My Original Love

My Original Love
Bab 48 Resah



Sesampainya Kyra di depan pintu gerbang rumahnya, Kyra tampak kesal kepada Gio. Kyra turun dari motor Gio dengan raut wajah yang masam seakan marah terhadap sahabatnya itu.


"Kalau kamu tidak mau mengantarku ke rumah Davin, seharusnya tadi kamu turunkan aku dari motormu," ucap Kyra sembari membuka helm dan memberikannya kepada Gio.


Seketika Gio semakin kesal terhadap Kyra yang terus memikirkan sainganya itu. Gio membuang nafasnya dengan sudut mulut yang terangkat sebelah.


"Kenapa yang di pikirkan kamu hari ini Davin terus," ucap Gio menatap Kyra dengan raut wajahnya yang seakan marah.


"Memangnya kenapa? aku terus kepikiran Davin karena aku khawatir padanya, dia lagi sakit sementara tadi siang aku malah mengabaikannya," ucap Kyra yang semakin kesal atas ucapan Gio.


"Cukup! aku tak suka kamu menyebut nama dia lagi, aku juga tak suka bila kamu berteman denganya," ucap Gio dengan intonasi nada yang keras seakan membentak sahabatnya tersebut karena Kyra yang tak henti menyebutkan Davin.


Seketika Kyra terdiam ketika Gio membentaknya, matanya pun mulai tergenang oleh air.


"Brengsek!" ucap Kyra melangkah pergi memasuki rumahnya.


"Kyra maaf," teriak Gio yang merasa bersalah karena sudah membentaknya.


Gio semakin kesal saja ketika ucapanya membuat Kyra marah. Gio juga merasa bersalah karena telah membentak sahabatnya itu. Gio terdiam di depan ruma Kyra dengan gelagat yang tampak kebingungan.


"Bagaimana nih dia marah... gila ya kenapa bisa-bisanya aku ngebentak dia," gumam Gio merasa resah.


Gio tak tahu harus bagaimana ketika ia ingin menyampaikan kata maaf, ia merasa ragu untuk menemui Kyra. Di tambah ia merasa takut jika harus menghadapi Erick, jikalau Gio datang menghampiri Kyra di rumahnya.


Tak lama Gio terdiam di depan rumah Kyra, Gio pun lalu kembali menyalakan motornya dan segera pulang. Namun sepanjang jalan Gio merasa gelisah dan terus kepikiran sahabatnya itu. Gio merasa resah jika besok di sekolah ia berpapasan dengan Kyra, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi sahabatnya itu.


Sementara itu, ketika Kyra akan membuka pintu rumahnya, Kyra menyeka terlebih dahulu bulir air yang menetes di tiap sudut mata dan pipinya. Setelah itu ia pun segera membuka pintu rumahnya tersebut. Menyeka saja tak cukup membuat Kyra tak terlihat seperti sudah menangis, namun mata sembab sehabis menangis masih tampak jelas terlihat.


"Ehh kenapa dek?" tanya Ryan ketika berpapasan dengan adiknya.


"Oh aku ga kenapa-kenapa, memangnya ada apa," ucap Kyra tersenyum menutupi kesedihannya.


"Tapi matamu sembab loh, kayak yang habis nangis," ucap Ryan heran sembari menatap kedua mata adiknya.


"Oh tadi aku kelilipan, kan aku pulangnya naik motor makanya di jalan kelilipan," ucap Kyra lalu segera pergi memasuki kamarnya menghindari Ryan agar tak semakin mencurigainya.


Kyra lalu terduduk di tempat tidurnya dengan perasaan yang penuh kekesalan. Kyra merasa kesal dan marah terhadap Gio, karena untuk pertama kalinya Kyra di bentak oleh Gio. Namun kekesalan tersebut tak hanya terhadap Gio saja, Kyra juga merasa kesal karena sampai saat ini Davin masih belum membalas pesannya.


"Arggghhh, kenapa sih Davin belum juga membalas pesanku, apa dia beneran marah sama aku," gumam Kyra yang kesal lalu kembali menangis.


Air mata terus mengalir deras di kedua sudut mata Kyra. Kyra terus menatap layar ponselnya berharap Davin segera membalas pesannya. Lalu seketika ketukan terdengar di pintu kamarnya.


"Tok...tok...tok...


Kyra tak mampu bersuara ketika segukan terus muncul di tengorokannya. Namun Anna terus memanggil putrinya tersebut.


"Kyra makan dulu," ucap Anna mengeraskan suaranya.


"Aku ga lapar, dan aku bakal tidur sekarang soalnya aku udah ngantuk," sahut Kyra sembari menahan segukannya.


Anna pun lalu pergi ketika sudah tahu bahwa putrinya tidak akan ikut makan bersamanya. Namun air di mata Kyra tak henti keluar ketika terus terlintas rasa kesalnya itu. Kyra membaringkan diri di ranjangnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut sembari menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, seperti biasa selesai mengenakan pakaian seragam sekolah, Kyra ikut bergabung sarapan bersama dengan Ryan dan kedua orang tuanya. Mata Kyra tampak bengkak, mungkin karena semalaman Kyra tak henti menangis. Ryan pun menatap wajah adiknya yang tampak murung ketika berada di meja makan. Ryan mulai merasa curiga, bahwa kemarin malam adiknya telah berbohong padanya. Tak hanya Ryan saja yang merasa curiga, Anna pun juga merasa curiga terhadap anak bungsunya itu.


"Kenapa matamu bengkak?" tanya Anna kepada putri bungsunya itu sembari menatap fokus kedua mata putrinya.


"Hm, semalam mungkin karena terbangun tengah malam dan aku langsung belajar semalaman," ucap Kyra berbohong karena tak ingin keluarganya merasa cemas terhadapnya.


"Kamu memang suka belajar, tapi jangan belajar terlalu berlebihan tak baik buat tubuhmu, nanti kamu sakit," ucap Erick sembari menyantap hidangan.


"Iya ayah," ucap Kyra yang tertunduk menatap hidangan seakan menghindari tatapan dari Ryan dan kedua orang tuanya.


Kyra memang sedikit lega karena semalaman ia telah mengeluarkan semua air matanya. Namun keresahan masih saja terasa di dalam dirinya, Kyra merasa resah jika harus berpapasan dengan Davin di sekolah. Ia takut jika Davin akan benar-benar menjauhinya.


Lalu setelah selesai sarapan, Kyra segera pamit kepada kakak dan kedua orang tuanya.


"Kyra pamit pergi sekarang ya," ucap Kyra mengambil tas lalu segera melangkah pergi.


Perasaan Kyra sangat kegilasah, sembari berjalan Kyra terus mengecek ponselnya dan terus berharap bahwa Davin akan membalas pesan yang ia kirim kemarin sore. Lalu ketika ia sampai di tepi jalan, seketika dering pesan di ponselnya berbunyi. Kyra pun merasa senang karena dering pesannya berbunyi, ia pun berharap bahwa itu adalah pesan dari Davin. Lalu pada saat ia mengecek pesannya tersebut, Kyra semakin senang. Karena memang benar bahwa yang mengirimnya pesan itu ialah Davin.


"Iya aku baik-baik saja, maaf ya kemarin hpku lupa di charge jadi telat balas pesanmu." balasan pesan dari Davin


Kyra tampak tersenyum ketika membaca pesan tersebut. Kini keresahan yang ia rasakan mulai terasa lega ketika Davin membalas pesanya dan tahu alasan Davin kemarin tak membalas pesanya tersebut.


Namun ketika Kyra menunggu bis datang, tiba-tiba saja Ryan datang menghampirinya.


"Dek ayok naik, kakak anter kamu ke sekolah," ucap Ryan menghentikan motornya di depan Kyra.


"Hm, ini bukan di suruh ayah kan," ucap Kyra merasa curiga.


"Hah bukanlah, ini kakak yang ajak loh, kalau kamu di antar oleh kakak kan bisa menghemat ongkos," ucap Ryan tersenyum menertawai adiknya karena telah berprasangka terhadap ayahnya.


"Ok baiklah Kyra naik," ucap Kyra lalu menaiki motor kakaknya tersebut.