My Original Love

My Original Love
Bab 24 Seseorang Yang Dirahasiakan



Dalam perjalan pulang, Ryan mencurigai sikap Gio yang terasa aneh baginya. Ryanpun mulai bertanya kepada Kyra.


"Dek apa kamu ga merasa aneh sama sikap Gio, dia kayak yang suka gitu sama kamu," ucap Ryan.


"Hah, mana mungkin dia suka sama aku."


"Lihat deh perlakuan dia ga seperti seorang teman pada umumnya, kalau Davin kakak bisa lihat dia itu memang suka sama kamu."


Seketika pipi Kyra memerah, ketika Ryan berbicara mengenai Davin.


"Apa sih kak, malah ngebahas yang aneh-aneh," ucap Kyra malu.


Tak lama mereka melaju, akhirnya mereka telah sampai di depan rumah. Ryanpun segera menghentikan mesin motornya lalu memasukannya ke dalam garasi. Lalu Kyra segera memasuki rumahnya dan segera menyapa Annathasia ibunya.


"Ibu Kyra pulang," sahut Kyra membuka pintu.


"Eh udah pulang, gimana tadi di sekolahnya," tanya ibunya.


"Gitu deh seperti biasanya, hanya saja tadi pas istirahat ada yang berbeda," jawab Kyra tersenyum.


"Beda gimana sih, ibu jadi penasaran," ucap ibunya penasaran.


"Ih ibu kepo deh, pokonya rahasia," ucap Kyra.


Ryan datang menghampiri, lalu mencoba menggoda adiknya dengan candaannya.


"Rahasia katanya... tapi aku udah bisa nebak pasti Davin nyatain cintanya.... hmm atau mungkin Gio yang nyatain cintanya, kan dia udah lama temenan sama Kyra pasti hatinya udah ada lovenya gitu hehe...


Wajah Kyra seketika memerah dengan ucapan Ryan tersebut. Dan perlahan Kyra menelan salivanya, candaan Ryan itu berhasil membuat Kyra tersipu malu.


Kyra spontan memukul lengan Ryan, namun Ryan berlari menghindar pukulan dari Kyra.


"Kakak dari tadi nyebelin banget sih," ucap kyra mengejar Ryan.


"Huh, kakak kan cuma bercanda... tapi kayanya bener deh antara Gio dan Davin," ucap Ryan menghindari pukulan Kyra.


"Eh sudah-sudah... ibu sih setuju aja kalau memang Gio atau Davin jadi menantu," ledek Ibunya terseyum.


"Ihh... ibu sama Kak Ryan sama-sama nyebelin," ucap Kyra kesal.


Kyra menyerah mengejar Ryan yang sulit di tangkap olehnya lalu masuk ke kamarnya dengan kesal.


"Sikap ibu sama ka Ryan sama-sama nyebelin, mentang-mentang anak dan ibu sama aja sikapnya," gumam Kyra kesal sembari menutup pintu kamarnya.


Sedikit kesal dan malu atas ucapan Ryan dan ibunya. Namun rasa bahagia masih tertanam, ketika momen sewaktu di sekolah bersama Davin masih teringat jelas di pikiran Kyra.


Seketika Kyra terduduk di tempat tidurnya, sembari melamun mengingat momen pada saat istirahat di sekolah bersama Davin. Ingatan yang teringat jelas di pikiranya, membuat Kyra terseyum sembari menyentuh ke dua bibir merah mudanya itu. Dimana jari Davin yang menyetuh lembut bibir Kyra, membuat Kyra tak henti memikirkan momen itu.


Namun Lamunan itu tak berlangsung lama, ketika lamunannya itu teringat akan wajah Davin yang mendekat dan bibirnya yang mulai akan bersetuhan. Dengan spontan Kyra melepaskan sentuhan jari di bibirnya itu.


"Arrgghh... kenapa aku tak henti mikirin Davin sih, dan lagi tangan ini kenapa bisa-bisanya nyentuh bibir... ga jelas banget nih pikiran," gumam Kyra sembari memukul jari sebelah tangannya.


Lalu suara dering telepon dari ponsel Kyra berbunyi, seketika Kyra merasa kaget dengan suara dering dari ponselnya itu.


"Aduh, gara-gara pikiranku yang kacau suara dari ponselku saja membuatku kaget," gumam Kyra yang kaget.


Kyra lalu mengambil ponselnya tersebut dan langsung melihat nama Bella dari layar ponselnya, Kyrapun lalu mengangkat teleponnya tersebut.


"Kyra," sahut Bella di telepon.


"Iya Bel, ada apa," jawan Kyra.


"Hari ini aku mau ke rumah kamu boleh kan," ucap Bella dengan suara sengau.


"Eh kenapa Bel, ko suaranya kayak yang habis nangis," ucap Kyra penasaran.


"Iya aku tunggu."


Kyra merasa khawatir dengan Bella, karena suara yang terdengar sengau ketika berbicara di telepon. Perasaan Kyra merasa tak enak dan terasa resah memikirkan Bella.


"Bella kenapa ya, ko perasaan aku ga enak gini ya," gumam Kyra.


Kyra menunggu Bella dengan perasaannya yang tampak gelisah. Mungkin ini yang namanya pikiran perempuan selalu mengandalkan firasat, begitulah kegelisahan Kyra saat ini.


Selang beberapa menit, Bellapun datang mengetuk pintu rumah Kyra.


"Tok...tok... permisi....


Kyrapun dengan sigap segera keluar dari kamarnya, lalu segera membukakan pintu rumahnya itu. Namun ketika Kyra membukakan pintu, tiba-tiba Bella memeluk Kyra sambil menangis.


"Eh kamu kenapa," ucap Kyra terkejut.


"Tadi aku... ucap Bella tertahan karena tangisnya.


"Mending kamu masuk dulu yu, kamu ceritakan semuanya di kamarku saja," ajak Kyra sembari merangkul dan mengusap pundak Bella.


Kyra dan Bella memasuki kamar. Tak lupa pula Kyra membawakan segelas air putih untuk di berikan kepada Bella.


"Minum dulu ya biar tenang," ucap Kyra menyodorkan gelas yang berisi air putih tersebut.


Bella meneguk sedikit air dalam gelas tersebut. Wajahnya masih nampak sendu dengan mata bengkak yang ke merahan. Bellapun mulai menceritakan masalahnya itu. Ia meluapkan curahan yang terjadi antara dirinya dan Gio. Namun dalam curhatan tersebut Bella tak berani menyebutkan nama Gio, ia hanya menyebut Gio dengan sebutan cinta pertamanya.


"Jadi dia sebenarnya suka temennya, dan itu yang buat kamu sakit hati," ucap Kyra.


"Iya dia suka sama temannya, mungkin dia sudah lama sekali suka sama temannya itu," ucap Bella dengan sesegukan.


"Memangnya siapa sih cinta pertama kamu itu. Dari kita masih SMP kamu ga pernah nyebutin nama dia," ucap Kyra penasaran.


"Nanti jika aku udah siap, aku bakal kasih tahu dia yang sebenarnya," ucap Bella berlinang air mata.


Lalu Kyra memeluk Bella sembari mengusap punggungnya dengan lembut, agar Bella merasakan ketenangan. Seketika tangis Bellapun mulai pecah kembali, kedua bola matanya perlahan mulai mengeluarkan air dan terjatuh di sudut dagunya.


"Maaf Kyra, aku tidak bilang bahwa orang yang ku suka itu adalah Gio... aku tak bisa berkata apapun ketika orang yang di sukai Gio adalah sahabatku sendiri," batin Bella dengan tangisnya.


Lalu Kyrapun mengelap wajah Bella yang basah karena air matanya itu.


"Sudah jangan nangis lagi, kamu jelek kalau nangis," ucap Kyra mengelap wajah Bella dengan tanganya.


Dengan wajahnya yang sendu, Bella menatap Kyra seakan tak terima kenyataan bahwa cinta pertamanya itu menyukai sahabatnya sendiri.


"Hmm... Kyra aku boleh nanya sesuatu ga," ucap Bella.


"Boleh, memang mau tanya apa," ucap Kyra penasaran.


"Kan cinta pertamaku suka sama sahabatnya, gimana kalau itu terjadi sama kamu... hm, misalnya Gio suka sama kamu dan nyatain perasaanya," pungkas Bella.


"Hm... aku bakal tolaklah... aku ga mau merusak hubungan persahabatan kami, karena kalau kita menjalin hubungan sebagai kekasih kita bisa putus, dan kita ga akan bisa kayak dulu lagi," jawab Kyra.


"Oh benar juga," ucap Bella merasa lebih tenang dengan jawaban Kyra.


"Dan satu lagi aku ga punya perasaan sama Gio... kenapa sih dari tadi banyak yang ngebahas Gio... kak Ryan, ibu, termasuk juga kamu," lontar Kyra.


Gadis polos itu tak menyadari akan sesuatu yang terjadi dengan perasaan Gio terhadapnya. Hanya Kyra si gadis polos yang tak sadar bahwa Gio menyukainya.


"Hah, isi kepalanya cuma ada mata pelajaran saja... dia tak menyadari bahwa Gio memang beneran suka sama dia," batin Bella.