
Sesampainya Kyra di depan pintu gerbang rumahnya, nampak pintu rumah terbuka. Terdengar suara tak asing berada di ruang tamunya, Kyra pun terburu-buru memasuki rumahnya. Dan suara tak asing yang di dengarnya itu ialah suara Davin yang sedang mengobrol dengan ibunya.
"Davin kenapa kamu ada disini?" tanya Kyra ketika berada di depan pintu rumahnya.
"Kita kan mau belajar matematika bareng," ucap Davin tersenyum.
"Sejak kapan aku mengajaknya belajar di rumah," gumam Kyra heran dalam batinnya.
"Eh ko malah bengong cepat masuk," ucap Anna kepada putrinya tersebut.
Kyra pun segera memasuki kamarnya untuk berganti pakaian. Kyra membuka pintu lemarinya lalu mengeluarkan beberapa pakaian yang di nilainya paling bagus. Lalu di tata di atas tempat tidurnya untuk di pilihnya hari ini. Namun seketika Kyra terdiam setelah mengeluarkan semua pakaian bagusnya tersebut.
"Kenapa aku sampai memilih baju seperti ini, padahal kan cuma di rumah," gumam Kyra.
Kyra lalu memasukan kembali pakainya tersebut. Namun ketika ia memasukan pakaiannya, ia termenung memikirkan penampilannya. Ya walaupun hanya di rumah, berpenampilan cantik di depan orang yang di sukai itu seperti kewajiban bagi seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Tanpa ragu Kyra mengeluarkan kembali satu pakaianya dan segera memakainya. Setelah selesai berganti pakaian, Kyra pun segera menghampiri Davin di ruang tamu.
"Lama banget keluar kamarnya, pasti sibuk pake make up ya," bisik Davin sembari tersenyum.
Seketika kedua pipi Kyra memerah dan jantungnya mulai berdegup kencang. Kyra tampak kaku menatap lurus ke depan tanpa berani menatap Davin yang sedang duduk di sampingnya tersebut.
"A...ku tadi lama karena habis beresin kamar dulu," ucap Kyra berbohong karena merasa malu.
Davin kembali mendekat ke arah telinga Kyra, "kenapa pipinya merah?"
Dengan spontan Kyra memegang salah satu pipinya. Bisikan Davin berhasil membuat jantung Kyra berdegup cukup kencang bahkan sampai membuatnya berkeringat.
"Kalau pipinya memerah, kamu benar-benar manis," goda Davin sembari tersenyum.
Jantung Kyra terus berdegup kencang seakan mau meledak, Kyra lalu segera menutup mulut Davin dengan telapak tanganya.
"Katanya kita mau belajar, cepat buka bukunya," ucap Kyra dengan jantung yang berdebar-debar.
Davin lalu segera mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Sembari mengeluarkan buku, Davin nampak tersenyum seakan menertawai ekspresi Kyra yang tengah malu tersebut.
Setelah itu Kyra pun segera mengajari Davin beberapa soal matematika. Namun sayangnya tak berselang lama mereka belajar, Erick datang ke rumah setelah seharian ia bekerja. Erick lalu duduk berhadapan di depan Kyra dan Davin. Sembari duduk, Erick melipat lengannya di dada dan terus menatap laki-laki yang sedang di ajarkan matematika oleh putrinya itu. Davin jadi tak fokus belajar, ketika Erick duduk di depannya sembari menatap sinis dirinya.
"Kenapa ga pergi saja sih," gumam Davin dalam benaknya.
Bahkan ketika Davin menulis tangannya bergetar dan sesekali matanya melirik Erick memastikan bahwa Erick tidak terus menerus menatapnya. Kyra lalu memegang tangan Davin yang sedang bergetar tersebut.
"Nulisnya yang bener," ucap Kyra.
Tatapan Erick semakin sinis ketika putrinya memegang tangan Davin. Erick mendeham cukup keras, memberi kode kepada putrinya untuk tak memegang tangan laki-laki tersebut.
"Ehem...
Kyra pun cukup kesal dengan tingkah laku ayahnya yang terus mengawasinya. Kyra lalu menatap ayahnya dengan tatapan yang seakan marah.
"Ayah kenapa masih disini? tanya Kyra.
"Memangnya salah kalau ayah duduk disini, ayah cuma cape dan mau duduk disini," ucap Erick yang masih menatap Davin.
"Kan ayah bisa duduk di ruang tengah, kenapa mesti disini," ucap Kyra yang semakin kesal dengan sikap ayahnya tersebut.
"Ayah cuma mau duduk disini," tegas Erick yang tak mau mengalah.
"Ayah duduk disini sangat mengganggu mereka, mending ayah cepat mandi dan jangan mengganggu mereka belajar," tegur Anna kepada suami.
Teguran istrinya akhirnya membuat Erick luluh, dengan terpaksa Erick pun segera pergi dari ruang tamu. Namun pada saat ia melangkah pergi, matanya masih saja melirik ke arah Davin dan tatapan sinisnya seakan mengancam Davin untuk tak berbuat apa-apa kepada putri kesayanganya itu. Anna yang melihatnya pun merasa geram dengan tingkah laku sumaminya yang sangat kekanak-kanakan. Anna lalu memapah suaminya, agar berjalan lebih cepat.
"Cepat mandi," tegur Anna.
Davin hanya tertunduk dan merasa gerogi ketika calon mertuanya itu menatapnya. Sedikit kesal namun mau bagaimana lagi, Erick bukan orang yang bisa di lawan olehnya.
"Rintangan yang harus di lalui kalau mau jadi pacar Kyra," gumam Davin dalam batinnya.
**
Seusai belajar, Davin pun segera berpamitan kepada kedua orang tua dari calon pacarnya tersebut.
"Om, tante, saya pamit," ucap Davin memberi salam.
"Iya hati-hati di jalannya," ucap Anna tersenyum.
Ketika Davin berpamitan Anna sangat bersikap ramah, memang calon mertua idaman bagi laki-laki yang sedang mengincar putrinya tersebut. Namun lain halnya dengan Erick yang memasang wajah ketusnya, hingga membuat Davin menelan ludah ketika menatapnya. Erick membuat Davin ketakutan setengah mati, ya walaupun tindakan Erick hanya diam dan terus menatap sinis. Namun tindakan tersebut berhasil membuat bocah laki-laki tersebut ketakutan.
Untuk menghindari tatapan sinis Erick, Davin pergi terburu-buru keluar rumah bersama dengan Kyra yang sekedar mengantarnya ke depan rumah.
"Pasangin dong helmnya," ucap Davin ketika ia sampai di tempat motornya di parkirkan.
"Pasang aja sendiri," ucap Kyra dengan wajah yang memerah.
Namun tiba-tiba saja Gio datang dan langsung merebut helm yang di pegang Davin, dengan kasar Gio memasangkan helm ke kepala Davin. "Akan ku pasangkan dengan benar."
"Yaelah siapa juga yang nyuruh lu," ucap Davin kesal, lalu menghempas tangan Gio dari kepalanya.
Setelah helmnya di pasangkan, Davin pun pamit kepada Kyra lalu segera menyalakan mesin motornya, "Aku pulang sekarang ya, awas hati-hati sama manusia di sebelahmu." Ucapnya mengarah kepada Gio.
Gio semakin kesal saja dengan ucapan Davin, dan sebelumnya juga ia sudah merasa kesal karena telah memergoki perempuan yang di sukainya sedang bersama saingannya. Setelah Davin pergi, Gio mulai bertanya kepada Kyra, "Dari kapan Davin di rumah kamu?"
"Sejak aku pulang sekolah," jawab Kyra merasa heran dengan raut wajah Gio yang tampak marah itu.
"Dia tadi ngapain aja disana?" tanya Gio kembali.
Kyra semakin heran saja dengan sikap Gio yang seakan sama sikapnya dengan ayahnya.
"Memang mirip," ucap Kyra melangkah pergi memasuki rumahnya.
"Mirip siapa? kenapa malah masuk, kamu belum jawab pertanyaanku," teriak Gio yang masih penasaran.
Kekesalan Gio semakin membludak saja ketika Kyra tak menjawab pertanyaannya tersebut. Gio pun melampiaskan kekesalannya dengan menendang sebuah kaleng minuman yang berada di bawah kakinya. Kaleng tersebut melesat jauh ke teras rumah Kyra. Namun ketika kaleng tersebut mendarat, Gio semakin sial saja karena kaleng yang di tendangnya malah mendarat tepat di depan Erick.
"Ma...af om ga sengaja," ucap Gio bernada gugup.
Erick lalu mengambil kaleng tersebut dan segera menghampiri Gio. "Nih buang yang benar ke tempat sampah," ucapnya menyodorkan kaleng.
"Iya om," ucap Gio mengambil kaleng tersebut, lalu terburu-buru pergi.