MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Dan Terjadi Lagi...



Tak terasa. Hari itu aku sudah hari terakhir sekolah, mama pulang setelah mengambil raportku. Hasil raportku masih sangat memuaskan mama, aku masih rangking 2 di kelas. Aku mengganti pakaianku di toilet sekolah. Aku akan bertemu Eva disebuah mall. Aku berniat untuk mengajak Eva liburan ke Bali. Eva dan aku agak jarang bertemu akhir-akhir ini karena kesibukan Eva yang sedang belajar meneruskan bisnis almarhum papanya dan aku yang mempersiapkan ujian kenaikan kelas. Kurang 1 jam lagi dari janjiku untuk bertemu Eva. Aku berniat untuk jalan-jalan mengelilingiku mall itu untuk sekedar cuci mata. Dan aku melihat sebuah Hoodie berwarna hitam yang sedang diskon di toko pakaian pria. Kubeli hoodie itu dan langsung kukenakan. Aku lalu mengitari mall itu sambil melihat-lihat barang yang sedang diskon. Tiba-tiba kulihat Eva, dia berada 1 lantai dibawahku. Aku berniat mengejutkannya. Kupakai kerudung hoodie itu dan mulai berlari menuruni eskalator. Di seberangku tampak Eva yang sedang berbicara dengan seorang cowok gagah berperawakan sedang yang dandanannya necis sekali. Cowok itu tampak mengejarnya dan berusaha menggandeng tangan Eva.


"Siapa cowok itu?" batinku dengan hati panas. Eva dan cowok itu tidak menyadari klo aku sedang mengikuti mereka. Mereka lalu berbelok ke lorong yang menuju kearah toilet. Saat aku akan berbelok menuju ke lorong itu, kulihat adegan yang membuat hatiku makin panas.


Eva sedang berciuman dengan cowok itu!


Eva bersandar di dinding dengan tangannya yang mengalung keleher cowok itu. Aku terdiam di tengah lorong itu, mereka berdua masih saja berciuman. Aku terdiam sambil mengepalkan tinjuku. Mereka berdua rupanya akhirnya sadar klo ada yang sedang memperhatikan kegiatan mereka. Saat mereka menoleh kearahku, kukebaskan kerudung hoodieku kebelakang.


"RIOOOO!!! TUNGGU RIO!!!


EVA BERTERIAK MEMANGGIL NAMAKU. Aku langsung berbalik arah dan berlari kencang ke arah lift. Aku turun dibasement mall, lalu kuberjalan ke parkiran motorku dengan emosi.


Aku larikan motorku kearah rumah. Aku mengemasi bajuku dan kumasukkan ke dalam koper kecil. Aku meminta ijin ke mama dengan berbohong untuk ikut teman-teman ke Bali. Aku memang ke Bali, tapi tidak bersama teman-teman.


"Kok perginya mendadak kamu banget, Rii?" tanya mama.


"Iya ma. Robin mendadak juga ngomongnya. Jadi perginya dadakan gini deh. Maaf ya, Ma!" kucium pipi dan tangan mama.


"Nanti uangnya mama transfer aja ya. Kamu masih ada pegangan kan?" Tanya mama sambil mengantarku keluar rumah. "Aman, ma! Rio berangkat dulu. Udah ditunggu teman-teman dibandara," ujarku sambil bergegas masuk ke taxi online yang sudah menungguku. Saat taxi yang kutumpangi sampai di pertigaan jalan rumahku kulihat Mobil Sport warna merah milik Eva melesat kencang berbelok ke arah jalan rumahku. "Pelan-pelan saja, pak. Penerbangan saya masih lama kok," kataku pada sopir itu.Sopir itu mengangguk. Tak lama kemudian ponselku bergetar. Kubuka ponselku yang bergetar, ternyata itu telpon dari mama.


"Ya. Haloo ma," jawabku.


"Rio, barusan Eva kesini cari kamu, mama bilang kamu mau ke Bali sama teman-teman kamu. Memangnya kamu gak ngomong ke dia klo kamu mau ke Bali?" tanya mama.


"Nggak ma, tapi ntar biar ketemu di bandara aja. Nanti disana aja baru aku omongin Eva," jawabku lalu mengakhiri panggilan telpon itu. Kulihat 50x missed call dari Eva ke ponselku. Hatiku panas. Tapi rasanya tak sesedih waktu aku kehilangan Cresa. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan rasa itu. Aku pun ijin merokok pada Sopir itu, aku lalu membuka kaca. Mobil Sport Eva melesat mendahului taxi online yang kunaiki. Aku melamun lagi sambil menghisap asap rokok.


Aku turun di terminal kedatangan bandara. Karena di terminal keberangkatan kulihat Eva yang sedang mondar-mandir disana mencariku. Setelah membeli tiket pesawat ke Bali. Aku masuk ke sebuah kedai kopi, dan memesan kopi. Kembali ponselku bergetar. Kujawab telpon dari Eva.


Eva(E): Rio, lu denger dulu penjelasan gue. Itu semua gak seperti yang lu liat!


Rio(R): I'm listen to you.


E: Gue udah ke rumah lu.kata mama lu ke Bali. Sekarang lu dimana? Gue kejar lu ke bandara lu gak ada.


R: Udah lu pulang aja. Thanks for Everything, Eva.


E: Rio, Biarin gue jelasin dulu semuanya!(huuuuuuuhuu)


R: Gak ada yang perlu lu jelasin tentang kejadian tadi. What i see is what i get. I make so simple for you, Va!


E: Gue mau kita ketemu. Gue harus jelasin semua ke elu. Please give me a chance to explain it!(Huuuuuhuuuu)


R: Gue akan temuin elu setelah pulang dari Bali!


E: I'm really love you!


R: Take care,Eva. Take a rest u looked so tired. Bye!


Kuakhiri panggilan itu dan langsung kumatikan ponselku. Keberangkatanku masih 1,5 jam lagi. Kulanjutkan menghabiskan kopiku.


...----------------...


Siska bingung. Eva menangis saat ia membuka pintu kamarnya.


"HAH!!! Gara-gara apa Rio mutusin elu?" tanya Siska sambil mengelus punggung Eva.


"Dia melihat aku dan Tino kissing tadi, Sis!" ujar Eva sambil memeluk Siska.


"WHATTT??? LU KISSING SAMA TINO??? DAN RIO LIAT ITU?!!!" ujar Siska dengan kaget dan marah.


"Iya, tapi itu gak seperti yang dia sangka,Sis. Gue dipaksa Tino. Lagian cuma kissing," jawab Eva sambil menangis menutupi mukanya.


"Gue gak mau denger alasan lu Va," kata Siska yang juga marah pada sahabatnya itu.


"Gue bakal minta maaf ke Rio, ngelakuin apa aja gue mau. Bantuin gue Sis," ujar Eva lagi.


"Ayo kita ke Vina, cuma dia yang bisa bantu elu. Dan semoga dia mau bantu elu," kata Siska.


......................


Vina tersenyum saat melihat Eva dan Siska. Siska memeluk Vina. Mereka bertemu di kafe dekat tempat Vina bekerja.


"Ada apa nih? Tumben, Ehh kemana sepupu gue?" tanya Vina yang heran saat itu tidak melihat Rio.


Eva menjelaskan kenapa dia menemui Vina saat itu dan apa maksud mereka saat itu. Vina langsung marah ketika mendengar penjelasan Eva.


"Udah slese cerita lu? UDAH SELESE?!!!" Teriak Vina dengan melotot pada Eva.


"Bagus deh klo dia mutusin elu. Timbang dia kayak kemarin lagi. Gue dukung tindakan dia mutusin elu, Va!


Sori kita sama-sama cewek. Gue juga pernah ditinggalin. Tapi lu ditinggalin karena kekonyolan elu. Udah lah lepasin dia. Kasian dia, Va. Dia itu baru sembuh, lalu ketemu elu di Club. Nyesel gue ngajak dia kesitu malam itu!" tangis Vina.


"Baru sembuh??? Emang Roy sakit apa, Vin?" tanya Eva yang juga menangis.


Vina lalu membuka galeri foto ponselnya. Dan menunjukkan foto cowok yang kurus kering. Penampilan Rio di foto itu tidak seperti penampilannya yang sekarang.


"Lu liat foto-foto itu, Va. Itu foto yang gue simpen buat Cresa. Cresa yang membuat Rio 3 bulan lebih hidup kayak mayat hidup. Gak napsu makan. Jarang mandi. Susah tidur malam dan selalu mimpi buruk. Tapi, lu bisa liat perubahannya sekarang? Saat dia udah balik seperti dulu lagi. LU SAKITIN DIA LAGI, VA!!! Lu tau berapa cewek yang nyamperin dia ke rumah? Berapa cewek yang godain dia saat jalan sama elu? BANYAK BANGET VA! Dan gue yang ngusir mereka semua! Karena Rio yang nyuruh gue! Dia gak pernah peduliin mereka semua. Yang dia peduliin cuma elu!!! Heran gue sama Rio. Kenapa dia gak jadi bajingan aja sih! Biar dia gak ngerasa sakit kayak gini terus!" ujar Vina lalu berdiri dari meja itu lalu ia pergi meninggalkan Eva dan Siska.


Eva lemas, terjawab sudah pertanyaan dia selama ini, pertanyaannya yang tidak pernah dijawab oleh Rio. Jadi yang disembunyikan Rio selama ini adalah rasa sakit yang mungkin semua orang bisa tau tapi hanya dia yang bisa merasakan rasa sakit itu.


Itu sebab dia tidak bisa berbagi meski itu hanya sekedar berbagi cerita kepada orang terdekatnya.


Siska menyetir mobil Eva, Eva minta diantar ke rumah mama Wanda. Siska menyetir tanpa berbicara setelah mendengar cerita Vina tadi. Eva merasa teriris hatinya saat melihat Foto yang ditunjukkan Fina tadi. Foto Rio yang kerempeng tak terurus membuat hatinya makin sedih. Eva teringat 6 bulan belakangan ini Rio selalu menemaninya. Dia tidak pernah mengeluh lelah ketika Eva membutuhkannya. Padahal pagi Rio harus sekolah, siang dia latihan Taekwondo, dan waktu sore-malamnya hanya untuk Eva. Eva saat itu betul-betul merasa sangat bersalah. Rio yang selalu bersikap manis dan ceria, memanjakannya walau umurnya lebih muda darinya, dan selalu bisa mengalihkan emosinya menjadi tawa dengan candaannya. Eva teringat 1 bulan lalu Rio minta ijin padanya untuk jarang bertemu untuk mempersiapkan ujian kenaikan kelasnya. Menjadikan Eva jarang menemui Rio dan Tino yang merupakan mantan pacarnya dan juga rekan sekantornya kembali datang menggodanya. Sebenarnya semua godaan Tino sudah ditepis oleh Eva. Ini semua gara-gara Tino menarik dan memaksanya di lorong mall tadi dan langsung menciumnya. Dan Rio melihat kejadian itu kemudian lalu menghilang.


Mama Wanda hanya diam. Dia mendengar semua cerita Eva dengan sabar. Saat Eva bercerita tentang Vina yang marah. Mata mama Wanda pun terlihat berkaca-kaca, dia teringat saat pertama Rio datang ke rumah itu. Ia pun langsung terkesan dengan sikap sopan anak muda itu.Tidak ada orangtua yang akan menolak anaknya untuk dipacari Rio. Mama Wanda memeluk Eva yang menangis.


"You gotta let him go Eva," Eva makin menangis mendengar kata-katanya mamanya itu. Eva mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menelpon Rio. Ponsel Rio tidak aktif. Eva berdiri dan berpamitan kepada mamanya. Eva memang tinggal beda rumah dengan mamanya sejak papa dan mamanya bercerai. Eva tinggal dengan papanya. Eva memeriksa IG Rio.Ternyata ada 2 postingan baru. Postingan 2 jam yang lalu,


Rio memposting saat dia menyanyi di sebuah cafe di daerah Jimbaran.


'Always Be My Baby' lagu yang sering dia nyanyikan. Rio menyanyi di cafe yang menampilkan live music. Suaranya yang serak dan berat sangat cocok menyanyikan lagu itu. Eva menangis melihat itu.


"Sis tolong temenin gue ke Bali besok. Tolong bantu gue cari dia!" Ujar Eva dengan mata berkaca-kaca menahan airmatanya yang hendak menetes.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!