
Setelah Kyra mengambil sebuah keputusan yang sangat patal, ke esokan harinya Kyra tampak murung. Kejadian kemarin terus saja mengusik isi pikirannya, tak sedetikpun bayangan kemarin terhapus di otaknya. Keputusan yang di ambilnya merupakan keputusan yang paling memberatkan dirinya. Ia harus melupakan dan menghapus perasaannya terhadap Davin. Entah bagaimana perasaan itu terhapus, tak sedikitpun perasaan itu enyah di hatinya. Bahkan hingga berhari-hari Kyra mencoba melupakan Davin. Namun, kenyataannya cinta yang terlalu besar membuatnya tak bisa melupakan sosok pria yang jadi cinta pertamanya itu.
Dan beberapa hari itu pula Davin tak nampak di sekolah, hari-hari itulah Kyra sama sekali tak bertemu dengannya. Rasa khawatir memang melekat pada dirinya, penasaran akan kabar darinya memang mengunggah kekhawatirannya. Namun Kyra tak perlu tahu akan kabar darinya, jika memang harus melupakan perasaan cinta padanya. Setiap langkah yang di hadapinya, setiap momen akan terus melintasinya. Momen indah bersamanya merupakan momen yang akan terus mengisi isi hati dan pikirannya. Bagaimana caranya untuk melupakannya, berat rasanya jika harus menanggung beban ini. Beban penyesalan yang akan terus mendiaminya dalam beberapa waktu yang mungkin akan lama berdiam diri di dalam dirinya.
***
Beberapa hari telah berlalu, namun pikirannya yang kalut masih terus mengingat sosok pria yang masih saja bersemayam di hatinya. Ia berjalan menyusuri jalan, memasuki gerbang sekolah dengan perasaan yang masih nampak gelisah. Entah bagaimana hati ini terus bertanya akan kabar darinya. Beberapa langkah kakinya telah memasuki sekolah, dan tiba-tiba saja pria yang selama ini di pikirkannya nampak terlihat di sekitarnya. Sangat sesak dada ini karena beberapa hari tak bertemu dengannya, Ia pikir pria itu akan tersenyum sembari menyapanya seperti biasa. Namun betapa dingin sikapnya, ia hanya berjalan melewatinya dengan wajahnya yang ketus. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apa Davin sangat marah padanya hingga menyapanya saja tak mau. Kyra memang sempat akan menyapanya, namun ketika akan mengucapkan kalimat betapa beratnya suara ini akan keluar dari mulutnya. Mereka hanya berpapasan namun tak saling menyapa seperti seseorang yang tak saling mengenal.
Ketika Davin melewatinya, langkahnya terhenti matanya terus menatap punggungnya yang pergi semakin menjauh. Ingin rasanya ia mengejar lalu memeluknya dari arah belakang dan berkata, bahwa beberapa hari ini ia sangat merindukannya. Namun kakinya yang kaku sulit untuk melangkah mengejarnya. Sedikit sedih namun senang bahwa ia nampak terlihat sehat dan baik-baik saja.
Tak sadar bahwa terdiam kaku dan melihatnya yang berjalan pergi, mata Kyra mulai berkaca-kaca. Lalu dari arah belakang tiba-tiba saja Bella merangkul pundaknya. "Hey lagi liatin apa sih?" tanyanya yang juga menatap ke arah Davin berjalan.
Kyra sesegera menyeka air mata yang akan terjatuh dari kedua sudut matanya itu. "Hm, ti...dak ada," ucapnya gugup.
"Beberapa hari ini kamu ada masalah? kamu selalu murung dan tiap kali aku bertanya kamu selalu menghindari pertanyaanku," ucap Bella yang merasa heran dengan sahabatnya itu.
"Hm, mending kita ke kelas sekarang yuk," ucap Kyra menarik lengan Bella.
Beberapa kali Bella bertanya dan beberapa kali pula Kyra menghindari pertanyaannya. Kyra masih belum bisa menceritakan semua yang di alaminya antara dirinya, Davin, dan juga Gio. Hatinya masih belum merasa tenang untuk bercerita. Ia masih perlu waktu untuk bisa menceritakan semuanya.
Dan ketika ia sampai di kelas, Kyra duduk di kursinya dengan kepala yang tetunduk menatap meja. Air mata yang sedari tadi di tahannya mulai menetes membanjiri kedua pipinya. Bella pun merasa panik melihat sahabatnya yang secara tiba-tiba mengeluarkan air mata. "Kyra kamu kenapa?"
Namun Kyra tak menjawab sama sekali, tangisnya semakin pecah. Ia menangis sembari sesegukan, dan Bella pun segera memeluk sahabatnya tersebut.
"Kamu tenang dulu,harusnya kamu cerita kalau ada masalah, Jangan mendem sendirian," ucap Bella sembari mengusap-ngusap punggung Kyra.
Saat Bella memeluknya, entah mengapa suara tangisnya semakin keras terdengar, tangis yang sudah lama ia tahan kini semua di keluarkannya. Bella terus menenangkan sahabatnya sampai ia benar-benar merasa tenang.
"Ternyata memang benar kalau kamu suka sama Davin," ucap Bella tersenyum.
"Jadi selama ini kamu sudah mencurigaiku," ucap Kyra dengan kedua pipi yang memerah.
"Gimana aku ga curiga, kalau gelagat kamu terus menunjukan bahwa kamu suka sama dia," ucap Bella sembari mengacak-ngacak rambut Kyra.
Setelah Kyra selesai menceritakan semuanya, Kyra membuat kesepakatan dengan Bella untuk tak menceritakannya kepada Gio.
...****************...
Jam istirahat di mulai, Kyra dan Bella bergegas pergi ke kantin untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan setelah 3 jam lamanya belajar. Namun pada saat Kyra sampai di kantin langkah Kyra terhenti tanpa segera memesan makanan. Langkah itu terhenti ketika kedua matanya menatap ke arah tempat Davin beserta teman-temannya berada. Davin tampak ceria dan sedang asik bencengkrama bersama teman-temannya. Yang membuat langkah Kyra terhenti ialah melihat Davin yang sedang duduk bersebelahan dengan Githa. Rasa cemburu dan kesal muncul seketika di diri Kyra. Kyra terus menatapnya tanpa henti, raut wajahnya yang kesal dan sedih berpadu menjadi satu.
Lalu tiba-tiba saja Gio datang menghampiri sembari menarik lengan Kyra. "Malah diem disini, ayo pesan makanannya."
"Aku kira kamu ngikutin aku, ternyata kamu masih disini," ucap Bella menggelengkan kepalanya.
Entah mengapa rasa cemburu itu terus muncul tiap kali Davin akrab dengan perempuan lain, baik dengan Githa, Agatha, maupun dengan perempuan yang sekelas dengannya. Hingga berhari-hari Kyra terus melihat Davin sedang bencengkrama dengan perempuan lain. Sampai saat ini Davin terus bersikap dingin kepada Kyra. Bahkan saat berpapasanpun selalu tak ada senyuman dari raut wajah Davin. Kyra hanya berharap ia bisa kembali akrab dengan Davin seperti sedia kala.
Kali ini Kyra hanya bisa menatapnya dari jauh, rasanya ia ingin memanggilnya lalu tersenyum sembari menghampirinya dan tertawa bersamanya seperti dulu. Namun Kyra merasa ragu untuk melakukan itu semua, setelah apa yang dilakukannya kepada Davin.
Perasaan yang terasa sepi terus saja terasa, walaupun Kyra di kelilingi oleh teman-temannya namun ia terus saja merasa kesepian. Tiap hari ia tampak murung dan tiap kali ia terus merasa menyesal karena telah mengingkari janjinya terhadap Davin.
"Sampai kapan aku terus berharap dan sampai kapan aku bisa memulihkan hati dan pikiranku," ucap batin Kyra.