
"HONEY!!! I DID IT!!!" Teriakku sambil menggenggam lembaran kertas berisi kontrak kerjaku dengan Robin dan Tania ketika membuka gerbang Villa milik Eva itu. Eva pun berlari dari dapur menyambutku dengan wajah gembira!
"Congrats, Honey!" Katanya sambil memelukku. Aku tersenyum sambil memeluknya. Aku pun bercerita bahwa kerjaanku akan dimulai kemungkinan baru 6 bulan lagi. Venue sudah siap dan sedang dalam tahap pengerjaan proses finishing. Aku pun membicarakan bahwa aku akan tinggal di Bali selama proses itu berlangsung. Eva pun tersenyum lebar.
"Beb, klo kita harus menjalani LDR apa elu siap?" Tanyaku pada Eva yang masih tersenyum.
"LDR??? Gue siap, Rii. 6 bulan lagi kan?" Katanya sambil mengelus pipiku.
"Ya Beb. 6 bulan lagi," Jawabku dengan suara pelan dan tatapan yang kosong.
"Kok tiba-tiba jadi sedih gitu sih, Beb?" Katanya lagi sambil melingkarkan kedua tangannya di leherku.
"Hampir 2 bulan ini, kita selalu bareng. Masa kita harus jauh-jauhan lagi, Beb!" Ujarku sambil mencium keningnya. Kutarik nafas panjang dalam-dalam. Eva memandangi wajahku yang tiba-tiba muram.
"Trus elu maunya gimana, sayang? Elu mau gue nemenin elu disini?" Katanya lagi. Aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Gue klo ijin ke Papa Mama untuk nikah sama elu tahun depan dibolehin gak ya?" Kataku tanpa sadar.
Eva lalu tertawa.
"Ehhh Elu Serius huh?!" Katanya kaget mendengar ucapanku yang barusan.
"Beb, baru tadi sore kita omongin soal kapan kita akan merit. Sekarang udah berubah lagi kan lu?" Katanya sambil menggenggam tanganku.
"Iya berubah lagi. Tadi di jalan gue juga mikir, disini sendirian gak ada elu. Gak bakal betah kayaknya, Beb!" Kataku sambil memijat kepalaku.
"Besok pulang yuk! Gue juga mau ngomong sama mama!" Kata Eva sambil tersenyum.
"Mau ngomong apaan, Beb?"
"Gue mau resign dari kerjaan. Perusahaan papa gue balikin ke mama lagi aja!" Katanya dengan mata yang berbinar-binar.
"No! No! Kasian mama! Gue gak setuju, Beb. Itu karir elu, sudah lu lama handle sampai sekarang!" Kataku tak setuju dengan pernyataan Eva untuk resign.
"Beb, Gue udah nemuin karir baru yang mau gue tekunin. Gue mau nemenin elu disini. Gue mau nemenin start awal lu. Gue gak mau jadi kayak mama yang karena ngurusin karir, jadi nelantarin papa sama gue. Gue mau support elu disini, Rii!" Kata Eva sambil memelukku erat.
"Makasih yaa, Beb!" Ujarku membalas pelukan eratnya.
***
Mama Wanda sumringah menyambut kedatanganku dengan Eva siang itu. Mama terkejut saat Eva menyampaikan keinginannya untuk resign dan menetap di Bali untuk menemaniku.
"Mama ikut senang karena hubungan kalian bisa membaik lagi. Untuk keputusan Eva soal resign dan menyerahkan kembali perusahaan papa pun, mama serahkan kembali pada Eva. Mau resign sementara atau seterusnya.
Mama tetap mendukung keputusan yang akan Eva ambil. Toh misal kalian menikah nanti, perusahaan mama dan papa nantinya akan menjadi milik kalian juga," lanjut mama Wanda panjang lebar.
"Rio, mama mau tanya sama kamu satu hal!" Kata mama Wanda dengan nada yang berbeda dari biasanya. Aku menatap mama Wanda dengan tatapan heran.
"Apa itu, Ma?" Tanyaku pada Mama sambil menggenggam jemari tangan Eva.
"Apakah kamu benar-benar mencintai Eva, Rio? Apakah kamu serius ingin menikahi Eva seperti yang sudah kamu sampaikan pada Eva dan bisa menerima kekurangan Eva?" Tanya mama Wanda sambil menatapku dengan tatapan tajam. Kuhembuskan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan mama. Kupandangi lagi wajah cantik disebelahku. Eva menyunggingkan senyumannya ketika menatapku.
"Ma, saya membutuhkan Eva berada disamping saya. Saya sudah tidak bisa jauh darinya. Perubahan Eva semenjak saya pulang, membuat saya jatuh cinta lagi padanya, Ma!" Jawabku sambil menatap Eva dan mama Wanda bergantian.
"Eva, apa Rio memang menjadi pilihan terakhirmu? Dulu 2x kamu buat dia kecewa, apakah sekarang kamu sudah mantap dengan perasaan kamu yang sekarang? Apa itu bukan cuma sekedar perasaan kangen yang nanti menghilang saat kamu bertemu orang yang lebih menarik dari Rio lagi?" Tanya mama Wanda sambil menatap tajam mata Eva.
"Mama yang lebih tau Eva seperti apa, Ma. Eva sudah mantap dengan hati Eva kali ini. Dan Eva gak mau kehilangan Rio untuk yang kesekian kalinya, Ma!" Jawab Eva sambil menatap kearah mamanya dan menggenggam erat jemariku. Mama Wanda berdiri dan berjalan menghampiri kami berdua.
"Peluk mama, Sayang!" Kata mama kepada kami berdua dengan kedua tangannya mengembang. Aku dan Eva pun segera berdiri dan memeluk tubuh mama Wanda.
"Mama merestui hubungan kalian! Rio terima kasih! Kamu sudah mau menerima anak mama lagi! Mama titipin Eva sama kamu ya, Nak!" Ujar mama Wanda tersenyum sambil mencium pipi kami berdua
"Hari ini mama bahagia banget melihat kalian bisa berdua lagi, dan mudah-mudahan impian kalian untuk menikah dilancarkan ya! Amiin!"
Aku dan Eva memeluk mama Wanda sambil tersenyum.
Setelah makan siang, aku pun mengajak Eva kerumah untuk bertemu dengan Papa dan mama.
***
"Di keluarga kita tidak ada adat seperti itu, Rio. Tapi apakah kamu benar-benar sudah siap untuk menikah muda? Soal Kakakmu yang kamu langkahi, biar jadi urusan Papa dan Mama. Menikahlah untuk 1x seumur hidup, Rio. Klo kamu sudah mantap dengan keputusanmu. Papa dan mama merestui kalian!" Aku pun bersujud memegang kaki Papa sambil meneteskan airmata. Lalu aku mencium kaki mama untuk meminta restu beliau.
"Makasih ya, Pa! Ma!" Kataku sambil mencium pipi Papa dan mama. Eva pun mencium tangan Papa dan mamaku. Setelah itu kami pun mengobrol tentang progres pekerjaanku di Bali dan rencana kami akan melaksanakan pernikahan kami.
"Ingat pesan mama ke kamu, Rio. Jaga Eva dengan baik ya!" Ujar mama sambil menggandeng tangan Eva yang hendak kuantarkan pulang.
"Iya, Ma!" kataku sambil berpamitan untuk mengantar Eva pulang.
***
Eva menggenggam erat tanganku dan terus memainkan jemariku.
"Beb, gue tidur dirumah mama aja malam ini!" Kata Eva sambil menyibak rambutnya yang panjang.
"Sekarang ke rumah mama lagi nih, Beb?" Tanyaku pada Eva yang sedang memandangiku.
"Pengen pizza, beb! Muter bentar ya, sayang. Gak papa?" Tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. Aku tak menjawab pertanyaannya. Mobil kuputar kearah menuju tempat Pizza favorit Eva.
Sesampainya di tempat Eva biasa makan pizza. Kami pun bergandengan turun.
"Beliin buat Deva dan Mega juga ya, Beb. Kita kan gak bawain oleh-oleh untuk mereka!" Kata Eva lagi.
"Iya beb!" Kataku sambil merangkul pinggangnya.
"Rio! Eva!" Terdengar suara wanita memanggil nama kami berdua ketika kami memasuki kedai pizza itu. Ternyata Siska yang memanggil kami. Siska saat itu sedang bersama 3 orang temannya. Sementara aku memesan pizza, Eva menghampiri meja tempat mereka duduk.
"Cieee, lama gak keliatan lu! Dari mana aja, Va? Udah balikan lagi ya lu sama Rio?" Ujar Siska pada Eva yang duduk disampingnya.
"Hihihi. Bukan cuma balikan lagi, gue mau merit. Tahun depan gue bakal merit sama dia, Sis!" jawab Eva sambil tersenyum lebar.
"OMG! SERIOUSLY?! I'M HAPPY FOR YOU!" Pekik Siska sambil memeluk Eva.
"Btw. Kok bisa? Lu pake pelet apaan, Va? Lu ya yang minta buru-buru dikawinin?" Ujar Siska dengan nada girang.
"Dia mau stay dan kerja di Bali, Sis. Dia pengen gue nemenin dia disana dan ngajak merit. Ya mau lah gue!" Jawab Eva sambil tersenyum.
"Duh, Rio kok makin tampan aja sih. Semenjak pulang dari Aussie Rio malah mirip kayak bule sekarang," bisik Siska pada Eva ketika aku berjalan menghampiri mejanya.
"Halo, Siska! Apa kabar?" Sapaku pada Siska dan teman-temannya sambil memegang bahu Eva.
"Baik Chef Ganteng! Btw, Selamat ya. Kata Eva mau merit ya tahun depan. Semoga Awet sampai tua!" Ujar Siska sambil melirik ke arah Eva.
"Tahun depan???" Tanyaku dengan mimik berpura-pura kaget.
"Eh, Eva lho yang bilang!" Kata Siska sambil menyenggol tangan Eva dan menoleh kearahnya.
"Tahun depan mah kelamaan, mau gue malah secepatnya merit sama dia. Doain lancar ya, Sis. Klo kelamaan keburu disalip lagi gue!" Ujarku tersenyum sambil menggandeng tangan Eva.
***
"Gimana ceritanya Rio tiba-tiba ngajak kamu nikah, Va? Mama pengen denger ceritanya," ujar mama sambil membelai rambut Eva yang tidur disebelahnya.
Eva pun bercerita dengan antusias kepada mamanya. Mimik mamanya berubah-ubah saat mendengarkan cerita Eva. Kadang tersenyum, kadang sedih, dan kadang juga tertawa bahagia ketika mendengar cerita perdebatan lucu antara Rio dan Eva.
"Kamu beruntung Eva, kamu harus jaga hubungan kamu dengan dia sekarang baik-baik. Belum tentu ada laki-laki sebaik Rio lagi yang bisa ngertiin kamu, nak!" Tutur mamanya lagi.
"Iya Ma, udah cukup 2x Eva pernah ngecewain dia. Eva gak pengen macem-macem lagi. Apalagi ini semua inisiatif dari Rio, Eva gak mau ngecewain dia lagi! Makasih mama kemarin udah bantuin Eva ya. Klo bukan karena bantuan mama kemarin, Eva dan Rio gak mungkin bisa balikan lagi," ujar Eva memeluk mamanya.
"Iya, Nak. Mama ikut bahagia juga!" Balas mama sambil mencium kening putrinya itu.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!