MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Restu Mama Wanda



1 jam kemudian


Angela tiba-tiba bangun dan berteriak minta tolong. Aku yang sedang menikmati burger sambil duduk dikap mesin pun meloncat turun dan menghampiri Angela di dalam mobil.


"Apaan sih lu? Bikin kaget aja!" Kataku saat menengok Angela dari jendela mobil. Beberapa orang yang mendengar teriakan Angela merubungi mobilku untuk melihat apa yang terjadi.


"Mmaaf mas, saya tadi mimpi buruk!" Tukas Angela sambil menangkupkan kedua telapak tangannya kekepala. Orang-orang yang merubung mobilku pun bubar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kuambil kantung makanan yang berisi burger dan kentang lalu kuberikan pada Angela.


"Huufffff. Bisa bonyok gue dikeroyok orang segitu banyaknya!" Kataku pada Angela yang sedang membuka bungkus kertas burger.


"Iya, Maaf! Hehehe!" Katanya sambil terkekeh.


"Dipikir orang-orang itu mobil gue fake taxi kali ya! Haahaha!" Angela akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Makan gih, La. Ketawanya stop dulu!" Ujarku sambil mengunyah kentang goreng. Sambil menunggu Reno kami berdua mengobrol. Ternyata Angela seru juga diajak ngobrol. Gaya candaannya mengingatkanku pada Eva. Angela suka dengan candaan yang 'agak menjurus'.


"Elu udah gak papa kan, La? Gue antar elu sekarang ya ke rumah Reno. Atau elu mau gue antar ke tempat lain?" Tanyaku sambil menyalakan mobil.


"Lu mau kemana? Gue ikut lu aja lah, Rii!" Katanya dengan santai.


"Hahaha. Gue mau pulang. Besok pacar gue dateng!" Jawabku sambil menyalakan mesin mobil.


"Kita ke hotel aja, ntar subuh lu tinggalin gue gak papa!" Jawab Angela sambil mengedipkan matanya.


"Hahhaha. Gue bandel! Tapi main gue gak gitu, La! Emang tampang gue mirip sendal Crocs ya? Ayo ah, elu gue mesti antar kemana!"


"Ke rumah Reno aja deh!" Ujarnya sambil membuang muka ke arah jendela mobil. Kularikan mobilku ke rumah Reno. Saat sampai di rumah Reno, aku pun mengantar Angela sampai memasuki pagar. Setelah dia memasuki pagar aku berjalan ke arah mobilku. Tiba-tiba dia keluar lagi sambil berlari tanpa alas kaki.


"Riooo!" Panggil Angela.


"Ada yang ketinggalan?" Tanyaku saat dia melewatiku. Angela tiba-tiba berbalik. Dia melompat memelukku dan mencium bibirku. Kukatupkan bibirku saat dia ingin mengulum bibirku. Dia lalu turun lalu berlari lagi kedalam rumah.


"Gadis sableng!" Batinku sambil menyalakan mobilku dan berlalu dari situ.


...----------------...


Mama Wanda sedang bersiap untuk menyambut kedatangan Cresa di Villanya.


Mama memesan makanan beraneka macam makanan hari itu, aku terharu melihat usaha mama Wanda untuk menyambut Cresa. Villa mama Wanda pun dibersihkan dengan bantuan tambahan yang dicari pak Kadek.


Sore hari aku sudah bersiap untuk menjemput Cresa di bandara.


Saat sore hari arus lalu lintas ke bandara biasanya macet. Jadi aku berangkat lebih awal memakai mobil sport yang biasa dipakai Eva.


Mobil kesayangan Eva sudah dibawa mama Wanda ke Bali karena itu adalah mobil kenanganku dan Eva saat pacaran dulu.


Mobil Sport itu tidak pernah kupakai sejak dikirim mama ke Bali.


Aku hanya membersihkan dan memanasinya, banyak kenangan indahku bersama Eva dimobil itu sehingga aku enggan memakainya.


Mobil Porsche Carrera warna merah menyala itu kukemudikan dengan santai menuju bandara.


Memoriku melayang saat menyanyikan lagu itu untuknya saat dia dirumah sakit. Kubuka kaca jendelaku saat aku merokok. Disampingku ada segerombolan gadis yang bersiul-siul menggoda diriku. Aku hanya memandang ke arah mereka. Tiba-tiba ada sebuah mobil VW Beetle menglaksonku. Aku pun menepikan mobilku untuk memberi jalan pada mobil itu. Mobil VW itu berhenti tepat disamping mobilku. Kaca jendela mobil itu pun terbuka, tampak jelas wajah gadis cantik yang menyetir mobil itu.


ANGELA!


Aku melotot kearahnya sambil menyusupkan kacamata keatas kepalaku. Angela tertawa sambil memonyongkan bibirnya kearahku. Kembali kukemudikan mobilku menuju bandara. Mobil Angela terus mengutitku. Akhirnya aku memasuki area bandara, kuintip dispion tengah. Angela pun masuk ke bandara tepat dibelakang mobilku.


Dan dia juga parkir disebelahku. Angela menghampiriku sambil menggelengkan kepalanya.


"Gila Sayangku ini. Tadi malam bawa Rubicon, Sore bawa Porsche! Makin cinta deh gue!" Katanya menggodaku. Aku tersenyum memandangnya sambil memencet remote.


"Jemput siapa, La?" Tanyaku padanya.


"Jemput kakak gue, lu beneran jemput pacar elu? Jadi omongan lu yang semalam serius?" Katanya sambil menjejeri langkahku.


"Ya serius lah. Masa baru kenal udah suka boong?" Celetukku sambil tersenyum.


"Pesawat pacar gue udah mau landing nih, gue kesana duluan ya!" Ujarku meninggalkan Angela yang masih menatapku. Tiba-tiba tangannya sudah menggandeng lenganku. Kutoleh kearahnya saat itu. Angela hanya tertawa cengengesan sambil tetap memegang tanganku.


"Pacar gue galak lho! Lepasin tangan lu, La!" Kataku sambil mencoba melepaskan tangannya.


"Idiih, ternyata takut sama pacarnya! Haahaha!" Balasnya sambil tertawa.


"Iyalah, takut. Klo gue nanti gak dapat jatah gimana?" Balasku lagi sambil mengejek Angela.


"Iya, iya!" Ujarnya sambil melepaskan tanganku. Aku berdiri didepan gerbang kedatangan. Kulihat papan informasi penerbangan pesawat Cresa sudah landing 10 menit yang lalu. Kuawasi satu persatu penumpang yang keluar dari gerbang itu. Cresa sedang berjalan berdampingan dengan seorang wanita cantik dengan rambut pirang. Cresa terlihat sedang mengobrol dengan wanita itu saat melangkah keluar dari gerbang kedatangan.


Kulambaikan tanganku ke arah Cresa. Cresa melihatku dan lalu bersalaman dengan wanita berambut pirang itu. Kemudian Cresa berjalan cepat kearahku. Angela yang berdiri disampingku lalu berbisik,


"Cresa itu pacar lu, Rii?"


Aku melirik ke arahnya dengan tatapan heran. Bagaimana Angela tahu nama Cresa? Aku pun menyongsong kedatangan Cresa. Cresa memelukku lalu mencium pipiku.


"Angela, elu jemput mbak Ivone ya?" Tanya Cresa yang ternyata sudah mengenal Angela. Angela yang kikuk hanya menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Cresa.


"Ini ....," Kupotong ucapan Cresa, "Gue dan Angela udah saling kenal. Dia sepupu teman gue, Cresa!" Aku berpamitan pada Angela. Lalu aku menggandeng Cresa keparkiran sambil menyeret kopernya. Saat kami sudah masuk ke dalam mobil. Kucium bibir Cresa dengan buas. Kami meluapkan rasa kangen kami sesaat didalam mobil waktu itu. Angela ternyata menyaksikan itu sambil mengetuk kaca mobilku.


"Cari kamar woy! Cari kamar! Hahhaha!" Godanya sambil tertawa. Aku menjulurkan lidahku kearahnya sambil mengarahkan mobilku keluar dari parkiran bandara. Saat itu Ivone menatap tajam kearahku dengan tatapan yang tidak bersahabat.


"Lu udah lama kenal Angela, Rii?" Tanya Cresa.


"Baru kemaren kok kenalnya, beb. Reno, kakak sepupunya temen kuliah gue di Aussie!" Jawabku sambil memandangi Cresa.


"Lu cantik banget, beb!" Cresa tersenyum tersipu sambil mengulas bibirnya dengan lipgloss.


"Lu juga tampan banget, beb!" Balasnya sambil mengusap lembut rambutku. Cresa terlihat tegang malam itu. Kugenggam tangannya sambil berkata,


"Chill Beb, Mama Wanda orangnya nyantai kok!" Cresa menggenggam jemariku, tangannya berkeringat. Aku tau dia gugup saat itu. Lalu Cresa mengeluarkan rokoknya dan mulai merokok. Raut mukanya yang tadi tegang agak berubah setelah dia merokok. Belum sampai seperempat rokok itu terbakar Cresa terlihat akan membuang rokok itu. Kuminta rokok yang hendak dia buang itu. Cresa tersenyum sambil memberikan rokok itu kepadaku. Cresa lumayan sudah agak santai, dia rebahkan kepalanya dilenganku sambil mengelus tanganku.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!