MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Perkenalanku Dengan Eva



Eva ternyata tidak seperti penampilannya, dibalik penampilannya yang anggun ternyata dia enak diajak ngobrol bahkan menurutku Eva agak bocor, bocor artinya suka asal ngomong dan suka bercanda dengan candaan yang menjurus. Malam itu aku dibuat tergelak tertawa karena celetukan-celetukannya.


"Gila lu Sis.Klo gue dapat cowok begitu udah lama gue getok kepalanya pake botol. Itu sama aja pas lu lagi ML, pas lagi horny-hornynya mau orgasme, cowok lu pamitan mau beli rokok!" candanya yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.


"Rio, gue minta nomer lu donk," katanya sambil mengeluarkan ponselnya. Aku pun memasukkan nomerku keponselnya.


"Udah Va, udah gue masukin," kataku sambil mengembalikan ponselnya.


"Udah lu masukin? Kok gak berasa sih Rio. K*nt*l lu kekecilan brarti!" Aku tertawa ngakak mendengarnya.


"Najiss mulut lu,Va. Lu bikin malu aja ahh!" kata Siska yang mau tak mau juga ikut tertawa.


"Mending bikin malu timbang bikin hamil, iya gak May?" Katanya lagi sambil mengedipkan mata pada Maya. Maya pun tertawa terbahak-bahak. Aku tertawa-tawa sambil melirik Eva yang juga ternyata sedang melirikku. Ketika Club bubar, kami pun berpisah. Vina yang duluan pulang dengan Surya. Meninggalkanku dengan Eva, Siska dan Marta.


"Mobil lu parkir dimana Rio," kata Siska


"Gue bawa motor, Sis. Yuk ya, semua! Gue pulang duluan," kataku sambil menyalami mereka satu persatu. Saatku menyalami Eva, ketika kujabat tangannya tubuhku ditarik kearah tubuhnya.Eva lalu memelukku.


"Lu salaman kayak orang bubar tahlilan aja," katanya.


"Sis, gue pulang bareng Rio aja. Lu bawa mobil gue. Besok gue ambil di rumah lu," ujar Eva sambil melemparkan kunci mobil ke arah Siska.


"Hahaha. Iye, Iye. Bye Bye Eva, Rio," ujar Siska sambil masuk ke mobil sport berwarna merah. Eva lalu menggandeng tanganku.


"Parkir dimana lu?" katanya sambil melempar pandangan kearah diparkiran motor. Kulepas gandengan tangannya.


"Lu tunggu disini, ya!" Ujarku sambil berlari kearah motorku diparkir. Setelah mengambil motor, kuhampiri Eva yang berdiri dekat parkiran mobil. Saat itu ada 4 Cowok yang sedang berjalan dibelakang Eva. Tiba-tiba Eva menjerit dan keluarlah makian dari mulutnya. Kuparkir lagi motorku dan menghampiri Eva yang sedang ribut dengan 4 cowok itu.


"ANJINGGG!!! LU SEMUA YA! TANGAN LU GAK PERNAH DISEKOLAHIN YA?! BABI LOE SEMUA!!!" Kata Eva pada 4 Cowok itu.


"EH L*NTE! BERAPA TARIF LU? MULUT LU MENDING BUAT NGEMUT ***** GUE TIMBANG BUAT MAKI GUE!" Ujar cowok gondrong yang memakai jaket kulit pada Eva. Cowok itu dengan kondisi setengah mabuk, dia lalu memukulkan tinjunya ke arah Eva. Eva menghindar dengan sigap. Kudorong tubuh cowok gondrong berjaket kulit itu hingga termundur ke belakang.


"Siapa lu, bencong!" Kata temannya yang berbadan kekar dan bertato disekujur lengannya. Cowok bertato itu bergerak hendak menginjak tubuhku aku berputar menghindar kearah samping dan melompat sambil memberinya tendangan keras berputar.


"Bruaaakkkk"


Cowok bertato itu roboh sambil memegangi mulutnya yang berdarah. Cowok gondrong berjaket kulit memberi tanda kepada kedua temannya untuk menyerangku. Dua temannya maju bersamaan, aku mundur satu langkah sambil memutar badanku 360° dan melancarkan tendangan berputar 3x.


"Braakkk! Brakkkk! Braakkk!"


Satu orang roboh lagi dan yang satu lagi masih terhuyung aku pun sudah terbang lagi kearahnya sambil mengincar dadanya.


"Buuukkk!"


Dia pun langsung roboh ke tanah. Kudatangi cowok berjaket kulit itu, saat itu memoriku seakan berputar kembali pada saat aku menyelamatkan Cresa. Cowok berjaket itu belum sempat bergerak saat 4 tendangan putarku bersarang dimukanya.


"Bencong itu yang beraninya mukul cewek!" Ujarku sambil menginjak jari tangan cowok bertato yang tadi mengataiku bencong. Eva tertegun melihat 4 cowok yang mengganggunya sudah terkapar ditanah.


"Ayo kita pulang," ujarku sambil menggenggam tangannya. Eva naik diboncengan motorku. Kuberikan jaketku padanya.


"Buat nutup paha lu,Va."


"Lu pake aja,ntar lu kedinginan."


"Iya. Iya. Gue akan pake!" Aku pacu motorku melaju meninggalkan parkiran.


...----------------...


"Sis!!! Siskaaaa!!!Dookkk! Dookk! Dddookk!!!"


Suara Eva terdengar sambil menggedor pintu kamar Siska. Siska membuka kamarnya, tanpa permisi Eva masuk ke kamar Siska. Dia lalu membuka sekaleng bir dingin.


"Baru bangun lu?" Ujar Siska sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1 siang.


"Ini kunci mobil lu. Pulang deh lu, gue masih ngantuk nih!" Kata Siska sambil menutupi mukanya dengan bantal.


"Sis! Siska! Bangun lu!" kata Eva sambil menarik bantal diwajah Siska.


"Ada apa lagi sih, Evaaa!!!" Ujar Siska sambil duduk ditepi ranjangnya dengan wajah masih mengantuk.


"Lu kudu mak coblangin gue sama Rio!" Kata Eva sambil meneguk bir dinginnya.


"Hahhhh!!! Gak salah lu? Apa gue lagi mimpi??? Rio??? Lah kan elu baru kenal dia kemaren. Semalem lu kemana, Va? Check in sama Rio?" ujar Siska sambil membuka bir dingin yang dibawa Eva.


Eva lalu menceritakan kejadian di Club semalam pada Siska. Siska yang masih ngantuk mendengarkan dengan mengangguk sambil menepuk birnya.


"Eva, Elu inget gak cerita gue dulu, tentang cowok keren yang gue suka. Yang nolongin ceweknya juga nolongin gue dan ngerumah sakitin Seto Cs? NAMANYA RIO!!! Dialah orangnya yang nganterin elu semalam. Klo cuma 4 orang mah lewat sama dia."


"Oooowww, dia orangnya. Tapi lu kan udah punya Mike masak sih lu masih mau ngegebet Rio juga? Please I'm falling in love with him!!!" Kata Eva sambil melingkarkan tangannya ke bahu Siska.


"Elu Jatuh cinta sama apanya? Rio itu anak baek-baek tuh," ujar Siska lagi.


"Gue seumur hidup cuma nurut kalo disuruh sama 2 cowok," kata Eva.


"Yang satu almarhum bokap, gue. Yang satu lagi baru nambah semalam yaitu Rio!" Kata Eva lagi


"Emang lu disuruh apaan sama dia? Disuruh naikin rok lu?Hahahhaa," kata Siska tertawa.


"Setelah berantem gue kan naik motornya, semalam rok gue kan mini banget. Dia suruh nutupin paha gue atau gue diajak ribut sama dia. Ya akhirnya gue nurut pake itu jaket untuk nutupin paha gue. Seumur-umur cowok yang lihat paha gue gak pernah kayak si Rio. Dan Gobloknya gue mau aja disuruh gitu sama dia."


"Please, Sis. Tolongin gue," rengek Eva lagi.


"Lu kan ada nomer ponselnya, telpon aja dia. Dia kayaknya udah gak sama Cresa lagi. Lu kalo mau ketemu dia didojang Maxxxi atau di kafe Pinus pas sore-sore gitu," kata Siska sambil membuang kaleng bir yang sudah kosong kedalam bak sampah.


"Tuh kan gue jadi Goblok. Dia kan ngasih gue nomer telpon semalam! Kenapa gue kagak inget! Gue telpon dia aja sekarang!" kata Eva sambil mencari nama Rio di kontak telponnya.


Ditelponnya nomer itu, "Halooo," jawaban dengan suara serak dan berat terdengar disana.


"Gue, Eva. Iya Eva yang semalam! Lu inget gue kan? Gue jam berapa bisa ketemu lu hari ini? Lu latihan? Di? Okey gue ntar kesana. Oke bye," kata Eva mengakhiri panggilan telponnya.


"Yesss, Gue balik dulu ya sis. Jam 4 sore ini gue ada kencan sama Rio, Bubaaay!!!" ujar Eva lalu keluar dari kamar Siska.


"Dasar anak gila!!!" teriak Siska pada Eva.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!