My Original Love

My Original Love
Bab 14 Di Cafe



Haripun mulai gelap, Kyra terdiam di jendela kamarnya sembari menatap gemerlap bintang yang bertebaran di langit malam. Sorot dari cahaya bulan yang menyoroti setiap tempat, membuat Kyra teringat momen bersama Davin. Momen dimana Davin memaksa Kyra untuk ikut bersamanya, mengingat momen tersebut membuat Kyra melamuni Davin sembari tersenyum. Lalu tak lama kemudian Kyrapun tersadar dari lamunanya.


"Apa yang aku pikirkan!, bodoh sekali aku memikirkannya," gumam Kyra sembari menggaruk kepalanya.


Kacau pikirannya jika Kyra memikirkan Davin, iapun lalu terduduk di kursi meja belajarnya, lalu membukakan buku untuk ia baca. Namun pada saat ia membukakan bukunya, tiba-tiba ponselnya berdering. Iapun lalu mengecek ponselnya, namun pada saat ia mengecek ponselnya Kyra tampak terkejut karena yang menelponnya adalah Davin. Kyrapun lalu mengangkat teleponnya.


"Hallo"


"Hallo Kyra, hm... maaf ganggu sebentar," jawab Davin dalam teleponnya.


"Ia ga apa-apa... jadi kamu mau apa telepon aku?" tanya Kyra.


"Sebenarnya aku ada PR matematika, terus aku tidak mengerti sama sekali... boleh ga kita ketemuan dan tolong ajari aku," jawab Davin.


"Hm boleh, terus nanti kita ketemuannya dimana Vin?" tanya Kyra.


"Kita belajarnya di cafe, nanti aku jemput kamu," ucap Davin.


"Oh ya sudah kalau gitu aku siap-siap dulu," ucap Kyra.


"Iya silahkan," ucap Davin sembari menutup teleponnya.


Setelah itu Kyrapun bersiap-siap mengganti pakaiannya dan membereskan bukunya untuk ia bawa sekalian belajar bersama Davin.


Tak lama Kyra bersiap-siap, di depan rumahnya terdengar suara klakson motor. Kyrapun lalu memeriksanya dengan membukakan gordin kaca rumahnya, setelah di periksa teryata Davin yang menyalakan klakson tersebut. Kyrapun lalu segera menghampiri Davin.


"Sudah siap," sahut Davin sembari terseyum manis.


"Iya ayo," ucap Kyra.


Seperti biasa Davin lalu memasangkan helm kepada Kyra.


"Nah sekarang helmnya sudah terpasang, ayo naik," ucap Davin.


Pada saat Kyra telah menaiki motor Davin, namun Davin terdiam tanpa menjalankan motornya. Kyrapun lalu bertanya kepada Davin, "Vin ayo, kenapa belum maju juga."


"Aku ga bakalan nyalain motornya kalau kamu belum peganggan," jawab Davin.


"Hah peggangan Vin," ucap Kyra dengan ragu.


"Iya peggangan ke pinggang aku," ucap Davin dengan tegas.


Kyra merasa ragu dan gugup saat hendak memegang pinggang Davin. Sehingga membuat tangan Kyra sangat kaku, dengan ragu Kyra hanya memegang pinggiran jaket Davin.


"Kyra penggangan yang benar, kalau kamu tidak penggangan yang benar nanti jatuh," seru Davin.


"Aku pikir ini sudah benar Vin," ucap Kyra.


Lalu Davinpun menarik kedua lengan Kyra dan membenarkan pegangannya, dengan kedua lengan Kyra yang memeluk tubuh Davin. "Nah ini baru benar," ucap Davin sembari tersenyum. Kyra hanya tersipu malu karena kedua lengannya memeluk tubuh Davin. Dengan pipi yang menempel di punggung Davin, sepanjang perjalanan perasaan Kyra campur aduk antara malu dan merasakan nyaman. Begitu pula dengan Davin, perasaan bahagia dan nyaman membuatnya berpikir bahwa pertemuannya dengan Kyra bukan untuk belajar akan tetapi seperti sepasang kekasih yang akan berkencan.


Tak lama motor melaju, akhirnya Kyra dan Davin telah sampai di cafe tempat tujuan mereka belajar, Davinpun lalu memarkirkan motornya. Setelah itu merekapun masuk ke dalam cafe tersebut dan segera memesan makanan dan minuman.


"Kyra kamu pesan apa?" tanya Davin.


"Hm... aku pesan jus jeruk saja," jawab Kyra.


"Oh terus makanannya kamu mau pesan apa?," tanya kembali Davin.


"Aku hanya pesan minuman saja, soalnya aku tadi sudah makan jadi agak kenyang," ucap Kyra.


Davinpun lalu memanggil pelayang cafe untuk memesan minuman dan makanan.


"Mba... mba," panggil Davin.


"Iya ada yang mau di pesan," ucap pelayan cafe.


"Saya pesan 1 jus jeruk, 1 americano dan 1 kentang goreng," ujar Davin.


"Baiklah, mohon di tunggu ya," ucap pelayan cafe.


Sembari menunggu pesanan datang Davin dan Kyra mengeluarkan buku di dalam tasnya untuk mereka pelajari.


"Oh Vin, soal matematika apa yang kamu tidak mengerti?" tanya Kyra.


Davin menunjukan soal di bukunya, "Yang nomor 1 sampai 5 aku kurang paham."


Kyrapun lalu menjelaskan soal matematika yang di tunjuk Davin. Pada saat Kyra menjelaskan soal tersebut, Davin tak fokus mendengarkan Kyra tatapannya tampak kosong memandang wajah Kyra.


"Vin kamu ngerti ga?" tanya Kyra.


Tanpa ia dengar pertanyaan Kyra, tatapannya masih saja kosong memandangi wajah Kyra.


"Oy Vin, kamu kenapa sih dari tadi ga fokus dengerin aku," ucap Kyra sembari melambaikan tanganya ke arah wajah Davin.


"Eh iya, yang tadi tuh gimana bisa jelasin lagi," ucap Davin dengan terkejut.


"Vin kamu fokus dong, kita kan bertemu untuk belajar bukan untuk melamun," ucap Kyra dengan tegas.


"Hehe... iya maaf," ucap Davin sembari menggaruk kepala.


Kyrapun lalu melanjutkan mengajari Davin, dan kali ini Davin sangat fokus ketika Kyra menjelaskan setiap detail dari soal matematika tersebut. Lalu ketika Davin menulis, tiba-tiba ada tulisan yang salah. Iapun lalu berniat menghapusnya. Namun pada saat Davin akan mengambil penghapus, Davin meraba-raba meja mencari posisi pengahapus berada. Dengan mata yang hanya melihat buku, tanpa sengaja Davin meraba tangan Kyra. karena ketidak sengaja tersebut sontak membuat jantung keduanya berdegup kencang dan raut wajah Kyra tanpak tersipu malu ketika Davin meraba tangannya.


"Maaf Kyra, aku tak berniat meraba tanganmu tadi aku cuma cari penghapus," ucap Davin dengan kaku.


"Ah i...iya tidak apa-apa," ucap Kyra dengan gagu.


Lalu pelayan cafepun datang mengantar pesanan mereka, "Ini pesananya, silahkan di nikmati."


"Iya Terima kasih mba," ucap Davin.


Dengan tubuh yang sedikit berkeringat Kyrapun lalu meminum jus jeruk yang ia pesan, agar hatinya sedikit lebih tenang dan melupakan kejadian tersebut. Lalu Davin hanya berfokus melihat bukunya dengan hati dan pikirannya yang tak karuan.


"Aduh gimana ya, kalau Kyra berpikir kalau aku bohong dan nyari kesempatan untuk memegang tanganya... atau dia berpikir bahwa aku mesum," gumam Davin dengan cemas.


Lalu tak lama kemudian, tiba-tiba Agatha bersama seorang temannya bernama Gia sedang berada di cafe. Dan merekapun melihat ke arah meja Davin dan Kyra berada, lalu menghampiri Kyra dan Davin.


"Hei Vin ternyata kamu disini juga," ucap Agatha.


"Hm iya," ucap Davin.


"Kalau gitu aku dan Gia boleh gabung bersama kalian ga?" tanya Agatha.


"Oh iya," jawab Kyra.


Lalu Agatha dan Gia bergabung duduk di tempat Kyra dan Davin. Namun Kyra merasakan perasaan yang tak nyaman, karena Agatha duduk berdampingan dengan Davin. Begitu pula dengan Davin yang merasa kehadiran Agatha mengganggu waktu berdua dengan Kyra


"Kenapa Agatha malah datang sih, dan mengganggu waktuku untuk berduaan dengan Kyra," gumam Davin dalam hatinya.