
Malam itu papa terbatuk-batuk lagi, sudah 2 malam ini papa tidak bisa tidur karena batuk. Selain itu dibarengi dengan naiknya tekanan darah beliau karena kurang tidur. Sedangkan besok papa harus berangkat ke ibukota karena ada tugas yang harus diselesaikan.
Mama yang tidak bisa meninggalkan adik-adikku yang masih kecil, Deva dan Mega memang tidak bisa pisah dari mama.
"Rio, kamu masih dirumah Eva? Tanya mama yang menelponku dari rumah. Mama memintaku menemani papa ke Jakarta besok. Singkat kata, keesokan harinya berangkatlah aku menemani papa ke Jakarta dengan pesawat penerbangan pertama. Papa yang langsung rapat, dan aku menunggu papa di hotel. Sambil menunggu papa pulang aku renang dan fitness di hotel itu. Sore itu aku sedang di kamar, papa pulang sambil terbatuk-batuk tiada henti. Setelah meminum obat dan berendam air hangat, papa pun segera beristirahat. Ponselku berdering, Eva menelpon. Aku segera keluar kamar untuk menerima panggilannya, karena takut suaraku mengganggu papa yang sedang tidur.
"Halo, Beb. Kapan pulang? Papamu gimana?" tanya Eva.
"Pulang besok, Beb. Papa masih sakit. Batuk-batuk mulu, sekarang lagi tidur habis minum obat. Kamu gimana? Udah makan?" tanyaku pada Eva sambil bersandar di pintu yang mengarah ke tangga darurat yang berada diujung lorong. Saat itu ada 2 orang berbadan kekar berdiri tepat di depan pintu kamarku.
"Bentar beb. Ntar kutelpon lagi ya. Ada tamu kayaknya!" Kataku lalu memutuskan panggilan telponku dengan Eva. Aku pun berjalan menuju kamarku, tapi ke 2 orang itu lalu pergi saat melihat kedatanganku. Kupandangi punggung ke 2 orang itu.
"Aneh...," batinku sambil menelpon Eva lagi. Setelah menelpon Eva lagi, aku kembali masuk kamar. Kuselimuti tubuh papa yang terlihat menggigil. Sekitar jam 8 malam, papa terbangun sambil terbatuk-batuk lagi. Papa meminum obatnya, dan menyuruhku menelpon layanan kamar untuk memesan makanan. Makanan pun datang, saat kami sedang makan. Terdengar ketukan dipintu kamar.
"Tok! Tok! Tok!" kuintip dari lubang pintu untuk melihat siapa yang datang. TERNYATA 2 ORANG TADI KULIHAT SAAT AKU MENELPON EVA!
"Cari siapa pak?" Tanyaku sopan saat membuka pintu.
"Kamar pak Desmond?" Tanya lelaki kekar itu.
"Iya, ada perlu apa ya? Papa lagi sakit," kataku lagi. Tiba-tiba orang itu mendorong pintu.
"Bruaak!" saat orang itu berjalan ke arah dimana papa sedang makan. Kujegal kakinya sehingga dia terjatuh terjerembab ke lantai.
"Biar Rio!"kata papa melarangku untuk berbuat apa-apa.
"Saya hanya datang untuk mengambil uang dari bapakmu!" Kata laki-laki yang kujegal kakinya itu.
"Ini yang terakhir. Bilang ke bu Rosa. Setelah ini saya tidak mau lagi berurusan dengan dia. Klo ada seperti ini lagi. Akan saya balas. Saya tidak perduli dengan karir saya!" Kata papa menyerahkan amplop coklat yang kuduga berisi uang. Amplop itu dibuka dan diintip isinya oleh teman laki-laki yang kujegal tadi. Laki-laki itu mengangguk,lalu mereka pergi dari kamarku.
"Kamu gak apa-apa, Rio?" tanya papa padaku.
"Itu tadi siapa, Pa? Bu Rosa itu siapa?" Tanyaku sambil duduk disebelah ranjang papa.
"Tolong jangan cerita ke Mamamu,Rio. Papa minta maaf sama kamu, nak. Jangan ceritakan ini sama siapa-siapa," kata papa sambil memelukku. Papa lalu bercerita 4 bulan lalu saat Papa mengurus proyek di Jakarta. Setelah proyek itu gol. Teman-teman papa dan Papa mengadakan pesta di sebuah Club. Teman-teman papa mengenalkan papa ke bu Rosa. Karena mabuk papa tidur dengan bu Rosa. Itu hanya dilakukan papa sekali saja. Setelah itu orang suruhan bu Rosa mengancam untuk mengirimkan foto-foto papa dan bu Rosa kepada mama. Mereka meminta uang agar mereka tidak mengirimkan foto itu kepada mama. Malam ini adalah pembayaran uang yang terakhir dari papa. Papa menangis sambil memelukku. Aku langsung teringat Mama. Mama yang selalu sibuk mengurusi rumah dan kebutuhan papa. Aku juga memeluk papa. Aku hanya meneteskan airmata. Aku teringat mama, dan 2 adikku yang masih kecil.
"Rio gak akan cerita sama siapa-siapa, Pa. Rio janji sama papa. Dan papa jangan sampai ngulangin lagi. Kasian mama dan adik-adik, Pa!" kataku sambil memeluk papa.
"Papa janji,nak!" Jawab papa sambil menangis.
***
Deva dan Mega senang saat aku pulang, aku membawakan mereka mainan boneka Barbie untuk mereka berdua.
"Lain kali klo papa ke luar kota, kakak ikut ya. Jadi kami dibeliin hadiah terus!" kata mereka sambil mencium dan memelukku.
"Itu papa yang beliin, bukan kakak. Bilang makasih donk sama papa," ujarku menyuruh mereka. Mereka pun lalu memeluk papa yang sedang mencicipi masakan mama. Aku langsung naik ke kamarku dan kemudian menelpon Eva.
"Iya, Beb. Bentar ya, aku lagi ketemu Vendor. Setelah selesai aku telp lagi. Kuakhiri telponku dengan Eva. Kulihat jam tanganku.
"Jam segini udah telat untuk latihan. Mending aku ngegym aja!" Batinku.
"Gue ngegym, Beb." Kukirim pesan singkat itu kepada Eva. Lalu aku berpamitan ke mama dan papa yang sedang makan. Bella! Bella terlihat berbeda hari ini, rambutnya yang baru dicat semakin membuat dirinya terlihat menakjubkan. Rambutnya dicat dengan cat coklat muda. Hari ini dia memakai tanktop dengan hotpants yang membuat mata laki-laki di Gym tempatku berlatih melotot kepadanya.
"2 hari gak keliatan. Kemana aja, Rio?" Sapanya padaku yang sedang memasang sarung tangan.
"Dari Jakarta," jawabku pendek.
"Rio, Nanti gue traktir elu makan yuk!" Katanya lagi ketika aku sedang melakukan sit up.
"Sori,Bella. Gue gak bisa, pacar gue galak," kataku sambil sit up.
"Ayolah, Rio. Gue lagi boring banget nih," katanya sambil memegangi pergelangan kakiku.
"Wowww!" katanya sambil tersenyum. Aku tau dia melihat apa. Aku pun segera menyudahi sit upku. Dan beralih ke treadmill. Bella tersenyum melihat Rio yang menghindarinya, ia pun berhenti mencoba mendekati Rio hari ini.
"Dasar cowok aneh, dipikir-pikir klo gak ada duitnya, bikin males juga. Tapi liat aja sampe minggu depan!" Selesai ngegym, aku memeriksa ponselku. Tak ada telpon dari Eva. Aku pun menelpon Eva.
"Beb, i miss u. Lagi dimana?" tanyaku.
"I miss u too. Bentar ya beb. Ini masih ngurus Vendor yang tadi. Dia ngajak merger perusahaan papa. Ntar gue kabarin lagi. Lu dimana?" katanya dengan nada ceria.
"Gue kirim WA tadi. Belum dibaca?" Tanyaku lagi
"Love u too...!" jawabku pada tembok.
***
Malam itu aku diajak Eva untuk menemui James. James adalah CEO dari perusahaan yang dulu pernah menjadi patner bisnis almarhum papanya. Yang hadir malam itu hanya mantan rekan bisnis almarhum papanya.
"Beb, klo ditanya lu kerja apa. Jawab aja lu lagi ngerintis bisnis kuliner di Bali. Jangan ngaomong lu masih SMA ya, Beb. Please!" Kata Eva sambil membetulkan gaun yang dipakainya.
"Tapi, misal ada yang ngenalin gue gimana?" Apa malah gak jadi masalah?" Kataku lagi.
"Tenang beb. Mereka rata-rata kerja di luar semua kok. Malaysia, Singapura, Jadi boong tipis asal gak nipu aman laah," kata Eva sambil memegang tanganku.
"As u wish, beb!" jawabku.
James Sukmajaya. Memang pria yang menarik walaupun aku agak curiga dengannya, penampilannya sangat mempesona. Tampan, kaya, dan sukses. Para wanita disitu termasuk Eva, begitu fokus saat James sedang menceritakan sesuatu. Cuma aku merasakan ada yang ditutupi James. Entah apa.
"Rio, kamu sedang menjalankan bisnis apa sekarang?" tanya James padaku.
"Colab dengan teman dulu di bidang kuliner, karena saya baru lulus. Nanti setelah saya selesai kuliah tahun depan. Saya baru berani ekspansi," jawabku.
"Sekarang kuliah dimana?"kata James lagi.
"Le Cordon Bleu Melbourne. Saya masuk lewat jalur beasiswa. Tahun ini baru masuk.1 tahun harus selesai. Wish me luck," jawabku.
"Oohhh LCB is great university ...," katanya.
"Yeahh...," kataku sembari tersenyum. Akhirnya gue tau elo pembual, James!
Seperti dugaanku, setelah makan malam, mereka berniat lanjut ke hiburan malam. Pesta Eksekutif kelas CEO! Eva yang berniat ikut kularang karena penyakitnya yang masih harus diobservasi lebih lanjut.
"Sori James. Eva dan saya gak bisa ikut. Ada penyakit yang membuat Eva tidak bisa mengkonsumsi alkohol untuk sementara. Kami minta maaf," ujarku
"Cmon Rio, siapa tau malam ini kita bisa kesepakatan bisnis. Gak harus minum kok. Ayolah," ajaknya kepadaku dan Eva.
"Maaf saya baru saja balik dari Jakarta hari ini. Saya dengan menyesal tidak bisa ikut," jawabku menolak
"Eva?" Lirik James sambil tersenyum.
"Aku perlu diskusi dulu dengan Rio, James. Tapi sepertinya aku tidak bisa gabung. Maaf," kata Eva.
Kami pun berpisah dengan keadaan canggung. Lirikan mata James terlihat marah kepadaku. Aku tau itu. Aku punya naluri yang tajam soal itu.
***
Eva marah-marah di mobil karena kenapa tidak berdiskusi dulu dengannya sebelum menolak ajakan James.
"Eva, klo kamu mau dateng kesana. Masih bisa kok. Sudahlah jangan dibikin ribut," kataku dengan datar.
"Lebih bagus tadi klo aku gak ngajak kamu tadi, Beb. Kamu cemburu kan sama James?" Kata Eva setelah mendengar jawabanku.
"Cemburu? Mulai kapan aku cemburu buta? Apa Kamu sudah lama kenal James? Siapa orang papamu yang pernah kerjasama dengan James? Aku gak ngerti sama kamu.Va. Merger bagus klo sama visinya. Tapi pelan-pelan selidiki dulu latar belakangnya, Va," kataku.
"Gini deh. Ayo kita kesana. Lu temenin gue disana jadi lu gak perlu nyangka gue bakal main gila sama James, Rio!" Katanya dengan suara meninggi.
"Lagian ngerti apa lu tentang bisnis manufaktur," katanya lagi
"Eva, Gue gak ada nuduh lu mau main gila sama James! Apa yang meracuni lu sehingga punya pikiran seperti itu? Bener omongan lu barusan. Gue gak ngerti apa-apa soal bisnis apalah itu. GUE CUMA ANAK SMA!!! UDAH GUE TURUN DISINI!!!" Kataku sambil menepikan mobil.
"LU TURUN. KITA PUTUS!!! LU BAKAL NYESEL RIO UDAH GINIIN GUE MALAM INI," katanya mengancamku.
"Masalah apa yang bikin lu mikir untuk putusin gue, Va? JAMES UDAH NGERACUNIN PIKIRAN KAMU TAMPAKNYA, CUMA GARA-GARA GUE NOLAK AJAKAN MINUM JAMES? SEGAMPANG ITU LU MINTA PUTUS?! LU YANG BAKAL NYESEL, VA! GAK ADA YANG BISA NGERTIIN LU SELAIN GUE!!!" Kataku dengan emosi.
"OK KITA PUTUS!"
Aku keluar dari mobilnya. Dan Eva lalu melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"FUCKKKK!!!!"Aku berjalan kaki sambil menyumpah serapah. Aku berharap menemukan sesuatu untuk melampiaskan emosiku.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!