
Semua murid mengikuti pergerakan guru olahraga, lalu pada saat semua murid fokus melakukan gerakan pemanasan, hanya Davin yang terus saja usil menggoda Kyra.
"Kyra aku tampan kan... jangan pernah telat suka sama aku! nanti kalau di ambil orang kamu nyesel loh!" goda Davin sembari mengikuti gerakan pemanasan.
Kyra mengabaikan Davin, namun Rasa canggung, malu, dan jantung berdebar, semua bercampur menjadi satu. Rasanya Kyra ingin pergi jauh dari samping Davin. Gila rasanya, jika perasaan yang kini timbul di hati Kyra terus saja bergojolak tak tertahankan.
Kyra lalu bergeser menarik Bella untuk bertukar posisi. Namun Davin malah terus mengikuti Kyra, menarik Bella untuk bertukar posisi dengannya.
"Kalian ga ada kerjaan banget sih, geser sana-sini," ucap Bella kesal.
"Maaf, tapi aku ga mau jauh sama calon pacar hehehe..." bisik Davin.
"Terserah deh... tapi kalian cocok ko," bisik Bella.
Lalu Davin kembali menggoda Kyra dengan berbisik ke telinganya, "Kata Bella kita cocok... aku yakin kita pasti berjodoh."
Kyra mulai geram dengan tingkah Davin yang terus mengganggunya. Dengan spontan ia pun berucap dengan nada yang cukup keras.
"Davin, kamu jangan ganggu aku terus dong! kamu mending pindah tempat sana!"
Lalu seketika semua murid yang mengikuti olahraga, melihat ke arah Kyra dan Davin.
"Hey kalian yang di sana, pindah ke sini," tunjuk guru olahraga.
"Saya pak," ucap Davin.
"Iya kamu! pindah ke samping saya bersama anak perempuan yang di samping kamu," tegas guru olahraga tersebut.
Kyra cukup malu setelah ia berbicara cukup keras. Di tambah semua orang yang berada di lapangan memperhatikannya.
"Davin nyebelin banget sih," batin Kyra.
Kyra dan Davin lalu beranjak pergi ke arah samping guru olahraga. Lalu pada saat Kyra melangkahkan kakinya, ia berjalan melewati tempat Agatha berbaris.
"Harusnya sih yang pindah ke depan tuh yang berteriaknya saja... dasar anak papah," sindir Agatha.
Kyra merasa kesal dengan sindiran Agatha tersebut, namun saat ini ia tak bisa meluapkan kekesalannya itu. Ia pun lalu mengabaikannya dan terus lanjut berjalan ke arah depan, lalu berdiri di samping Davin dan guru olahraga tersebut.
Kyra merasa sangat malu karena ia menjadi pusat perhatian semua orang. Tatapan mereka seolah seperti menertawainya, di hari ini Kyra sudah 2 kali menjadi bahan tertawa para murid. Pagi tadi ia sempat di ledek habis-habisan dan sekarang ia harus menanggung malu gara-gara Davin.
Kyra sangat gemetaran saat melakukan pemanasan. Karena ia harus berhadap-hadapan dengan semua murid yang mengikuti olahraga.
Lalu Davin pun mencoba menenangkan Kyra.
"Kyra tenang saja relax... yang di depan itu bukan cuma kamu saja, tapi ada aku juga... anggap saja yang di hadapan kamu itu tidak ada," bisik Davin.
Setelah mendengar ucapan Davin, Kyra menghela nafas lalu mencoba untuk mengendalikan rasa gugupnya itu. Ucapan Davin membuat Kyra merasa sedikit lebih tenang.
Kyra memang sedikit kesal terhadap sikap Davin. Akan tetapi, entah mengapa kekesalannya itu seakan memudar setelah Davin mencoba menenangkannya. Kini ia tahu, bahwa perasaannya itu yang tak bisa membenci Davin. Entah perasaan suka atau pun perasaan sayang yang ia rasakan saat ini.
Lalu setelah pemanasan selesai, guru olahraga pun segera memberi perintah selanjutnya. Yaitu meminta agar setiap kelas memberikan perwakilan, baik itu perempuan maupun laki-laki.
"Untuk tiap kelas menunjuk perwakilan, 7 orang perempuan dan 11 orang untuk laki-laki," seru guru olahraga tersebut.
Bella lalu bertanya sembari mengacungkan tanganya, "Memangnya kita mau ngapain pak."
"Kita akan bermaian bola tangan dan sepak bola, yang pertama main, regu perempuan akan bermain bola tangan lalu setelah itu regu laki-laki bermain sepak bola... masing-masing hanya akan di beri waktu 20 menit untuk setiap permainan," ucap guru olahraga tersebut.
Lalu setiap kelas berkumpul melingkar untuk mendiskusikan perwakilan setiap kelasnya. Tak lama mereka berdiskusi akhirnya semua telah siap, namun perwakilan untuk perempuan kurang 1 orang. Tak ada yang mau mengisi perwakilan tersebut. Lalu tiba-tiba ketua kelas pun menunjuk Kyra untuk mengikuti permainan tersebut.
"Bagaimana kalau Kyra saja yang ikut," tunjuk ketua kelas tersebut.
"Aku tidak ma..." ucap Kyra, lalu di potong oleh Bella.
"Bell aku belum selesai ngomong... pokonya aku ga mau!" tegas Kyra.
"Udah ga apa-apa, nanti di semangatin sama Davin loh," ucap Bella terseyum.
"Tapi aku ga mau!" tegas Kyra.
Lalu ketua kelas tetap menetapkan Kyra sebagai perwakilan untuk ikut bertanding bola tangan.
"Sekarang udah fix, ga usah lagi nolak!" tegas ketua kelas.
Dengan berat hati Kyra menerimanya, walaupun memang sebenarnya Kyra tak ingin mengikutinya. Karena Kyra masih tampak was-was terhadap padangan orang. Kyra tak ingin mendengar lagi cacian dari orang-orang, bahwa dia anak manja atau pun anak papa. Meskipun cacian tersebut tak benar adanya, namun cacian itu sudah membuat Kyra sakit hati.
Setelah semuanya selesai, guru olahraga pun segera mengistruksikan perintahnya, "Untuk perwakilan perempuan bersiap di posisi masing-masing."
Kyra lalu berdiri di posisinya sebagai left wings, Kyra sangat gugup ketika ia berada di lapangan. Di tambah lagi ia semakin sangat gugup, karena Agatha perempuan paling menyebalkan itu ikut bertanding sebagai lawannya.
"Kenapa Agatha harus ikut juga sih," batin Kyra kesal.
Guru olahraga lalu segera mengambil koin untuk mengundi pemegang bola pertama. Kelas IPA memilih koin bagian depan sedangkan kelas IPS memilih koin bagian belakang.
"Baik saya lempar sekarang," ucap guru olahraga melempar koin tersebut.
Tak lama koin melambung, koin pun terjatuh. Lalu keberuntugan berpihak pada kelas IPA, karena koin bagian depan berada di atas.
Lalu permainan pun di mulai, Kyra tampak gugup sampai tubuhnya mengeluarkan keringat.
"Kyra ayo pasti bisa," teriak Davin.
Setelah mendengar teriakan Davin, spontan Kyra tersenyum. Entah mengapa, rasa bahagia terpancar di wajah si gadis polos itu. Rasa gugup yang ia rasakan saat ini mungkin perlahan hilang.
Davin terus berteriak menyemangati perempuan yang ia sukai itu. Tak hanya Davin saja, sebagian dari laki-laki berteriak menyemangati Kyra. Kyra memang cukup populer di kalangan laki-laki, selain pintar, Kyra juga sangat cantik. Walaupun gadis polos itu banyak di sukai. Akan tetapi, tak ada laki-laki yang bisa mendapatkan Kyra, karena ia hanya mementingkan belajar dan sekolah.
Davin tak ingin kalah dari laki-laki lain yang menyemangati Kyra. Ia pun semakin keras berteriak menyemangati Kyra.
"Kyra semangat! Kyra cuma milik gue seorang," teriak Davin.
Lalu semua murid yang berada di lapangan meneriaki Davin.
"Huuuu"
"Davin lu kelas mana sih, malah ngedukung cewek lain," ucap perempuan teman sekelas Davin.
"Wajar sih, dia kan salah satu buciner Kyra," ledek Nicko.
"Bukan buciner tapi calon pacarnya," ucap Davin percaya diri.
Wajah Kyra tampak memerah setelah mendengar teriakan Davin yang menyebut Kyra sebagai miliknya. Bukan semakin semangat, Kyra malah semakin gugup dan tak konsentrasi.
Lalu Nicko berteriak menyemangati Agatha.
"Agatha sayang ayo semangat!" teriak Nicko.
"Nicko pujaan hatimu selalu ada untukmu," ledek Davin sembari berteriak.
Agatha sangat kesal, karena Nicko yang menyemangatinya.
"Kenapa harus Nicko, udah gitu Davin malah mendukung Kyra," batin Agatha kesal.
Karena sangat kesal, ketika bola di dribbling oleh Kyra. Agatha mencoba merebut bola tersebut sembari mendorong tubuh Kyra sampai terjatuh.