
Kyra mengabaikan telepon Davin. Namun Davin tak henti meneleponnya, hingga membuat ponselnya terus berdering.
"Kyra kayaknya itu penting, mending kamu angkat saja teleponnya," ucap Gio.
Kyra lalu kembali mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya. Namun lagi-lagi Kyra merasa ragu mengangkat telepon tersebut. Gio pun merasa heran dengan Kyra yang terus memandangi layar ponselnya tanpa mengangkat telepon tersebut.
"Kyra memangnya siapa sih yang nelepon? kenapa kayak yang ragu gitu ngangkat teleponnya," tanya Gio yang memperhatikan raut wajah Kyra.
"Hm bukan siapa-siapa...kalau gitu tunggu sebentar aku angkat dulu teleponnya," ucap Kyra melangkah pergi ke tempat sepi.
Kyra mulai menyentuh tanda hijau di ponselnya untuk mengangkat telepon tersebut.
"Hallo," ucap Kyra yang merasa gugup berbicara dengan Davin.
"Iya hallo, kenapa lama sih angkat teleponnya," ucap Davin membalas ucapan Kyra di telepon.
"Hm, iya maaf," ucap Kyra dengan nada yang masih gugup.
"Hm, tadi maaf aku tidak sempat membalas pesanmu... ga biasanya kamu mengirim pesan, apa kamu kangen sama aku?" ucap Davin.
Seketika kedua pipi Kyra memerah. Dan jantungnya mulai berdegup cukup kencang, Kyra lalu menelan salivanya dengan penuh kegugupan.
"Ma...na mungkin aku kangen sama kamu... tadi tuh aku salah ketik dan salah kirim," ucap Kyra terbata-bata.
"Ga usah bohong deh, kamu kangen kan sama aku," ucap Davin menggoda Kyra.
"Aku engga kangen sama kamu!" tegas Kyra.
"Di rumahku lagi pesta barbeque bareng teman-teman, bagaimana kalau hari ini aku jemput kamu buat gabung bersama kita disini," ucap Davin mengajak Kyra.
"Hm ga usah jemput aku... aku lagi di taman sama Gio, ga enak sama Gio, kalau aku pergi ninggalin dia," ucap Kyra yang menolak ajakan Davin, karena Kyra merasa gugup.
"Apa sama Gio... pokonya hari ini aku akan jemput kamu," ucap Davin terkejut setelah mendengar Kyra sedang bersama Gio.
Kyra memang ingin menerima ajakan Davin, namun berbicara di telepon saja membuatnya merasa sangat gugup, apa lagi kalau Kyra harus bertemu dengan Davin. Oleh sebab itu ia menolak ajakan Davin tersebut. Lalu tiba-tiba suara Githa yang memanggil Davin terdengar dalam telepon.
"Davin," teriak suara Githa, lalu berkata "kamu sedang apa, bisa tolong bantu aku."
Seketika Kyra terdiam tak berucap saat suara perempuan tersebut terdengar jelas di ponselnya.
"Hallo... Kyra kenapa kamu ga bicara," ucap Davin yang merasa heran karena suara Kyra tak terdengar dalam ponselnya itu.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Kyra lalu menutup telepon tersebut. Entah mengapa perasaan Kyra merasa sakit ketika suara Githa terdengar di ponselnya itu. Perasaan yang terasa gugup dan senang ketika berteleponan bersama Davin, kini berubah menjadi sedih.
"Davin pasti lagi bersenang-senang sama Githa," gumam Kyra dengan raut wajah yang tampak sedih.
Setelah itu Kyra lalu kembali ke tempat ayunan dan kembali memakan es krimnya yang kini mulai meleleh karena di biarkan terlalu lama setelah mengangkat telepon dari Davin.
Gio merasa heran dengan raut wajah Kyra yang tampak murung sehabis mengangkat telepon tersebut.
"Kyra kamu ga apa-apa?" tanya Gio yang heran.
"Engga, memangnya kamu berpikir seperti apa, sampai bertanya seperti itu," ucap Kyra yang juga heran dengan pertanyaan Gio.
"Kamu kayak yang lagi sedih... apa yang tadi nelepon itu ayah kamu, kamu ga bilang sama ayah kamu kalau mau ketemu aku?" ucap Gio.
"Engga, aku sudah bilang sama ibu dan membolehkan untuk ketemu kamu... yang tadi nelepon tuh telepon iseng, makannya aku kesal," ucap Kyra berbohong.
"Oh begitu... kalau gitu kita pulang yuk, udah sore," ucap Gio.
"Hm, ayok," ucap Kyra lalu berdiri dari ayunan tersebut.
"Gio kenapa kamu tidak pulang duluan saja," ucap Kyra.
"Engga ah, aku mau ngantar kamu pulang dengan selamat sampai rumah," ucap Gio tersenyum.
"Aku pasti selamat, lagian dari taman sampai rumah tuh dekat banget," ucap Kyra yang masih melangkahkan kakinya itu.
Namun ketika Kyra sampai di depan rumah, tiba-tiba Davin datang dengan motornya. Berhenti tepat di depan rumah Kyra lalu segera membuka helm dan turun dari motornya itu.
"Vin, mau apa kamu kesini?" tanya Kyra yang cukup terkejut karena Davin datang menghampirinya.
"Aku kan sudah bilang bakal jemput kamu," ucap Davin.
"Kan aku sudah bilang ga usah jemput aku... lagian ini udah sore, ayahku pasti marah kalau aku pergi," ucap Kyra.
"Ayah kamu ga bakal marah... aku bakan minta izin sama orang tua kamu dulu," ucap Davin melangkah memasuki pintu gerbang rumah Kyra.
"Tapi Vin," ucap Kyra pergi menyusul Davin memasuki pintu gerbang rumahnya itu.
Melihat Davin yang nekat memasuki pintu gerbang rumah Kyra, membuat Gio tampak kesal dengan kelakuan Davin tersebut. Gio pun lalu segera menyusul Davin dan Kyra.
Tok...tok...tok...
Davin mengetuk pintu rumah Kyra.
"Permisi om... tante..." ucap Davin memanggil ayah dan ibunya Kyra.
Lalu pintu rumah tersebut di buka oleh Annathasia.
"Oh Davin... ada apa kamu panggil tante?" tanya Anna tersenyum.
"Saya mau minta izin sama tante, mau bawa Kyra ke rumah saya... soalnya saya dan teman-teman lagi ngadain pesta barbeque di rumah," ucap Davin meminta izin pada Anna.
"Iya, kamu boleh ko bawa Kyra," ucap Anna memberikan izin kepada Davin untuk membawa putrinya itu.
"Makasih tante... tuh kan ibu kamu mengizinkan," ucap Davin tersenyum karena gembira bisa membawa Kyra kembali ke rumahnya itu.
"Kalau Kyra ikut, berarti aku juga bakal ikut," lontar Gio yang tak ingin sahabatnya itu menghabiskan waktu bersama dengan saingannya.
"Kamu ga perlu ikut, lagian aku cuma ngundang Kyra saja... nanti kamu ganggu loh," ketus Davin.
Melihat Davin yang tak membolehkan sahabatnya untuk ikut, membuat Kyra sedikit kesal.
"Kalau Gio ga ikut, aku juga ga bakalan ikut," lontar Kyra.
"Eh iya deh, Gio boleh ikut... tapi kamu janji bakal ikut juga," ucap Davin pasrah, walaupun sebenarnya ia tak menginginkan saingannya itu untuk ikut ke rumahnya.
"Hm, ok... tunggu sebentar aku bawa tas dulu di kamar," ucap Kyra melangkah memasuki rumahnya itu.
"Ok... gue juga bakal pulang dulu ngambil motor, tunggu jangan pergi sebelum gue datang," ucap Gio melangkah pergi menuju rumahnya.
"Ga usah dateng lagi juga ga apa-apa," ketus Davin.
Anna tersenyum ketika melihat tingkah laku Davin dan Gio. Seakan Anna mengerti bahwa ke dua orang laki-laki tersebut sedang bersaing memperebutkan putrinya itu.
"Semangat ya, bersaing buat jadi menantu tante," ucap Anna tersenyum lalu melangkah pergi memasuki rumahnya.
"Pasti semangat dong tante," ucap Davin yang juga tersenyum karena Anna memberikan semangat.