My Original Love

My Original Love
Bab 55 Sudah Saatnya Merelakan



Bella menyusul Kyra ke dalam kelas, lalu duduk di depan bangku Kyra. Menatap Kyra yang tengah terduduk sembari menundukan kepalanya di atas meja. Bella pun mengangkat kepala Kyra yang sedang menunduk tersebut.


"Hey kenapa sih?" tanya Bella.


"Hm, engga," jawab Kyra dengan kedua pipi yang memerah. Lalu kembali menundukan kepalanya ke atas meja.


Jantung Kyra terus berdegup kencang setelah mengucapkan kata SEMANGAT kepada Davin. Bahkan ia merasa malu dan sedikit menyesal telah berucap seperti itu. Bukan penyesalan karena merasa bersalah, akan tetapi ia sungguh merasa malu. Karena dengan spontan kata tersebut keluar dari mulutnya, ya mungkin karena hatinya memang mengharapkan hubungannya dengan Davin akan segera resmi. Kyra mengangkat kepalanya lalu menatap Bella. "Apa tadi aku tampak alay?"


"Maksud kamu apa sih?" tanya balik Bella yang merasa heran dengan pertanyaan dari sahabatnya itu. Bella lalu mengerutkan kedua alisnya dan menatap serius wajah Kyra yang sedang memancarkan rona merah di kedua pipinya. "Jangan bilang kamu lagi suka sama Davin, makannya tadi kamu nyemangati dia."


"A...pa sih. Aku nyemangati dia itu karena dia mau dapet nilai bagus, kan minggu depan ulangan," ucap Kyra gugup dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Bella terus menatap wajah Kyra, ia merasa curiga dengan gelagat sahabatnya yang seakan merasa gelisah ketika di tanyai oleh Bella.


"Apa Gio tidak akan patah hati," gumam Bella dalam batinnya.


Kyra mengigit bibir bawahnya sembari menatap jendela yang berada di sebelahnya yang seakan menghindari tatapan dari Bella. Kyra merasa gelisah setelah di tanyai oleh sahabatnya tersebut.


"Kyra," panggil Bella menepuk pundak Kyra.


"Iya ada apa Bel," jawab Kyra menengok menatap Bella.


Bella terdiam seketika, ia merasa ragu untuk melontarkan sebuah kalimat kepada sahabatnya. Ia pun menghela nafasnya, dan perlahan mulai mengeluarkan sebuah kalimat, "Jika... kamu menyukai Davin, maka akan ada orang yang bakal tersakiti."


Seketika Kyra terdiam menatap sahabatnya yang seakan terkejut atas ucapan yang di lontarkan Bella padanya. Kyra tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Bella, dengan siapa kah orang yang akan tersakiti itu.


"Maksud kamu apa?" tanya Kyra penasaran.


Namun ketika Bella akan menjawab, tiba-tiba ia teringat perkataan Gio yang memintanya tak memberitahu Kyra.Tentang Gio yang menyukai sahabatnya tersebut. Bella menelan salivanya, ia gelisah untuk menjelaskan ucapan yang di lontarkannya tersebut.


"Eh ko malah diam, maksud kamu siapa yang bakal tersakiti?" tanya kembali Kyra yang masih penasaran dengan ucapan Bella tersebut.


"Kan di sekolah kamu banyak yang suka, kalau kamu suka sama Davin bakal banyak yang patah hati," jawab Bella gugup.


Lalu tiba-tiba seorang guru datang ke kelas. "Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing dan buka bukunya."


"Untung saja ada guru yang datang," gumam Bella dalam benaknya. Sembari menyeka keringat di ujung jidatnya, bella lalu segera duduk di tempat duduknya.


Kyra mencurigai Bella, ia sedikit tak percaya dengan jawaban Bella tersebut. Kyra merasa heran dengan gelagat Bella yang seakan berbohong padanya.


**


Seusai pelajaran berakhir, Bella dan Kyra pun segera beranjak pergi untuk pulang ke rumah. Namun pada saat mereka menunggu bis, tiba-tiba Gio menghampiri.


"Kyra ayo pulang bareng," ajak Gio ketika menghentikan motornya di depan Kyra dan Bella.


"Aku naik bis saja bareng Bella," ucap Kyra menolak ajakan Gio tersebut.


"Kamu pulang bareng Gio saja, aku bisa pulang sendiri," ucap Bella mengambil helm dari motor Gio lalu memasangkannya kepada Kyra.


"Tapi kan Bel, aku maunya pulang bareng kamu," ucap Kyra.


Tiba-tiba Ludy datang menghampiri Bella dan langsung merangkul pundaknya. "Bella bakal pulang bareng sama aku."


Bella cukup terkejut setelah Ludy yang tiba-tiba datang langsung merangkul pundaknya yang seakan sudah merasa akrab dengannya. Namun kedatangan Ludy membuat Bella memiliki sebuah alasan untuknya agar Kyra segera pulang dengan Gio.


"Iya aku bakal pulang sama kak Ludy, kamu pulang saja dengan Gio."


"Nice," Ludy mengacungkan jempolnya ke arah wajah Bella. "mending kamu pulang saja dengan pacarmu, biar aku bisa antar Bella pulang."


Bella lalu merangkul pundak Kyra dan menariknya untuk segera menaiki motor Gio. "Cepat naik, kasian Gio dari tadi nungguin."


Namun ketika Kyra dan Gio pergi, Bella menatap keduanya yang mulai menjauh pergi dari hadapannya, dengan raut wajah yang tampak murung. Merelakan Gio di hatinya masih saja sulit untuk Bella, apalagi jika Kyra dan Gio sudah berpacaran. Apa hatinya akan benar-benar bisa menerima dengan ikhlas, dengan kenyataan yang harus di hadapinya nanti. Seketika Bella memegang dada sebelah kirinya yang nampak sesak karena menahan tangis.


Ludy menatap Bella yang nampak bersedih itu. Ia merasa heran dengan raut wajah Bella yang berubah ketika Kyra dan Gio pergi. Ludy pun menggenggam lengannya lalu menariknya pergi ke arah motornya di parkirkan.


"Lepasin, aku pulangnya naik bis saja," ucap Bella yang berusaha melepaskan genggaman tangan Ludy. Namun genggaman Ludy terlalu kuat hingga membuatnya sulit untuk melepaskannya.


"Kamu sudah janji bakal pulang bareng aku," ucap Ludy yang masih menggenggam lengan Bella.


"Siapa juga yang bilang janji," ucap Bella merasa kesal dengan Ludy yang tak mau melepaskan tangannya tersebut.


Langkah Ludy terhenti lalu segera melepaskan lengan Bella.


"Berarti tadi kamu bohong dong, kalau gitu besok aku bakal bilang sama teman kamu, kalau kamu itu cuma pura-pura pulang sama aku," ancam Ludy tersenyum menyeringai.


Bella terkejut ketika Ludy mengancamnya, hingga ia tak mampu untuk berucap sepatah katapun. Ludy pun kembali menarik lengan Bella menuju ke arah motornya.


"Kalau kamu diam berati setuju pulang sama aku," ucap Ludy memasangkan helm kepada Bella.


**


Ketika di perjalanan, Ludy menatap wajah Bella dari arah kaca spion motornya. Sembari menatap jalanan, raut wajah Bella masih nampak sedih. Spontan Ludy pun menyalakan klasksonnya berulang kali, agar Bella berhenti melamun.


"Tid...Tid...Tid...


"Hey ngapain sih, malu-maluin banget," ucap Bella menepuk pundak Ludy.


"Habisnya kamu ngelamun... kamu suka kan sama cowok tadi," lontar Ludy.


"Hah apa sih, mana mungkin aku suka sama dia," ucap Bella terkejut dengan ucapan yang di lontarkan Ludy tersebut.


Ludy lalu memarkirkan motornya di persimpangan jalan.


"Eh ko malah berhenti," ucap Bella merasa gelisah karena Ludy menghentikan motornya.


"Mau tau ga caranya lupain dia," ucap Ludy turun dari motornya lalu menatap wajah Bella.


Bella merasa heran dengan ucapan Ludy tersebut, ia juga merasa gelisah ketika Ludy menatapnya dengan fokus. Bella hanya terdiam lalu menghindari tatapan Ludy dengan mengalihkan pandanganya.


Seketika Ludy memegang pipi Bella dengan salah satu tangannya lalu menatap matanya dengan tatapan serius. "Mau tau ga caranya lupain dia."


"Caranya?" tanya Bella spontan.


"Jadi pacarku."


Bella pun merasa terkejut dengan jawaban Ludy tersebut.


"Hah, bagaimana mungkin kita pacaran, kenalan saja baru dua hari yang lalu," ucap Bella menyingkirkan tangan Ludy dari pipinya.


"Dengan seiringnya berjalan waktu kita bisa lebih akrab, dan aku bakal jadi orang yang buat kamu lupain dia," tegas Ludy.


Bella terdiam menatap Ludy, ia merasa ragu untuk menyetujui permintaan Ludy tersebut. Bella menghela nafasnya lalu menundukan kepalanya.


"Kalau kamu terus berada di sekitar mereka, memangnya kamu bisa bertahan dan merelakannya," ucap Ludy.


Bella mengangkat kepalanya lalu menatap Ludy dan kembali menghela nafasnya, tanpa ragu ia pun mulai berucap, "Baiklah, aku bersedia jadi pacar kamu."