
Setelah meluapkan semua curahannya, sore hari Bella pulang dengan perasaan yang terasa damai. Jawaban Kyralah yang membuat Bella merasa lebih baik, akan tetapi entah sampai kapan Gio akan terus menyukai Kyra. Atau mungkin entah bagaimana Gio bisa menerima kenyataan bila suatu saat Kyra menolaknya.
Haripun mulai gelap, sang baskara telah tenggelam di upuk barat. Malam ini Kyra terduduk di meja belajarnya, membuka buku catatannya lalu menulis dan mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk. Seharian belajar di sekolah tak membuat Kyra merasa lelah untuk melanjutkan belajarnya di rumah.
Satu-persatu Kyra membuka tiap halaman dari bukunya. Lalu tiba-tiba sepucuk surat yang di berikan Davin tadi pagi, terjatuh dari selipan buku tersebut.
Kyrapun lalu memungut surat itu. Kyra kembali membaca dan mengingat sosok Davin. Laki-laki itu terus saja terlintas di pikiran Kyra. Ini mungkin yang namanya tahap jatuh cinta bagi Kyra, walaupun Kyra tak menyadari perasaannya itu, namun hatinya berkata lain.
Lalu tiba-tiba suara ketukan terdengar dari arah jendelanya.
"Tok...tok...tok...
"Siapa sih malem-malem gini," gumam Kyra.
Kyra lalu berdiri membuka jendela yang terpampang di kamarnya itu. Ketika membuka jendelanya itu, tak di sangka seseorang yang mengetuk jendelanya itu ialah Davin. Seseorang yang baru saja terlintas di pikirannya.
"Davin kamu ngapain kesini, kamu kan bisa lewat depan, kenapa ngetok jendela kamarku sih," ucap Kyra.
"Kalau aku ngetok pintu rumah kamu, yang ada aku bakal di usir sama ayah kamu yang galak itu," pungkas Davin.
"Terus kamu mau ngapain kesini malem-malem," ucap Kyra.
"Mau ketemu kamu lah, masa mau ketemu ayah kamu," ucap Davin.
Ucapan Davin membuat kedua pipi Kyra memerah, spontan Kyrapun menelan salivanya.
"Apaan sih, cepat pulang nanti ketahuan ayah kamu bisa habis di marahinya," ucap Kyra dengan rona merah di wajahnya.
"Ga usah PD, aku kesini cuma kebetulan lewat... memangnya kamu pikir aku ketemu kamu karena rindu hah," goda Davin.
"Hus, siapa juga yang mikir gitu," ucap Kyra yang wajahnya kembali memerah.
Davin memasukan lengan ke dalam saku hoodienya. Lalu wajahnya mendekat ke arah wajah Kyra, dengan spontan Kyra menutup bibirnya dengan telapak tanganya.
"Mau ngapain kamu," ucap Kyra.
"Ngapain sih tutup mulut, aku cuma mau masangin kamu ini," ucap Davin terseyum menertawai Kyra. Lalu mengambil sesuatu di saku hoodienya itu dan memasangkannya di rambut Kyra.
Kyra pikir Davin akan menciumnya, namun bayangan Kyra salah. Kyra semakin malu, rona merah di wajahnya terkuras habis oleh rasa malunya itu.
Benda yang di pasangkan di rambut Kyra ialah sebuah jepit berwarna perak yang berbentuk kupu-kupu dengan sedikit polesan warna biru yang menempel di sayap kupu-kupu tersebut.
"Nah sudah ku pasangkan, cocok banget sama kamu," ucap Davin.
"Vin kenapa kamu ngasih aku ini?" tanya Kyra.
"Entahlah, aku cuma mau ngasih kamu ini saja, ga ada alasan lain," pungkas Davin.
Lalu dari arah belakang, tiba-tiba ayah Kyra datang menghampiri Davin.
"Sedang apa kamu disini," ucap ayah Kyra yang tampak marah.
Betapa terkejutnya Davin ketika ayah Kyra datang menghampiri dengan raut wajahnya yang tampak marah. Pria paruh baya itu memang sangat menjaga putri semata wayangnya dari laki-laki yang mendekatinya. Davin tampak kebingungan menghadapi ayah dari wanita yang ia suka. Namun itu adalah resiko yang harus ia hadapi jika ingin mendapatkan anak perempuanya.
"Hm... maaf om keganggu ya," ucap Davin gugup.
"Iya saya ke ganggu, ngapain kamu ganggu anak saya belajar," ucap pria paruh baya itu.
"Maaf saya tidak bermaksud mengganggu," ucap Davin.
Teguran Ayah Kyra, membuat Davin semakin gugup dan ketakutan. Ayahnya Kyra yang bernama Erick itu memang berhasil membuat Davin tak bisa berucap sepatah kata, ataupun membuat berbagai macam alasan untuk di jawab.
"Hm... Maaf ya om Hm... saya..."
"Sudah mending kamu pulang! ini sudah malam tidak baik bagi anak sekolah keluyuran malem-malem," potong Erick si pria paruh baya itu.
"Iya om saya pamit pulang," pamit Davin.
Davinpun lalu melangkah pergi dengan perasaannya yang nampak gugup. Teguran ayah Kyra memang seperti rintangan yang menegangkan bagi Davin. Atau mungkin Erick adalah rintangan paling curam yang harus di lalui semua laki-laki, jika ingin mendapatkan putrinya itu.
"Kyra cepat tutup jendelanya, kalau anak cowok itu ganggu kamu lagi... kamu langsung panggil ayah," tandas ayahnya itu.
"Yah memangnya kenapa, tadi Davin sama sekali tidak mengganggu Kyra ko," ucap Kyra.
"Malem-malem datang ke rumah orang itu namanya mengganggu... pokoknya kamu jangan deket-deket sama anak cowok," tegas ayahnya itu.
"Ayah tahukan kalau Kyra sahabatan dari kecil sama Gio, terus ayah juga larang Kyra buat temenan sama Gio karena Gio anak cowok," ucap Kyra sedikit kesal.
"Gio udah gede, kalau udah gede ga ada yang namanya persahabatan antara perempuan sama laki-laki," tegas Erick menegur putrinya.
"Hm... iya deh," ucap Kyra yang kembali kesal atas teguran ayahnya itu.
Setelah menegur putrinya itu, Erick kembali masuk ke dalam rumahnya. Lalu Annathasia istrinya itu datang menghampiri.
"Ada apa yah tadi keluar?" tanya istrinya itu.
"Kamu tahukan anak cowok yang namanya Davin, dia datang nemuin Kyra lewat jendela kamarnya ga punya tatak krama tuh anak," ucapnya kesal.
"Memangnya kenapa kalau dia nemuin Kyra lewat jendela kamarnya, asalkan dia ga masuk kamar Kyra saja, kalau cuma mengobrol kan tidak apa-apa," ucap istrinya itu.
"Gimana kalau dia memang berniat masuk ke dalam kamar Kyra," ucap Erick.
"Mana mungkin Davin seperti itu, dia itu anaknya sopan... Ayah kayak yang ga pernah muda saja," ucap istrinya itu.
"Waktu muda ayah tidak seperti dia... waktu itu dia bawa Kyra sampe tengah malem, alasanya kerja kelompoklah padahal ayah tahu pasti dia bawa Kyra keluyuran."
"Iya... iya deh, waktu muda kan ayah cuma pacaran dan menikah sama satu perempuan saja... udah gitu gaya pacaran ayah ga romantis," ledek istrinya melangkah pergi menuju kamar.
"Eh ga romantis gini tapi kamu menerima lamaran aku," ucap Erick menyusul istrinya itu.
Sementara di kamar Kyra. Kyra sedang bercermin memandang jepit yang menempel di rambut hitamnya itu. Kyra tampak tersenyum sembari bercermin. Senyuman yang tersirat di raut wajahnya itu, pertanda bahwa ia sangat bahagia karena Davin datang menemuinya malam-malam hanya untuk memberikan jepit kupu-kupu itu.
Kyra lalu terduduk di tempat tidurnya dan menyadari sesuatu yang aneh dalam dirinya.
"Kenapa aku senyum-senyum sendiri sih, dan lagi kenapa perasaan aku bisa sebahagia ini... ini kan cuma jepit, tapi aku bisa sangat bahagia karena jepit ini," gumam Kyra yang masih saja tak menyadari perasaannya terhadap Davin. Lalu tiba-tiba suara pesan dari ponselnya berbunyi.
"Tring...
Kyra lalu membuka ponselnya itu, dan nama yang terpampang di pesannya itu ialah Davin. Dan isi dari pesan itu berkata, "Gimana kamu udah ngaca, kalau udah hasilnya pasti cantik kan hehe..."
Kedua pipi Kyra memerah, karena isi dari pesan Davin tersebut.
"kenapa isi pesannya bisa sama dengan apa yang aku lakukan barusan," gumam Kyra yang pipinya memerah.