
Ketika istirahat berlasung, Davin tak nampak di sekitar kantin maupun taman sekolah. Kyra terus menengok ke sekitar kantin, mencari keberadaan Davin yang sedari tadi tak di lihatnya.
"Kemana dia ya," gumam Kyra dalam batinnya.
Kyra terus berharap bahwa saat ini Davin datang ke kantin dan seperti biasa menghampiri Kyra. Karena terus celingak-celinguk, Kyra sampai tak fokus memakan makanan yang di pesannya. Bella, Gio, berserta teman sekelas Gio yang bernama Alvin pun cukup heran dengan gelagat Kyra yang seakan tak menikmati makanannya.
"Makananmu masih banyak, mau aku habiskan," ucap Bella menatap Kyra.
"Oh iya," ucap Kyra yang langsung saja melahap makanannya.
Kyra merasa Khawatir dengan Davin yang sedari tadi tak terlihat di sekitar kantin sekolah. Hingga ia berpikir bahwa Davin kembali sakit. Kyra pun menyimpan sendok yang di peggangnya di atas mangkuk, dan seketika berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana sih?" tanya Gio yang merasa heran kepada Kyra yang tiba-tiba berdiri dengan gelagat yang seakan merasa gelisah.
"Aku duluan ya," ucap Kyra tergesa-gesa lalu beranjak pergi.
Kyra pergi menuju ke arah mini market yang berada di kantin. Saat berada di sana, Kyra mengambil beberapa cemilan beserta sebotol air mineral untuk di berikan kepada Davin. Setelah membeli air mineral dan beberapa cemilan, Kyra pun bergegas pergi menuju ke kelas 11 IPS 1.
Namun pada saat ia sampai di depan pintu kelas, tak nampak keberadaan Davin di kelas tersebut. Hanya ada beberapa murid beserta kedua teman Davin yang bernama Nicko dan Andy. Kyra lalu memangil kedua teman Davin tersebut, "Andy, Nicko."
"Ada apa Kyra?" tanya Andy menghampiri Kyra.
"Pasti nyari Davin kan," ucap Nicko yang juga menghampiri Kyra.
"Hm iya, Davin dimana ya? dari tadi aku ga lihat dia," tanya Kyra penasaran.
"Entalah, mungkin dia di perpustakaan... aneh banget dia, tiba-tiba saja serius belajar. Padahal biasanya di kelas kerjaannya kan cuma tidur," jawab Andy menggelengkan kepala, karena merasa heran dengan perubahan sikap Davin tersebut.
Kyra tersenyum seketika, setelah mendengar jawaban dari Andy. Karena ucapan yang di ceritakan oleh Andy membuat Kyra senang, karena Davin benar-benar serius untuk memenuhi syarat yang di berikan oleh Kyra. Kyra pun segera bergegas pergi menuju perpustakaan.
"Kalau gitu makasih ya informasinya."
Sesampainya ia di perpustakaan, Kyra pun mencari keberadaan Davin di setiap sudut tempat tersebut. Dan di sekitar pojok tempat, nampak Davin sedang fokus menulis dan membaca buku. Kyra kembali tersenyum setelah ia menemukan keberadaan Davin, ia pun segera menghampiri pujaan hatinya itu.
"Ehem, Serius banget sih belajarnya."
"Eh, ternyata kamu kesini," ucap Davin tersenyum kegirangan karena Kyra datang menghampirinya.
"Hm iya, kamu pasti belum makan siang kan. Aku bawa makanan buat kamu," ucap Kyra menyimpan kantong kresek berisi makanan tersebut di atas meja.
"Iya nanti aku makan, soalnya nanggung dikit lagi beres," ucap Davin lanjut menulis.
Namun tiba-tiba saja cacing di perut Davin berbunyi.
"Kruk...
Seketika Kyra pun tertawa setelah mendengar suara di perut Davin. "Haha...kalau lapar makan aja dulu, nanti ga fokus belajarnya."
Davin nampak malu setelah cacing di perutnya itu berbunyi. Namun Davin menghiraukan perutnya yang lapar itu, dan ia terus melanjutkan menulis. Akan tetapi rasa lapar tersebut terus mengganggunya, hingga cacing-cacing di perutnya kembali mengeluarkan suara.
"Kruk...
"Argghhh, kenapa sih nih perut ga bisa tenang sedikit," gerutu Davin kesal.
"Udah aku bilang, kalau lapar mending makan dulu. Kalau di tahan kan jadi ga bisa fokus," ucap Kyra sembari membuka bungkus roti yang berada di kantong kresek. Lalu menyodorkannya kepada Davin, "Nih makan dulu."
...****************...
Seusai Davin belajar, mereka pun segera keluar dari perpustakaan. Sepanjang jalan Kyra tersenyum melihat Davin yang berjalan sembari membawa buku. Rasanya sangat asing, melihat pria bandel itu tiba-tiba saja menjadi rajin belajar. Davin mengerutkan alisnya sembari menatap wajah Kyra, "kenapa senyum-senyum, lagi ngetawain aku ya."
"Hm....engga," Kyra tersipu malu dan mengalihkan pandanganya. Lalu berjalan terburu-buru menghindari Davin.
"Kyra bohong ya," teriak Davin mengejar Kyra.
Kyra berjalan secepat mungkin untuk menghindari Davin. Namun Davin terus mengejarnya, dan seketika menarik pergelangan tangan Kyra. Tubuh Kyra tiba-tiba goyah ketika Davin menariknya, spontan tubuhnya pun menempel ke tubuh Davin seperti sedang memeluk.
"Tadi kamu ngetawain aku kan?" tanya Davin menatap mata Kyra sembari tersenyum.
Dengan tangan yang masih di peggang oleh Davin dan tubuh yang juga masih menempel. Kyra terdiam menatap mata Davin, dengan jantungnya yang berdebar cukup kencang.
"Ehem," Davin mendeham dan mengalihkan pandanganya sembari tersenyum.
Kyra pun melepaskan tangannya dari genggaman Davin, lalu mendorong tubuh Davin yang menempel di tubuhnya itu.
"Aa...ku tersenyum bukan ngetawain kamu," ucap Kyra merasa gugup.
"Terus..." Davin mengerutkan alisnya dan menatap wajah Kyra.
"Karena kamu rajin belajar, jadi kemungkinan besar kita bisa resmi jadian," ucap Kyra menunduk sembari memainkan jari tangannya.
Davin menundukan tubuh tingginya lalu menatap wajah Kyra yang sedang menunduk itu. "Jadi kamu berharap kita secepatnya jadian."
Kedua pipi Kyra seketika memerah, Kyra pun berbalik arah mengalihkan pandangannya dari Davin. Ia semakin merasa gugup saja, setelah mendengar ucapan Davin tersebut.
Davin hanya bisa tersenyum ketika Kyra menghindari tatapannya itu. Davin memegang tangan Kyra sembari menariknya untuk berjalan, "ayo aku antar kamu ke kelas."
Tangan Kyra pun berkeringat ketika Davin memegang tangannya. Kyra semakin merasa tegang saja, ketika sepanjang jalan Davin terus memegang tanganya. Namun ketika ia sampai di depan kelasnya, tiba-tiba saja nampak Bella sedang berdiri di depan pintu kelas sembari melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan yang seakan merasa kesal.
Bella lalu menghampiri Davin dan sahabatnya tersebut. Dan tiba-tiba saja Bella melepaskan tangan Kyra dari genggaman Davin. "Sudah cukup ga usah pegang-pegang, ga enak di lihat sama orang lain."
"Cih, iri bilang dong," ucap Davin kesal.
"Siapa juga yang iri. Memangnya kalian pacaran, sampe berani pegangan tangan gitu," ucap Bella merasa curiga.
"Kami tidak pacaran, memangnya ga boleh ya kalau pegangan tangan," ucap Davin yang masih merasa kesal.
"Iya, engga boleh," ucap Bella yang juga merasa kesal terhadap Davin.
"Iya... iya terserah kamu, capek kalau udah debat sama cewek. Kyra aku pergi sekarang ya," ucap Davin melangkah pergi.
Namun tiba-tiba Kyra berteriak memanggil Davin.
"Davin."
Langkah Davin pun terhenti lalu membalikan tubuhnya, menghadap ke arah Kyra.
"Vin semangat belajarnya," teriak Kyra. Dan dengan terburu-buru memasuki kelasnya.