
Tiba waktunya untuk murid SMA ANGKASA pulang sekolah. Kyra berdiri di depan pintu gerbang sekolah, menunggu kedatangan orang yang menjemputnya. Lalu Davin datang menghampiri Kyra.
"Nunggu siapa?" tanya Davin menepuk pundak Kyra.
"Aku nunggu yang jemput," jawabnya.
"Mending pulang bareng aku saja," ajak Davin.
"Tidak bisa, ayahku pasti udah nyuruh kak Ryan buat jemput," pungkas Kyra.
Tak lama Kyra menunggu, tiba-tiba seseorang yang membawa motor datang menghampirinya.
"Neng Kyra ya?" tanya seseorang tersebut.
"Iya saya Kyra," jawab Kyra.
"Saya ojek yang di pesan Ryan buat jemput neng Kyra." ucap orang tersebut.
"Memangnya kenapa kakak saya tidak menjemput," tanya Kyra heran.
"Katanya hari ini dia sedang sibuk dengan tugas kuliah dan tidak bisa pulang sekarang," jawab tukang ojek tersebut.
Davin tiba-tiba memegang pergelangan lengan Kyra.
"Pulang bareng aku yuk," ajak Davin.
"Tapi vin, kak Ryan udah pesankan ojek untukku," ucap Kyra.
Lalu Davin mengeluarkan uang dari dalam dompetnya itu.
"Pak saya kasih lebih uangnya... nanti bapak bilang sama ibunya Kyra, kalau Kyra bakal pulang sama saya," ucap Davin menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu.
"Vin mending kamu ambil lagi... itu kan uangnya terlalu besar," ucap Kyra.
"Udah ga apa-apa... pak jangan lupa sampaikan pesan saya," ucap Davin lalu menarik lengan Kyra menuju ke arah parkiran motor.
Davin menarik lengan Kyra secara paksa, agar Kyra dapat mengikutinya. Kyra berusaha melepaskan genggaman tangan Davin. Namun genggamannya terlalu kuat, membuat Kyra sulit untuk melepaskannya.
"Vin bisa lepaskan aku ga," ucap Kyra yang berusaha melepaskan genggaman tangan Davin.
"Engga bisa! hari ini kamu pulang bareng aku!" tegas Davin.
"Vin kamu maksa banget sih," ucap Kyra kesal.
Setelah sampai di parkiran motor, Davin lalu segera memasangkan helm ke kepala Kyra.
"Davin aku bisa pasang sendiri," ucap Kyra.
"Sudah diam, biar aku saja yang pasangkan," ucap Davin memasangkan helm.
Setelah itu Davin pun segera menyalakan mesin motornya.
"Ayok naik," ucap Davin setelah motornya menyala.
"Iya," ucap Kyra menaiki motor.
Namun setelah Kyra naik, Davin tak kunjung menjalankan motornya itu.
"Vin kenapa belum juga maju?" tanya Kyra heran.
"Karena kamu belum pegangan," jawab Davin.
"Walaupun ga pegangan aku ga bakal jatuh," ucap Kyra.
"Aku bakal kenceng bawa motornya," ucap Davin.
Dengan ragu Kyra lalu memeggang pinggang Davin. Karena Kyra hanya memegang pingganya, Davin pun lalu menarik kedua tangan Kyra untuk mendekapnya lebih erat. Spontan tubuh Kyra pun menempel dengan punggung Davin.
"Nah gini pegangannya biar ga jatuh," ucap Davin tersenyum lalu menjalankan motornya itu.
Jantung Kyra mulai berdebar lebih kencang, setelah tubuhnya itu menempel di punggung Davin. Dan kedua telapak tangannya pun juga mulai berkeringat, rasanya ia ingin segera sampai di rumah. Karena perasaan yang kini bersemayam di hatinya itu, membuat Kyra merasa sangat gugup dan membludak tak terkendali.
"Vin kenapa jalan sini, kan ini bukan jalan ke arah rumahku," ucap Kyra heran.
"Sebelum antar kamu pulang, kita akan pergi ke tempat lain dulu," ucap Davin yang mengemudikan motornya itu.
"Davin mending kamu cepat antar aku pulang, nanti kalau aku ketahuan ga langsung pulang, ayahku bisa marah," ucap Kyra cemas.
"Ayah kamu pulang kerja jam berapa?" tanya Davin.
"Sekitar jam 5 atau jam 6 sore," jawab Kyra.
"Nanti aku bakal antar kamu pulang sebelum jam 5 sore, biar ayah kamu ga curiga kalau kamu ga langsung pulang," ucap Davin.
Kyra hanya bisa pasrah menerima bujukan Davin tersebut. Karena tak ada alasan lagi untuknya, agar Davin segera membawanya pulang. Entah kejaiban apa yang tuhan berikan kepadanya, perempuan yang dingin terhadap pria itu, bisa takluk terhadap Davin.
Lalu tak lama kemudian Davin pun menghentikan lajuannya itu. Davin berhenti di salah satu tempat yang cukup terkenal di kota bandung.Tempat tersebut ialah tempat yang penuh dengan wahana permainan.
Davin lalu segera membeli tiket masuk untuknya dan Kyra. Setelah itu Davin lalu membawa Kyra ke salah satu wahana roller coaster di tempat itu.
Langkah Kyra terhenti sebelum masuk ke arena permainan itu. Kyra lalu memegang lengan Davin dan menghentikan langkah Davin.
"Vin tunggu, aku ga mau naik itu," ucap Kyra yang sedikit ketakutan setelah melihat wahana tersebut.
"Tenang saja, nanti pas kita naik kamu penggang saja tanganku," ucap Davin lalu menarik lengan Kyra.
Lalu Kyra dan Davin segera menaiki wahana tersebut. Kyra sangat ketakutan hingga memegang lengan Davin cukup kencang. Davin hanya bisa tersenyum menahan tawa, karena melihat ekspresi dari wajah Kyra yang ketakutan.
Lalu pada saat wahana tersebut akan bergerak maju, tiba-tiba Kyra menutup kedua matanya. Kyra sangat tegang ketika wahana tersebut melaju, ia hanya terdiam ketakutan dan hanya mendengar tiap jeritan orang-orang yang berada di wahana tersebut.
"Kyra cepat buka matanya! kalau kamu hanya menutup mata, kamu ga akan bisa merasakan sensasinya," ucap Davin.
"Ga mau! aku takut banget Vin," ucap Kyra yang masih ketakutan.
Davin pun lalu tertawa melihat Kyra yang sangat ketakutan. Ketika semua orang menjerit, hanya Davin lah yang tertawa karena melihat ekspresi dari wajah Kyra.
"Vin kamu ketawain aku," ucap Kyra yang masih menutup matanya.
"Aku ga ketawa Kyra... mata aja di tutup gimana bisa tahu kalau aku ketawa," pungkas Davin.
"Vin aku bisa dengar kalau yang ketawa itu kamu," ucap Kyra.
"Iya... iya aku ketawa, karena kamu lucu Kyra," ucap Davin tersenyum.
Lalu tak lama kemudian wahana pun telah berhenti. Namun Kyra masih saja menutup matanya dan masih memegang tangan Davin cukup kencang.
"Kyra udah berhenti... cepat buka matanya atau aku tinggalkan kamu di sini sendiri," ucap Davin.
Lalu Kyrapun perlahan membuka kedua matanya itu. Kyra merasa cukup lega, ketika membuka mata ternyata wahana tersebut telah berhenti.
Setelah itu mereka pun lalu melanjutkan menaiki beberapa wahana di tempat tersebut. Mereka tampak senang hingga mereka mengabaikan waktu yang terus berjalan.
Kyra dan Davin seperti seorang pasangan yang sedang berkencan. Mereka sangat menikmati waktu berdua tanpa adanya gangguan dari siapa pun.
Tak lama kemudian Kyra pun menyadari bahwa ia sudah lama berada di tempat tersebut. Kyra lalu mengecek jam di ponselnya itu.
"Vin ayo pulang udah jam setengah 5," ucap Kyra panik.
"Oh baiklah, ayo pulang," ucap Davin.
Kyra dan Davin segera menuju ke tempat motornya di parkirkan. Setelah itu mereka pun segera menaiki motor tersebut. Kyra menaiki motor tersebut sembari mendekap tubuh Davin cukup erat.
"Nah gitu dong pegangan, jadi ga perlu di ingatkan," ucap Davin tersenyum.
"Kalau aku ga pegangan, kamu ga bakalan maju... ayo cepet maju, kita harus cepat sampai sebelum ayahku pulang" ucap Kyra panik.
Davin pun lalu menjalankan motornya cukup kencang agar segera sampai di rumah Kyra.