MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Perfect Plan



Rosko seperti biasanya datang menggunakan taksi ke kompleks Apartemen Mewah di bilangan Jakarta Selatan itu. Rosko masuk ke Apartemen mewah itu kemudian dia memasuki lift untuk menuju lantai 30 tempat Roxy pacarnya tinggal. Rosko keluar dari lift di lantai 28. Setelah itu Rosko kembali naik memakai tangga darurat, ia setengah berlari menuju lantai 30. Rupanya Rosko sudah tidak sabar untuk menemui pacarnya Roxy, cewek blasteran jerman yang cantik dan seksi itu. Saat Rosko dibukakan pintu oleh Roxy, Rosko langsung meluapkan rasa kangennya untuk segera menggauli Roxy.


"Ini kenikmatanmu yang terakhir, Rosko! Nikmatilah!" batin pria yang sedang bersembunyi di dalam lemari itu. Rosko saat bermain cinta dengan Roxy sangat kejam. Sekujur tubuh Roxy dipukulnya tanpa ampun. Setelah selesai bercinta, Roxy langsung masuk ke toilet untuk membersihkan diri. Rosko masih terkapar lemas diatas ranjang. Dia tidak menyadari ketika pria dari dalam lemari datang menghampirinya dan sudah membidik kepalanya dengan pistol berperedam. Pria bertopeng itu sudah mengarahkan moncong pistolnya membidik kearah kepala Rosko. Rosko pucat! Wajahnya pucat seperti mayat! "Im a rich man! Please, dont kill me! I will give you a lot money and everything you want! Please, dont kill me!" Ujar Rosko memohon untuk jiwanya pada pria bertopeng itu. Pria topeng itu membuka topengnya. Wajah tampan terlihat saat topeng itu dibuka, mata pria itu tampak bengis saat menatap Rosko.


"Mr. Paolo send his regards!" Ujar pria itu lalu menembak kepala Rosko 2x.


"Ctuubb!!! Ctuubb!!!" Rosko roboh diranjang itu. Otaknya berhamburan. Tidak sampai disitu, laras pistol itu dimasukkan kedalam mulut Rosko yang sudah tidak bernyawa dan sekali lagi pistol itu meledakkan kepala Rosko!


"Indra, lu bisa masuk sekarang!" Ujarku menelpon Indra. Aku lalu mengambil peralatanku dilemari. Indra masuk lalu menutup pintu kamar. Roxy pun keluar dari toilet. Roxy menutup mukanya saat melihat mayat Rosko. Indra membentangkan plastik berukuran besar sebesar permadani yang sudah kami siapkan sebelumnya. Plastik dibentangkan dilantai. Aku dibantu Indra mengangkat tubuh Rosko keatas lapisan plastik itu. Indra pikir plastik itu untuk digunakan membungkus tubuh Rosko.


"Mau apa lu?" Tanyaku. "Dibungkus kan bos?" Tanya Indra lagi. Roxy mengawasi kami dari pojok kamar. Aku lalu mengambil kapak dan mulai memotong-motong tubuh Rosko! Indra merasa mual saat melihatku memotong-motong tubuh Rosko. Dia berlari ke toilet dan muntah disana. Kuselesaikan pekerjaanku tanpa bantuan Indra. Potongan kecil tubuh Rosko yang sudah kupotong itu kumasukkan kedalam kantung plastik. Dan kumasukkan dalam 2 tas Carrier berukuran besar. Indra membantuku membersihkan noda darah di sandaran ranjang dengan cairan pembersih. Setelah selesai, aku mengambil bir di minibar.


"Roxy, terima kasih atas bantuannya. Lu bebas sekarang. Gue udah tau dimana semua anggota keluarga lu tinggal. Jadi elu jangan macam-macam. Ini uang yang gue janjiin. Lupain kejadian hari ini!" Ujarku sambil menyodorkan 2 koper berisi uang 1 Milyar padanya dan kembali meneguk birku. Indra membuka koper itu untuk menunjukkan isinya pada Roxy. Roxy hanya memandangi uang itu tanpa berani bergerak. Wajahnya yang cantik penuh lebam. Aku memberi tanda pada Indra untuk segera meninggalkan Apartemen itu. Aku dan Indra menggendong tas Carrier. Lalu kami meninggalkan Apartemen itu. Aku dan Indra menuju tempat peleburan besi di daerah Bogor. Aku dan Indra melemparkan 2 tas itu kedalam tempat peleburan. 30 menit kemudian kami meninggalkan tempat itu.


"Kita kemana bos? Cari hotel?" Tanya Indra sambil mengemudikan mobil.


"Kita cari hotel dekat bandara saja. 1 jam lagi Mia datang," Ujarku sambil melihat hasil rekaman Video saat aku memotong mayat Rosko.


"Sore ini juga gue mau pulang, Ndra. Gue kangen Nyonya!" Ujarku sambil memejamkan mata.


"Siap bos!" Jawab Indra singkat.


***


"Are you Mad, Honey?!" Cetus Mia saat melihat video rekaman Rosko itu. Mia tak menyangka Rio bisa sekejam itu.


"Siapkan dirimu, sayang. 2 bulan lagi Vicenzo pasti akan menghubungiku! Ini harus kita rayakan! Kenapa lu ngajak gue nginep di hotel murahan seperti ini sih?!" Ujar Mia kesal.


Aku tertawa mendengar ocehannya.


Aku memeluknya dengan lembut "Sore ini gue harus balik ke Bali, Honey. Gue mau anter bini gue periksa ke dokter!"


Mia tersenyum lalu membuka seluruh pakaiannya dengan terburu-buru.


"Ok then. Dont wasting our time now!"


***


Cresa menyambutku dengan wajah ceria saat aku masuk ke Villaku sore itu. 3 orang pengawal lalu menutup gerbang dan berjaga di luar Villa. Kucium kening Cresa sambil memeluk erat tubuhnya.


"Bentar lagi jalan yuk, sayang. Gue mau liat clubnya Reno. Cresa mengangguk senang. Aku lalu masuk ke kamar mandi, Aku duduk bersandar dibawah guyuran air shower. Saat itu Cresa masuk tanpa mengenakan pakaian.


"Besok udah lewat 2 bulan, beb!" ujarnya dengan wajah nakal menggodaku. Aku memeluk dirinya untuk mandi bersamaku. Perutnya sudah agak membesar. Tapi tetap indah.


Malam itu aku mengajak Cresa mengunjungi Club milik Reno yang telah kubeli. Proses pembayarannya pun sudah kuselesaikan. Aku percaya klo Reno tak akan berani macam-macam. Reno, Donna, dan Indra menyambutku saat aku tiba disitu bersama Cresa. Donna tersenyum melihat Cresa yang turun menggunakan pakaian hamil.


"Hamil berapa bulan, mbak?" tanya Donna ramah.


"2 bulan mbak," jawab Cresa tak kalah ramah.


"Jadi Club ini hadiah untuk calon baby lu ya, bro?" tanya Reno padaku yang menggandeng Cresa. Aku hanya tertawa kecil merespon ucapan Reno.


"Gue udah serahin semua kunci ke Indra, klo masih ada yang kurang paham, please lemme know bro!" ujar Reno lalu pamit dan meninggalkan kami.


"Elu beli Club ini, beb?" tanya Cresa tercengang.


"Reno butuh uang, beb. Gue ada duit nganggur, sekalian belajar bisnis kecil-kecilan. Buat ngisi waktu luang aja!" Cresa masuk dan berkenalan dengan para karyawan di Club itu. Aku dan Indra menuju gudang yang terletak di belakang.


"Malam ini Club harus tutup jam 00.00, Ndra.


Lu ajak 2 temen lu di Villa untuk jagain gerbang depan.


Biarin Jake dan orang-orangnya menyelesaikan pekerjaannya sendiri.


Lu dan temen lu cukup berjaga disini.


Ok, gue mau anter Nyonya ke dokter dulu. Sadewo suruh jaga jarak ya, dari mobil gue!" Ujarku kembali keruang depan tempat Cresa menungguku.


Aku melajukan mobil sport hitam itu menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan istriku.


"Kandungan sehat, pertumbuhan janin pun sempurna. Masa karantina untuk tidak berhubungan **** juga sudah selesai. Tapi tetap dilakukan pelan-pelan ya!" ujar dokter itu pada kami berdua.


"Malam ini kita bisa bulan madu lagi, sayang!" Ujarku ketika kami sudah mobil.


"Inget, beb. Pelan-pelan! Hihihi!" Goda Cresa sambil tertawa.


"Gue udah pake ramuan tradisional yang gue pake waktu honey moon lagi lhoo, sayang!"


"Hahahha, i love you, bebb!" Ujarku sambil mencium punggung tangannya.


"Beb, gue pengen pizza yang elu bawain tempo hari," pinta Cresa dengan manja.


"Hihihi. Dedek minta pizza ya. Sabar ya, papa otw beliin ya!" ujarku sambil mengelus perut istriku itu.


"I love you so, Sweetheart!" Bisik Cresa lalu bersandar dilenganku sambil menggenggam erat tanganku.