
Hari libur pun telah usai, 2 minggu sudah Kyra menjalin hubungan secara tersembunyi dengan Davin. Kyra berdiri di pinggir jalan menunggu kedatangan bis yang akan membawanya ke sekolah. Namun ketika Kyra menunggu, tiba-tiba saja seseorang yang membawa motor berhenti tepat di depannya. Motor tersebut tampak asing di mata Kyra, di tambah seseorang tersebut menutupi wajahnya dengan helm.
"Ayo naik," ucap pengendara tersebut menyodorkan helm.
Namun, suara tersebut tak asing di telinga Kyra. Seketika ia tersenyum setelah mendengar suara yang di kenalnya tersebut. Ya, pengendara tersebut ialah Davin yang saat ini mengganti motornya dengan motor sport yang di berikan kakeknya sebagai hadiah karena ia telah naik kelas.
"Hm, aku pikir siapa, ternyata kamu Vin," ucap Kyra tersenyum.
Davin membuka kaca helmnya, "seneng ya pagi-pagi udah di samperin pacar gantengnya," ucapnya menggoda Kyra.
"Hm iya," ucap Kyra dengan kedua pipinya yang memerah.
"Panggil sayang dong," ucap Davin yang kembali menggoda pacarnya tersebut.
"Iya sayang," ucap Kyra dengan suara pelan.
"Ihh ko pelan banget sih, jadi ga jelas kedengarannya."
"Kalau keras-keras gimana kalau ada yang denger, kita kan pacarannya sembunyi-sembunyi."
"Eh iya ya lupa."
Kyra pun segera menaiki motor, namun pada saat Davin akan hendak menjalankan motornya Kyra tak sempat berpegangan. Ia tampak kaget yang spontan memegang erat pinggang Davin.
"Vin, ga usah kenceng deh."
"Makannya pegangan yang bener sayang."
Sesampainya di sekolah, Davin memarkirkan motornya di tempat biasa ia memarkirkan motor. Saat ia turun dari motor, tak lupa ia membereskan rambut Kyra yang tampak berantakan setelah membuka helm.
"Nah udah cantik," ucap Davin tersenyum setelah merapihkan rambut pacarnya itu.
"Ya udah kita masuk ke sekolah sekarang yuk," ucap Kyra.
"Tunggu dulu sebentar! kita pegangan dulu bentar, nanti kalau udah di sekolah aku ga bisa leluasa pegang tangan kamu," ucap Davin memegang tangan Kyra.
"Ih udah lepasin deh, gimana kalau ada yang lihat," ucap Kyra celingak-celinguk.
"Hello siapa yang bakal lihat, disini sepi yang," ucap Davin mengeraskan suaranya.
"Stttt kalau ada yang denger gimana, mau aku putusin," ucap Kyra panik.
"Ehh jangan-jangan, kita baru jadian masa udah mau putus sih."
Tiba-tiba saja dari kejauhan nampak Gio akan memarkirkan motornya. Seketika Kyra pun melepas tangannya dari genggaman Davin.
"Sedang apa kamu disini Kyra?" tanya Gio heran.
"Oh tadi aku berpapasan sama Davin di jalan, terus kesini bareng sama dia," ucap Kyra gugup.
"Oh, ayo ke kelas sekarang," ucap Gio yang seketika kesal ketika mengetahui bahwa Kyra menaiki motor Davin.
Kyra, Gio, beserta Davin segera memasuki sekolah, namun saat mereka berjalan Davin tampak berjalan di belakang Gio dan Kyra. Ia berjalan terpisah dengan Kyra, agar hubungannya dengan Kyra tidak di curigai oleh Gio.
Namun tiba-tiba saja beberapa murid perempuan yang baru memasuki kelas 10 menatap Davin, mereka semua tampak heboh membicarakan Davin.
"Widih ganteng banget, mau ih punya pacar kayak gitu," ucap salah satu dari murid kelas 10.
Seketika Kyra merasa kesal ketika mendengar ucapan yang di lontarkan murid kelas 10 tersebut. Kyra menghentikan langkahnya lalu menghela nafasnya.
"Eh kenapa berhenti, apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Gio heran.
"Ga ada, Gio kamu jalan dulu 5 langkah," ucap Kyra sembari mendorong Gio agar berjalan.
"Eh... eh... kenapa," ucap Gio yang semakin merasa heran dengan sikap Kyra tersebut.
"Diam disini jangan dulu balik kebelakang, aku mau lihat punggung kamu. Ingat ya jangan nengok," ucap Kyra.
Kyra terburu-buru menghampiri Davin dengan memasang wajah kesalnya. "Ingat jaga mata dan hati kamu, banyak perempuan genit di sekolah."
Davin pun tersenyum dan menertawakan Kyra yang tampak kesal itu.
"Iya sayang," bisik Davin ke telinga Kyra.
Sementara Gio masih berdiri di tempatnya tanpa berani menengok ke belakang.
Kyra segera berlari menghampiri Gio dan merangkul pundak sahabatnya itu. "Iya udah, punggung kamu tampak bagus Gio."
"Dasar aneh, kirain ada apa di punggungku."
Sementara Davin masih saja tersenyum menertawakan sikap pacarnya itu.
"Dasar Kyra emang gemes kalau lagi cemburu," gumam Davin dalam batinnya.
...****************...
Saat jam istirahat tiba, seperti biasa Kyra dan Bella pergi ke kantin. Namun saat mereka tiba di kantin, segerombolan murid perempuan dari kelas 10 terus membicarakan Davin. Kyra memang tampak kesal karena mereka terus membahas Davin di depannya, bahkan dari salah satu anak perempuan tersebut ada yang sempat meminta nomer ponselnya.
"Anak kelas 10 sekarang pada centil," ucap Kyra dengan raut wajah kesal.
"Maksudnya apa Ra?" tanya Bella heran.
"Mereka genit dan so cantik, mereka bukan niat sekolah tapi malah deketin Davin."
Bella tersenyum menatap sahabatnya yang nampak kesal itu, "Terus hubungannya sama kamu apa? Davin kan bukan pacar kamu, kenapa kamu kesal kalau Davin di deketin mereka."
"Davin kan... ah pokonya aku ga suka," ucap Kyra gugup.
"Eh iya... kan kamu suka sama Davin."
"Apa sih Bel," ucap Kyra dengan kedua pipi yang memerah.
Tak sampai disitu saja keributan pun terus berlanjut, ketika suara sorak dan teriakan perempuan yang memanggil nama Davin dan Gio terdengar jelas dari arah lapang basket.
"Bel, ke lapang basket yuk," ucap Kyra menarik lengan Bella dengan tergesa-gesa.
"Ih ngapain kesana sih, kita belum sempat makan loh."
"Pokoknya kita harus kesana secepatnya," tegas Kyra.
Sesampainya di lapangan basket, anak laki-laki dari kelas 12 IPS 1 dan kelas 12 IPS 2 sedang bertanding basket. Ya itu adalah kelas yang di tempati oleh Davin dan Gio. Semua murid perempuan yang menyaksikan pertandingan tersebut terus bersorak memanggil nama Davin dan Gio terutama murid perempuan dari kelas 10. Perasaan Kyra semakin memanas saja ketika melihat beberapa perempuan yang tampak genit memanggil Davin.
Tak ingin kalah saing dari perempuan lain, Kyra pun dengan lantang menyemangati Davin. "Ayo Davin bisa," teriaknya yang seketika semua murid yang menyaksikan pertandingan tersebut menatap Kyra karena suaranya yang terlalu keras. Bahkan tak hanya penonton saja yang matanya tertuju kepada Kyra, teriakan Kyra juga membuat Gio tak bisa konsentrasi bermain basket. Terlebih lagi Kyra hanya menyebut nama Davin.
"Jadi lebih menyemangati Davin dari pada sahabatnya sendiri," sindir Bella.
Seketika Kyra menutup mulutnya dengan telapak tangan, "Oh iya gawat," gumamnya dalam batinnya.
"Gio juga semangat," teriak Kyra kembali dengan raut wajah yang memerah.
Tak berselang lama, tiba-tiba saja seorang murid laki-laki dari kelas 10 datang menghampiri Kyra sembari menyodorkan minuman. "Nih buat kakak."
"Maaf aku ga haus," ucap Kyra tanpa menoleh ke arah murid laki-laki tersebut.
Penolakan Kyra tak membuat murid laki-laki tersebut pergi, ia malah menyodorkan ponsel miliknya. "Kalau gitu minta nomer hpnya boleh ga."
"Maaf aku ga sembarangan ngasih nomer hp," ucap Kyra dengan ekspresi datar.
Laki-laki tersebut terus memaksa Kyra, hingga membuat Davin dan Gio sulit untuk berkonsentrasi bermain. Seketika Davin dan Gio pun keluar dari lapangan lalu menghampiri Kyra.
"Sini kasih sama gue minumannya, gue haus," ucap Davin merebut minuman yang di pegang oleh laki-laki tersebut.
"Mending pergi sana, dia risih di deketin lu," ucap Gio menatap tajam laki-laki tersebut.
Pertandingan menjadi kacau karena Davin dan Gio yang tiba-tiba keluar dari lapangan.
"Woy Vin lu gila ya, ngapain keluar tanpa sebab," teriak Nicko kesal.
Tak hanya Nicko saja yang meneriaki temannya itu, akan tetapi Alvin temannya Gio juga berteriak memanggil Gio dengan ekspresi kesalnya.
"Gio sialan, lu juga ngapain ikut-ikutan kesana."
"Kring...Kring...Kring
Seketika suara bel pertanda masuk kelas berbunyi, pertandingan terpaksa usai dengan skor imbang.
"Arrggghhh Davin sialan, tadi kalau dia ga keluar pasti udah masukin satu bola lagi," gerutu Gio yang semakin kesal.