MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
MY BABY BOY



Akhirnya saat yang kutunggu-tunggu tiba! Usia kandungan yang belum genap mencapai 9 bulan ternyata malam itu adalah tanda-tanda Cresa akan melahirkan. Untungnya saat kami berdua akan mengunjungi Club, Cresa merasakan perutnya tiba-tiba mules sekali, saat kupegang perutnya seakan bergejolak. Tonjolan diperutnya menonjol lebih lama dari biasanya dan bergerak kesana kemari. Aku yang khawatir lalu menyuruh Indra untuk mengantarkan kami ke rumah sakit. Cresa terus merintih kesakitan, tubuhnya basah bermandi keringat. Aku memegangi jemarinya untuk sekedar bisa membantunya mengurangi rasa sakitnya. Saat tiba di rumah sakit, Cresa segera dilarikan ke kamar bersalin untuk diperiksa. Dokter SPOG yang biasa memeriksa Cresa keluar dari kamar bersalin rumah sakit.


"Pak saya minta persetujuan untuk melakukan operasi Caesar apabila perlu, tapi akan saya usahakan istri anda agar dapat melakukan persalinan dengan normal," ujar dokter itu.


"Apakah saya boleh menemani persalinan istri saya, dok?" Tanyaku.


"Tentu saja boleh, pak! Silakan masuk ke dalam!"


Aku lalu masuk ke ruangan dimana Cresa dirawat. Cresa masih merasa kesakitan, airmatanya menetes dari sudut matanya.


"Sakitttt bangeett beb!" Rintihnya sambil menggenggam tanganku dan meremas keras jariku. Lalu masuk perawat lalu memasukkan jarinya kearah lubang rahim Cresa.


"Buka 4 dok!" Lalu perawat itu pergi lagi. Cresa yang awalnya diam menahan sakit, saat ini sudah berteriak-teriak kesakitan. mama Anggi yang baru saja datang. Ia mengelus-elus kepala anaknya. Cresa masih berteriak-teriak tapi tak ada satu dokter pun yang datang. Hatiku yang kesal membuatku bertindak kasar. Aku berjalan keluar dari kamar Cresa dirawat, dan menemukan beberapa dokter yang sedang mengobrol santai dan bercanda di selasar ruangan rumah sakit itu.


"DOK! KUPING KAMU TULI APA? ITU ISTRI SAYA KESAKITAN! TOLONG DILIHAT!" Ujarku marah sambil menggenggam jubah salah satu dokter yang sedang ngobrol.


"Pak, jangan kasar begini. Orang melahirkan ya pasti sakit!" Ujar dokter yang ada didekatku. Tanganku secara reflek hendak meraih senjata Glock yang kutaruh disepatu bootku. Aku berteriak dan mengumpat kata-kata kasar pada kedua dokter itu.


"Bukaan 7!" Kata perawat itu lagi. Lalu salah satu dokter berlari ke ruang tempat Cresa dirawat. Aku pun berlari menuju Cresa. Nafas Cresa tersenggal-sengal. Dia mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya sesuai intruksi mama Anggi. Dokter itu memeriksa perut Cresa yang bergerak-gerak. Dia menggunakan USG untuk melihat kondisi bayi di dalam perut Cresa. Perawat itu melakukan lagi hal yang sama.


"Ayo dok, sudah bukaan 9!" Kata Suster itu. Lalu Ranjang Cresa didorong 2 perawat menuju ruang untuk persalinan. Aku sebelum masuk ke ruangan itu diharuskan memakai mantel yang sudah disterilkan dan memakai masker dan penutup kepala. Kaki Cresa sudah dalam posisi terbuka lebar pada alat bantu melahirkan. Dokter kandungan ada di depan rahim Cresa sambil memberi intruksi.


"Tarik nafas bu! Dorong bu!"


Aku berada disisi kanan, dan mama Anggi disisi kiri. Cresa menangis sambil mengikuti intruksi dokter.


"BEB SAKIIIIIT!!!"


"DORONG BU!!! DORONG!!!" Suasana disitu begitu hiruk pikuknya. Cresa menangis sambil menatapku dan berteriak kesakitan.


"Aku gak kuat, beb!" kata Cresa lemah sambil memegang tanganku.


"Kamu harus kuat, beb!" Jawabku sambil menatapnya.


"Dorong Bu! Dorong Bu! Sudah kelihatan kepalanya bu!"


Cresa lalu mengambil nafas dan mengejan sekuat tenaga! "NGOEKKKKKK!


"NGOOOEKKKK!"


Terdengarlah suara tangisan bayi. Dokter yang hampir kuseret tadi ternyata adalah dokter spesialis anak. Setelah memeriksa sebentar bayiku itu pun diberikan padaku untuk kuadzani. Aku menangis melihat anakku yang masih berlumuran darah itu. Setelah kulantunkan adzan ditelinganya. Bayi laki-laki itu kugendong sambil kucium dan kuberikan pada Cresa. Cresa pun menangis memandangi bayinya. Bayi itu lalu disusui oleh Cresa dengan penuh kelembutan. Kucium kening istriku.


"Makasih sayang! I love u!" Bisikku sambil mengelus anakku dengan jariku. Mama Anggi tersenyum melihatku saat melakukan itu.


Saat aku keluar ruangan bersalin, Papa Jose bernafas dengan lega.


"Lain kali anak buahmu jangan disuruh kesini! Bikin ribut dan kacau rumah sakit saja!" Ujar papa Jose dengan tubuh basah berkeringat dengan nada kesal.


Aku lalu ke halaman luar rumah sakit untuk merokok. Tak terasa aku hampir 3 jam di dalam sana.


"Kenapa papa tadi, Ndra?" Tanyaku pada Indra.


"Enggak bos. Tadi pas bos teriak-teriak didalam, kami ini mikirnya bos lagi berantem!" Jawab Indra.


"Terus?"


"Seperti kebiasaan bos, kami mau masuk ke dalam," sambung Dion.


Aku tertawa mendengar penjelasan Dion.


Kukeluarkan uang didompetku.


"Kalian pulang saja, gue tidur disini malam ini. Ini uang untuk beli makan dan minum! Gue tolong beliin rokok dulu sebelum kalian berangkat!


Saat aku masuk ke kamar, anakku sedang tidur sambil menyusu pada Cresa. Wajahnya mirip Cresa. Hidungnya mirip hidungku.


"Bayi yang tampan!" Gumamku dalam hati.


Kuselimuti mereka berdua. Aku memandangi mereka berdua sampai terlelap. Aku terbangun saat Cresa memanggilku. Saat itu dia minta diantar ke kamar mandi. Kami berdua memandangi buah cinta kami itu. Bayi mungil itu menangis, Cresa lalu menyusuinya lagi.


"Anak kita tampan sekali, sayang!" Katanya sambil menyusui dan mencium bayi yang sedang menyusu itu.


"Siapa dulu donk papanya!" Balasku lagi sambil mengelus pipi anakku itu.


Anakku lalu diam saat sudah minum susu mamanya. Aku pamit keluar untuk mencari papa dan mama. Ternyata Indra masih disitu. Indra mengatakan klo papa dan mama akan kembali besok pagi untuk mengambil perlengkapan baby. Kusuruh Indra mengambil tas baby yang selalu kubawa di mobil saat bepergian.


Kukirim pesan singkat untuk Mia. Kuminta Mia menghandle semua kegiatan 2 minggu kedepan karena anakku baru saja lahir.


Setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit, Cresa dan bayinya sudah boleh pulang ke rumah. Kuboyong mereka ke rumah baru kami yang baru kubeli di Pecatu. Sejak 2 bulan belakangan tanpa sepengetahuan Cresa, rumah ini memang kupersiapkan untuk menyambut kelahiran anak pertama kami itu. Rumah tersebut sekaligus aku persiapkan jika keluarga besar kami hendak berkumpul atau berkunjung ke Bali tidak harus menginap di hotel lagi jika sedang mengunjungiku.


Kugendong bayi mungilku, kuciumi tangannya yang memakai kaus tangan memukul-mukul lembut wajahku. Bibirnya mengecap-ngecap mencari susu mamanya. Cresa sedang mandi saat itu, lalu dengan iseng kusodorkan ujung hidung ke bibir mungilnya. Hidungku terasa geli saat lidah mungilnya yang masih kasar terasa disana.


"BEBIIIH!!!" Teriak Cresa yang baru keluar dari kamar mandi saat melihatku melakukan itu. Dijewernya telingaku. Aku tertawa sambil tetap menaruh ujung hidungku dibibir bayiku.


"Papamu memang suka iseng, dek!" kata Cresa lalu menggendong anaknya dan menciuminya dengan gemas. Dia segera berbaring lalu menyusui bayinya.


"Mirip banget sama elu klo lagi mimik. Kayak papanya yang doyan susu! Hihihi!"


Aku berpura-pura ngambek, aku tidur disamping bayi itu sambil mencium punggungnya yang sedang menyusu itu. Bau khas bayi ternyata membuatku rileks dan tak lama kemudian aku yang sudah begadang semalaman lalu lelap tertidur. Cresa yang sedang menyusui mengelus pipiku dengan lembut.


"Terimakasih yaa sayang, sudah menyiapkan semua ini untuk kami. We love you so, Honey!" Batin Cresa dalam hati sambil menatapku saat aku tidur. Tangannya yang lembut membelai-belai rambutku.