
Pagi ini, seperti biasa Kyra berangkat sekolah di antar oleh ayahnya. Erick Gultom, masih saja mengantar putrinya dengan penjagaan yang ketat. Cukup memalukan bagi Kyra, ketika ayahnya terus mengawasinya ketika mereka sampai ke sekolah. Ketika akan memasuki gerbang sekolah, Gadis berumur 17 tahun itu harus di awasi seperti anak umur 5 tahun.
"Ayah kenapa belum juga pergi?" tanya Kyra.
"Ayah akan pergi, kalau kamu sudah masuk ke kelas tanpa ada gangguan dari anak cowok," jawab ayahnya itu.
"Ayah semakin menjadi-jadi," batin Kyra.
Kyra melangkah pergi memasuki gerbang sekolah. Ia sesekali menengok ke arah belakang, memastikan bahwa ayahnya akan pergi. Namun ayahnya tak kunjung juga pergi. Sungguh memalukan ketika siswa lain lewat ke arah Kyra, pandangan mereka seakan menertawai Kyra. Seketika terdengar gunjingan seperti ledekan kepada Kyra, "Seperti anak kecil saja."
Kyra semakin tak bersemangat untuk sekolah, ketika bisikan orang-orang terdengar di telinganya . Kyra memang kesal kepada ayahnya yang over protektif. Namun bagaimana lagi, Kyra harus menerimanya dengan senang hati. Mungkin itu cara ayahnya untuk meluapkan kasih sayang kepada putrinya itu.
Lalu ketika ayahnya itu sedang fokus mengawasi Kyra, tiba-tiba Gio datang menyapanya.
"Pagi Om, habis nganter Kyra ya," ucap Gio.
"Hm, iya."
"Oh kalau gitu saya duluan om," ucap Gio melangkahkan kakinya.
Lalu Erick memegang lengan Gio, menghentikan langkahnya.
"Tunggu, kamu tidak boleh pergi sebelum putri saya bena-benar sudah jauh dan pergi masuk ke kelasnya," ucapnya menghentikan langkah Gio.
Genggaman lengan Erick cukup kuat. Gio tak berani melepaskan genggamannya itu, walau tak nyaman namun dengan terpaksa Gio berhenti sejenak sampai genggaman itu terlepas.
Setelah Kyra memang benar-benar jauh dan pergi ke kelasnya, genggaman Erickpun terlepas. Gio cukup lega akhirnya ia bisa pergi. Namun seketika Erick berbicara kepada Gio, "Saya harap kamu tidak lagi mendekati putri saya jika kamu punya maksud lain."
Langkah Gio terhenti kembali karena ucapan Erick.
"Maksud om gimana ya," ucap Gio heran.
"Saya tidak ingin laki-laki manapun mendekati putri saya dengan maksud lain, misalnya mengajaknya untuk berpacaran. Karena saya melarang keras putri saya berpacaran sebelum lulus sekolah." tegas Erick.
Gio menelan salivanya setelah mendengar ucapan Erick tersebut. Gio hanya terdiam, karena betapa terkejut ia, setelah mendengar ucapan Erick. Karena bagaimanapun juga Gio memang memiliki perasaan terhadap putrinya itu.
Dengan ragu, Gio hanya bisa berucap satu kata yang keluar dari mulutnya itu, "IYA." Walaupun Gio mengiyakannya. Akan tetapi Gio tak yakin, apakah bisa menahan perasaanya itu.
Bagaimanapun Gio adalah sahabat Kyra, jika memang harus menjauh hanya karena perasaannya. Itu tak adil bagi Gio, yang memiliki posisi sebagai sahabat Kyra.
Setelah Gio mengiyakan ucapanya, Erick lalu beranjak pergi.
"Sekali lagi saya peringatkan kamu, jangan berharap lebih pada anak saya," ucapnya beranjak pergi.
"I...ya," ucap Gio gugup.
Setelah ayah Kyra pergi, Gio menghela nafasnya. Cukup kecewa atas ucapan Erick padanya, namun Gio tak bisa berbuat apa-apa maupun berkata sepatah katapun. Yang ada hanya kata "IYA" yang keluar dari mulutnya itu. Sikap Erick yang tegas serta raut wajahnya yang memang tampak tegas, itulah yang membuat Gio gugup tak berucap.
Ketika Gio berjalan. Dari arah belakang teman sekelas Gio yang bernama Alvin datang, menghampiri sembari merangkul pundaknya.
"Hey bro, baru datang," ucap Alvin.
"Iya," ucap Gio yang tampak lesu.
"Eh... lu kayak yang ga semangat gitu ya," ucap Alvin heran.
"Entahlah, hari ini gue habis di ceramahi," jawab Gio.
"Haha... di ceramahi sama siapa," tanya Alvin menertawai Gio.
"Ga perlu tahu deh lu, pokonya hari ini gue lagi kesel, lu ga perlu nanya-nanya," ucap Gio kesal.
"Bella tunggu," sahut Gio.
Langkah Bella terhenti, lalu ia menoleh dengan raut wajahnya yang tampak gugup. Bella masih mengingat kejadian kemarin. Oleh sebab itu ia ragu untuk bertemu atau berhadapan dengan Gio.
"Iya Gio," ucap Bella membalas sahut Gio.
"Kenapa kamu pergi terburu-buru, sampai kamu tak melihat aku dan lewat begitu saja," ucap Gio.
Bella semakin gugup ketika di tanyai oleh Gio. Entah bagaimana ia harus menjawab, sementara hatinya belum sepenuhnya pulih. Bella memang sengaja menghindari Gio, karena ia masih belum bisa menerima kenyataan atas kejujuran Gio kemarin. Namun Bella, dengan terpaksa menjawab sebuah alasan, walaupun itu sebuah kebohongan.
"Aku terburu-buru, karena ada hal yang harus di selesaikan di kelas. Jadi aku ga sempat menyapamu Gio," ucap Bella.
"Oh, memangnya ada hal apa," tanya Gio.
"Pokonya harus di selesaikan sekarang... jadi aku ke kelas duluan ya," ucap Bella terburu-buru melangkah pergi.
Bella akhirnya bisa bernafas lega, ketika ia bisa pergi menjauh dari hadapan Gio. Walaupun ucapan Bella adalah suatu kebohongan, tapi itu adalah hal terbaik untuknya. Agar Bella bisa menghindari Gio untuk sementara waktu, sebelum hatinya sepenuhnya pulih.
Bella memasuki ruangan kelasnya. Namun ketika ia memasuki ruang kelas, di bangku yang di duduki oleh Kyra sudah terdapat tas Kyra yang tersimpan di kursinya itu. Namun Kyra tak berada di tempat, Bellapun mulai bertanya kepada teman-temannya di kelas.
"Hei, ada yang lihat Kyra kemana ga," tanyanya kepada teman sekelas.
Salah satu teman sekelasnyapun menjawab, "Kyra tadi keluar, mungkin dia ke toilet atau ke perpustakaan."
"Kemana ya dia," gumam bella sembari duduk di bangkunya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Kyra sedang berjalan di lorong menuju toilet. Lalu ketika ia memasuki pintu toilet, beberapa anak perempuan membicarakanya.
"Hei tahu yang namanya Kyra."
"Iya tahu, dia anak kelas 11 IPA 1."
"Tadi ayahnya nganter dia, sambil tengok sana-sini takut anaknya di culik. Di tambah dia negur Gio di depan gerbang katanya dia ga boleh macarin anaknya."
"Wah gila, udah kayak anak SD aja, ngakak tuh."
Telinga dan hati Kyra sangat terasa panas ketika mendengar gunjingan anak-anak itu. Dengan raut wajah yang tampak marah dan kesal, Kyra lalu membuka pintu toiletnya.
Seketika orang-orang yang membicarakannya itu tampak terlihat malu, karena mereka bergosip tanpa tahu bahwa Kyra sedang berada di sekitarnya. Rasanya Kyra semakin tak bersemangat untuk bersekolah.
Kyrapun beranjak pergi dari toilet. Dengan raut wajah yang tampak muram, Kyra berjalan sembari menghindari beberapa tatapan dari orang sekitar. Lalu tiba-tiba ada orang yang memanggil, sembari meledek Kyra.
"Hei Kyra, ciee... nak papah," ledek orang tersebut.
Kyra semakin malu dan kesal atas ledekan orang tersebut. Lalu Davin datang menghampiri Kyra dan langsung membelanya.
"Dari pada lu anak alien," lontar Davin.
"Hah... hei Davin, lu deket-deket Kyra nanti lu kena tampar bapaknya," ucap orang yang meledek Kyra.
"Terserah gue, kenapa lu yang ribet," balas Davin.
Raut wajah Kyra semakin muram dan sedih atas ledekan orang tersebut. Davinpun lalu menutup kedua telinga Kyra dengan telapak tanganya.
"Fokus saja berjalan, aku antar kamu sampai kelas," ucap Davin dengan kedua tangannya yang menutupi telinga Kyra.