MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
PENSIUN



Dipertemuan yang bertempat disebuah Villa mewah di Sentosa Island. Mr. Paolo menyeringai ke arahku, pria itu didampingi Bruno dan Drake yang menatap tajam kearahku. Aku yang duduk di seberangnya juga menatap tajam ke arah mereka bertiga. Mia yang berada di tengah antara aku dan Mr. Paolo, berdiri dan berjalan ke arah Mr. Paolo dan berdiri disampingnya sambil menatapku dengan ekspresi datar. Aku datang sendiri ke pertemuan itu tanpa ditemani satupun orang kepercayaanku. Drake mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan kearahku.


"I'm so sorry, Chef!" ujar Drake dengan tatapan dingin.


"Dooorrr! Dooorr! Doorr! Dorrr!" Suara ledakan pistol itu memecah keheningan di ruangan itu. Tubuhku roboh, Mr. Paolo berdiri dan melangkah kearahku sambil merampas pistol yang sedang dipegang Drake, Mr Paolo mengarahkan pistol itu sambil berjalan mendekatiku yang jatuh tertelungkup. Mr Paolo menembakku lagi.


"Dorrrr! Dorrr!" Pistol revolver milik Drake menembakkan 2 peluru yang tersisa pada punggungku. Mr Paolo memakiku menggunakan bahasa latin sambil menendang tubuhku. Dia tentu berpikir klo aku sudah mati saat itu. Peluru yang ada di pistol Drake adalah peluru hampa. Peluru hampa itu hanya melukai kulitku tanpa bisa merobek tubuhku. Saat itulah aku menggulingkan tubuhku sambil memegang pistol Glock pemberian Mr. Paolo dan mengarahkan moncongnya ke arah kepalanya.


"WELCOME TO THE HELL! ADIOS MOTHERFAKER! DORR! DORRR!" Ujarku lalu menembakkan pistol itu sambil berbaring ke arah kepalanya. Peluruku tepat bersarang diantara kedua matanya. Tubuh Mr. Paolo terjerembab ke belakang sambil melototkan matanya. Kuhabiskan sisa peluruku menembaki tubuhnya yang sudah tidak bergerak. Tidak puas sampai disitu, aku mengambil sebuah belati disaku jasku dan menikam dadanya berkali-kali. Wajah, tangan dan tubuhku penuh dengan noda darah milik Mr. Paolo. Sampai aku dihentikan Mia dan Drake yang memegangiku.


"Its done, Sir. He's died!" ujar Drake yang memegangi tubuhkku. Darah Mr. Paolo membanjiri permadani indah itu. Mia memegangi tanganku yang memegang belati sambil mencoba melepaskan belati itu dari tanganku. Kulepaskan belati itu dari tanganku sambil menjambak rambut Mr. Paolo yang sudah tidak bernyawa itu. Drake lalu menarik tubuhku menjauh dari mayat Mr. Paolo. Aku dibimbingnya untuk kembali duduk di kursiku. Lalu masuk lah pria bule berumur 60 tahunan dengan tatapan dinginnya beserta puluhan pengawalnya. Dialah Don Locatelli, pimpinan Mafia tertinggi dari Sisilia. Dialah yang membantuku atas permintaan mama Wanda. Aku dan Don Locatelli bersepakat sampai 4 tahun kedepan aku akan membantunya merelokasi seluruh asset milik Mr. Paolo di Indonesia menjadi miliknya sebelum aku pensiun dari bisnis ini. Bruno membawakan handuk hangat untuk membersihkan bekas darah yang mengotori sekujur tubuhku.


"Thanks a lot, Don Loca!" Ujarku sambil mencium punggung tangannya lalu menghormat ke arahnya. Para pengawalnya lalu menyeret mayat Mr. Paolo yang sudah dibungkus plastik keluar ruangan. Don Locatelli berdiri lalu berjalan keluar ruangan.


"I guarantee that no one will bother you anymore, Rio!" ujarnya padaku sebelum keluar ruangan.


Setelah Don Luca meninggalkan ruangan itu bersama para pengawalnya, Aku menjabat tangan Drake dan Bruno untuk menyampaikan terima kasih dan salam perpisahan kepada mereka.


"Bruno, Drake! It was an honor to work with you! Thanks you very much!" ujarku sambil menepuk bahu keduanya.


"El Chef, its such an honor for us to serving you too!" jawab mereka berbarengan. Lalu Aku dan Mia beserta pengawalnya segera meninggalkan tempat itu.


****


Siang itu Cresa menyambutku bersama Mike anakku, 2 minggu kutinggalkan mereka untuk membereskan urusanku. Papa dan mama ternyata selama aku ada menginap di Villaku. Mike yang rupanya sangat merindukanku, langsung naik kepelukanku dan memelukku erat.


"I miss you so much, daddy!" bisiknya ditelingaku.


"I miss u so too, my lovely boy!" jawabku sambil mengangkatnya keatas leherku. Mike tertawa sambil memegangi kepalaku. Cresa memelukku dan membenamkan kepalanya didadaku.


"Welcome home again, Sweetheart!" Katanya sambil menangis.


"Mama cengeng pa, papa pegi mama naniiiis teyuus!" Ujar Mike mengejek mamanya yang tersenyum mendengar ucapannya yang masih cadel. Aku lalu mengajak mereka ke dalam rumah, Cresa lalu mengajakku makan siang. Aku hanya makan berdua dengannya. Kupandangi wajah cantiknya yang sangat kurindukan selama aku pergi. Sementara Mike bermain dengan assisten rumah tanggaku, aku mengobrol dengan Cresa di kamar. Kupeluk tubuhnya yang harum sambil duduk disofa empuk didalam kamar kami.


"Sayang, maafin gue. Klo selama ini gue belum jadi suami yang sempurna untuk elu dan papa yang baik untuk Mike anak kita!" bisikku sambil mencium rambutnya.


"Udah jangan dilanjutin kata-kata lu, sayang. Semua yang elu lakuin, itu untuk gue dan Mike. Cuma itu yang gue tau!" Ujarnya sambil mengelus dadaku.


"Gue udah banyak ngelakuin dosa yang buruk, Sayang!" Lanjutku lagi sambil menarik nafas panjang dengan mata berkaca-kaca.


"Gue gak mau tau itu, Honey. Lu udah ngelakuin dosa dan elu menyesal. Urusan dosa, itu urusan elu sama Tuhan. Tuhan Maha pengampun, sayang!" Ujarnya sambil mengelus pipiku.


"Dont thru this alone, i will always here beside you!" Lanjutnya lagi. Aku menangis mendengar kata-katanya.


"I'm done, beb. I'm already done with this!" Jawabku lagi.


"Sekarang senyum donk, sayang. Gue kangen elu yang selalu senyum!" Aku tersenyum sambil mencium bibirnya dengan lembut.


"Thanks God i found you!" Batinku dalam hati.


"Mandi gih, bau elu kecut banget, sayang!" Kata Cresa sambil mengendus-endus tubuhku.


"Ayo, temanin gue mandi! I miss u so like crazy!" Kataku sambil menggendong tubuh isteriku ke kamar mandi. Cresa tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya ke leherku.


***


Sore itu aku mengunjungi makam Eva, sudah hampir 4 bulan lamanya aku tak pernah berkunjung kesitu. Kupandangi ukiran namanya di batu nisannya.


"Apa kabarmu, sayang? Aku kangen banget, kangeeeen banget, Va!" Ujarku dengan suara pelan. Setelah mengiriminya doa, aku meninggalkan area pemakaman itu. Dion yang menemaniku membukakan pintu mobil saat aku mendekat.


"Mau kemana lagi, bos?" tanya Dion saat memasuki mobil.


"Kita langsung pulang!" Jawabku singkat.


"Mike! Itu papamu sudah pulang!" kata mama Wanda sambil menggendong Mike, mama Wanda yang ternyata mengunjungiku setelah berlibur dari luar negeri bersama teman-temannya.


"Apa kabar ma?" Tanyaku sambil mencium tangannya.


"Mama baik-baik saja, nak!" Jawab mama Wanda sambil menggendong Mike. Aku dan mama Wanda ngobrol di tepi kolam renang sore itu.


"Bagaimana urusanmu, sudah selesai semuanya?" Tanya mama.


"Berkat bantuan mama, semuanya hampir selesai!" Jawabku sambil memegang kedua tangannya.


"Syukurlah nak, mama ikut senang mendengarnya!" Ujar mama Wanda tersenyum.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Sahut Cresa dari dalam rumah sambil membawa 2 cangkir teh dan camilan.


"Tak terasa, anak kalian sudah besar. Sudah waktunya Mike untuk punya adik! Hahhahaha!" Ujar mama sambil tertawa.


"Tahun depan, Ma! Kasian Cresa, dia kemarin baru belanja baju baru! Hahahhaha!" Godaku pada Cresa yang duduk disebelahku sambil bersandar dilenganku. Mama Wanda pun tergelak mendengar jawabanku.