
Setelah Kyra membawa tasnya, Kyra pun keluar menghampiri Davin.
"Ayo," ajak Kyra kepada Davin.
Seperti biasa, Davin selalu memasangkan helm kepada Kyra. Lalu ketika Kyra di pasangkam helm oleh Davin. Gio datang menghampiri dengan motornya, raut wajah Gio tampak marah ketika Davin memasangkan helm kepada Kyra.
"Bisa-bisanya dia membuatku geram," ucap batin Gio menatap Davin dan Kyra.
"Nah udah, yuk naik ke motor," ucap Davin selesai memakaikan helm lalu segera naik ke motornya.
"Kyra naik motorku saja," lontar Gio yang masih tampak geram terhadap Davin.
"Disini aku yang ajak Kyra, kenapa kamu ngebet pengen bonceng Kyra," ucap Davin kesal.
Gio dan Davin terus beradu mulut dan bersikukuh untuk membuat Kyra menaiki salah satu motor dari mereka. Kyra pun merasa kesal dengan sikap mereka yang tampak ke kanak-kanakan tersebut.
"Kenapa malah jadi bertengkar," ucap Kyra dengan intonasi nada yang tinggi.
Seketika Davin dan Gio terdiam setelah Kyra berucap.
"Jadi udah selesai ngomongnya! kalau gitu ayok berangkat... Gio sepertinya aku bakal naik motor bareng Davin, jadi kamu ikutin kita di belakang agar tahu tempatnya," ucap Kyra.
Davin tampak senang, karena Kyra lebih memilih di bonceng oleh Davin di bandingkan dengan Gio sahabatnya. Berbeda dengan Gio yang nampak kesal karena Kyra yang tak ingin di bonceng olehnya.
Ketika di perjalanan, Gio nampak menahan kekesalan dan amarah yang ia pendam saat ini. Kalau bukan karena Kyra, Gio sudah pasti akan meluapkan semua amarah dan cemburunya itu kepada pria yang jadi saingannya tersebut.
"Kalau saja Davin tak memaksa Kyra untuk ikut, mana mau aku ikut juga ke rumahnya," ucap batin Gio sembari menatap Kyra dari arah belakang.
Davin nampak puas ketika melihat raut wajah Gio yang tampak kesal dan marah ketika Davin melihatnya dari arah kaca spion motornya. Davin lalu menarik kedua tangan Kyra untuk membuatnya memegang erat tubuhnya itu. Cara tersebut ialah untuk memanas-manasi pria yang jadi saingannya itu.
"Peggangan yang erat biar ga jatuh," ucap Davin dengan satu tangan yang memegang kedua tangan Kyra dan satu tangan yang memegang stang motor.
"Iya tapi kamu ga perlu pegang tanganku seperti ini," ucap Kyra dengan kedua pipi yang memerah.
Gio semakin geram dengan tingkah Davin yang membuatnya cemburu. Spontan Gio langsung menyalakan klakson motornya beberapa kali.
Tid...tid...tid...
Kyra merasa heran dengan klakson motor Gio yang terus berbunyi dari arah belakang.
"Vin, sepertinya Gio menyuruh kita berhenti deh... lihat saja Gio tak henti menyalakan klakson motornya," ucap Kyra sembari menatap Gio dari arah kaca spion.
"Pttss... sudah biarkan saja, nanti berhentinya jika sampai di rumahku," ucap Davin tersenyum menertawai Gio lalu dengan sengaja menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Vin kamu jalankan motor ngebut dengan satu tangan... lepaskan tanganku! pegang stangnya dengan benar," ucap Kyra berusaha melepaskan peggangan dari tangan Davin.
"Iya... iya aku lepasin," ucap Davin melepaskan peggannya itu dan masih menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.
Tak mau ketinggalan, Gio pun mengikuti Davin dengan kecepatan tinggi.
"Sialan... ngapain sih bawa motor ngebut," gumam Gio kesal.
Lalu tak lama mereka melaju, mereka pun telah sampai di depan pintu gerbang rumah Davin. Davin dan Gio segera memasukan motornya ke halaman depan rumah. Dan mereka pun segera turun dari motornya itu.
"Nah udah sampai, ayo turun!" ucap Davin kepada Kyra.
"Hm ok...Gio tadi kenapa kamu nyalain klakson terus-terusan?"ucap Kyra turun dari motor lalu bertanya kepada Gio.
"Engga apa-apa, tadi tuh aku cuma ngetes klakson motorku saja," jawab Gio berbohong.
"Bilang aja lu cemburu," gumam batin Davin sembari tersenyum menertawakan Gio.
Setelah itu, mereka pun segera memasuki rumah.
"Eh neng Kyra udah lama ga ketemu, akhirnya kesini lagi," ucap ART tersebut sembari terseyum.
"Iya bu... ibu apa kabar?" ucap Kyra yang juga membalas senyumannya.
"Ibu baik... eh iya cepat pergi ke halaman belakang, yang lain lagi pada bakar-bakaran," ucap bu Rere.
"Hm, kalau gitu kami kesana dulu ya," ucap Kyra melangkah pergi ke halaman belakang rumah Davin.
Setibanya di halaman belakang, di sana sudah terdapat teman-teman Davin. Termasuk Nicko dan Andy yang juga hadir menikmati pesta barbeque di rumah Davin. Begitu pun dengan Githa yang sudah berada disana sedari tadi. Ketika berada disana Githa datang menghampiri Davin dan Kyra.
"Selamat datang Kyra... akhirnya kamu datang juga," sambut Githa terseyum.
"Hm iya," ucap Kyra tersenyum membalas sambutan dari Githa.
"Kalau gitu kalian duduk dulu disana...aku sama Davin mau bakar-bakar dulu makanannya," ucap Githa kepada Kyra dan Gio, lalu menarik lengan Davin ke arah tempat pemanggangan.
Kyra dan Gio lalu duduk di tempat duduk yang telah di sediakan. Mereka duduk bergabung bersama dengan teman-teman yang lainnya.
"Gebetan Davin tiba juga," ucap salah satu teman Davin yang bernama Reyhan.
"Tapi kemungkinan mereka resmi pacaran itu nol persen, karena Davin banyak sainganya," lontar Nicko dengan nada keras, bermaksud untuk menyindir temanya itu.
Suara keras dari Nicko terdengar oleh Davin, ia pun lalu membalas sindiran dari Nicko.
"Yang jelas gue pasti bakal jadian sama Kyra... emangnya lu ngejar Agatha, tapi Agathanya suka sama gue," balas Davin dengan mengeraskan suara.
"Bohong! kita ga bakalan jadian ko, aku sama Davin cuma temenan aja," ucap Kyra malu atas ucapan Davin tersebut.
"Haha... udah di tolak duluan sebelum nembak nih," lontar Riki menertawakan Davin.
Seketika semuanya menertawakan Davin atas ucapan Kyra yang menolak Davin sebelum menyatakan cintanya.
Lalu ketika semuanya asik mengobrol, tatapan Kyra hanya tertuju melihat Davin dan Githa yang tampak asik tertawa dan mengobrol sembari memanggang makanan. Kyra hanya terdiam seakan perasaannya saat ini sedang merasakan cemburu yang mendalam terhadap ke akraban Githa dan Davin.
"Kyra kenapa, ko dari tadi diam saja?" tanya Gio heran.
"Hm engga... mereka sangat cocok ya," ucap Kyra yang masih menatap ke arah Davin dan Githa.
"Hm... iya," ucap Gio yang masih tampak keheranan kepada Kyra yang terus menatap ke arah Davin dan Githa.
Gio pun terdiam sembari menatap Kyra, ia merasa aneh dengan sikap Kyra yang tak seperti biasanya itu.
"Semenjak ia datang kesini dan bertemu Githa ekpresi Kyra seperti sedang sedih," gumam batin Gio menatap Kyra.
Lalu tak lama kemudian, makanan yang sedari tadi Davin dan Githa panggang akhirnya telah siap. Davin lalu datang menghampiri meja tempat Kyra dan teman-temannya berada.
"Nih Kyra spesial buat kamu... aku yang panggang sendiri tanpa sentuhan dari kak Githa," ucap Davin menyimpan sepiring makanan di atas meja yang berada di depan Kyra.
"Buat kita mana... masa cuma ngambil buat Kyra aja sih," lontar teman Davin yang bernama Yuda.
"Yang kalian ambil saja sama kak Githa," ucap Davin.
Kyra merasa heran dengan Davin yang memanggil Githa dengan sebutan kakak. Kyra berpikir bahwa Githa masih seumuran dengan yang lainnya.
"Kenapa kamu panggil Githa dengan sebutan kakak ya? bukannya kalian seumuran," tanya Kyra heran.
"Kak Githa itu beda setahun dengan kita semua, dia juga sudah kelas 3 SMA," lontar Yuda menjawab pertanyaan dari Kyra.
"Oh pantas saja, Davin manggil kakak," ucap Kyra.