menunggu beberapa menit untuk kembali menelpon pacarnya itu. Setelah 30 menit berlalu, Kyra kembali menghubungi Davin. Namun, sayangnya Davin tak kunjung juga menjawab telepon darinya.
Karena Davin tak menjawab teleponnya. Kyra pun mencoba menghubungi nomer telepon rumah Davin, yang ia minta nomernya dari teman dekat Davin.
Ketika ia menelpon, akhirnya ada juga yang mengangkat teleponnya. Namun, bukan suara Davin yang terdengar. Melainkan suara bu Rere, asisten rumah tangga di rumah Davin.
"Hallo."
"Iya hallo."
"Bu Davinnya ada?" tanya Kyra yang masih merasa gelisah.
"Ada, maaf ini siapa ya? tanya balik bu Rere.
"Ini sama Kyra bu, bisa tolong panggil Davinnya," ucap Kyra.
"Baik, tunggu sebentar ya."
Tak berselang lama Kyra menunggu, namun suara dari telepon itu masih saja suara bu Rere.
"Maaf neng. Kata Davin, dia lagi ga mau bicara dulu, katanya dia lelah."
"Oh iya ga apa-apa," ucap Kyra menutup telepon dengan ekspresi sedih.
Kyra menghela nafasnya, isi kepalanya hanya di penuhi bayangan Davin yang tampak marah padanya.
"Dia pasti marah. Sekarang aku harus ke rumahnya dan meminta penjelasan darinya, kenapa dia tidak mau berbicara denganku," ucap Kyra, lalu segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Davin.
Namun, ketika ia akan hendak membuka pintu rumahnya. Ia berpikir bahwa ia pergi dengan tangan kosong. Kyra pun pergi ke arah Dapur untuk memasak sesuatu. Saat Kyra membuka lemari es, Kyra tampak kebingungan dengan masakan yang akan di buatnya. Sementara, ia sama sekali tak bisa memasak.
"Masak apa ya, aku sama sekali ga bisa masak... ah sudahlah masak nasi goreng saja yang gampang," ucapnya sembari mengambil beberapa bahan untuk memasak nasi goreng.
Kyra mulai memasak bahan makanan tersebut. Ketika ia usai memasak, tiba-tiba saja Anna menghampiri putrinya itu.
"Nasi goreng buat siapa?"
"Hm, buat temenku," ucap Kyra sembari memasukan nasi goreng tersebut ke dalam tempat makan.
"Mau ketemu temen sekarang?" tanya kembali Anna.
"Iya bu."
"Oh, kalau gitu nanti pulangnya jangan terlalu malem."
"Siap bu. Kalau gitu Kyra pergi sekarang ya bu," pamit Kyra sembari melangkahkan kakinya.