MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
D E J A V U



Aku mengambil foto selfie dengan latar belakang menara Eifel yang menjulang dibelakangku. Aku teringat hari-hari terakhir saat aku dan Eva akan meninggalkan kota Paris. Aku berfoto ditempat yang sama dengan spot yang sama pula. Bedanya hanya tanpa Eva disampingku. Aku tersenyum melihat hasil foto selfieku itu.


"I missed u so, Sweetheart!"


4 hari lagi aku akan segera meninggalkan kota Paris setelah 2 tahun aku meneruskan sekolahku di kota yang dijuluki City of Light itu.


Begitu aku tiba di Tanah air, aku langsung menuju tempat dimana Eva dimakamkan. Sudah 2 tahun aku tidak mengunjungi makamnya. Kubersihan rumput liar yang tumbuh disekitar makamnya. Pada waktu aku akan berangkat, pak Kadek kuberi tugas untuk membersihkan makam Eva. Hari itu rupanya pak Kadek pun akan membersihkan makam istriku itu. Beliau kaget menjumpaiku disana sore itu.


"Mas Rio, kapan datang?" katanya sambil menjabat tanganku.


Aku tersenyum kepadanya.


"Saya baru tiba, pak. Dari bandara saya langsung kesini dulu." Jawabku sambil terus mencabuti rumput yang tumbuh disekitar nisan Eva.


"Ooow. Klo begitu pulangnya bareng saya saja, mas. Kebetulan kemarin ibu juga datang!" Jawabnya dengan logat Bali yang kental.


"Iya pak. Saya mau doa dulu!" Kataku sambil mengeluarkan buku kecil dari kantong kemejaku.


Pak kadek meninggalkanku saat aku mulai membaca surat Yasin. Setelah selesai mengirim doa, aku meninggalkan area pemakaman itu.


Mama Wanda menyambutku di depan gerbang Villa.


"Kamu sendirian aja, Rio? Mama pikir kamu bawa bule Perancis lho!" Canda mama Wanda sambil menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam Villanya. Aku hanya tertawa mendengar candaan mama saat itu. Kami duduk di gazebo dekat kolam renang, mama Wanda memanggil pak Kadek untuk membawakan makanan untuk kami.


"Jadi tadi kamu langsung ke pemakaman setelah dari bandara?" Tanya mama setelah pak Kadek meninggalkan kami.


"Mama mungkin baru besok kesananya, Rii! ujar mama lagi.


"Besok saya anter, Ma!" Jawabku lagi. Mama menganggukkan kepalanya.


"Gimana, kamu belum punya pacar lagi?" Tanya mama sambil tersenyum. Aku melirik ke arah mama sambil menggelengkan kepala.


"Belum, Ma. Saya belum nemu cewek yang seseru Eva!" Jawabku sambil tersenyum kearah mama. Beliau pun lalu menceritakan awal mula Eva mengobrak-ngabrik isi lemarinya saat ingin menemuiku pertama kali. Aku tertawa mendengarkan ceritanya itu.


"Baru itu mama liat Eva bingung memilih baju untuk kencan, ternyata memang kamu cowok yang spesial, Rio!" Ujar mama mengenang kejadian itu. Lalu mama bertanya tentang rencanaku setelah pulang ke Indonesia. Aku berencana menemui beberapa investor yang kukenal saat aku meneruskan studiku di Paris. Termasuk menemui Tania yang mengajakku bergabung lagi di Resort miliknya. Mama Wanda terlihat senang mendengar penjelasanku itu. Tak lama kemudian pak Kadek ditemani seorang wanita masuk membawa makanan. Kami berdua pun makan sambil mengobrol. Lalu setelah itu aku meninggalkan mama Wanda untuk beristirahat. Aku berjalan ke Villaku yang tepat berada disebelah Villa mama Wanda. Villa itu terlihat bersih dan terawat setelah kutinggal 2 tahun lamanya. Pak Kadek betul-betul mengurusnya dengan baik.


Pagi itu motor sewaanku sudah diantar ke Villa, setelah memeriksa kelengkapannya, motor itu pun keserahkan ke pak Kadek.


"Kok sewa motor, mas? Mobilnya gak dipake? Masa mobil bagus begitu cuma dipanasi saja!" Sindir pak Kadek sambil membersihkan debu yang menempel di Mobil Rubicon yang biasa kupakai berkeliling dengan Eva. Mobil itu memang sudah lama tak pernah kupakai, selama ini hanya dipanasi saja oleh pak Kadek.


"Klo sendirian males nyetirnya, pak. Mending pake motor, gak macet-macetan!" Jawabku sambil kembali masuk ke dalam Villa.


Sore itu aku mengendarai motor matic sewaanku. Aku berkeliling menyusuri kawasan Petitenget yang ramai sekali saat itu. Setelah mampir sebentar di Coffee shop langgananku. Lalu aku meluncur ke arah kantor Tania di daerah Legian. Tania menawariku kontrak kerjasama lagi. Tania dan koleganya baru membuka resort baru dikawasan Ubud. Aku berjanji untuk mengabarinya dalam waktu dekat. Setelah selesai bertemu Tania, Aku mampir ke mall di daerah Kuta. Untuk membeli Tshirt dan celana untuk Jogging. Aku pun mampir untuk menikmati Sunset di Cafe Sardinia, tempat aku dan Eva menghabiskan waktu di sore hari. Aku memesan pizza dengan bir dingin. Aku melamun sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Aku menikmati pizzaku sambil memandang ke arah pantai, matahari sudah terbenam hampir setengah. Rombongan 5 orang cewek dan 1 orang cowok. Mereka duduk sebelahku. Cowok yang gayanya lemah gemulai itu meminta ijin kepadaku.


"Bang, permisi ya. Eike pinjem kursinya ya!" ujar cowok itu sambil tersenyum genit kearahku dengan nada bicara yang membuatku geli melihatnya. Aku pun mengangguk sambil tersenyum kepadanya.


"Gila nek, bule disini cucok-cucok. Bikin eike jadi ngeces!" Ujarnya kepada temannya sambil mengangkat kursi dari depan mejaku. Rambutku yang coklat muda dan kulitku yang putih kemerahan membuatku sering dikira bule oleh orang-orang yang baru pertama kali bertemu denganku.


"Hello, i'm Lusi. Can i join with you?" kata seorang cewek di rombongan itu mengajakku mengobrol.


"Yeah, Off Course miss Lusi! Sit down, Please!" Jawabku sambil mempersilakan cewek manis itu duduk. Dia menjabat tanganku.


"I'm sorry. I want to practicing my english language!" Katanya dengan terbata-bata.


"Iye. Tanya namanya siapa klo kenalan itu!" Kata cowok itu lagi.


"What is your name?" Tanya Lusi lagi padaku.


"My name is Rio Ramirez!" Jawabku tersenyum sambil membuka kaca mata hitamku.


"Pake buka kacamata lagi nih bule, pake kacamata aja udah ganteng apalagi dibuka. Eike mau pengsannn!" Celetuk cowok gemulai itu dengan nada bicara yang lucu disambut dengan tawa teman-temannya. Aku pun menahan tawa mendengar celetukan cowok itu.


"Tanya apa lagi, Cok?" kata Lusi lagi pada cowok gemulai itu.


"Rio?!" Tiba-tiba terdengar suara wanita memanggilku dari belakang Lusi.


Kutoleh ke tempat asal suara itu.


"Cresa?!" Jawabku lalu menjabat tangannya. Cresa memandangiku dari kepala sampai kaki. Cresa lalu duduk disamping Lusi. Lusi yang kikuk lalu berpamitan kepadaku untuk kembali ke mejanya.


"Excuse me, mister. I go back to my table now. Nice to meet you, Mr. Rio!" katanya sebelum meninggalkan kursinya. Cresa menahan tawanya sambil menutup mulutnya.


"Yeah, Nice to meet you too!" Jawabku sambil tersenyum pada mereka.


"Kapan kamu sampai, Cresa?" Tanyaku pada Cresa.


"Tadi pagi, Rio. Emmm berapa lama ya kita gak ketemu? 3 tahunan ya, Rii? Tanya Cresa padaku sambil mencoba mengingat kapan terakhir kami bertemu.


"4 tahun, Cresa!" Jawabku singkat sambil tersenyum.


"Hahhahahaha, Ternyata made in lokal juga, Lus. Made in lokal KW super!" celetuk cowok gemulai itu lagi pada teman-temannya.


"Kamu sendirian? Istri kamu mana, Rii?" Tanya Cresa lagi. Aku hanya tersenyum. Terbayang lagi wajah cantik Eva saat itu.


"Lu jadi merit kan sama dia? Lu sama dia gak ada masalah kan, Rii? Tanya Cresa dengan nada curiga. Aku melambaikan tanganku kearah pelayan. Aku memesan bir dan orange juice untuk Cresa. Kulahap pizza yang masih tersisa. Aku masih diam tidak menjawab pertanyaan Cresa tadi.


"Eva sudah meninggal, Cres. 4 tahun yang lalu dia meninggal karena Leukimia."


Aku menyalakan sebatang rokok sambil memandangi pantai yang mulai gelap.


"Sori, Rii. Aku ikut berduka ya!" Jawabnya dengan raut muka sedih. Aku hanya tersenyum kecut sambil mengacak-acak rambutku dengan tanganku. Lalu kami mengobrol tentang kegiatan yang kami lakukan 2 tahun terakhir. Ternyata Cresa sukses berbisnis klinik perawatan kecantikan dan dia sudah memiliki 8 cabang termasuk di Bali. Dia berkeliling setiap 1 bulan sekali ke kantor cabangnya.


"Aku senang kamu sudah lebih baik daripada saat pertama kali kita ketemu, Cresa," kataku sambil mengintip jam tanganku. Sudah jam 8 malam tanpa terasa.


"Kamu udah mau pergi ya, Rii?" Tanyanya ketika aku melihat jam tanganku.


"Temani aku makan malam, yuk Cres!" Kataku sambil berdiri dan membayar bill pada pelayan. Dia mengganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.


"Bang, ini kembaliannya gimana?" kata pelayan itu padaku.


"Buat mbok aja!" Ujarku sambil berjalan keluar dari Cafe itu bersama Cresa.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!