
"Yah Kyra kenapa? kamu habis bikin dia nangis," tanya Anna pada suaminya saat memasuki rumah.
"Ayah cuma negur Kyra buat ga dekat-dekat sama sama cowok, terutama sama Davin... hm mungkin dia marah karena ayah waktu itu ngasih peringatan juga sama Gio," jawab Erick yang masih merasa bersalah terhadap putrinya itu.
"Ngasih peringatan apa? jangan bilang kalau ayah juga ngelarang Gio buat dekat sama Kyra," ucap Anna yang sedikit kesal terhadap suamianya itu.
"Iya sih ayah ngelarang Gio buat dekat-dekat sama Kyra... tapi kan Gio udah gede, dia pasti punya niat lain... seperti ngajak pacaran gitu," pungkas Erick.
"Kamu terlalu berlebihan... kamu boleh khawatir sama anak, tapi ga berlebihan gitu," tegas Anna kepada suaminya itu.
"Tapi kan ayah sayang sama Kyra dan ga mau dia kenapa-kenapa gara-gara cowok," ucap Erick.
"Iya ibu tahu ayah sayang Kyra, tapi ga usah berlebihan kayak gitu... mulai besok pokonya kamu jangan ngekang Kyra lagi dan mulai besok Kyra berangkat sekolah maupun pulang sekolah jangan kamu antar," tegas Anna lalu melangkah pergi.
Ucapan terakhir Anna membuat suaminya langsung tak berkutip sepatah kata. Erick hanya bisa menghela nafas dan hanya bisa pasrah untuk menuruti istrinya itu. Erick lalu kembali pergi bekerja setelah waktu istirahatnya di pakai untuk mengantar pulang putrinya itu.
Sementara di dalam kamar, Kyra membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya penuh kegelisahan, Kyra terus saja melamun memikirkan Davin yang kini sedang bersama mantanya yang bernama Githa.
Sesekali Kyra mengecek ponselnya, melihat kontak pesan terakhir dari Davin. Kegelisahan Kyra membuatnya merasa penasaran dengan Davin saat ini. Entah ia merasa rindu atau pun ia merasa takut kehilangan Davin setelah bekas kekasihnya datang menemuinya.
"Davin lagi apa ya... dia pasti lagi senang-senang sama Githa," guman Kyra sembari menggeser layar ponselnya melihat pesan-pesan dari Davin.
Kegilasahan Kyra membuatnya merasa sangat penasaran dengan Davin. Tanpa sadar Kyra mengetik pesan kepada Davin.
"Lagi apa?" isi ketikan di ponselnya itu.
Lalu tiba-tiba Anna datang mengetuk pintu kamar Kyra.
Tok...tok...tok..
"Kyra makan siang dulu," seru ibunya itu.
Kyra merasa kaget, spontan pesan yang ia ketik terkirim kepada Davin.
"Loh kenapa terkirim... gimana nih," ucap Kyra panik.
"Kyra makan siang dulu, ibu udah siapin," ucap Anna membukakan pintu kamar putrinya itu.
"Iya bu," ucap Kyra lalu melangkah pergi ke arah meja makan.
Ketika Kyra makan, Kyra semakin gelisah saat pesan yang ia ketik malah terkirim kepada Davin. Kyra merasa tak menikmati makan siangnya itu, ia hanya terdiam melamun sembari memainkan sendok yang ia peggang.
"Gimana nih... Davin pasti curiga," gumam batin Kyra.
Anna lalu merasa heran dengan putrinya yang sedari tadi melamun dan hanya memainkan sendok.
"Kyra kenapa dari tadi melamun bukannya makan," ucap Anna.
"Hm, ga apa-apa... Kyra cuma ga ***** makan saja," ucap Kyra yang masih memainkan sendoknya itu.
"Apa gara-gara punya masalah sama ayah? kamu jadi kepikiran terus," tanya Anna yang merasa Khawatir terhadap putrinya itu.
"Engga bukan itu... Sepertinya Kyra udah kenyang, Kyra ke kamar lagi ya bu," ucap Kyra lalu melangkah pergi.
Setelah memasuki kamarnya, Kyra lalu segera mengecek ponselnya itu. Namun ketika ia cek, tak ada satu balasan dari Davin.
Kyra lalu kembali menyimpan ponselnya itu di atas meja belajarnya. Kyra lalu membuka jendela kamarnya, lalu berdiri sembari memandangi langit. Entah mengapa ia teringat momen bersama Davin, di saat mereka pergi untuk melihat bintang. Momen singkat, namun momen itu membuat Kyra bahagia.
Pikiran Kyra kini di penuhi oleh sosok Davin. Apa yang ia rasakan saat ini adalah rasa takut kehilangan Davin. Namun Kyra tak mengerti rasa takut kehilangan tersebut. Karena perasaan yang ia rasakan saat ini adalah sebuah perasaan asing yang mungkin terasa aneh bagi perempuan polos yang tidak mengerti apa itu jatuh cinta.
Lalu tak lama kemudian, tiba-tiba suara pesan dari ponsel Kyra berbunyi. Kyra merasa senang karena ponsel tersebut berbunyi. Kyra berpikir bahwa pesan itu adalah balasan dari Davin. Kyra lalu mengambil ponsel tersebut dan segera mengeceknya. Namun ketika Kyra mengecek ponselnya itu, pesan tersebut bukan yang di harapkan Kyra. Karena pesan tersebut bukan dari Davin melainkan pesan dari sahabatnya yaitu Gio.
"Kyra kita ke taman yu... aku traktir es krim nih," isi pesan tersebut.
"Kenapa pesanya dari Gio... tapi ga apa-apa deh, mending aku pergi saja sama Gio dari pada di rumah kepikiran Davin terus," gumam Kyra yang merasa kecewa.
Kyra lalu membalas pesan dari Gio dan mengiyakan ajakan dari Gio. Setelah itu ia segera keluar dari kamar dan meminta izin kepada ibunya.
"Bu Kyra hari ini mau ketemu Gio... tapi ibu jangan bilang sama ayah, kalau Kyra ketemu sama Gio," ucap Kyra.
"Iya ibu ga bakal bilang... lagian ayah mungkin ga bakalan marah lagi, karena ibu tadi udah negur ayah," ucap ibunya itu.
"Makasih ya bu... kalau gitu Kyra pamit," ucap Kyra tersenyum lalu pamit pergi.
Kyra lalu segera menemui Gio di taman terdekat di daerah perumahannya. Di sana Gio sedang berdiri di dekat ayunan sembari membawa kantong kresek yang berisi es krim.
"Nih es krim coklat kesukaan kamu," ucap Gio memberikan es krim tersebut.
"Makasih Gio," ucap Kyra mengambil es krim yang di berikan Gio itu.
Kyra dan Gio lalu menikmati es krim tersebut sembari duduk di ayunan.
"Kyra masih ingat ga, waktu kecil hampir tiap hari kita beli es krim dan main disini," ucap Gio yang mengenang masa kecilnya itu.
"Iyalah ingat masa lupa... apa lagi kamu pernah nangis karena aku dorong kencang ayunan yang kamu naiki," ucap Kyra tersenyum membayangkan Gio kecil yang menangis olehnya.
"Kenapa kejadian itu masih kamu ingat sih... aku membayangkannya saja sangat malu," ucap Gio.
"Tapi waktu kecil kamu sangat imut," ucap Kyra menatap lurus ke depan sembari menikmati es krim.
Deg...
Seketika jantung Gio berdegup kencang ketika Kyra menyebut dirinya "IMUT." Gio lalu menengok menatap Kyra dengan raut wajah yang memerah.
"Kenapa dia bilang aku imut... apa jangan-jangan Kyra suka sama aku," gumam batin Gio.
Tring...
Suara telepon dari ponsel Kyra berbunyi. Kyra lalu segera mengecek ponselnya tersebut. Betapa terkejutnya Kyra, ketika nama penelepon tersebut ialah Davin.
"Davin telepon... gimana nih, dia pasti sudah mengecek pesanku tadi," gumam batin Kyra yang merasa ragu untuk mengkat telepon tersebut.
"Telepon dari siapa? kenapa ga di angkat," tanya Gio heran.
"Hm bukan siapa-siapa... telepon ga di kenal, pasti yang iseng," ucap Kyra lalu memasukan ponsel tersebut ke saku bajunya.