
Saat kami tiba, Papa Jose dan mama Anggi menjemputku. Barang bawaan kami cukup banyak.
"Cresa, tubuh kamu makin berisi, kamu makan melulu ya di Eropa?" Goda mama Anggi pada anak semata wayangnya itu.
"Tuh kan beb, kata mama gue gendut. Habis ini gue harus diet!" keluh Cresa padaku dengan manja.
"Hahaha. ini gara-gara 3 hari cuma makan doank ma. Gak kemana-mana cuma dikamar, kedinginan!" Jawabku sambil tertawa. Papa menyetir dengan pelan melintasi jalan Kuta sore itu. Tiba-tiba Cresa meminta papanya untuk berhenti.
"Ada apa nak?" tanya papa.
"Papa parkir disini aja, Cresa sama Rio mau turun sebentar!" ujar Cresa sambil membuka pintu mobil lalu menarik tanganku.
"Sebentar pa!" Ujarku sambil turun dari mobil. Cresa menggandeng tanganku sambil menuding ke arah ibu-ibu yang membawa bungkusan plastik berisi buah yang sudah dipotong alias rujak.
"Gue pengen itu, beb!" Katanya sambil memegangi bibirnya.
"Pengen buah? Ntar aja mampir ke supermarket beb," bujukku padanya.
"Gue pengen itu, gak pengen yang disupermarket, sayang!" rengeknya seperti anak kecil yang meminta mainan.
"Ok, sebentar sayang!" Cresa lalu kembali masuk kedalam mobil. Kubelikan 5 bungkus rujak buah itu untuknya
"Apa Cresa ngidam ya?" batinku dalam hati. Tiba-tiba hatiku merasa senang.
"Sayang, elu ngidam ya?" tanyaku ketika menutup pintu mobil sambil memegang pipinya.
"Gak tau, beb. Tadi pas liat warna buah dikemasan plastik itu tiba-tiba gue kepengen banget!" jawabnya sambil membuka kemasan plastik itu dan memakannya. Mama Anggi tersenyum senang ketika melihat Cresa memakan rujak itu.
"Mudah-mudahan firasat mama bener! Kayaknya Cresa hamil!"
Papa yang sedang mengemudikan mobil pun tersenyum.
"Hahaha. Nanti sore kita periksa ya, sayang!" ujarku lalu memeluk Cresa yang sedang asik menikmati rujak buah.
"Wajah Cresa makin cantik, papa jadi inget saat mama hamil dulu, wajah mama makin cantik ketika hamil Cresa," sambung papa. Mama Anggi tersenyum sambil melirik papa.
...----------------...
"Selamat, anda akan segera menjadi ayah!" kata dokter sesudah memeriksa Cresa kepadaku.
"Usia kehamilan istri anda memasuki usia kehamilan 2 minggu. Untuk sementara dilarang untuk berhubungan suami istri dulu selama 2 bulan. Sampai janinnya benar-benar kuat!" Aku dan Cresa yang awalnya gembira menjadi bingung setelah mendengar keterangan dokter yang terakhir. Tidak boleh ML 2 bulan??? Tapi kuluapkan kegembiraanku saat itu dengan memeluk Cresa.
"Beb, kamu bisa 2 bulan gak ML?" tanya Cresa sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Demi baby kita, mau gimana lagi. Kamu gak papa beb, kamu emang bisa 2 bulan gak ML?"
"2 bulan oh 2 bulan!" gumamku pelan. Cresa tertawa sambil memelukku.
"Kita cari cara beb, Okay?!"
"Istriku yang cantik jelita bagai bidadari surga dianggurin 2 bulan. Ampuni Baim ya Tuhan!" ujarku lagi.
****
Aku melirik Cresa yang sedang berbaring diranjang menggunakan lingerie sexy transparan. Aku membawakan segelas susu untuknya. Kupalingkan wajahku saat melihat belahan pahanya yang mulus. Peringatan Dokter itu terngiang-ngiang ditelingaku. OMG! 2 bulan! Cresa tertawa melihatku. Dia tau apa yang sedang kupikirkan apabila dia sedang memakai pakaian seperti itu. Aku lalu melakukan push up disebelah ranjang. Cresa tertawa sambil menutup mulutnya. Dia tertawa sampai berguling-guling di ranjang sambil memegang perutnya. Dia menghampiriku.
"Sini sayangku, ML yuk. Tapi pelan-pelan ya, sayang!" ujarnya sambil menepuk-nepuk ranjang kami. Aku cuek, sambil terus melakukan push up. Cresa menarik tanganku mengajakku untuk berbaring disampingnya. Aku lalu duduk disamping ranjang. Kubelai rambutnya sambil menatapnya. Cresa masih menahan ketawanya. Aku tersenyum melihatnya tertawa.
"Gue gak akan ML sama elu 2 bulan ke depan!" Ucapku sambil membelai rambutnya. Dia berhenti tertawa, mimik mukanya tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Loe kira gue gak pusing? Gue selalu kangen disentuh sama elu, beb. Tapi gue kudu nahan!" Katanya dengan nada serius.
"Lhoo kok jadi ngambek sih, Gue kan cuma ngomong gitu. Sesuai dengan anjuran dokter. Apanya yang salah?"
"Gak salah, cuma gak usah ngomong bla bla ML 2 bulan ke depan sama gue laah!" Jawabnya lalu membalikkan badannya membelakangiku. Pantatnya yang putih mulus bergetar saat dia berbalik badan. Aku naik ke ranjang dan memeluknya dari belakang.
"Iya gue salah, gue minta maaf. Bobo yuk, gue ngantuk!" Ujarku sambil mengelus lengannya.
"Peluk gue sayang!" Desahnya sambil menoleh kearahku. Aku pun memeluknya dengan erat.
"Kiss me, honey," ujarnya dengan bibir terbuka. Aku mencium bibirnya dengan lembut sebentar lalu melepaskan bibirku dari bibirnya. Ujung ototku yang menegang dibalik boxerku menyentuh tubuh bagian belakang Cresa. Aku menarik mundur pinggangku agar ototku tidak menyentuh bagian itu lagi. Cresa menolehku.
"Yang dilarang itu kan ML beb, klo cuma nyentuh kan gak papa, elu jangan segitunya juga lah beeb!"
"Nyentuh kan akhirnya bisa berakhir ML. Biar aja lah gak sampe nyentuh. Belum nyentuh aja sudah berdiri!" Jawabku sambil menarik nafas panjang.
Cresa lalu berbalik dan sekarang wajah kami berhadapan.
"Lu pikir gue gak pengen apa, beb?" keluh Cresa sambil melototkan matanya.
"Ya ampun beb, udah ah, gue mii...!" Belum selesai kata-kataku, Cresa sudah mengulum bibirku. Lidahnya bergerak liar didalam mulutku. Kubalas ciumannya dengan liar. Tanganku sudah merayap kearea sensitif tubuhnya.
"Masukin jari lu sayang!" katanya sambil menciumiku dan membuka kakinya. Aku hanya mengelus tanpa memasukkan jariku ketubuhnya. Cresa mencium bibirku dengan kasar. Kulepas bibirku dari bibirnya. Nafas Cresa terengah-engah. Mataku kupejamkan sebentar. Lalu aku bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar. Kubuka pintu kamar dan kujulurkan kepalaku keluar kamar. Papa dan mama sudah tidur. Kukunci pintu kamar itu. Kubuka piyamaku, sekarang aku sudah menciumi kaki Cresa yang mulus sempurna.
"Gigit bantal, sayang!" Lalu aku menciumi pangkal pahanya dengan liar. Kuhujamkan lidahku didalam tubuhnya. Cresa menjambak lembut rambutku. Satu tangannya menekan kepalaku kearah pangkal pahanya. Sementara tangannya yang lain meremas erat tanganku yang berada didadanya. Cresa menggigit bantal. Kurasakan tubuhnya berdenyut-denyut, Cresa makin menekan kepalaku senakin ketat, lidahku bergerak cepat dan semakin cepat. Kaki Cresa menjepit kepalaku. Mulutku dibanjiri cairan dari dalam tubuhnya. Cresa menarik tubuhku untuk berbaring disebelahnya.
"Sebentar ya, beb. Sebentar!" nafas Cresa terengah-engah. Aku pun lelah, kupejamkan mataku. Aku buka mataku, Ternyata Cresa sudah tertidur lelap. Aku tersenyum melihatnya. Kucium pipi dan keningnya. Kuselimuti tubuhnya. Aku membelai wajah cantiknya sambil memandanginya.
"I Love u!" bisikku ditelinganya.