MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Kembali Dengan Cresa dan Dendam Seto



Aku dinyatakan lulus Ujian kenaikan sabuk! Sekarang aku sudah menyandang sabuk merah. 2 level lagi aku bisa mencapai sabuk hitam. Aku lalu pulang setelah mengambil sertifikat dan sabuk baruku. Untuk sementara 2 minggu ini aku rehat latihan. Aku pun sudah mendaftar fitness, mumpung banyak waktu senggang.


Sekarang aku hanya ingin bersantai dulu di Kafe Pinus.


Kupesan udang goreng tepung, kentang goreng dan es jeruk. Aku duduk ditepi pondok sambil mendengarkan musik di airpods. Angin pantai bertiup sepoi-sepoi membelai tubuhku. Aku bersandar ditiang pondok. Aku melamun. Tak tahu apa yang kulamunkan. "Hahahaaha!" aku pun lalu tertawa sendiri. Kulepas airpodsku karena bosan mendengarkan musik yang hanya menambah kegalauanku.


"Taapp! Taaap!" Terdengar suara langkah kaki mendekat ke pondokku.


"Makananku sudah datang," batinku. Aku bangkit dan memutar badanku.


CRESA?!!!


TERNYATA YANG DATANG ADALAH CRESA!!!


"Rio, Apa kabar?" Sapanya sambil membawa baki makanan pesananku.


"Baik, kamu sendirian Cresa?" Kataku dengan nada canggung. Dia pun canggung sama sepertiku. Sejak peristiwa di Club itu memang aku selalu menghindar untuk bicara atau bertemu dengan Cresa. Saat itu pun kami berdua terdiam. Aku pun menundukkan kepalaku. Tiba-tiba Cresa mendatangiku dan langsung memelukku. Dia menangis terisak.


"Jangan giniin aku, please Rii. Aku minta maaf," katanya sambil melingkarkan tangannya dileherku. Tanganku tak bisa bergerak dan tanganku tak bergerak untuk memeluknya.


"Kamu gak bisa maafin aku, gak apa Rii. Tapi jangan cuek gini ke aku," ujar Cresa yang menangis sampai airmatanya membasahi dadaku.


"Udah, berhenti dulu nangisnya ya," kataku sambil mengusap airmata dipipinya.


Dia menangis sampai mengeluarkan lendir dihidungnya. Kuambil tissu sambil mengusap lendir itu. Aku tertawa melihat mukanya yang lucu saat mengusap lendir yang menempel dihidungnya.


"Udah makan?" Dia menggeleng.


"Sekarang makan ya," lalu kupesan lagi udang goreng tepung untuk Cresa pada pelayan.


"Boleh aku duduk disebelahmu?" Katanya sambil menggigit kukunya. Kutarik tangannya agar dia tak melakukan itu.


"Jangan digigit ahh, ntar rusak kukunya," kataku menepis tangannya dari mulutnya. Digenggamnya tanganku sambil mulai menangis lagi.


"Aku kangen kamu Rio," katanya sambil menundukan kepalanya.Aku bangkit dan duduk disampingnya. Lalu kupeluk tubuhnya.


"Andai kamu tau.Aku juga kangen kamu Cresa," batinku sambil memeluk tubuhnya erat.


"Udah donk nangisnya! Ntar cantiknya ilang lhoo.Senyum donk!" Kataku sambil menghapus airmatanya.


"Permisi mas, mbak!" Ujar pelayan yang mengantar makanan.


Setelah pelayan pergi kami berdua berpelukan lagi. Cresa membenamkan mukanya didadaku. Kupeluk erat tubuhnya, Cresa pun makin memelukku erat. Kukecup lama keningnya, tak sadar airmataku menetes. Cresa memandangiku.


"Kenapa kamu kok juga menangis?" bisiknya sambil menghapus sisa airmataku.


"Hehehe aku kangen kamu," kataku sambil menggosok-gosokan hidungku ke hidungnya.


"Sudah sekarang kita makan dulu yuk," lanjutku sebelum bibirku yang pada saat itu sudah mau mencium bibirnya. Dia duduk dipangkuanku sambil menyuapinya.


"Duduk disana yuk," ajaknya ke tempat menyepiku.


"Yuk sayang," kataku.


Cresa menghentikan langkahnya.


"Barusan bilang apa?"


"Mmmmm...Sayang," kataku lagi salah tingkah.


Cresa memeluk lenganku sambil melangkah ke pojok pondok yang sudah gelap. Aku duduk kemudian Cresa duduk dipangkuanku. Tangannya melingkar dileherku. Wajahnya yang cantik mendekat kewajahku.


AKU KANGEN DIA!


Kukecup bibirnya, setelah itu dia menyandarkan kepalanya didadaku. Lalu kami memandangi matahari yang hendak tenggelam.


...----------------...


"Dua bulan ini jangan dibuat beraktifitas berat dulu. Seperti mengangkat benda yang berat. Biar tulang yang retak bisa nyambung kembali," kata dokter itu pada Seto dan Mamanya.


"Seto bakal cari tau, ma. Soalnya kejadiannya ditempat gelap gak bisa liat mukanya, klo aku tau orangnya pasti aku balas lah ma!" Jawab Seto geram.


"Udah! Udah! Kamu yang penting inget pesan mama. JANGAN KELAYAPAN LAGI!!! 5 hari di ICU apa gak cukup? Temen-temen kamu malah belum keluar. Sekarang turutin apa kata mama! Atau mama akan stop uang belanja kamu!!!"


"Iya ma," jawab Seto lemas.


...----------------...


Sore itu suasana di rumah mewah Seto cukup ramai. Karena teman-teman Seto datang menjenguk.


"Tutup pintu kamarnya,bro!" Kata Seto pada teman-teman nya yang saat itu sudah berada didalam kamar. Pintu kamar itu pun ditutup.


"Gila, tangan lu patah ?" Kata Joe yang melihat Seto memakai alat penyangga untuk tangan yang patah.


"Nggak patah,bro. Tapi tulang bahu gue yang retak.Makanya gue harus make beginian," ujar Seto menjelaskan.


"Yang ngelakuin ini mantannya Cresa?!" Tanya Beno sambil duduk diranjang Seto.


"Iya Ben. Dia yang ngehajar gue sama Jaja dan Firman," jawab Seto


"Kita harus balas dendam! Gak bisa dibiarin tuh anak, Set!" Kata Iksan sambil mengepalkan tinjunya.


"Udahlah, biar Seto baikkan dulu. Lagian elu juga sih Set. Pake godain pacar orang, dibikin sampe putus pula.Hahahaha dendam kan doi jadinya," ujar Siska satu-satunya teman cewek Seto yang menjenguknya.


"Diem lu, Sis. Lu klo jadi gue pasti horny lah liat body jahanamnya Cresa. Sial banget gue malam itu. Padahal tinggal gue bawa ke hotel aja tuh anak, tapi gue keduluan sama si bangsat Rio itu.Jadi GATOT deh gue sama Cresa!" Ujar Seto geram.


"Sekarang kita buat rencana untuk bikin mantannya Cresa itu mendapat balasan setimpal. Setimpal dengan Seto, Jaja dan Firman yang sudah masuk rumah sakit!" Kata Iksan berapi-api.


"Gue ada kenalan preman, klo bayarannya cocok lu tinggal duduk manis liat Rio dibonyokin sama mereka," lanjutnya lagi. Seto yang rupanya tertarik dengan perkataan Iksan lalu menyahut.


"Gue harus bayar berapa, San?"


"4 juta, Set!" Jawab Iksan singkat.


"Jadiin San. Elu hubungin dulu tuh preman. Sambil gue siapin uangnya. Gak sabar gue, bro!" Kata Seto bersemangat.


"Ok Seto. Gue minta waktu semingguan untuk nyiapin semuanya. Lu tenang aja," sahut Iksan sambil tersenyum licik.


"Oke bro. Siska, gue minta tolong elu cari info soal cewek yang namanya Vina. Vina itu kayaknya deket sama Rio, gue curiga dia yang manggil Rio ke Club malam itu. Vina itu yang bantu Rio membawa Cresa kemarin," ujar Seto kepada Siska yang sedang merokok.


"Iya... Iya! Gue cariin info," jawab Siska dengan malas.


...----------------...


Surya melambaikan tangannya padaku yang datang dengan Vina. Penampilan Surya hari itu berbeda dari biasanya. Dia terlihat keren, dengan memakai jaket dan celana jeans dipadukan dengan T-shirt warna putih polos di tubuh kekarnya. Rambutnya yang cepak makin menambah ketampanannya. Vina tersenyum memandangi Surya yang terlihat kikuk. Aku memang menjodohkan Vina dengan Surya yang jomblo.


"Ini Vina, Sur!" Kataku sambil memperkenalkan Vina pada Surya. Vina dan Surya berjabat tangan. Lama mereka berjabatan tangan, keduanya saling menatap dan tak melepaskan tangan.


"Eheeeemm. Eeeheem itu tangan pake lem yah?" Tanyaku sambil tertawa.


"Kalian kutinggal dulu ya.Aku jemput Cresa dulu dibawah. Dia antar papanya," ujarku seraya berlari menuruni Eskalator. Hari ini aku & Cresa berencana nonton film. Double date dengan Vina dan Surya. Kutunggu didepan pintu mall kedatangan Cresta. Mobil papanya sudah terlihat akan memasuki lobby mall. Cresa pun turun dari mobilnya.


"Om saya ijin ajak Cresa nonton dulu ya." Kataku pada papanya.


"Ok Rio. Jangan lebih dari jam 11 ya. Om titip Cresa," ujar papanya sambil tersenyum.


"Siaap om!" Jawabku membalas senyumannya.


"Let's go princess!" Kataku sambil merenggangkan lenganku untuk digandengnya.


Sore itu aku memakai kaos Polo hitam dengan celana jeans hitam dengan sepatu boot warna hitam juga. Hitam memang warna favoritku. Rambutku kuberi pomade, dan kusisir rapi kebelakang seperti tokoh mafia Michael Corleone di Film Godfathers. Cresa pun penampilannya luar biasa hari ini. Dengan memakai dress hitam selutut dengan memakai cardigan makin terlihat cantik dengan rambut indahnya yang tergerai.


"You look so gorgeous," kataku sambil melingkarkan tanganku dipinggangnya yang ramping.


"Thank You handsome," jawabnya sambil melingkarkan tangannya dipinggangku. Saat kami tiba dibioskop, Surya dan Vina sudah terlihat akrab. Vina memang gampang akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya. Kami menonton film yang berbeda. Aku dan Cresa sepakat menonton film action, Surya dan Vina sepakat menonton film horor. Surya dan Vina masuk duluan karena film akan segera diputar. Aku dan Cresa harus menunggu 15 menit lagi, Cresa pun membeli Popcorn untuk didalam bioskop. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Wangi parfumnya membuatku nyaman memeluknya. Entah tiba-tiba saat itu perasaanku mendadak tak enak. Aku melihat kesekeliling. Benar saja, ada 8 orang yang sedang memperhatikan aku. Kulepas pelukanku, lalu aku berpura-pura berjalan kesisi lain tempat snack itu. Aku berbolak-balik. Benar! Mereka ber-8 mengawasiku. Tak lama kemudian terdengar panggilan film kami akan segera diputar. Kami pun berjalan menuju studio, kulempar pandanganku ke 8 orang itu. Dan aku tersenyum sinis sambil menatap mereka. Melihat dari dandanan mereka, mereka adalah preman yang biasanya jarang terlihat ditempat seperti ini. Jika mereka datang ke tempat seperti ini brarti ada sesuatu.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!