
Setelah berjam-jam mobil melaju akhirnya Kyra berserta teman-temannya sampai di tempat tujuan, di sebuah vila mewah dengan pemandangan pantai di sebelahnya. Saat semuanya tengah asik berbincang sembari membawa barang-barang ke dalam Vila. Hanya Kyralah yang terdiam dengan koper di sebelahnya, ia terdiam sembari memandangi laut dan jingganya langit di kala senja. Sungguh membosankan saat semuanya tengah asik berbincang dengan rekan dan pasanganya masing-masing. Kyra merasa terabaikan, terutama oleh si pria dingin yang sangat dirindukan kebersamaannya.
"Apa hanya bayanganku saja yang dapat menemaniku," gumamnya dalam batinnya.
Seketika salah satu teman Davin yang bernama Reyhan datang menghampiri Kyra yang termenung memandangi lautan. "Kenapa masih disini? mau aku bantuin angkat kopernya," ucapnya tersenyum menatap Kyra.
"Hm, tidak perlu... aku masih menikmati pemandangan laut," ucap Kyra sembari tersenyum.
"Kalau gitu aku ikutan deh liatin lautnya," ucap Reyhan.
Reyhan pun menemani Kyra yang tengah menikmati pemandangan lautan tersebut. Mereka cukup asik berbincang, hingga membuat rasa bosan yang Kyra rasakan saat ini sirna seketika. Tak hanya obrolan biasa saja, namun Reyhan juga melontarkan beberapa candaan yang membuat Kyra tertawa ketika mendengarnya.
Lalu tiba-tiba saja Davin menghampiri Kyra dan Reyhan yang tengah asik berbincang itu. "Rey," panggilnya menepuk pundak pria yang akrab di sapa Rey tersebut.
Reyhan pun menengok ke arah sampingnya , "Iya ada apa?"
"Lu cowok kan? kenapa malah asik-asiknya ketawa tanpa bantuin yang lain," ketus Davin dengan wajah datarnya.
"Iya...iya maaf," ucap Reyhan melangkah pergi.
Ketika Davin akan hendak pergi, tiba-tiba Kyra memegang lengannya dan menghentikan langkah kakinya. "Apa ada yang bisa ku bantu? soalnya aku jadi merasa ga enak kalau hanya diam saja," ucapnya dengan perasaan yang teramat gugup.
Seketika Davin melepaskan tangan Kyra dari lengannya itu, "Perempuan tidak perlu membantu, kecuali kalau kamu kuat angkatin barang-barang berat itu," ucapnya sembari menunjuk ke arah barang-barang.
Kyra terdiam dengan perasaan sedihnya, ketika raut wajah Davin yang tampak ketus itu pergi dari hadapannya. Lalu tak lama ia terdiam, ia pun melangkahkan kakinya sembari menarik koper miliknya masuk ke dalam villa. Hatinya semakin sakit saja ketika tatapannya tertuju menatap Davin sedang bersama Agatha.
Seketika Githa menghampiri sembari merangkul pundak Kyra. "Ngapain masih disini, ayo aku tunjukin kamarnya."
Kyra pun mengikuti Githa memasuki kamar yang di tujunkan padanya. Setibanya di dalam kamar, disana sudah ada Bella yang tengah sibuk bermain dengan ponselnya.
"Dari mana saja Kyra, kenapa baru masuk?" tanya Bella heran.
"Hm, dari tadi aku di depan Villa, memangnya kamu ga lihat aku," ucap Kyra yang nampak kesal terhadap sahabatnya karena sedari tadi ia sibuk berduaan dengan pasangannya.
Kyra lalu membereskan barang-barangnya di dalam kamar tersebut. Raut wajahnya masih nampak kesal, tak hanya merasa kesal terhadap sahabatnya saja. Ia juga merasa kesal terhadap sikap Davin yang masih dingin padanya. Di tambah rasa cemburu terhadap Agatha yang sedari tadi terus berdekatan dengan Davin.
Bella lalu menghampiri Kyra yang sedang kesal itu. "Kyra maaf ya, tadi aku cuekin kamu," ucapnya memelas.
"Harusnya tadi kamu ga usah maksa aku buat ikut, kalau dari tadi aku di cuekin," ucap Kyra sembari merapihkan pakaian di kopernya.
Bella lalu memegang tangan Kyra, " ihh maafin aku Kyra, aku janji deh ga bakalan cuekin kamu lagi."
"Iya.. iya di maafin, ga usah pegang-pegang deh," ucap Kyra yang rasa kesalnya masih belum juga mereda.
"Idih, sayangin aja tuh si Ludy," ucap Kyra melepas paksa pelukan Bella.
"Ih ko gitu sih, tapi tenang saja aku tetap sayangin kamu ko," ucap Bella tersenyum lalu kembali memeluk manja sahabatnya itu.
Tak henti-hentinya Bella mengganggu sahabatnya yang berwajah masam itu. Setelah merasa bersalah karena telah mengabaikan Kyra, Bella terus berusaha membuat Kyra tersenyum. Ya walaupun usahanya itu masih tetap saja tak membuat Kyra tersenyum sama sekali. Sedikit jengkel namun Kyra abaikan saja candaan garing dari sahabatnya itu. Tak lama mereka berdiam diri di kamar, tiba-tiba saja seseorang dari balik pintu kamar tersebut memanggil.
"Tok...tok...Kyra... Bella bantu siapin makan malam yu," teriaknya sembari mengetuk pintu.
"Iya kami segera nyusul," balas teriak Bella.
Kyra dan Bella pun keluar dari kamar untuk membantu yang lain menyiapkan makan malam. Namun ketika Kyra hendak membawa sebuah piring, tiba-tiba saja ia bertabrakan dengan Githa.
"Pranggg..
Piring tersebut pecah seketika, bahkan pecahan tersebut menggores kaki Kyra dan Githa. Kyra sesegera membereskan pecahan piring tersebut.
"Maaf kak ga sengaja," ucap Kyra panik sembari membereskan pecahan tersebut.
"Iya, ga apa-apa. Tapi yang terluka parah itu kamu, cepet obatin dulu." ucap Githa sebari mengusap kakinya yang terluka.
"Ah tanggung kak, mending aku bereskan dulu pecahannya takutnya ada yang nginjek," ucap Kyra.
Karena terlalu panik, salah satu jari tangannya pun ikut tergores. Tangan dan kaki Kyra sudah bercucuran darah namun ia tetap saja memaksakan diri membereskan pecahan tersebut. Lalu Rio dengan panik datang menghampiri Githa dan Kyra yang tengah terluka itu. "Kalian kenapa, ko bisa berdarah gitu," tanyanya menatap luka.
"Tadi aku tergores pecahan dari piring, tapi ga apa-apa ko cuma sedikit yang terluka," jawab Githa tersenyum.
Tak lama Rio datang, Davin pun datang dengan raut wajahnya yang tampak panik. Bukan menanyai keadaan Kyra yang lukanya lebih parah, ia malah menghawatirkan Githa yang hanya memiliki sedikit luka di kakinya. "Tha kamu baik-baik saja kan?"
"Iya aku baik-baik saja, yang terluka parah cuma Kyra saja," jawab Githa.
Hati Kyra teramat sakit ketika melihat pria yang disukainya lebih menghawatirkan wanita lain di bandingkan dengannya yang lebih banyak terluka akibat pecahan piring tersebut. Sembari membereskan pecahan tersebut, Kyra menahan tangisnya. Menundukan kepalanya, menahan sesak di dadanya yang teramat sakit menyaksikan raut wajah yang berekspresi bukan untuknya.
"Lebih baik kamu cuci dulu lukanya, biar aku saja yang bereskan ini," ucap Davin menghampirinya.
"Tidak perlu, biar aku saja yang bereskan," ucap Kyra yang masih bersikukuh membereskan pecahan tersebut.
"Tapi kamu terluka, jika kamu terus ngeyel beresin ini semua, nanti lukanya semakin parah," tegas Davin.
Kyra pun berdiri dari tempatnya, kemudian ia pun melangkah kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tangan dan kakinya yang berdarah itu. Saat ia berada di dalam kamar mandi, sembari membersihkan luka, dengan leluasa ia pun mengeluarkan tangisnya yang sedari tadi ia tahan. Ia menangis bukan karena sakit akibat luka di tangan dan kakinya melainkan luka yang berada di hatinya saat ini. Ia menangis tersedu-sedu sembari menahan suaranya agar tak terdengar keluar.
Lalu saat ia sudah merasa puas mengeluarkan tangisnya , iapun keluar dari kamar mandi tersebut. Namun pada saat ia membukakan pintu, di depan pintu tersebut terdapat kotak P3K. Entah siapa yang meletakannya, Kyra lalu membawa kotak tersebut ke dalam kamarnya dan segera membalut lukanya.