My Original Love

My Original Love
Bab 42 Githa Lagi



Tak lama Kyra dan Davin berteduh, tiba-tiba dering telepon dari ponsel Kyra berbunyi. Kyra pun lalu segera mengecek ponselya itu. Betapa terkejutnya Kyra, ketika nama yang menelponnya itu ialah ayahnya. Kyra menelan salivanya, ia ragu untuk mengangkat panggilan tersebut. Kyra sangat ketakutan bahwa ayahnya akan memarahinya.


"Siapa yang telepon, kenapa ga di angakat?" tanya Davin yang heran dengan Kyra yang tampak ketakutan ketika melihat panggilan tersebut.


"Hm, ayah," jawab Kyra memandangi layar ponselnya.


Kyra lalu mencoba untuk mengangkat telepon tersebut. Namun ketika Kyra akan mengangkatnya, tiba-tiba saja ponselnya mati karena kehabisan baterai. Kyra sangat panik karena panggilan dari ayahnya tak sempat ia jawab. Kyra juga sangat takut jika ayahnya akan salah paham, bahwa ia sengaja menolak panggilan dari ayahnya itu.


"Ya lowbat nih," ucap Kyra panik karena ponselnya mati.


"Ponselnya mati?" tanya Davin menatap Kyra.


"Iya... kita pulang sekarang, ayah pasti marah," ucap Kyra yang masih panik dan khawatir jika Erick akan marah besar padanya.


"Tapi hujannya masih lebat," ucap Davin.


"Engga apa-apa... antar aku pulang sekarang, sebelum ayah semakin marah," ucap Kyra memaksa Davin.


Terpaksa Davin pun harus menyalakan motornya segera. Di tengah hujan yang lebat motor yang di kendarai Davin mulai melaju. Karena tak ingin Kyra semakin kehujanan, Davin menjalankan motornya dengan kecepatan yang tinggi agar Kyra segera sampai ke rumahnya.


Di tengah guyuran hujan, Kyra berpegang erat pada tubuh Davin. Rasanya Davin tak ingin cepat sampai ke tempat tujuan, ia masih ingin bersama Kyra. Namun Erick menjadi sebuah halangan baginya untuk bersama dengan Kyra lebih lama. Jika saja Erick tak menelpon putrinya, mungkin Davin dan Kyra akan menikmati waktu berdua lebih lama lagi. Walaupun hanya sekedar berteduh saja, setidaknya Davin bisa berduaan dengan Kyra.


Lalu tak berselang lama mereka pun akhirnya sampai. Ketika itu, Erick sedang berdiri di depan teras rumahnya. Mungkin saja sedari tadi ia menunggu putrinya pulang ke rumah. Wajahnya yang tampak garang, membuat Davin sedikit ketakutan. Davin memberanikan diri menghampiri, hanya untuk sekedar menyapa atau berpamitan kepada pria paruh baya itu.


"Kenapa tadi telepon dari ayah ga di angkat?" tanya sinis Erick kepada putrinya.


"Ponsel Kyra lowbat, pas mau angkat tiba-tiba saja mati," jawab Kyra yang juga merasa ketakutan kepada ayahnya itu.


"Ya sudah, cepat langsung masuk dan ganti baju," ucap Erick yang masih bersikap sinis kepada putrinya itu.


Kyra lalu segera masuk ke dalam rumahnya itu. Ketika Kyra memasuki rumahnya, ia tak langsung pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Melainkan Kyra terdiam di jendela rumahnya untuk mengintip Davin dan ayahnya itu. Kyra merasa khawatir terhadap Davin, ia takut jika Davin akan di omeli oleh ayahnya.


"Tadi kamu yang suruh anak saya buat ga angkat telepon dari saya kan, agar saya tidak mengganggu kamu godain putri saya" ucap sinis Erick sembari melipat kedua lengannya di dada.


"Saya ga nyuruh Kyra buat angkat telepon dari om, ponsel Kyra memang beneran mati," ucap Davin yang merasa gugup ketika menghadapi Erick.


Ketika Erick mengomeli Davin, istrinya datang menghampiri.


"Kenapa kamu omeli anak orang, bikin malu saja," lontar Anna kepada suaminya itu.


"Dia anaknya bandel, sembarang bawa anak kita tanpa izin dariku," ucap Erick yang tampak kesal.


"Tadi dia udah minta izin dariku, lagian Kyra hanya pergi ke rumahnya saja," ucap Anna.


"Tapi kan," ucap Erick lalu terpotong oleh Anna."Sttt, udah jangan lagi marahi dia, lagian dia ga salah... Davin kamu cepat pulang, hujannya udah mulai reda."


Davin lalu segera pamit kepada kedua orang tuanya Kyra. Lalu ketika Davin hendak pergi, ia melihat Kyra yang sedang mengintip di balik jendela rumahnya.


"Kyra semoga tidurnya nyenyak," teriak Davin sembari berjalan mundur dan menatap Kyra yang berdiri di balik jendela rumahnya.


Takut Erick semakin marah, dengan terburu-buru Davin segera menyalakan motornya lalu pergi pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esok harinya Kyra berangkat sekolah seperti biasa. Namun kali ini ia tak di antar oleh ayahnya, karena Anna melarang Erick untuk mengantar atau menjemput putrinya tersebut. Hari ini Kyra cukup senang karena ayahnya tak lagi mengantarnya pergi ke sekolah. Seperti biasa Kyra menaiki bis untuk sampai ke sekolah. Ketika hendak menaiki bis, Kyra melihat sekeliling tempat dan jalanan hanya sekedar berharap Davin datang menghampirinya.


"Neng bisnya mau berangkat sekarang, ayo cepat naik," ucap supir bis tersebut.


"Iya pak," ucap Kyra segera menaiki bis tersebut.


Kyra duduk di samping jendela bis, melihat ke jalan dan berharap akan melihat Davin kali ini. Ketika bis berhenti di pemberhentian berikutnya, Kyra terus menatap ke arah jalan dan halte mencari keberadaan Davin. Namun Davin tak kunjung terlihat.


"Apa Davin udah di sekolah, atau masih di rumah ya," gumam batin Kyra yang sedikit kecewa.


Kyra berharap bisa berangkat ke sekolah bersama Davin. Karena kali ini Kyra berangkat sekolah tanpa ayahnya, jadi ia bisa terbebas pergi dengan siapa pun tanda adanya larangan dari ayahnya tersebut. Namun harapan itu sirna, karena Davin tak datang menjemputnya atau terlihat di hadapannya.


"Kenapa aku bisa berharap pergi bersama Davin sih... pikiranku sudah kacau," gumam batin Kyra sembari menatap ke arah jalanan.


Lalu tak berselang lama, bis pun sampai ke tempat tujuan. Kyra lalu segera turun dari bis tersebut dan segera memasuki sekolah. Namun ketika ia memasuki sekolah. Seseorang memanggilnya dari arah belakang.


"Kyra tunggu!" teriak seseorang tersebut.


Kyra lalu menghentikan langkahnya dan segera menengok ke arah sumber suara tersebut. Dan seseorang yang memanggilnya itu ialah Githa. Kyra cukup terkejut karena Githa memanggilnya sembari menggunakan seragam yang sama dengannya


"Kak Githa sekolah disini?" tanya Kyra heran.


"Iya, ini hari pertamaku bersekolah di sekolah ini," ucap Githa.


"Kenapa kak Githa bisa pindah ke sekolah ini?" tanya Kyra kembali karena semakin penasaran.


"Ayahku pindah kerja ke kota ini, jadi aku sekeluarga menetap di kota ini," jawab Githa.


Kyra terdiam, ia cukup syok setelah mendengar sebuah alasan dari Githa yang pindah sekolah. Kyra merasa takut jika Githa tinggal di kotanya, Davin akan semakin dekat dengan mantanya tersebut.


"Hei Kyra kenapa diam," ucap Githa melambaikan tanganya ke arah wajah Kyra.


"Hm, aku ke kelas sekarang ya kak," ucap Kyra melangkah pergi.


"Tunggu jangan ke kelas sekarang... kamu bisa ga antar aku ke kantor, soalnya aku mau kesana dan tidak tahu tempatnya," ucap Githa memegang lengan Kyra.


Kyra lalu menghentikan langkahnya, dengan terpaksa Kyra mengantar Githa terlebih dahulu. Ketika Kyra mengantar Githa, semua orang yang berpapasan dengan mereka menatap wajah baru di sekolahnya tersebut. Terutama para lelaki yang terpaku menatap Githa.


"Siapa tuh yang di sebelah Kyra, cantik," lontar seorang murid laki-laki.