
"Vin bangun ada cewek yang nayriin lu di sana," sahut Andy sembari menepuk-nepuk Davin.
"Ah...apa sih lu ganggu," jawab Davin dengan mengerutkan alis dan kedua matanya.
"Itu di depan ada cewek nyariin lu," ujar Andy dengan serius.
Mendengar perkataan Andy, sontak Davinpun terbangun lalu berjalan dengan begitu terburu-buru menuju ke depan kelas, karena ia berpikir bahwa perempuan yang mencarinya itu adalah Kyra. Dengan raut wajah yang tampak bahagia di sertai dengan senyuman iapun lalu menghampirinya. Namun pada saat Davin datang menghampiri perempuan tersebut, senyuman di bibirnya terhenti karena seseorang yang menunggunya tersebut bukanlah Kyra, melainkan seorang perempuan berambut sebahu dari kelas 10 yang sedang membawa sepucuk surat dan coklat di genggamannya.
"Kak Davin ini buat kakak, tapi baca suratnya setelah aku pergi ya" ujar perempuan tersebut sembari mengasongkan sebuah surat dan coklat yang ia genggam.
"Ah iya," ucap Davin sembari mengambil pemberian tersebut.
Setelah memberikan sepucuk surat dan coklat, perempuan tersebutpun lalu pergi meninggalkan Davin. Namun raut wajah Davin berubah menjadi muram, karena perempuan yang ia temui itu bukan Kyra seperti yang ia harapkan. Davinpun lalu kembali masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya. Pada saat Davin duduk di bangku, tiba-tiba Andy merebut surat yang Davin genggam. "Cie... dapat surat dari cewek nih, aku baca ya," ucap Andy sembari tersenyum meledek.
"Terserah lu, nih ambil juga coklatnya buat lu," ucap Davin sembari menyodorkan coklat pemberian tersebut.
"asyik... beneran nih buat aku?" tanya Andy.
"Iya serius, ambil dan pergi jauh dari hadapanku, aku mau tidur jangan ganggu," jawab Davin sembari menudukan kepalanya di bangku.
"Sebelum aku pergi, aku bakal bacakan suratnya hehe..." ucap Andy.
Lalu Andypun membacakan surat tersebut dengan bersuara keras dan isi surat tersebut berisikan kata yang menyatakan perasaan suka perempuan tersebut kepada Davin, "Kak Davin, aku suka sama kakak sejak pertama kali aku lihat kakak. Aku harap bisa lebih dekat lagi dengan kakak, dan ini nomor ponselku +62xxx... aku harap kakak dapat menghubungiku." Tanpa peduli sedikitpun, Davin mengabaikan surat yang di bacakan Andy. Pikiran Davin hanya berfokus memikirkan Kyra, karena ia takut jika Kyra benar-benar akan menjauhinya. Rasa suka Davin terhadap Kyra begitu besar hingga yang terdapat dalam hatinya bukan lagi perasaan suka biasa melainkan telah berubah menjadi sebuah cinta.
Lalu tak lama kemudian tiba-tiba Nicko datang membangunkan Davin. "Vin... Davin bangun," sahut Nicko sembari mengoyang-goyangkan tubuh Davin. Lalu Davin terbangun, akan tetapi kepalanya masih tertunduk dibangkunya. "Apa lagi? ganggu banget tau ga" ucap Davin.
"Ada Kyra tuh di depan kelas, katanya dia mau ketemu lu," ujar Nicko.
"Jangan bercanda deh, aku tau lu sama si Andy mau bohongin aku," ucap Davin dengan kepalanya yang masih tertunduk di bangku.
"Vin beneren itu Kyra, kalau lu ga bangun bakalan nyesel deh," sela Andy.
"Terserah lu, dari tadi pagi kalian terus bercandain aku, jadi kali ini aku ga bakal percaya lagi dengan kata-kata kalian," ucap Davin.
Davin tak mempercayai apa yang di ucapkan Nicko dan Andy, ia hanya tertunduk tidur di bangkunya. Namun tiba-tiba ada seorang yang menepuk-nepuk pundaknya sembari memanggil-mangil namanya, "Davin...Davin," mendengar suara tersebut lalu Davinpun terbangun, karena suara yang memangilnya tersebut ialah Kyra, seorang yang ia harapkan untuk di temuinya. Kyra datang menghampiri Davin sembari mengenggam roti dan minuman di tanganya. Melihat Kyra datang menghampiri Davin, Davin hanya terdiam tanpa berucap.
"Davin, aku minta maaf karena tadi aku tak menjawab maupun menghampiri saat kamu panggil," ucap Kyra tanpa melihat mata Davin.
Davin hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Kyra. Dan Kyrapun kembali berbicara, namun ia masih saja tak melihat mata Davin. "Vin, kenapa kamu tak menjawabku, apa kamu marah?... Davin aku harap kamu jangan salah paham bahwa aku marah sama kamu, dan aku berharap kita tetap berteman." Davinpun lalu mentertawai sikap Kyra yang berbicara padanya tanpa melihat matanya sedikitpun.
"Ah... i...iya," ucap Kyra dengan gagu.
"Ko jadi gagu gitu sih," ucap Davin sembari tersenyum.
Lalu tiba-tiba suasana tanpak hening tak ada perbincangan di antara mereka, Kyra tanpak gugup dan tanpak kebingungan dengan jantungnya yang bedegup sangat kencang. Karena Kyra hanya berdiam tanpa berbicara, Davinpun lalu menyentil jidat Kyra. "Kenapa malah diam gini sih," ucap Davin sembari menyetil jidat Kyra.
"Aw, sakit ih," ucap Kyra sembari mengusap jidatnya.
"Barusan kenapa diam?" tanya Davin.
"Hm... ga kenapa-kenapa... oh iya Vin ini makanan buat kamu, tadi kamu tidak sempat ke kantin, pasti kamu belum makan jadi aku bawakan ini buat kamu," ucap Kyra sembari menyodorkan roti dan minuman yang ia genggam.
"Ah iya, makasih... kamu sangat perhatiaan sekali Kyra," ucap Davin sembari mengelus-ngelus kepala Kyra.
Pipi Kyra memerah pada saat Davin mengelus rambutnya, lalu jantungnya semakin cepat berdegup, dan perasaannya sudah tak karuan. Karena perasaan yang tak karuan tersebut, Kyrapun lalu menyingkirkan tangan Davin dari rambutnya.
"Maaf Vin, aku ke kelas sekarang ya... jangan lupa habiskan makanannya," ucap Kyra sembari melangkah pergi.
Kyrapun lalu melangkah pergi menuju ke kelasnya. Sepanjang jalan Kyra terus menepuk-nepuk dada sebelah Kirinya. Jantungnya terus saja berdegup dengan cepat dan pikirannya terus saja tertuju kepada Davin.
"Haduh kenapa jantungku terus saja berdegup sangat cepat dan pikiranku terus saja terbayang wajah Davin," gumam Kyra dalam hatinnya.
Lalu pada saat Kyra telah sampai di pintu kelas, tiba-tiba ia terkejut karena Bella berada tepat di depannya.
"Haduh Bel kenapa tiba-tiba ada depan gitu sih, jadi kan aku kaget," ucap Kyra dengan terkejut.
"Kenapa kaget... kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Bella.
"Hm, bukan apa-apa," jawab Kyra sembari melangkah menuju tempat duduknya.
Bella merasa curiga dengan sikap Kyra yang seperti sedang memikirkan sesuatu. Sampai ia berpikir mencurigai Davin dan Agatha.
"Dia kenapa sih, apa ini ada hubungannya sama Davin atau Agatha," gumam Bella dalam hatinya.
Kyra terduduk di bangkunya sembari membukakan buku catatanya. Namun ia tak bisa fokus, pikirannya terus saja terbayang pada saat Davin menatap matanya.
"Ada apa denganku, sampai aku tak bisa berhenti memikirkannya,"gumam Kyra dalam hatinya.