
Karena besok sudah tiba saat ujian kenaikan sabuk, kukerahkan seluruh energi dan emosi berlebihku saat latihan sore hari itu.
Saat sparring pun aku tidak mengendorkan energiku, hal itu sampai Surya menegurku karena kesal.
"Lu kenapa sih bro? Kayak gue musuh lu aja!" Protes Surya karena tendangan dan pukulanku menurutnya terlalu kuat dan keras penuh emosi. Lagipula ini hanya latihan. Aku memang sedang emosi! Apalagi setelah berantem dengan Cresa kemarin aku masih belum bisa meredam emosiku.
"Maaf Bro. Gue lagi badmood banget. Sori banget soal latihan tadi. OK! Gue langsung cabut ya bro. Sampai besok malam bro," ujarku seusai mandi.
Aku lalu menuju kafe Pinus. Kularikan motorku hingga mesinnya meraung keras.
Sesampainya aku disana. Aku duduk ditepi pondok menatap gelombang laut yang sedang pasang. Kemarin Cresa minta putus! Kuingat kata-katanya kemarin. Apa betul aku terlalu over protective? Apakah mengingatkan pacar agar tidak disentuh berlebihan oleh cowok lain itu berlebihan? Apakah betul sentuhan yang dilakukan guru tarinya itu hanya sikap professionalnya sebagai pelatih yang ingin penarinya tampil sempurna? Aku merokok seperti kereta api. Sudah 1/2 bungkus rokok kuhisap padahal rokok itu baru saja kubuka. Padahal semua itu kulakukan karena aku hanya ingin menjaganya dan dia malah minta putus dariku. Apalagi Cresa malah menuduhku berpikiran kotor tentang pelatihnya.
"FUCKKK!!!" Tinjuku kelayangkan ke tiang pondok.
"Tingting" ponselku berbunyi. Ada pesan dari Cresa.
"Kamu dimana? Bisa ketemu? Atau aku tunggu kamu di Kafe Pinus setelah aku selesai latihan, Bye."
Begitu isi pesannya.
"Ok. Aku tunggu di Kafe Pinus. Hati-hati. Bye!" Kukirimkan pesan balasanku. 30 menit kemudian Cresa datang bersama Virna. Virna menunggu dimobil saat Cresa menemuiku.
"Kita lebih baik putus, Rio. Maaf aku harus ngomongin ini ke kamu. Aku ngerasa terkekang klo kamu larang-larang begini terus," katanya ketus.
"Aku memang sayang banget sama kamu, tapi aku gak suka klo kamu larang-larang apalagi sampe nuduh orang lain yang macem-macem," katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Lebih baik kita putus katamu?!" tanyaku dengan nada emosi.
"Kamu ingat Cres. Aku harap kamu ingat kata-kataku hari ini. Aku nggak pernah ngelarang kamu untuk nari! Aku nggak pernah ngelarang kamu untuk punya teman baru! Aku cuma gak mau kamu diperlakukan seperti itu. Kamu udah gede, bisa bedain mana perlakuan yang normal atau nggak. Hati-hati dengan mulut manis cowok yang baru saja kamu kenal, Cresa! Maafkan klo aku selama ini aku nggak pernah bisa ngertiin kamu, sekali lagi aku minta maaf. Jaga dirimu baik-baik. Klo menurutmu putus dari aku itu yang terbaik untuk kamu. Aku gak akan menahanmu, Cresa. Aku gak bisa berbuat apa-apa," jawabku.
Aku lalu kembali duduk di tepi pondok. Kubiarkan Cresa berlari keluar kafe sambil menangis.
...----------------...
Malam itu Ujian kenaikan sabukku berjalan lancar. Sabeum Yosi menepuk pundakku setelah aku menyelesaikan prosesi ujian terakhir yaitu Kyorugi( Uji Tarung mengenakan body protector).
"Mantap Rio, tenang kamu pasti Lulus," kata beliau.
Aku pun menghormat pada beliau lalu pergi untuk mengganti bajuku. Kubuka ponselku setelah selesai mandi, ada pesan masuk dari Cresa.
"Sukses Ya Ujiannya. Semoga lulus & semoga dapat sabuk merah. Klo gak ada acara mampir ke Club 9, ya. Aku ngisi acara Grand Opening pembukaan Club jam 11. Datang ya bestie, Bye." Pesan itu kubaca tapi tak kubalas.
Aku sampai dirumah saat semua orang rumah sudah tidur. Abang Faizal sudah pasti tidak dirumah. Paling yang masih bangun cuma Vina doank. Aku naik dan masuk ke kamarku. Ternyata Vina juga tidak ada dikamar. Saat itu sudah hampir jam 12 malam. Vina juga belum pulang. Malam ini malam Minggu, malam Minggu kelabu!Saat aku bersiap untuk tidur, ponselku berdering.
"Vina calling" terlihat dilayar ponselku.
"Ya Vin!"
"Lu udah bobo, Rii?" teriaknya keras.
"Kamu dimana sih ribut banget, kenapa lu telpon?"
"Ehhh Lu buruan kesini ke Club 9. PACAR LU MABOKKK!!!"
"CRESA?!!!"
"Iya, pacar lu yang cakep itu mabok, Rio! Buruan lu kesini. Gue awasin dia dari jauh sampe lu datang! Buru!!!"
Aku langsung melompat sambil mengambil kunci mobil. Aku menyetir seperti kesetanan.
Kubayar tiket masuk dan ketika aku masuk, Vina sudah menungguku didepan Bar, Vina menggeret tanganku menuju meja dipojokkan dimana Cresa duduk. Cresa sudah terkulai tak sadarkan diri sambil dipangku oleh Seto!!!
Kudatangi meja itu dan kutinju muka Seto dan kutarik tubuh Cresa yang lemas, dari mulutnya tercium bau alkohol.
Vina lalu membantuku menggotong Cresa.
Syukurnya Cresa masih bisa berdiri walaupun jalannya sempoyongan karena badannya lemas sekali.
Seto dan ke 2 temannya mendatangiku.
"Jangan suka ikut campur urusan orang. Balikin cewek gue!" Kata Seto. Lalu kulihat juga Virna yang datang menuju kearahku dan Vina yang sedang menggotong Cresa yang lemas.Virna akhirnya membantu Vina menggotong Cresa.
"Lu tunggu dimobil, Vin!" ujarku pada Vina sambil memberikan kunci mobil padanya. Vina mengangguk lalu membawa Cresa yang mabuk dengan dibantu Virna. Seto yang mau mencegah Vina & Virna, kudorong keras hingga terjengkang. Karena ada keributan security pun sudah berada didekatku.
"Mas, klo ada masalah, harap diselesaikan diluar, ini lagi banyak tamu!" Kata security itu tegas tapi sopan. Aku pun mengangguk dan segera berjalan keluar Club itu. Seto dan kedua temannya mengikuti dari belakang. Saat sudah diluar Club, Seto dan kedua temannya yang juga setengah mabuk berlari sempoyongan hendak mengejarku. Kuputar badanku yang membelakangi mereka sambil melancarkan tendangan putar dengan keras.
"Bbaaakkk! Bbbuuuk! Bboookkk!" Mereka bertiga terjerembab ke tanah. Kuinjak bahu Seto dengan keras.
"Bangsat Loe!" kataku sambil menginjak tulang bahunya. Dia mengerang kesakitan. Aku lalu masuk ke mobil untuk melihat kondisi Cresa. Cresa sudah tertidur dalam kondisi mabuk berat.
"Vir, Cresa nginep dirumah lu dalam kondisi begini ga apa-apa?" Tanyaku pada Virna yang bingung.
"Emmmm Gak bisa kayaknya dirumah gue. Nanti bisa dimarah papa gue Rii," jawab Virna bingung dan ketakutan.
"Udah Rio, Lu buka kamar aja. Ntar aku dan Virna yang jagain Cresa. Beliin susu gih biar efek alkohol dibadan Cresa cepat hilang," saran Vina.
Saat pagi hari Cresa pun sadar, dia langsung menangis meraung-raung. Virna lalu mendekap tubuh sahabatnya itu. Vina tersenyum sambil menyodorkan susu kotak padanya.
"Diminum gih susunya, cantik."
"Rio mana mbak?" Tanya Cresta sambil menangis.
"Ntar juga kesini, paling dia lagi beli sarapan," ujar Vina sambil merokok.
"Si Seto semalam gimana mbak?" Tanya Cresa lagi.
"Paling dia semalem nginep di ICU. Dihajar sepupu gue sampe muntah darah," jawab Fina sambil tersenyum lebar.
TINGTONG!
Vina membuka pintu kamar saat aku datang. Cresa terdiam menatapku. Lalu kubuka bungkusan ayam KFC.
"Makan Vin, Vir," ujarku sambil membawa satu kotak ayam dan nasi juga sup jagung yang masih panas.
Kuberikan kotak makanan itu pada Cresa.
"Bisa makan sendiri? Atau mau disuapin?" Tanyaku pada Cresa yang masih menatapku.
Tangis Cresa langsung pecah, dia lalu memelukku.
"Maafin aku Rio. Maafin aku Huuuuuuhhuuu," tangisnya sesenggukkan.
"Cupp. Sudah. Kamu harus makan sekarang. Tadi malam kata Vina kamu muntah-muntah," ujarku sambil menepuk punggungnya. Dia makan sambil kusuapi. Selesai makan Cresa dan Virna langsung mandi.
"Udah siap pulang kan?" Cresta dan Virna mengangguk. Setelah check out kuantar mereka pulang.
Papa Cresta marah sekali. Untung ada Vina yang bisa menenangkan beliau. Mamanya memeluk dan menciumi kepala Cresa. Aku pun lalu pamit pulang dengan alasan akan mengantar mama. Om Jose, papa Cresa mengucapkan terima kasih padaku. Saat aku dan Vina berjalan ke mobil. Cresta berlari kearahku. Ia memelukku erat sambil menangis.
"Aku minta maaf, Rio. Aku nyesel udah ngomong yang nggak-nggak ke kamu."
"Lupain, yang penting sekarang kamu banyak istirahat.Okay?! Masuk gih, gak enak tuh diliatin sama papa. Kamu cepet baikan ya," ujarku sambil mengelus-elus kepalanya.
Lalu aku dan Vina naik ke mobil dan meninggalkan Cresa yang dipeluk papanya.
"Untung lu datang tepat waktu, Rio. Klo nggak udah buka segel itu pacar lu sama si bencong itu," ujar Vina.
"Cresa sudah bukan pacar gue lagi, Vin."
"Haaah??? Lu putusin dia? Sayang banget brooo. Aaah lu mah tolol ahhh! TOLOL!"
Aku hanya tersenyum datar mendengar makian Vina. Tapi syukurlah, Cresa gak sampe kenapa-kenapa semalam.
Lalu kuputar lagu favorit mama di mobilku.
For a while, to love was all we could do,
We were young and we knew, and our eyes,
Were alive Deep inside we knew our love was true,
For a while we paid no mind to the past,
We knew love would last Every night somethin' right,
Would invite us to begin the dance,
Somethin' happened along the way,
What used to be happy or sad, Somethin' happened along the way, And yesterday was all we had,
And oh, after the love has gone,
How could you lead me on,
And not let me stay around?,
Oh, after the love has gone,
What used to be right is wrong,
Can love that's lost be found?
Can love that's lost be found?
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!