MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Duri Dalam Daging



"Bang Indra, Sadewo ketemu dengan orang bule. Saya sudah kirim foto mereka ke abang!" Ujar Boni pria yang ditugasi Indra itu lalu memutuskan sambungan telpon.


Mata Indra terbelalak saat menerima dan melihat foto dari Boni. Sosok pria berkepala plontos difoto yang ditemui Sadewo adalah Bugsy, tukang jagal kepercayaan Vicenzo. Bugsy adalah buronan interpol dalam kasus pembunuhan di Bangkok dan Manila.


"Sadewo keparat!" Batinnya. Indra bergerak cepat membangunkan Bosnya.


Setelah mencoba menelpon bosnya tapi tidak ada jawaban. Indra menggedornya gerbang Villa itu dengan keras. Tak lama kemudian terdengar suara Rio yang berlari membuka kunci gerbang.


Indra memberi tanda bahaya padaku. Aku suruh Indra menyiapkan Mobil Cadangan yang baru kubeli kemarin. Mobil itu dilengkapi bagasi tersembunyi untuk menyimpan senjata. Mobil Fortuner itu sudah terparkir di depan Villa. Aku dan Cresa bergegas masuk ke mobil itu. Mobil itu lalu melaju menuju ke arah Ubud. Aku telpon pak Wayan untuk membawa mama dan papa ke tempat yang aman seperti yang sudah kuperintahkan sebelumnya. Indra menelpon Boni, Boni menginfokan bahwa dia masih mengutit Sadewo yang sedang berkeliling bersama Bugsy dan menemui 2 orang lain. Pak Wayan dengan cepat membawa mama dan papa ke rumah pecalang. Puluhan pecalang berjaga-jaga disekitar rumah itu. Untuk sementara mama dan papa sudah aman. Boni menunggu di jalan besar sambil mengawasi mobil Sadewo Cs yang mengarah ke jalan kecil dan jalan itu adalah satu-satunya jalan untuk menuju Villa Papa. Bugsy terlihat mengamuk karena tidak menemukan papa dan mama di dalam Villa itu. Sadewo dan Bugsy berputar-putar mengelilingi area sekitar. Menurut perkiraan mereka, papa dan mama masih ada disekitar situ, tidak mungkin mereka lari terlalu jauh. Indra yang menyetir bagai kesetanan dalam waktu singkat sudah sampai di Ubud. Aku dan Cresa turun di sebuah hotel kecil dan ditemani 4 teman Boni. Indra dan 2 teman Boni segera menuju ke lokasi Sadewo Cs dengan dipandu oleh Boni. Saat itu kebetulan mobil Sadewo baru keluar dari jalan kecil didepan Indra. Indra lalu tancap gas menabrak mobil Sadewo. Sadewo yang tidak mengenali mobil itu tidak waspada. Mobil Sadewo ditabrak Indra dengan keras. Hingga mobil Pajero yang ditumpangi Sadewo terguling-guling karena ditabrak dari samping. Indra dan Dion anak buah Boni lalu turun dari mobil. Anak buah Boni itu memang pembunuh berdarah dingin. Dion mendatangi mobil yang hancur remuk karena terbalik beberapa kali itu dan langsung menusukkan pisau ke leher Bugsy lalu menggorok urat lehernya dan begitu juga terhadap 2 orang dibangku belakang. Saat Dion akan menusuk Sadewo yang hendak keluar dari jendela mobil. Indra melarangnya.


"Bawa dia, bos mau dia hidup-hidup!" Dion dan Jaka lalu menyeret tubuh Sadewo yang terluka dan dilemparkan ke dalam mobil yang dibawa oleh Boni. Mobil Fortuner yang ringsek dibawa oleh Indra menuju Villa papa Jose.


Mobil Cadangan yang dititipkan Indra di rumah pak Wayan. Membawa Cresa dan orang tuanya ke Villaku yang lain di Singaraja. Sadewo sudah diikat dikursi. Dion dan Jaka menunggui Sadewo di dalam bunker Villa. Mereka menunggu Aku dan Boni turun.


Aku turun ke bunker ditemani Boni. Dion dan Jaka berdiri disebelah Sadewo saat aku mendekatinya. Kapak yang sangat tajam itu tampak berkilat-kilat saat diterpa lampu di ruangan yang remang-remang itu. Aku menyalakan Briket. Kusuntikkan Adrenaline ke lengan Sadewo yang masih pingsan. Sadewo yang pingsan, mendadak terbuka matanya dan tersadar. Saat dia melihatku. Wajahnya pucat seaakan melihat malaikat maut.


"Bugsy datang untuk membunuhku, Vicenzo sudah menyuapmu, Dewo?" Sadewo berteriak-teriak meminta tolong. Tapi percuma teriakkannya tidak akan didengar oleh siapapun. Kukeluarkan pistol Glock yang diberi Mia. Lalu kuledakkan tepat disebelah telinganya. Sadewo kembali menjerit kesakitan. Gendang telinganya pecah. "Apa info yang sudah kamu bocorkan? Nyawamu akan kuampuni, Dewo!"


"Tidak ada, bos. Tidak ada!" tangis Sadewo ketakutan. Kupasang sarung tangan plastik lalu kuiris telinganya menggunakan kapak. Lalu potongan telinganya kujejalkan kedalam mulutnya. Sadewo menjerit-jerit seperti orang gila. Lalu kutancapkan besi panas yang sudah kupanaskan diatas briket di pahanya. Boni memalingkan mukanya. "Pertanyaan terakhir gue, Apa kamu bocorkan soal Clubku pada Vicenzo? JAWAB!!!


"Vicenzo hanya mau tau dimana istri dan keluarga istri bos. Itu saja yang saya bocorkan bos. Ampuni saya, bos! Ampuni saya!" isak Sadewo menangis. "SAMPAIKAN SALAMKU PADA ROSKO DI NERAKA!" Kataku pada Sadewo. Kukeluarkan pistol Glockku. Lalu kuledakkan dimulut Sadewo. "DUUARRRR!!!"


Peluru menembus dan meledakkan tengkorak kepala Sadewo. Aku lalu duduk dikursi didepan mayat Sadewo. Dion dan Jaka membungkus mayat itu dengan terpal.


"Dibuang kemana bos?" tanya Dion.


"Kita tunggu Indra datang!" Jawabku singkat.


"Dion, apa Bugsy sudah benar-benar mati?" Tanyaku sambil menyalakan rokok. "Sudah bos, sudah saya gorok urat lehernya!" Tegas Dion.


"Ayo kita naik. Biarkan mayat bedebah itu disini!" Ujarku lalu keluar dari bunker yang pengap itu.


"Nyonya aman, Sebelum menuju ke Villa saya berputar-putar 5x seperti intruksi bos. Tidak ada yang mengikuti kami. Tapi nyonya masih terus menangis saat saya tinggal tadi, bos!"


"Lusa gue ke Jakarta, kamu tetap disini untuk jaga Nyonya, Ndra! Bereskan mayat Bugsy Cs, Suap penyidik yang menangani kecelakaan tadi. Buang mayat pengkhianat itu. Mudah-mudahan besok gue dapat ide kemana gue harus mindahin keluaga gue, Ndra. Cari info dimana Vicenzo, Ndra. VICENZO HARUS MATI!!!"


***


Indra mengantarku ke Singaraja setelah membakar mayat Sadewo ditempat kremasi kenalannya. Lewat tengah malam kami tiba di Singaraja. Villa itu terletak ditepi pantai Lovina. Saat mobilku masuk, Cresa mengintip dari jendela. Cresa berlari menyambutku sambil menangis begitu melihatku keluar dari mobil. Cresa memelukku sambil menangis. Kuredakan tangisnya sambil membawanya masuk kedalam. Mama dan papa ternyata belum tidur, mereka menemani Cresa yang menungguku. Kubawa Cresa masuk ke kamar, kuhibur dia sebisaku. Cresa sangat ketakutan. Dia masih terus menangis. Aku hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya. "Cresa sayang, kamu harus tidur. Baby kamu juga ikut gak tidur lho, sayang!" Bujukku sambil mengusap kepalanya.


"Lusa Elu jadi ke Jakarta? Gue takut sayang, gue takut banget!" Ujarnya lagi. Kerengkuh kepalanya kedadaku.


"Indra dan anak buahnya akan jaga elu dan orang tua lu, beb. Elu aman disini, sayang. Gue harus selesaikan urusan gue dulu, agar kita aman. Percaya sama gue, setelah ini gak akan ada lagi yang bisa ganggu kita."


"Gue mau ikut elu ya, beb. Gue ikut ya ke Jakarta! Gue mau terus didekat elu, Sayang!"


"Baby, elu kan lagi hamil. Bumil gak dijinin naik pesawat, beb. Klo elu boleh ikut, gue gak akan mau ninggalin elu dalam keadaan begini!"


"Janji ya, sayang. Begitu urusan lu selesai, langsung pulang ya.Janji!!!" ujar Cresa memohon agar aku cepat pulang.


"Gue janji beb! Ehmmm obatnya udah diminum?"


"Lupa beb, Maaf gue lupa," jawabnya.


"Bentar ya!"


Kuambil air mineral botolan dan obat untuk janin Cresa. Cresa meminum obatnya, setelah itu dia berbaring sambil memegangi tanganku.


Kukecup dahi istriku. Matanya terpejam. Tangan dinginnya masih memegang erat tanganku. Kubelai kepala Cresa sampai dia tertidur malam itu. Ternyata Vicenzo menginginkan keluargaku mati. Malam itu kuputuskan tidak akan ada kata damai dengan Vicenzo.


AKU ATAU KAMU YANG AKAN MATI, VICENZO!