
Ketika sampai di rumah Kyra tertunduk lesu, berjalan memasuki kamarnya dengan raut wajah yang nampak sedih. Penantian yang telah telah lama di nanti harus pupus ketika hubungan persahabatannya dengan Gio harus menjadi sebuah jaminan. Rasa suka dan cintanya terhadap Davin sangat besar, jika nanti Davin telah memenuhi syaratnya lalu Kyra mengingkari janjinya, rasa kecewa akan membekas di benak Davin. Begitu pun dengan rasa penyesalan yang akan terjadi pada diri Kyra.
Saat ini ia gundah, apa yang harus Kyra pilih. Antara persahabatannya atau rasa cintanya terhadap Davin. Semuanya tampak samar untuk di laluinya, kenyataan ini sangat tak bisa di pungkirinya.
Kyra membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan lamunannya yang tak kunjung usai. Yang perlahan bulir air mulai keluar dari kedua sudut matanya. Perasaan dilema ini membuatnya gundah, entah siapa yang harus di pilihnya. Namun perasaan yang begitu besar terhadap Davin, membuat sosok Davin terus telintas jelas dalam lamunannya.
"Situasi ini sangat menyulitkanku," gumamnya dengan air yang membasahi kedua pipinya.
Lamunan panjangnya terhenti ketika dering pesan di ponselnya berbunyi. Kyra pun segera mengecek isi pesan di ponselnya itu. Tak bisa di pungkiri, seseorang yang mengirimnya pesan ialah Davin. Sebuah kata semangat tertulis jelas di layar ponselnya itu.
"2 hari lagi ulangan semangat ya, semoga kita dapat nilai yang memuaskan," ucapnya dalam pesan tersebut.
Pesan tersebut semakin menyulitkan Kyra untuk menentukan pilihannya. Rasa cinta yang tercipta begitu besar tertanam di hatinya. Tanpa membalas pesan, Kyra langsung saja memantikan ponselnya. Kini tangisnya pecah, bulir air yang keluar dari kedua matanya semakin deras mengalir membasahi kedua pipinya. Kyra hanya bisa berbaring dari tempat tidurnya sembari menutup kedua matanya dengan tangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 hari telah berlalu, hari senin pun telah tiba. Dengan berpakaian rapih Kyra pergi ke sekolah, berjalan menyusuri jalan dengan raut wajah yang nampak masih murung. Sesampainya di pintu gerbang, Bella menyambutnya sembari merangkul pundaknya. "Pagi anak pintar, dari tadi aku perhatikan kamu tampak murung."
Dengan terpaksa Kyra tersenyum untuk menutupi kesedihannya. "Benarkah? sepertinya aku sangat lelah."
"Gini nih kalau anak pintar belajarnya pasti berlebihan," lontar Bella.
Namun ketika Kyra akan memasuki pintu gerbang, tiba-tiba saja Davin datang sembari merangkul pundaknya.
"Pagi calonku," ucapnya tersenyum.
Kyra menatap Davin dengan pipi yang memerah, yang seketika kedua matanya mulai berlinang air mata. Kyra langsung saja menghempaskan lengan Davin dari pundaknya lalu segera pergi berlari menjauh dari hadapannya. Sembari berlari Kyra menahan air yang berlinang dari kedua matanya agar tak terjatuh. Bella dan Davin pun tampak keherannan dengan sikap Kyra tersebut.
"Ada apa dengannya," gerutu Davin yang menatap Kyra berlari.
"Mungkin dia buru-buru mau belajar lagi," ucap Bella melangkah pergi menyusul sahabatnya tersebut.
Sesampainya Kyra di kelas, ia segera duduk di bangkunya lalu segera menghapus bulir air yang mulai berjatuhan dari kedua matanya tersebut.
"Dih malah ninggalin," ucap Bella mengebrak meja.
"Ma...af, soalnya aku mau cepat-cepat baca buku," ucap Kyra bernada gugup, lalu segera mengambil bukunya dari dalam tas.
Kyra membaca buku tersebut, namun ia sama sekali tak fokus membaca tulisan di buku tersebut. Pikirannya terus melayang memikirkan Davin, apa yang harus di katakannya kepada Davin. Sulit baginya untuk mengatakan bahwa ia tak bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan pria yang di cintainya itu. Kyra juga merasa takut jika ia sudah mengatakannya, hubungannya dengan Davin akan menjadi jauh. Tangannya bergetar memegang buku yang di pegangnya itu, perasaannya terus merasa gelisah dengan situasi yang di hadapinya ini.
Bella lalu memegang tangan Kyra yang sedang bergetar tersebut. "Ini bukan kali pertama kamu ulangan, kenapa tanganmu bergetar? apa kamu takut jika kamu tak bisa menjawab soal?" tanyanya merasa heran.
"Hm, i...ya," jawab Kyra gugup lalu menelan salivanya.
Bella pun tersenyum melihat tingkah laku Kyra yang tak seperti biasanya itu. "Hah, aneh banget, Seorang Kyra bisa juga gugup saat menghadapi ulangan."
"Teng...teng...teng
"Aku harus fokus mengerjakan soal," gumam Kyra sembari menghela nafasnya.
"Iya kamu harus fokus, supaya kamu bisa mempertahankan posisi rangking 1," sindir Bella.
***
2 soal ulangan telah usai di kerjakan semua murid, dan istirahat pun telah di mulai. Seperti biasa Kyra dan Bella segera pergi menuju kantin untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan setelah menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan. Sesampainya di kantin Kyra dan Bella segera memesan makanan dan minuman. Namun ketika ia akan hendak duduk, tiba-tiba saja Ludy bersama beberapa temannya datang menghampiri lalu ikut duduk bersama dengan Kyra dan Bella.
"Kenapa masih datang ke sekolah? memang ga capek datang terus ke sekolah, kamu kan cuma tinggal nunggu pengumumman surat kelulusan ," ucap Bella kepada Ludy.
"Kalau di rumah terus aku ga bisa lihat kamu dong," goda Ludy sembari tersenyum.
Beberapa teman yang di bawa Ludy terus menatap Kyra yang sedang makan itu. Wajah cantik Kyra memang sasaran tatapan bagi kaum adam. Kyra nampak gugup ketika semua teman Ludy tak henti menatapnya sembari menggodanya.
"Kalau mau nambah, Kyra bilang ya, nanti aku traktir. Khusus buat kamu yang cantik ini," lontar teman Ludy yang bernama Iqbal.
Kyra merasa tak nyaman dengan teman-teman Ludy yang tak henti menggodanya. Ia pun terburu-buru memakan habis makanannya, agar segera pergi dari hadapan mereka.
Lalu salah satu teman Ludy yang bernama Rijal menyodorkan ponselnya kepada Kyra," minta nomernya dong, siapa tahu kita bisa jadi deket."
Dan tiba-tiba saja Davin datang menghampiri. "Jangan ngarep deket sama Kyra, dia udah punya pacar," ucapnya mengambil ponsel tersebut, lalu menyodorkan kembali ponsel tersebut kepada Rijal.
"Siapa pacarnya? menurut rumor dia masih single," lontar Iqbal.
"Seminggu kemudian kalian pasti tahu siapa pacarnya," ucap Davin tersenyum menyeringai.
Setelah melahap habis makanannya, Kyra lalu berdiri sembari menarik lengan Davin.
"Kita pergi dari sini yuk," ajaknya menarik Davin dan melangkah pergi menuju arah taman sekolah.
Sesampainya di taman, Kyra dan Davin duduk di kursi yang telah di sediakan di taman tersebut. Kyra terdiam menatap Davin, ia merasa gelisah dan gugup ketika akan memulai sebuah pembicaraan.
"Kenapa natap aku kayak gitu, aku ini memang ganteng dari lahir ko," ucap Davin tersenyum.
"Vin...gimana kalau kamu gagal jadian sama aku, kita bisa tetep deket kan," ucap Kyra bernada gugup.
"Hah apa sih, aku ga bakal gagal memenuhi syarat yang kamu berikan. Pokonya aku bakal berhasil dapetin kamu," tegas Davin.
Seketika Kyra menelan salivanya, ucapan Davin membuat Kyra semakin sulit untuk membatalkan hubungan percintaan dengan lelaki pantang menyerah itu. Dengan perasaan yang semakin gelisah, Kyra berdiri dari tempat duduknya lalu segera melangkahkan kaki dengan jalan yang terburu-buru.
"Kalau begitu, aku pergi ke kelas dulu," ucapnya sembari menahan bulir air yang akan segera keluar dari kedua sudut matanya.