MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Bantuan Yang Tak Terduga



"Sayang, gue naik ojol aja. Lu istirahat aja," kataku pada Eva yang mau mengantarkanku pulang malam itu.


"Tapi sayang...," Ponselku bergetar itu telpon dari Vina.


"Ya Vin," jawabku sambil memakai sepatuku.


"Rio, lu buruan kesini! Surya dikeroyok orang! Gue di Juntion buruan!" Kata Vina sambil mengakhiri telpon.


Junction cuma 10 menit dari


rumah Eva.


"Surya dikeroyok di Juntion, Va!" ujarku panik.


"Gue anter lu, beb!" jawab Eva sambil mengikat tali kimononya.


Kukemudikan mobil Eva dengan kencang menuju tempat Surya dikeroyok.


Saat kutiba Surya dan seorang cowok sedang dikepung dan dipukuli oleh 6 orang berbadan kekar. Vina dan seorang wanita sedang dikejar oleh 2 orang cowok berperawakan sedang. Aku langsung membelokkan setir ke arah 2 orang yang mengejar Vina dan temannya.


"Tabrak aja, Rio!" Kata Eva. Kutarik handbrake sambil memutar setir sehingga pantat mobil Eva menyerempet tubuh 2 orang itu.


"Braaaakkkkkkk!" 2 orang itu pun terpental.


"VINA MASUK!" Teriakku supaya Vina masuk ke mobil. 3 orang kekar itu berlari kearahku. Kutendang dengan keras 1 orang yang juga sudah terbang kearahku sambil melakukan tendangan. Saat dia masih terbang diudara tendangannya meleset dan tendanganku masuk mengenai perutnya. 2 orang yang tersisa berkelebatan memukul dan menendangku. Pukulannya dengan telak mengenai pipiku tapi tendangan putarku lebih telak mengenai rahangnya. Melihat 2 temannya roboh 2 orang yang  sedang memukuli Surya dan temannya datang membantu. Sebelum 2 orang itu mendekat. Kuputar lagi tubuhku untuk merobohkan 1 orang lagi. Kulancarkan Ap chagi dan Dwi chagi serta tornado kick dengan cepat dan powerfull.


"Bbbaaamm! Bbaaamm! Braakkkk!"


Tiga tendanganku masuk mengenai kepala,dada dan perutnya. Cowok itu berteriak mengerang kesakitan. Kusambut ke 2 orang yang baru datang itu. Aku berjongkok sambil pura-pura membetulkan sepatuku sambil mengambil pasir kedua ditanganku. Satu orang maju sambil menggeram sudah melancarkan jab-jab tinjunya.Dengan cepat kusiramkan pasir ke mukanya, dia menjerit ketika matanya kemasukkan pasir. Saat itu juga kulancarkan dolke dan dollyo chagi tepat ke kepalanya.


"CURANG LO BANGSAT!" Kata cowok yang masih tersisa itu padaku. Aku lalu melancarkan Yeop chagi dengan beringas, tak kuberi kesempatan dia untuk bernapas! Dia sibuk menangkis tendangan Yeopku. Saat itulah kuputar badanku 360°


"Gubrrakkkk! Guubraakkk!" kuhajar tubuh bagian bawah dan atasnya. Dia pun roboh dengan bibir pecah. Aku segera berlari mengejar 1 orang lagi yang berada dekat Surya. 1 orang itu kabur seperti maling jemuran.


"Sur, lu bisa jalan?" Surya menggangguk, dia memegangi tengkuknya yang rupanya terkena pukulan orang-orang itu.


"Dia siapa?" kutunjuk orang yang tak kukenal itu.


"Gue begini karena nolongin dia bro," kata Surya.


"Lu bantu dia.Gue ngecek orang 2 yang gue serempet tadi dulu, Sur!"


Orang yang mau bangun ku tendang hingga terkapar lagi. Setelah memastikan tidak ada yang bangun lagi. Aku berlari menolong Surya menggotong cowok yang tak kukenal itu.


"Udah bang, gue bisa jalan sendiri."


"Sur, lu masih bisa bawa motor kan?" Tanyaku pada Surya.


"Gue gak apa bro. Tadi gue kecolongan aja disikat dari belakang," jawab Surya.


"Lu bawa kendaraan bro?" Tanyakku pada cowok itu.


"Bawa bang, tapi gue gak yakin bisa nyetirnya. Kepala gue kunang-kunang dan cewek gue gak bisa nyetir," jawab cowok itu.


"Ok Gue anter lu balik," jawabku. Dan Vina kusuruh pulang bersama Eva. Sementara Aku dan Surya mengantarkan cowok itu.


"Makasih bang, klo gak ada elu gak tau gue dan pacar gue gimana. Kenalin nama gue Omar," katanya menyebutkan namanya.


"Jangan panggil gue bang, gue masih SMA bang, muka gue aja yang boros. Hehhehe. Gue Rio,bang."


Setelah mengantar pacarnya. Kuantar Omar menuju rumahnya.


"Bro, ada yang mau gue omongin.Mohon mmmaaf sebelumnya," katanya terbata-bata.


"Gue sebenarnya pas lu dateng dengan mobil tadi. Gue sebenarnya udah tau elu itu yang namanya Rio," kata Omar lagi.


Lalu berceritalah Omar tentang rencana Tino dan Bella.


"Lu udah nolong gue sama pacar gue. Masak gue boong, Bro? Lu belum ketemu Bella kan? Soalnya tadi Tino ngomong klo Bella udah tau harus nemuin lu dimana. Dia satu Gym sama elu, Bro! Hati-hati Tino udah ngerencanain untuk ngerusak hubungan elu sama Eva dengan bantuan Bella," tutur Omar menjelaskan.


"Thanks untuk infonya, Bang." jawabku setelah mengantar Omar pulang ke rumahnya.


***


Vina dan Surya yang akhirnya pulang, aku memutuskan untuk menginap dirumah Eva malam itu. Eva membawa kompres untuk pipiku yang bengkak.


"Beb, aku tidur di sofa aja," kataku sambil membawa bantal dan selimut. Eva menempelkan kartu pada gagang pintu. Pintu itu pun terkunci.


"Gak usah mulai deh. Ini udah hampir jam 2 pagi, Beb. Buruan naik ke ranjang atau aku ngambek!


"Di kamar sebesar itu dia cuma sendirian. Itu sebab dia sering ke Club," pikirku dalam hati yang baru pertama kali masuk ke kamar Eva. Dikompresnya pipiku dengan hati-hati. Saat kukagetkan dia dengan suaraku merintih kesakitan Eva la langsung marah.


"Tau aahh. Diobatin kok malah ngagetin!" Katanya sambil melempar waslap ke dalaam baskom.


"Hahaha. Cepet tua lhoo, Beb!" Kupeluk tubuhnya dari belakang. Lalu kulepaskan pelukanku.


"Kenapa dilepas meluknya?" katanya tanpa menoleh kepadaku.


"Aku mau matiin lampu, Beb!" kataku sambil mencari dimana stop kontak lampu berada.


"Turn Off the light" Katanya lalu lampu dikamar itu mati.


"Wkwkwkkwkw!" aku tertawa terkekeh sambil menutup mukaku dengan bantal yang ternyata rumah itu telah mengadopsi sistem smart teknologi.


"Hiihihiiihi!" Eva pun tertawa.


"Maafkan pacarmu yang kampungan ini. Wwkkwkkwkw!"


Eva menggelitikiku.Aku pun menggelitikinya.Eva tak tahan lalu memelukku.


"Ampun, gue bisa ngompol tau. Pelukin ajaaa, Beb!"


Aku pun lalu mendekapnya, Eva membelakangiku.


"Kamu pengen lagi ya?" kataku sambil mendekatkan wajahku kelehernya. Disibaknya rambutnya keatas bantal.Hidungku mengendus lehernya yang wanginya memang menggoda.


Eva menempelkan lehernya untuk kucium. Tanganku sudah merayap dan bergerak liar. Tiba-tiba Eva bangkit dari tempat tidur Eva menjambak rambutku, kuciumi lehernya sambil meremas tubuhnya dari belakang. Dia berputar-putar sambil mendesah menyebut namaku. Kupercepat gerakanku pada saat kurasakan dirinya sudah sangat basah. Tak lama tubuhnya mengejang. Tangannya mencengkram tubuhku yang bisa digapainya. Tubuhnya lemas seakan tak bertulang. Aku pun lemas setelah memuntahkan lahar. Kami terdiam sambil berpelukan.


***


Bella memakai setelan yang membuat lekuk tubuhnya makin mempesona bagi para lelaki yang memandangnya. Sore itu dia berangkat menuju Gym, dilihatnya Rio sedang duduk beristirahat dengan tubuh bersimbah keringat.


Rio sedang asik mengobrol dengan personak trainer(PT), yang ia kenal.


"Mas Bobi, apa kabar?" Sapa Bella pada laki-laki yang sedang ngobrol dengan Rio.


"Baik mbak.Waduuh, mbak Bella. Bodynya makin yahud aja!" Puji Bobi sambil menatap tubuh Bella yang memang aduhai.


"Eh, ketemu lagi. Nama mas siapa? Maaf gue lupa mas?" tanya Bella yang berpura-pura lupa nama Rio.


"Nama Gue Rio, Mbak!" Kata Roy sambil berdiri.


"Mas, mbak, Maaf gue ke bench press dulu," kataku sambil menuju alat untuk membentuk dada dan perut. Rio yang sedang menggunakan bench press dihampiri Bella. Bella menunggui Rio yang sedang mengangkat beban untuk membentuk dada dan perutnya. Setelah 2 repetisi, Rio berisitirahat sambil berbaring. Otot-otot dada dan perutnya bertonjolan dibalik kaosnya yang berkeringat.


"Otot perut lu keren, Rio!" puji Bella saat melihat otot perut Rio yang kelihatan saat kaosnya tersingkap.


"Rio, ajarin gue make alat ini donk!" ujar Bella lagi. Dia menunduk didepan Rio yang saat itu sudah duduk, untuk memperlihatkan belahan dadanya. Rio tersenyum mendengar permintaan Bella.


"Badan mbak udah bagus, klo perutnya dibikin begini malah jadi nakutin," kata Rio sambil menunjukkan otot perutnya yang sixpack. Rio kembali meninggalkan Bella untuk melatih kakinya. Saat Rio melatih kakinya, terbelalaklah Bella melihat otot kekar dipangkal paha Rio. Otot itu berbentuk panjang dan besarnya sebesar lengan bawah Bella. Gairah wanita Bella tiba-tiba memuncak melihat pemandangan itu.


"Gedenya, Gue rela gak dibayar!" Batinnya sambil membayangkan barang Rio itu memasukinya saat mencumbunya.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!