
Seikat bunga telah ia genggam, lengkungan dari kedua sudut bibirnya tampak jelas menghiasi wajah tampannya. Pakaiannya yang modis menjadi pelengkap bagi pria tampan yang bernama Davin itu. Ia tersenyum sembari mencium aroma bunga yang di genggamnya. Menunggunya membuat ia semakin tak sabar melihat sosok cantik dari wanita yang bakal jadi pacarnya tersebut. Tumpukan kertas ulangan yang sudah di beri nilai telah dibawanya dan di simpan rapih di atas kursi yang berada di sampingnya.
Davin tampak gelisah dan tak sabar dengan kehadiran wanita yang bakal jadi pelengkap dalam kehidupan di masa remajanya. Bahkan kursi yang tersedia di sampingnya tak ia duduki, ia berdiri melihat ke arah jalanan, berharap Kyra akan segera datang.
15 menit ia menunggu, akhirnya perempuan yang ditunggunya hadir. Ia berjalan mengarah ke tempat Davin berdiri saat ini, Davinpun tersenyum lalu melambaikan tangangnya sembari memanggil namanya.
"Kyra...
Namun raut wajah Kyra nampak sedih, tak ada kebahagian dari ekpresinya. Matanya sendu seperti sehabis menangis, melihatnya pun membuat Davin merasa cemas. Namun Davin harus berpikir optimis di hari bahagianya ini. Ia berpikir mungkin Kyra terharu karena Davin bisa menuntaskan persyaratan yang ia berikan.
Lalu ketika langkahnya telah sampai di hadapan pria yang sedari tadi menunggunya, keraguan tampak jelas dari raut wajahnya seakan sebuah kalimat tertahan di tenggorokannya. Namun Davin dengan teramat senangnya, ia langsung memperlihatkan lembaran kertas ulangan yang dibawanya itu. "Aku sudah tuntaskan persyaratan yang kamu berikan waktu itu. Jadi mulai hari ini kita telah resmi menjadi sebagai sepasang kekasih," ucapnya tersenyum sembari menyodorkan seikat bunga yang digenggamannya.
Sembari menatapnya Kyra terdiam tak berucap, dan matanya mulai berlinang bulir air namun ia tahan agar tak keluar setetespun. Sulit untuknya mengucapkan sebuah kalimat, terutama mengucapkan kata yang tak seharusnya ia ucapkan saat ini.
"Loh ko diam sih," ucap Davin heran.
Kyra menunduk sembari memejamkan kedua matanya. Ia lalu menghela nafasnya dan perlahan mulai mengucapkan sebuah kalimat, "Maaf."
Davin semakin merasa heran dengan sikap Kyra yang tiba-tiba mengucapkan kata maaf. Ia juga merasa gelisah setelah mendengar kata tersebut keluar dari mulut wanita yang sangat di dambakannya itu.
"Kenapa kamu meminta maaf," ucap Davin sembari memegang tangan Kyra.
"Maaf, aku tidak bisa berpacaran denganmu. Aku bisa menjalin hubungan denganmu hanya sebatas teman saja," ucap Kyra dengan mata yang perlahan mulai mengeluarkan bulir air yang di tahannya tersebut.
Ucapan tersebut membuat Davin tak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini. Ia hanya berpikir bahwa Kyra sedang bercanda dengannya.
"Ini benar-benar ga lucu, kamu pasti bercanda kan Kyra," ucap Davin sembari tersenyum.
"Engga, aku benar-benar serius," tegas Kyra.
"Tapi kan kamu sudah janji, jika persayaratnya telah tuntas kita jadian," ucap Davin yang semakin merasa gelisah.
Tanpa ragu Kyra melepas paksa tangan Davin dari tangan mungilnya itu. "Maaf Vin, ucapnya sembari melangkah pergi.
Davin cukup tercengang dengan apa yang di ucapkan Kyra padanya. Rasa kecewa, sedih, dan marah, bercampur menjadi satu. Dalam pikirannya, ini hanyalah sebuah mimpi ia harus segera terbangun dari mimpi buruk ini.
Davin masih terdiam dari tempatnya berdiri tanpa melangkahkan kakinya untuk mengejar perempuan yang membuatnya kecewa tersebut.
"Tunggu! jelaskan alasan kamu mengingkari janji," teriak Davin.
Namun teriakan Davin tak membuat Kyra menghentikan langkahnya. Ia terus saja berjalan tanpa menengok ke arah belakang sedikitpun.
"Ku bilang berhenti! kamu harus jelaskan dulu alasannya kamu mengingkari janji," teriak kembali Davin dengan di iringi kemarahan.
"Sialan," gerutunya dengan mata yang menatap ke arah bawah.
Lalu tiba-tiba saja hujan turun sangat lebat, namun Davin masih terbujur kaku berdiri dari tempat tersebut. Ia masih merasa bahwa ini semua hanyalah mimpi baginya. Davin lalu mengangkat kepalanya ke atas menatap langit yang sedang menurunkan rintikan air. Ia berharap akan segera bangun dari mimpi buruknya itu. Namun kenyataan pahit ini tak bisa membuatnya terbangun dari mimpi buruk tersebut.
"Argggghhh sialan." teriak Davin sembari menedang bunga yang di jatuhkannya.
Tak lama kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke arah sepeda motornya di parkirkan. Ia langsung saja mengendarai motor tersebut dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan pulangnya, sosok Kyra masih saja terlintas dalam ingatannya. Tak sedetikpun ia melupakan kejadian yang menimpanya hari ini. Hari yang di anggapnya akan menjadi hari kebahagian malah berakhir dengan kekecewaan.
Ketika Davin sampai di rumah, ia langsung saja di sambut oleh kedua temannya yang mungkin sedari tadi menunggunya di rumah.
"Woy Vin gimana tadi? pasti seneng banget ya," ucap Nicko ketika Davin membukakan pintu rumahnya.
Namun Davin tak mengucapkan sepatah katapun, raut wajahnya masih tampak marah dan sedih. Ia melewati kedua temannya begitu saja dan langsung memasuki kamarnya.
"Vin tunggu! lu ga apa-apa kan," ucap Andy heran.
Davin terduduk menundukan kepalanya sembari menyenderkan tubuhnya di balik pintu kamarnya. Beberapa kali Andy dan Nicko mengetuk pintu kamarnya, namun ia tak membukakannya. Davin hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya. Karena ingatan buruk itu terus terlintas dalam pikirannya, sosok Kyra terus memenuhi isi pikirannya. Kenangan-kenangan bersama Kyra terus saja melintasi pikirannya saat ini.
Kedua temannya yang merasa khawatir terus membujuk Davin untuk segera membuka pintu kamarnya tersebut.
"Vin buka pintunya! lu kenapa sih. Ceritain sama kita kalau ada masalah, biar hati lu tenang," ucap Andy sembari memegang gagang pintu.
"Vin lu ada masalah sama Kyra ya," ucap Nicko.
Beberapa kali Andy dan Nicko membujuk Davin, namun hasilnya nihil. Davin masih saja mengunci diri di kamarnya. Lalu bu Rere seorang ART di rumahnya mencoba untuk membujuk Davin.
"Nak buka dulu pintunya, kamu belum makan, ibu sudah siapkan makan buat kamu. Cepat keluar makan dulu, nanti keburu dingin makanannya," ucap nya sembari mengetuk pintu.
"Aku ga lapar, kalian berhenti membujuku untuk keluar dari kamar. Dan untuk kalian berdua mending kalian pulang saja, kalian sangat mengganggu," teriak Davin bernada tegas.
"Lu kenapa sih Vin? kita bakal tetep disini sampe lu keluar dari kamar," ucap Nicko merasa khawatir.
"Sialan gue bilang kalian pulang saja," teriak kembali Davin bernada marah.
Tak ingin membuat Davin semakin marah, Andy dan Nicko pun memutuskan untuk menyerah membujuk Davin.
"Ya udah kita pulang, kalau udah tenang besok lu bisa ceritain di sekolah," pamit Nicko melangkah pergi.