
Ke esokan harinya Kyra nampak berdiri di depan pintu kelasnya. Kali ini ia tiba di sekolah terlalu pagi, hingga tak ada satu pun murid yang nampak di kelasnya. Kyra berdiri di depan kelas berharap sahabatnya akan lekas sampai di sekolah. Berulang kali Kyra mengirim pesan kepada Bella, namun tak ada satu pun balasan darinya. Sangat jenuh jika ia hanya terdiam menunggu Bella di depan kelas, akhirnya Kyra memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Untuk mengusir kejenuhannya, Kyra segera membuka bukunya untuk di baca.
15 menit telah berlalu, satu-persatu murid kelas 11 IPA 1 telah bermunculan. Namun Bella belum juga nampak datang ke kelas. Kyra pun lalu kembali pergi ke depan kelasnya. Menatap pintu gerbang dari kejauhan, menunggu ke datangan sahabatnya di sekolah. Tak berselang lama ia menunggu, yang di harapkan untuk datang tak kunjung ada. Namun seketika Davin muncul dari pintu gerbang sekolah. Ia tersenyum menatap Kyra yang tengah berdiri di depan kelasnya, lalu berlari menghampirinya.
"Hei, dari kapan kamu datang?" tanya Davin dengan senyuman yang seakan merasa senang bertemu gadis yang jadi calon pacarnya itu.
"Hm, aku sudah dari tadi datang ke sekolah," jawab Kyra yang juga nampak senang.
Davin membuka resleting tasnya lalu mengambil sebuah kotak makan yang berada di tasnya tersebut. "Aku tadi buat sandwich, ini spesial buat kamu," ucapnya menyodorkan kotak makan tersebut.
"Buatan kamu atau buatan bu Rere nih," ucap Kyra mengambil kotak makanan yang berisi sandwich tersebut.
"Yang pasti itu buatan aku spesial buat~ ucap Davin lalu melangkah mendekat ke arah telinga Kyra. "Calon istriku di masa depan."
"Deg...
Jantung Kyra pun mulai berdegup cukup kencang setelah Davin berbisik menggodanya. Lalu dengan spontan Kyra menginjak kaki Davin.
"Aw," teriak Davin kesakitan.
"Ga u...sah ngarep," ucap Kyra dengan nada gugup.
Davin tersenyum seketika menatap Kyra yang tengah malu setelah di godanya. Hingga membuat gadis polos itu merasa tak nyaman dan terus mengalihkan pandangannya dari tatapan Davin.
Tak sampai di situ saja Davin menggoda Kyra . Dengan jahilnya ia terus-menrus menggoda perempuan polos itu dengan rayuan mautnya.
"Calon siapa sih cantik banget," ucapnya mendekatkan mulutnya ke arah telinga perempuan yang bakal jadi pacarnya tersebut.
Seketika Kyra menutup mulut Davin dengan telapak tangannya. "Sttt, berhenti bisik-bisik di telingaku," ucapnya dengan wajah yang tampak memerah.
Davin menyingkirkan tangan Kyra dari mulutnya itu, lalu tersenyum sembari memegang salah satu pipi Kyra. Semakin gila saja Kyra jika jantungnya terus berdegup tak terkendali. Senyuman manis pria itu terus membuat jantung Kyra berdebar-debar, Kyra menunduk mengalihkan tatapannya dari pandangan pria yang jadi calon pacarnya tersebut.
"Ja...ngan natap aku kaya gitu," ucap Kyra dengan nada yang semakin gugup.
Davin tersenyum dan tertawa kecil menatap Kyra yang terus mengalihkan padangannya dari tatapannya.
"Ga usah malu, nanti juga kalau udah resmi pacaran pasti terbiasa," ucap Davin.
Lalu dari kejauhan tampak Bella sedang berjalan mengarah ke kelas. Ia berjalan tak hanya seorang diri melainkan bersama Ludy, kakak kelas yang kini telah menjalin hubungan sepasang kekasih dengan sahabat Kyra tersebut.
Kyra tampak heran dengan Bella yang berjalan dengan Ludy sembari berpegangan tangan. Ya mungkin Kyra heran karena memang ia belum mengetahui bahwa sahabatnya sudah berpacaran dengan Ludy.
"Ehem, pegangan tangan nih," ucap Kyra menatap kedua tangan yang sedang berpegangan tersebut.
Seketika Bella pun melepas tangannya dari genggaman pria yang jadi kekasihnya itu. Wajah Bella tampak memerah, namun Kyra hanya tersenyum melihat sahabatnya yang tampak malu setelah di sindirnya.
"Hm, nanti kita juga bakal sering peganggan tangan," ucap Davin yang kembali menggoda perempuan polos tersebut.
"Iya deh, do'akan ulanganya dapet nilai bagus terus kita bisa resmi," ucap Davin tersenyum sembari melangkah pergi.
Bella mengerutkan kedua alisnya, ia tampak heran dengan ucapan yang di lontarkan Davin tersebut.
"Maksudnya resmi apa?" tanya Bella.
Kyra nampak gugup ketika sahabatnya itu bertanya. Gadis polos itu memang merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya dan Davin memiliki rencana untuk berpacaran. Ya walaupun Bella sahabatnya, namun entah mengapa terasa berat untuk mengakuinya. Bagaimana tidak malu, gadis polos yang memiliki prinsip belajar dan sekolah adalah nomer satu bisa jatuh cinta dan mungkin tak lama lagi akan memiliki seorang kekasih. Kyra lebih memilih tak mengakuinya dan langsung mengalihkan pertanyaan dari sahabatnya tersebut.
"Kalian pacaran kan?" tanya balik Kyra.
"Iya kami pacaran," jawab Ludy yang kembali menggenggam tangan Bella.
Namun tiba-tiba Gio datang menghampiri sembari menarik lengan Bella.
"Aku perlu bicara sama kamu, tapi hanya berdua saja," ucap Gio.
Gio lalu menarik Bella ke tempat dimana ia bisa mengobrol berdua tanpa di dengar oleh Kyra.
"Dalam waktu dekat aku bakal nembak Kyra, kamu bisa ga bantu aku ngasih saran atau tempat yang cocok buat nembak dia," pinta Gio yang nampak resah. Gio merasa gelisah dan resah setelah melihat Kyra yang terus menerus berada di dekat Davin, seakan perasaan yang di rasanya saat ini adalah takut kehilangan.
Lalu seketika Ludy menghampiri dan segera menarik lengan kekasihnya tersebut.
"Kalau mau nyatain cinta berusaha sendiri, jangan nyusahin orang," ucap Ludy dengan raut wajah yang nampak kesal.
"Hah, memangnya kenapa? kamu siapanya dia berani ngatur-ngatur," ucap Gio yang juga nampak kesal dengan Ludy yang memotong obrolannya dengan Bella.
"Gue pacarnya, jadi gue berhak ngatur dia," tegas Ludy menarik lengan Bella dan langsung membawanya pergi.
Bella tak berkutik ketika kekasihnya itu membawa pergi dirinya dari hadapan Gio. Bella hanya terdiam sembari berjalan, ia sesekali menengok ke arah belakang menatap Gio yang tampak kesal setelah Ludy menarik Bella dari hadapannya.
Ketika sampai di depan pintu kelas, Bella tampak murung seakan merasa bersalah terhadap Gio karena Ludy melarangnya untuk membantu Gio.
"Ada apa? kenapa wajahmu jadi tak enak di lihat?" tanya Ludy menatap wajah kekasihnya tersebut.
"Kenapa kamu melarangku untuk membantu Gio?" tanya balik Bella.
"Kemarin kan aku sudah bilang bahwa aku akan jadi orang yang bakal buat kamu lupa dia. Kalau kamu terus membantu percintaan dia, kamu bakal susah jatuh cinta padaku," jawab Ludy tersenyum sembari mengusap rambut Bella.
Lalu tiba-tiba Kyra datang menghampiri Bella dan Ludy yang tengah berdiri di depan pintu kelasnya tersebut.
"Percintaan siapa maksudnya? terus susah jatuh cinta, apa kamu maksa Bella pacaran?" tanya Kyra heran.
"Oh itu, percintaan teman kak Ludy... Hm kak Ludy ga maksa pacaran ko, aku tulus nerima dia," jawab Bella bernada gugup.