My Original Love

My Original Love
Bab 52 Pendengar Yang Baik



ketika Kyra memasuki mobil, entah kemana Davin akan membawanya pergi. Masih dengan tampilan yang sama, Davin mengendarai mobil tanpa menggunakan alas kaki apapun. Ya mungkin, karena terburu-buru menyusul perempuan yang di cintainya itu, sampai ia lupa memakai sandal maupun sepatu.


"Vin kamu kenapa tidak memakai sendal?" tanya Kyra yang sedari tadi penasaran dengan kaki polos Davin.


"Tadi aku lupa pakai sendal, kamu sih pergi buru-buru jadi aku lupa," ucap Davin sembari memegang setir mobil dengan mata yang fokus menatap ke arah depan.


Ketika di ujung jalan terdapat sebuah mini market, seketika Kyra pun meminta Davin untuk menghentikan mobilnya.


"Vin berhenti dulu, aku mau ke mini market dulu."


Atas permintaan pujaan hatinya itu, Davin pun menghentikan lajuannya dan segera memarkirkan mobilnya di depan mini market tersebut.


"Tunggu sebentar, aku masuk kesana dulu," ucap Kyra membuka pintu mobil dan segera memasuki mini market tersebut.


Ketika Kyra memasuki mini market, Kyra mengambil sepasang sandal jepit yang di gantung di salah satu rak gondola. Maksud Kyra datang ke mini market, ternyata hanya untuk membeli sandal jepit untuk pria yang di cintainya tersebut. Setelah ia selesai membeli sandal, Kyra pun segera keluar dari mini market tersebut. Namun ketika ia hendak membuka pintu, nampak Davin sendang berdiri menunggu Kyra di depan mobil yang di bawanya tersebut.


"Apa dia ga malu, keluar dari mobil tanpa sendal," gumam Kyra tersenyum menatap Davin yang sedang berdiri menyender di depan mobil tanpa menggunakan alas kaki.


Ketika Kyra keluar dari mini market tersebut, Davin mengangkat tanganya lalu melambaikannya ke arah Kyra sembari tersenyum. Seketika Kyra pun tertawa kecil atas sikap Davin yang nampak konyol tersebut.


"Dasar konyol, untung saja senyuman manis," guman Kyra dalam benaknya sembari tersenyum.


Kyra pun segera menghampiri pria konyol yang sangat ia cintai itu.


"Nih pakai sandalnya," ucap Kyra menyodorkan kantong kresek yang berisi sandal jepit tersebut.


"Kamu ke mini market cuma beli sendal buat aku," ucap Davin ketika membuka isi kantong kresek tersebut, lalu segera memakai sandal yang di beli oleh Kyra itu.


Selesai Davin memakai sandal, tiba-tiba saja seorang anak laki-laki menghampiri Davin sembari memeluknya. Anak laki-laki tersebut berkisaran umur 5 tahun dan wajahnya sekilas mirip dengan Davin. Raut wajahnya nampak bersedih ketika memeluk pria yang di cintai oleh Kyra tersebut.


"Kak Davin mau pergi kemana? Fajar kan baru ketemu kakak, Fajar kangen main sama kakak," ucap anak kecil tersebut sembari menangis.


Tak jauh dari Kyra dan Davin berdiri, nampak ibu sambung Davin yang bernama Maudy sedang memperhatikan kedua anak laki-laki tersebut. Seketika Davin pun melepaskan pelukan anak kecil yang bernama Fajar tersebut.


"Fajar hari ini kakak ga bisa main dulu sama kamu, sekarang fajar mainnya sama mama fajar dulu ya," ucap Davin berjongkok di hadapan anak kecil tersebut. Lalu segera menarik lengan Kyra dan membukakan pintu mobil tersebut untuk Kyra.


Ketika mobil yang di kendarai Davin mulai melaju, seketika Fajar menangis cukup kencang sembari memanggil Davin.


"Vin dia nangis loh," ucap Kyra cemas ketika melihat fajar yang menangis dengan cukup kencang.


"Sudahlah jangan pedulikan dia, dia sudah ada mamanya yang urus," ucap Davin fokus menyetir dengan raut wajahnya yang juga nampak sedih ketika ia meninggalkan Fajar begitu saja.


Melihat raut wajah Davin yang nampak sedih, Kyra pun lalu memegang tangan sebelah kiri Davin untuk mencoba menenangkan Davin yang nampak bersedih itu.


"Eh kenapa pegang tanganku... kamu mulai genit ya Kyra," ucap Davin tersenyum ketika salah satu tangannya di pegang oleh perempuan yang di cintainya tersebut.


"Oh kalau begitu, kita pegangan sampai kita berhenti di tempat tujuan," ucap Davin memegang erat tangan Kyra sembari menyetir dengan tangan kanannya.


Seketika Kyra pun memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil di sebelah kirinya. Lalu tersenyum seakan ia merasa senang ketika Davin memintanya untuk berpegangan tangan sampai mobilnya berhenti melaju.


Kini jantung keduanya berdebar cukup kencang seakan memberi tanda bahwa mereka sangat bahagia namun juga merasa tegang ketika sepasang tangan saling berpegang erat.


Tak lama mobil melaju, seketika Davin menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang cukup tinggi dengan pemandangan yang tampak memukau. Tempat tersebut pernah di kunjungi oleh Kyra dan Davin ketika mereka melihat bintang di malam hari. Sebuah tempat yang di penuhi banyak rumput hijau, seakan rumput tersebut sebuah pelengkap keindahan bagi tempat itu.


"Ternyata tempat ini tak kalah cantik ketika di lihat di sore hari," ucap Kyra yang terpukau akan keindahan tempat tersebut.


Davin tersenyum seakan merasa lega ketika pujaan hatinya itu nampak senang dengan tempat tersebut. Mereka pun mulai menikmati pemandangan di tempat tersebut. Namun raut wajah Davin seketika nampak bersedih seakan ia memiliki sebuah beban dalam pikirannya.


"Vin kalau kamu ada masalah bisa cerita sama aku sekarang," ucap Kyra kembali memegang tangan Davin sembari menatapnya.


Namun Davin nampak ragu untuk menceritakan sebuah kejadian yang membuatnya bersedih saat ini. Ia hanya terdiam menatap wajah perempuan yang di cintainya, dengan raut wajah yang sedang bersedih itu.


"Jangan kamu pendam Vin... aku siap bantu kamu, jika kamu membutuhkan bantuanku," ucap Kyra tersenyum menatap wajah Davin sembari memegang salah satu pipinya.


Tanpa ragu, Davin pun perlahan mulai menceritakan sebuah kejadian yang membuatnya bersedih saat ini. Sebuah kebencian terhadap Maudy yang menjadi ibu sambungnya tersebut.


Davin sangat membenci Maudy, karena Maudy telah menjalin hubungan bersama Ayahnya, ketika ibu kandung Davin sedang sakit parah. Bahkan 2 bulan sepeninggalnya ibu Davin, Rangga malah menikahi Maudy tanpa memikirkan kesedihan anak sulungnya tersebut. Oleb sebab itu, sampai saat ini Davin sangat membenci Maudy dan ayahnya tersebut. Dari pernikahannya, Maudy dan Rangga di karuniai seorang anak laki-laki yang di beri nama Fajar.


"Vin kamu boleh membenci ibu sambungmu, tapi kamu tidak boleh membenci adikmu, ya walaupun dia berbeda ibu, tapi dia tetap satu ayah denganmu," ucap Kyra.


"Aku tidak membencinya, hanya saja tiap kali lihat wajahnya, aku selalu teringat dengan si maudy," ucap Davin yang nampak kesal ketika telintas wajah ibu sambungnya tersebut.


"Tapi tetap saja kamu tidak boleh membenci anak kecil yang tidak berdosa."


"Iya.. iya aku bakal berusaha buat ga benci dia," ucap Davin yang seketika luluh ketika Kyra menyuruhnya untuk tak membenci Fajar.


Lalu setelah Davin menceritakan tentang perselingkuhan ayahnya dengan Maudy. Kini Davin menceritakan tentang dirinya yang menjadi anak nakal. Davin kerap mengikuti balap motor liar sampai ia ketahuan oleh ayahnya. Oleh sebab itu, Davin di pindahkan oleh ayahnya ke kota ini.


Namun belum puas Kyra mendengarkan cerita Davin, hari sudah semakin sore. Kyra pun segera mengecek waktu di jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Sudah jam 5 lebih Vin, ayo antar aku pulang," ucap Kyra panik sembari menatap jam di lenganya itu.


Namun tiba-tiba saja Davin memegang lengan Kyra sembari menatapnya dengan serius, seakan ada sesuatu yang ingin ia ucapkan.


"Ada Vin?" tanya Kyra heran sembari menatap mata Davin. Keduanya pun terdiam sembari menatap satu sama lain.


"Hm, Kyra mau ga jadi pacar aku," ucap Davin menatap mata Kyra dengan tatapan yang serius.