MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Come Back Home



Rio muncul pelan-pelan dari belakang Eva dan seorang assisten Chef muncul dari belakang mama.


"Udah ma! Langsung di Hire aja. Ini bener buatan kamu? Misal saya suruh bikin lagi nanti sore hasilnya masih sama seperti ini kan?" Ujar Eva kepada orang yang dibelakang mama.


Assisten chef itu hanya mengangguk.


"OK sebentar lagi kami kabari setelah discuss ya, Chef!"


Lalu Eva melihat ponselnya. Saat melihat ponselnya, ada bayangan seseorang yang berseragam chef berwarna hitam dibelakangnya. Dia pun lalu menoleh kebelakang. Dilihatnya laki-laki tampan rupawan berambut spiky crop berwarna coklat muda sedang tersenyum manis dan menatap kepadanya juga mamanya. Eva berbalik badan lalu ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Hello Sis, Howdy?" Ujarku sambil memeluk  & mencium pipi Eva dari belakang.


"Aku kangen banget sama kamu, sayang," jawab Eva tanpa sadar. Aku tertawa. Eva berdiri dan memelukku erat.


"Kapan kamu sampai, Rio? Klo tau kamu mau balik, kan aku bisa jemput," katanya lagi.


"Udah 3 hari. Di rumah papa mama. Trus kesini," jawabku.


"Nanti malam nginep di rumah ya!!!" Kata Eva.


"Eva!!!" Teriak mama Wanda sambil melotot kearah Eva. Aku tertawa melihat pertengkaran kecil Eva dan mamanya yang sudah lama tak kulihat. 


Eva betul-betul kangen padaku. Genggaman tangannya tak dilepaskan saat aku menemaninya makan dengan mamanya.


"Gimana sakit kamu,Va? Sudah agak baikkan sekarang?" Tanyaku lagi.


"Patah hatiku yang makin parah, Rii!" Ujarnya sambil tertawa.


"Pacarmu itu kemana?" Tanyanya lagi.


"Arie masih ada bisnis trip ke Dubai, 2 minggu lagi dia baru bisa pulang," kataku menjawab pertanyaannya.


"Yeayy!!" katanya berteriak kegirangan.


Mama hanya menggeleng-gelengkan kepala saat melihat tingkah Eva yang lucu.


"Rio kan abangnya Eva sekarang. Abang harus anter adek sekarang ya!" Katanya sambil menarikku.


Mama mau berteriak pada Eva agar tidak seperti itu padaku, tapi kuberi tanda dengan tanganku bahwa tidak apa-apa.


"Pacarmu sekarang siapa, Va?" Tanyaku sambil menggandeng tangannya.


"Ini pacarku!" Katanya sambil menyentuhkan telunjuknya ke pinggangku. Kukucel-kucel rambutnya. Dia lalu menyandarkan kepalanya di lenganku.


"Naik mobilmu aja ya, Rii. Aku pengen main ke pantai," Diajaknya aku ke pantai ditepian kota. Kami berdua duduk dikap mobil sambil nenikmati pemandangan pantai siang itu  Eva memandangku sambil tersenyum.


"Kenapa?" Kataku sambil menghisap rokok.


"Kamu makin dewasa, Rio. Makin tampan juga!" Pujinya sambil menatapku. Dia memelukku sambil ingin mencium bibirku.


"Please dont do that, Eva!" Tepisku sambil mencubit pipinya.


"Do you really love her?" Tanyanya sambil menarik nafas panjang.


Aku cuma diam. Aku dan Arie memang belum ada komitmen apa-apa.


"Yuk, kita balik Va. Gue masih agak jetlag nih," kataku sambil bangkit dari dudukku. Kubukakan pintu untuknya, saatku akan menstarter mobil tiba-tiba dia memegang perutnya sambil mengerang kesakitan.


"Perut kamu sakit?" Tanyaku.


"Tahan ya!" Kataku sambil memegang perutnya. Eva meraih leherku dan kembali hendak menciumku.


"Eva," kataku sambil menatap matanya.


"Please Rio...its only a kiss. I really missing you, pleasee!" Katanya sambil menatap mataku. "Only a kiss. One...," belum selesai aku bicara padanya bibirku sudah dikulum dengan buas oleh Eva. Eva berpindah menindih tubuhku. Eva terus mengulum bibirku dengan ketat, sambil tangannya merayap ke pangkal pahaku.


"Enough, Eva!" Kataku sebelum dia terlalu jauh.


"Its wrong, Eva. I'm so sorry!" Kataku sambil mengelus mukanya.


"Lu mana tau klo dia cheating behind u, Rio. Who knows?" Katanya sambil merapikan pakaiannya.


"Selama aku gak tau. Aku gak peduli, Eva!" Kataku sambil menjalankan mobil.


"Be a friend of mine, Eva. Please!"


***


Arie ternyata tidak pernah lagi kelihatan batang hidungnya. Setelah terakhir sempat berkabar dia sedang di Dubai sebelum aku pulang. Ponselnya sekarang sudah tidak bisa kuhubungi lagi. Tidak seperti saat aku masih kuliah di Aussie, setiap saat ia masih bisa dihubungi. Sudah 1 bulan aku pulang, Arie belum bisa kuhubungi atau menghubungiku.


Minggu depan aku akan ke Bali, merespon ajakan Robin teman SMAku yang sudah membuka bisnis disana.


Sementara ini aku membantu mama Wanda mengembangkan menu di restonya, mengganti menu dan mengatur pengeluaran resto yang tidak perlu serta membantu mempromosikan restonya.


Sebelum aku brangkat ke Bali, aku mendapat tugas dari mama Wanda membuat menu ekonomis  BW, mama mempromosikannya lewat medsos dan kenalan-kenalannya. Ternyata respon menu BW ekonomis itu sangat baik responnya. Sehingga mama Wanda berencana membuka kedai baru untuk itu agar tidak mengganggu menu yang sudah paten di resto lamanya.


"Kamu bisa kan training chef baru untuk 4-5 bulan lagi, Rio? Mama mengandalkanmu lho!" kata mama malam itu.


"Tenang ma. Buat mama apa sih yang gak bisa?" Kataku pada mama. Mama Wanda tertawa mendengarnya.


"Hhmmmm, hubungan kamu dengan Eva bagaimana? Baik-baik saja kan?" Tanya mama Wanda tiba-tiba.


"Degggg!!!"


Apa mama sudah tau hubunganku dengan Arie yang tidak jelas.


"Bbaik aja...kok ma. Kenapa ma?" Tanyaku ke mama Wanda.


"Klo nggak ganggu kerja kamu. Boleh mama minta kamu ajak Eva ke Bali? Mumpung Villa mama disana tidak ada yang sewa, kamu bisa nginap disana. Anggap aja sekalian liburan. Gimana?" Tanya mama.


"Tenang Rio, kamu santai aja mama bukan mau bikin kamu balikan lagi sama Eva kok. Jadi gak usah mikir sampai kesana ya nak," kata mama lagi. Padahal Eva memang meminta bantuan mamanya untuk membantu agar hubungan Eva dan Rio bisa kembali seperti dulu lagi.


"Gak ada masalah, Ma. Klo kerjaan kan masih tahap penjajakan, Ma. Jadi gak ada masalah klo Eva ikut. Tapi masalahnya apa Eva longgar waktunya, dia kan kerja juga, Ma?Jawabku.


"Klo kamu sudah OK. Nanti malam biar mama pesan tiket untuk kalian," kata mama Wanda tersenyum.


***


"Nahh, ini Villanya!" Kata Eva begitu mobil yang menjemput kami mengantarkan kami ke sebuah rumah besar di kawasan Seminyak. Villa itu cukup besar. Ada 3 rumah yang bangunannya berbentuk sama. Ke 3 Villa itu semua milik mama Wanda. Villa paling pojok itu cukup adem, didepan pintu gerbang Villa telah berdiri laki-laki paruh baya menyambut kami.


"Selamat datang, mbak Eva dan mas Rio. Saya Kadek," ujar pak Kadek yang merupakan pengurus ke 3 Vila itu.


"Silakan masuk," katanya sambil membawakan barang-barang kami.


"Mba, Mas...," belum selesai dia berbicara, Eva telah memotong perkataannya.


"Pak kadek, Udah! Saya sama mas Rio bukan tamu, kok. Nanti klo ada apa-apa saya akan panggil pak Kadek ya!" Kata Eva singkat. Pak Kadek mengangguk mengerti. Ia pun lalu meninggalkan Vila itu. Eva menggandengku ke dapur.


"Siang ini makan disini aja ya. Nanti malam lu jadi ketemu temen lu kan?" Kata Eva dengan nada riang. Aku mengangguk sambil menggeret koper menuju kamar. Aku memilih kamar dekat kolam renang. Eva ternyata membawa kopernya ke kamar yang sama denganku. Aku tersenyum dan menggeret koperku untuk pindah ke kamar lain. Eva pun membawa kopernya ke kamar yang kutuju. Kami berdua tertawa. Kugandeng tangannya.


"Kita bikin minum dulu yuk," kataku mengajaknya ke mini bar. Kucampur minuman yang ada disitu. Eva memandangiku saat mencampur minuman dan selesai.


"Tadaaaa! Cobain deh, Va!" kusodorkan 2 gelas cebung tinggi. Yang berwarna kuning adalah Pina Colada, dan yang merah adalah SoB. Eva mencicipi minuman yang kubuat sambil duduk.


"Enaakk beb," katanya tanpa sadar memanggilku "beb". Dia mencoba yang satu lagi.


"Ini juga enak. Ini apa namanya?" Katanya sambil mengecap-ngecapkan lidahnya.


Kupegang bahunya sambil berbisik ditelinganya.


"Namanya, S*x on the Beach!"


Eva lalu memandangiku sambil tersenyum nakal.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!