
Kyra menarik lengan Bella sembari berjalan terburu-buru ke arah lapangan olahraga. Kali ini Kyra tak bisa menahannya lagi, ia hanya ingin cepat sampai atau mungkin ingin cepat bertemu dengannya. Entah mengapa hati dan pikirannya hanya tertuju pada sang pujaan.
Kyra memang belum menyadari atau mungkin belum mengerti dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Gadis polos itu hanya berpikir bahwa bertemu dengannya adalah suatu hal yang menyenangkan.
Bella tampak bingung dengan Kyra yang sangat bersemangat untuk segera pergi ke lapangan.
"Ada apa denganya ya... padahal beberapa waktu yang lalu ia tampak bersedih," gumam Bella dalam hatinya.
Davin memang seperti obat bagi Kyra. Kesedihan dan kekesalannya saat ini seakan telah sirna, setelah Kyra mendengar bahwa hari ini kelasnya akan berolahraga bersama dengan kelas yang di tempati oleh Davin.
Sesampainya Kyra di lapangan, iapun menengok ke arah kanan dan kiri mencari seseorang yang saat ini telah bersemayam di hatinya.
Namun keberadaan Davin tak terlihat di lapangan, sedikit kecewa namun ia harus bersabar. Karena ia yakin bahwa Davin akan segera datang.
"Ehem..."
Suara dehaman terdengar dari arah belakang tempat Kyra berdiri. Hatinya mulai bergejolak ketika suara dehaman tersebut terdengar tak asing di telinganya. Kyra pun lalu berbalik ke arah belakang, dan tak di sangka ternyata Davin berada tepat di hadapannya.
Davin sedang berdiri tepat di hadapan Kyra sembari menyodorkan satu buah permen lolipop ke arah wajah Kyra.
"Buat kamu," ucap Davin terseyum manis.
"Deg..."
Hati Kyra mulai berdegup cepat, ketika senyuman yang terpancar di wajah Davin terlihat sangat manis. Kyra tak berucap dan hanya memandang wajah Davin, seakan merasa terpesona dengan ketampanan yang di miliki oleh pujaan hatinya itu.
"Kenapa dia bisa sangat tampan," batin Kyra sembari menatap tanpa mengedipkan matanya.
"Hei kenapa lihatin aku kayak gitu... aku ini memang tampan kan," ucap Davin kembali terseyum.
Lalu seketika wajah Kyra memerah, ketika pikirannya sama dengan apa yang di ucapakan oleh Davin.
"A...aku ga mikir kamu tampan ko," ucap Kyra gugup lalu mengambil permen yang di peggang Davin dengan cepat.
"Oh ok... tapi aku memang tampan hanya saja kamu ga sadar," ucap Davin.
Kyra mengalihkan padangannya, karena malu atas ucapan Davin yang memuji wajahnya sendiri. Kyra menelan salivanya, ia begitu gugup karena Davin terus berdiri di sampingnya.
"Kyra, kamu coba pandang aku lebih lama lagi, pasti kamu bakal sadar kalau aku ini memang tampan," goda Davin sembari mengemut permen lolipop.
"Jangan berharap aku muji kamu tampan... kamu bukan tipeku," ucap Kyra tanpa melihat ke arah Davin.
"Ayolah cepet lihat aku dengan teliti," ucap Davin sembari memegang kedua pipi Kyra. Lalu menatap mata Kyra.
Tindakan Davin membuat hati Kyra semakin bergejolak. Degupan di jantungnya terus berdegup dengan cepat.
Lalu situasi Bella saat ini seakan tak terlihat oleh keduanya. Bella terasa terabaikan oleh mereka yang sedang bersenang-senang dengan perasaannya.
"Ehem... dari tadi aku udah kayak nyamuk," sindir Bella.
"Hm, ma...af Bel," ucap Kyra gugup.
"Hm, ok ga apa-apa... oh ya Vin, yang ngasih bunga waktu itu kamu kan?" tanya Bella yang masih penasaran dengan seseorang yang mengirmkan bunga kepada Kyra.
"Oh itu i... arrrrgghhh," ucap Davin lalu terhenti karena berteriak kesakitan akibat kakinya di injak oleh Kyra.
"Vin maaf aku ga sengaja," ucap Kyra sembari memberi kode dengan kedipan matanya.
Davin langsung mengerti setelah melihat kode dari kedipan mata Kyra.
"Hm, gitu ya," ucap Bella sembari mengerutkan kedua alisnya karena masih mencurigai Davin.
Sikap Kyra memang tak seperti biasa ketika saat bersama Davin. Itulah yang membuat Bella tak percaya dengan jawaban Davin.
Bella melipat kedua lengannya di dada sembari memperhatikan Kyra. Bella memang sedang mencurigai Kyra, karena perubahan dan kecangungan Kyra ketika ia bersama Davin.
Kyra merasa aneh dengan Bella yang terus memperhatikannya, ia pun lalu bertanya, "Ada apa sih lihat-lihat terus."
"Kamu suka sama Davin kan," ucap Bella yang masih melipat kedua lengannya itu.
Sontak Davin pun tampak terkejut atas ucapan Bella kepada Kyra.
"Hah... beneran kamu suka sama aku Kyra," ucap Davin penasaran.
"Ma...na mungkin aku suka sama Davin, dia bukan tipeku," ucap Kyra terbata-bata.
"Bohong! kamu pasti beneran suka sama aku kan... ayo ngaku!" goda Davin.
"Aku bilang engga ya engga," ucap Kyra malu dan sedikit kesal.
"Hm, aku sih curiga kamu lagi jatuh cinta, walaupun entah sama siapa sih," lontar Bella tersenyum.
"A...ku ga menyukai siapa pun dan aku ga lagi jatuh cinta," tegas Kyra dengan wajahnya yang memerah.
Bella hanya menggangguk sembari tersenyum. Bella masih mencurigai Kyra, kalau sahabatnya itu memang benar menyukai Davin. Walaupun Kyra tak jujur, akan tetapi Bella mengerti dan memahami sikap Kyra yang sangat jelas terlihat bahwa ia menyukai pria di sampingnya itu.
Bella sangat bahagia jika Kyra memang benar menyukai Davin. Karena ia pikir, jika Kyra menyukai Davin, maka tak akan ada ruang bagi Gio di hati Kyra.
Bella mendekat ke arah Davin lalu berbisik, "Peped terus Vin."
"Pasti ku peped terus sampe dapet," bisik Davin.
Lalu Kyra berbalik menghadap ke arah Bella dan Davin.
"Kalian bisik-bisik lagi ngomongin aku ya," ucap Kyra curiga.
"Siapa juga yang ngomongin kamu...PD banget sih," ucap Bella terseyum seakan menertawai sahabatnya itu.
"Iya, siapa juga yang ngomongin kamu... kamu cemburu ya," ucap Davin menggoda Kyra.
Wajah Kyra memerah, lalu ia pun memalingkan wajahnya karena malu. sikap Davin terus membuat jantung Kyra berdegup cepat, sampai ia tak bisa menyembuyikan perasaannya itu. Kyra hanya bisa mengehela nafas, mengatur degupan jantung yang tak tertahankan.
Sembari mengipas wajahnya dengan tangan, Kyra pun bergumam dalam hatinya, "Rasanya jantung ini mau copot."
Kyra memang tak mengerti dengan perasaannya itu. Akan tetapi, ia perlahan mulai menyadari tentang perasaan yang selama ini bergejolak di hatinya. Perasaan bahagia ketika bertemu denganya, perasaan rindu ketika jauh dengannya, serta perasaan kagum tentang apapun yang ada pada diri sang pujaan hatinya itu.
"Aku tak mengerti dengan perasaan aneh ini... apa memang benar, bahwa aku menyukai Davin," gumam Kyra dalam hatinya.
Entah sampai kapan Kyra bisa menahan atau menyembunyikan perasaannya itu. Dan mungkin suatu saat jika takdirnya berkehendak. Maka kemungkin besar Davin akan mengetahuinya, bahwa cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan.
Lalu tak berselang lama, guru olahraga pun datang kelapangan.
"Ayo semuanya berbaris dengan rapih... kita akan mulai pemanasan terlebih dahulu," seru guru olahraga tersebut.