
Davin tergeletak di tanah, ia tak sadarkan diri dengan wajah yang tampak pucat. Semua teman-teman Davin mencoba membangunkannya, termasuk dengan Kyra.
"Vin bangun," ucap Kyra panik menepuk pipi Davin.
Ketika Kyra menyentuh wajah dari pria yang di sukai itu, rasanya terasa panas seperti bukan suhu normal bagi orang sehat.
"Davin tampaknya sedang demam," gumam Kyra dengan tangan yang masih menyentuh pipi Davin.
Nicko dan Andy langsung mengangkat Davin dan segera membawanya ke UKS. Kyra yang merasa khawatir terhadap Davin, langsung saja mengikuti dengan berjalan yang tergesa-gesa. Tak hanya Kyra saja yang mengikuti, tetapi Githa, Agatha dan juga Bella mengikutinya.
"Kyra tunggu!" ucap Bella mengejar sahabatnya tersebut.
Langkah Kyra tak berhenti ketika Bella meminta untuk menunggunya. Pikiran Kyra hanya di penuhi rasa khawatir terhadap Davin, sampai ia tak memperdulikan sahabatnya tersebut. Lalu ketika Kyra akan memasuki UKS, seorang perawat yang bertugas di UKS memintanya untuk tak memasuki ruangan tersebut.
"Maaf kalian semua ga boleh masuk dulu, biar ga terlalu mengganggu yang sakit," ucap perawat tersebut.
"Tapi aku ga bakalan ganggu ko... jadi biarkan aku masuk ya," ucap Agatha yang juga merasa khawatir terhadap Davin.
"Nanti saja masuknya kalau dia sudah sadar dan merasa baikan...kalian tunggu saja disini!" tegas perawat tersebut sembari menutup pintu.
"Yah, malah di tutup," ucap Agatha kesal.
Kyra hanya bisa berdiam diri di depan UKS menunggu Davin terbangun. Namun tak lama Kyra menunggu, bel pertanda masuk pun mulai berbunyi.
"Kring...
"Kita ke kelas sekarang yu, belnya udah bunyi," ucap Bella menarik tangan Kyra.
Walaupun masih merasa khawatir dan penasaran dengan keadaan Davin, dengan terpaksa Kyra harus segera masuk ke kelas karena suara bel telah berbunyi.
Lalu ketika Kyra di dalam kelas, ia masih merasa gelisah. Kekhawatiran yang ia rasakan saat ini membuat pikirannya terganggu.
"Davin sakit pasti gara-gara kemarin kehujanan," gumam Kyra dalam batinnya.
"Kyra kamu ga apa-apa?" tanya Bella heran dengan Kyra yang terus melamun.
"Iya ga apa-apa," ucap Kyra.
Bella merasa heran dengan sikap Kyra yang menghindari Davin sewaktu di taman. Di tambah Bella juga merasa aneh dengan sikap Kyra ketika ia bertemu dengan Githa.
"Ada apa dengan Kyra hari ini ya," gumam Bella dalam batinnya sembari menatap sahabatnya itu.
"Apa sih lihatin aku... ada yang aneh sama aku," ucap Kyra heran.
"Iya kamu aneh, hari ini kamu ada apa sih... kalau ada masalah coba ceritakan," ucap Bella.
"Aku ga ada masalah," ucap Kyra menghindari tatapan Bella.
Kyra masih ragu untuk menceritakannya kepada Bella. Perempuan polos itu merasa malu ketika harus menceritakan tentang perasaannya itu. Bagaimana ia bisa bercerita ketika perempuan polos untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta kepada seorang laki-laki dan untuk pertama kalinya ia merasakan cemburu jika laki-laki tersebut dekat dengan perempuan lain. Kyra terlalu polos dan pemalu untuk bercerita tentang masalah hatinya. Kyra hanya bisa memendamnya sendiri, menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Waktu yang benar-benar siap untuk bisa membuat pengakuan bahwa ia menyukai Davin. Atau mungkin menunggu Davin menyatakan perasaanya dan memintanya untuk menjalin suatu hubungan sebagai sepasang kekasih. Jika Davin bisa menjadi kekasih Kyra, ia akan menjadi laki-laki paling beruntung. Karena perempuan cantik yang banyak di sukai itu, memang sulit di taklukan oleh laki-laki manapun.
Empat jam telah berlalu, suara bel pun kini berbunyi kembali. Kyra sangat tergesa-gesa memasukan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Kyra ingin cepat-cepat menemui Davin di UKS.
"Aku ikut," ucap Bella menyusul sahabatnya tersebut.
Kyra pergi UKS dengan langkah yang terburu-buru. Lalu ketika ia sampai di depan pintu UKS, langkahnya terhenti ketika ia melihat Davin sedang bersama dengan Githa. Kyra lalu berbalik arah dan pergi begitu saja tanpa masuk menemui Davin.
"Kenapa ga jadi masuk?" tanya Bella heran.
"Engga deh, Davin udah sadar dan dia tampak baik-baik saja... mending kita pulang sekarang yu," ucap Kyra dengan raut wajah yang muram.
Kedekatan Davin dan Githa membuat Kyra semakin tak percaya diri untuk bisa bertemu dengan Davin. Sepanjang jalan Kyra hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun. Ketika Kyra dan Bella menunggu kedatangan bis, tiba-tiba Gio datang menghampiri mereka.
"Kyra pulang bareng aku yuk," ajak Gio.
Lalu tiba-tiba saja Davin datang menghampiri Kyra dan menarik lengannya.
"Aku saja yang antar kamu pulang," ucap Davin.
"Lepaskan aku! hari ini aku pulang bareng Gio saja," ucap Kyra lalu melepaskan tangan Davin dari lengannya.
Kyra mengabaikan Davin dan segera menaiki motor Gio. Gio pun tersenyum, karena kali ini Kyra lebih memilih pulang bersamanya di bandingkan dengan Davin. Gio juga tampak senang ketika Kyra bersikap dingin kepada Davin. Gio semakin yakin bahwa yang di pikirkannya tadi pagi memang salah.
"Aku yakin bahwa Kyra memang ga punya perasaan sama Davin," gumam batin Gio lalu segera menjalan motornya.
Davin berdiri terdiam ketika perempuan yang di sukainya itu lebih memilih sainganya, di bandingkan dengannya. Ia hanya bisa memandangi Kyra yang semakin menjauh dari hadapannya itu. Tak hanya Davin saja yang merasa sedih, namun Bella pun merasakannya juga ketika Gio dan Kyra pulang bersama.
Wajah Davin semakin pucat saja ketika kesedihan itu menyelimuti seluruh raut wajahnya. Lalu tiba-tiba saja, rasa pusing di kepalanya kembali muncul, Davin lalu jongkok dari tempatnya berdiri.
"Davin kamu ga apa-apa?" tanya Bella.
"Iya ga apa-apa," ucap Davin memegangi kepalanya.
Lalu tiba-tiba saja Githa datang menghampiri Davin.
"Vin kamu ga apa-apa," ucap Githa panik.
"Iya aku ga apa-apa, cuma sedikit pusing," ucap Davin lalu berdiri.
"Berikan padaku kunci motornya, biar aku antar kamu pulang," ucap Githa merebut kunci motor yang di peggang oleh Davin.
"Kak aku bisa pulang sendiri," ucap Davin yang tampak lesu.
"Engga, pokonya aku antar kamu," tegas Githa sembari memegang lengan Davin membantunya untuk berjalan.
Githa pun lalu mengantarkan Davin pulang ke rumahnya. Namun ketika di tengah perjalanan, tiba-tiba saja mereka berpapasan dengan Kyra dan Gio di lampu merah. Kyra semakin kesal saja ketika melihat Davin sedang di bonceng oleh Githa. Kyra terdiam menatap lurus ke arah depan tanpa menyapa Davin. Begitu pun dengan Davin yang juga merasa kesal terhadap Kyra, karena sedari tadi terus menghindari dan mengabaikannya. Namun berbeda halnya dengan Githa yang langsung menyapa Kyra ketika berpapasan.
"Hei Kyra, ternyata baru sampai sini juga," sapa Githa sembari tersenyum.
"Iya kak," ucap Githa.
"Cepat jalan! lampunya udah hijau," lontar Davin ketika lampu hijau menyala.