
Eva bingung mau memakai baju apa hari itu, biasanya dia tidak pernah merasakan seperti itu. Dia pun memanggil mamanya ke kamar. Baju-Baju Eva yang berantakan berserakan dilantai.
"Mau kemana sih Va? Kok tumben kamu bingung pilih-pilih baju? Acara apa, waktunya malam atau siang, indoor atau....," kata mamanya panjang lebar, belum selesai mamanya berbicara, Eva sudah memotong kata-kata mamanya.
"Acara kencan Ma," ucap Eva singkat.
"Kencan??? Sama siapa? SamaTino? Bukannya dia sudah putus sama kamu? Hmmmmm, cuma cowok special yang bisa bikin kamu begini," ujar mamanya dengan nada senang.
"Anak mana? Anak siapa? Sopan gak?" Tanya mamanya lagi. Eva tersenyum.
"Anak mana dan anak siapa belum tau, Ma. Tapi yang pasti dia sopan. Nanti malam Eva kenalin dia ke mama!"
Setelah mengobrak-abrik isi lemarinya. Akhirnya Eva setuju dengan pilihan mamanya, kaos Turtle Neck warna hitam ketat dengan celana legging warna silver gelap sebetis. Eva berputar-putar didepan kaca.
"Udah ma? Beneran cocok nih?" tanya Eva lagi.
"Udah sayang! PERFECTO!" Kata mamanya sambil melilitkan syal ke leher jenjang anaknya.
"Mama jangan kemana-mana ya, cowok itu bakal Eva ajak ketemu mama malam ini. Orderin makanan yang enak-enak dari Restonya mama! I love u mom," Kata Eva sambil pergi keluar.
"Hmmmmmm, Sudah lama Eva gak begini, siapa cowok itu ya? Ahhh, Siska pasti tau siapa cowok itu," gumam mamanya.
...----------------...
"Lama banget sih keluarnya," gumam Eva yang menunggu di mobil sportnya. Ia bolak-balik bercermin di spion tengah mobilnya. Tak lama keluarlah segerombolan anak-anak, lalu diikuti segerombolan remaja. Dilihatnya cowok berjaket baseball itu. Dia pun bersiap-siap, sambil mengatur rambutnya agar terlihat cantik.
"Rio!!!" Sapa Eva sambil melambaikan tangannya.
"Eva? Itu Eva cewek yang semalam itu kan, bro??? Udah kena panah asmara dia tampaknya! Hahaha," ujar Surya sambil menepuk-nepuk punggung Rio.
"Kena panah,gigi lu gendut! Tunggu disini bentar, bro. Gue antar lu pulang," ujarku berlari menuju Mobil Eva.
"Rio, lu temanin gue meeting bentar ya. Gue ada proyek kecil-kecilan. Yaayaya!" ujar Eva saat aku sampai didekatnya.
"Emmmm, Gue ganti baju dulu kalo gitu. Lu tunggu dimana. Ntar gue samperin elu, gimana?" kataku lagi.
"Gak sempat! Mepet banget waktunya. Lu bareng gue aja, deh! Gue anter elu ke rumah ganti baju. Motor lu bisa dibawa temen lu kan?" kata Eva.
"Ini beneran meeting kan? Entar lu ngerjain gue lagi Va," ujarku sambil tertawa.
"Itu berarti OK. Bawa mobil gue gih. Biar bisa cepet OTW ke rumah lu," ujar Eva yang berpindah ke bangku sebelah supir.
"OK. Bentar gue bawain motor gue ke Surya dulu ya."
Setelah nyerahin motor ke Surya. Aku langsung OTW menuju rumah. Mobil kuparkir dihalaman rumah.
"Eva,lu mau turun? Bentar ya, Gue ganti baju bentar," ujarku berlari menuju ke dalam rumah.
15 menit kemudian...
Aku keluar dengan mengunakan Blazer hitam dengan dalaman kaus lengan panjang berwarna hitam dengan Celana Denim berwarna hampir sama dengan warna celana yang dipakai Eva. Rambutnya yang hitam legam di beri pomade dan disisir kebelakang. Saat memasuki mobil, Parfum Bvlgariku membuat gejolak wanita ditubuh Eva menggelora.
"Aku nyesuain warna baju lu, Va? Gak apa kan pake begini?" kataku kepada Eva yang melamun sambil memandangiku.
"Ooooo.OK kok. Kita langsung berangkat ya," kata Eva yang betul-betul gugup. Kulirik dia yang memandangiku sambil melamun. Entah Eva saat itu sedang melamunkan apa?
"Rio, lu bukan homo kan?" tiba-tiba Eva bertanya seperti itu. Aku menepikan mobil itu. Kutatap matanya.
"Gue memang jomblo, tapi bukan homo, Va! Lu suka ngasal ya klo ngomong," ujarku pura-pura marah. Aku menyalakan rokok. Eva tertunduk. Kupegang tangannya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya bibirku dan bibirnya dekat sekali.Mata Eva terpejam.
"Rokok aku habis. Aku mau beli rokok dulu bentar!" ujarku sambil meninggalkannya untuk membeli rokok.
"RIOOOOOO!!!!" Terdengar Eva meneriakiku kesal dengan suara kencang. Saatku kembali, dia sudah ada dikursi sopir. Aku masuk ke mobil dan duduk di sampingnya. Dia lalu segera tancap gas mobilnya dalam-dalam. Dia berzig-zag di jalan yang lumayan ramai itu. Mobilnya mengarah ke perumahan mewah. Terasa mobil yang direm tiba-tiba.
"Oiya, gue lupa. Tolong lu nanti jelasin gimana cara pengolahan limbah plastik. Lu jelasin sedetail-detailnya.
Kita meeting sama ibu Wanda. Gue akan masuk duluan. Lu pelajarin cara ngolah limbah dari ponsel lu. Klo gue panggil elu, baru lu turun ya!" Katanya sambil menepikan mobilnya di pinggir jalan. Eva pun lalu turun menuju rumah mewah disebelahku, aku pun kalang kabur mencari topik di Yutup tentang cara mengolah limbah plastik. Tak lama kemudian Eva memanggilku, ibu Wanda ternyata seorang yang cantik, usianya lebih muda dari mama. Kujabat tangannya dengan penuh percaya diri. Setelah berbasa-basi sebentar. Lalu aku pun menjelaskan cara mengolah limbah plastik. Kujelaskan secara detail sesuai yang tadi kudengarkan di Yutup tadi.Tapi respon Eva dan Bu Wanda tertawa setelah mendengar penjelasanku. Eva tertawa terpingkal-pingkal. Bu Wanda terpingkal tapi caranya tertawa lebih elegant.
"Apa ada yang salah dari penjelasan saya, bu Wanda?" tanyaku dengan penuh sopan pada bu Wanda.
"Eva suruh Rio untuk stop. Mama gak kuat liatnya," ujar bu Wanda.
"Mama?!" kulirik Eva yang masih terpingkal-pingkal. Lalu kulirik bu Wanda.
"Mama???!" Kuulang lagi kata itu. Bu Wanda mengganguk.
"Kampretttt gue dikerjain lagi sama Eva," batinku dalam hati. Lalu aku berdiri dan melangkah ke bu Wanda yang ternyata adalah mamanya Eva. Aku salim dan mencium tangan beliau.
"Maaf tante. Salam kenal. Saya betul-betul kena prank Eva hari ini," ujarku salah tingkah.
"Udah Rio. Tante juga bingung kok, disuruh ini itu sama Eva. Yuk Kita makan malam sambil ngobrol yuk," ujar mamanya Eva.
Mama Wanda orang yang supel, beliau orang yang sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol. Setelah beberapa saat mengobrol. Mamanya masuk karena harus berbicara dengan kliennya. Aku pun digeret Eva ke halaman belakang. Rumah itu ternyata memiliki kolam renang. Eva mengajakku untuk mengobrol di gazebo yang berada di taman belakang. Aku hanya diam.
"Rio!" Kuhadapkan wajahku menatap Eva.
"Iya, bu Eva. Ada apa lagi?" Kataku sambil menatapnya. Eva kembali terdiam saat menatapku.
"Hmmmmm.Nanti malam temanin aku ke Club donk," katanya sambil memuntir ujung rambutnya.
"Boleh ngerokok kan?"
Dia mengangguk lalu berdiri mengambil asbak. Dia pun mengambil sebatang rokok,lalu kerebut rokok itu.
"Cewek cantik jangan merokok," kataku sambil memasukkan rokok itu ke kotaknya lagi. Eva menghampiriku lalu menggenggam tanganku.
"Yuk, kita jalan sekarang aja."
"Mau jalan kemana, Va?" tanyaku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya yang erat.
"Ke kafe Pinus. Katanya lu suka nongkrong disana, kita kesana yuk," katanya sambil memainkan jemari tanganku.
"Hmmm gue temenin lu ke Club aja deh klo gtu."
"Gak ke kafe Pinus aja?"
"Lu sendiri aja yang kesono."
"Lho kenapa?"
"Jangan nanya timbang gue cium lho yuk ahh," kugenggam tangannya menuju mobilnya.
Setelah berpamitan dengan mama Wanda. Kami berjalan menuju Club 9.
Kucopot blazerku. Sekarang aku hanya memakai kaos lengan panjang berwarna hitam,senada dengan pakaian Eva kaus V neck hitam. Kami tiba di Club 9. Eva rupanya member Prioritas Club itu.
Mobilnya pun diparkir ditempat khusus di Club itu.
Tiba-tiba ada pasangan cowok-cewek yang tengah memperhatikan kami dari dalam mobil disebelah belakang parkiran mobil kami.
Aku membukakan pintu untuk Eva.
Tiba-tiba...
"Rio sori!" Kata Eva yang lalu mencium bibirku, dan kubalas ciumannya itu. Lipstiknya terasa manis beraroma buah peach.
Kedua tangan Eva lalu melingkar dileherku.
Kulingkarkan tanganku dipinggangnya.
Aku belum mau melepaskan bibirnya. Kukecup lembut bibirnya.
Mobil yang tadinya dibelakang kami sekarang sudah berada diseberang jalan dan orang yang berada dibalik kemudi mengawasi kami tiba-tiba ngebut sampai derit suara ban terdengar keras. Kulepaskan ciuman Eva sambil memandang kearah mobil yang ngebut itu, lalu Eva menggandengku masuk sambil melingkarkan tangannya ke pinggangku, aku tersenyum sambil melingkarkan tanganku dipinggangnya.
Setelah masuk kami langsung diantar ke VVIP room. Ruangan itu cukup luas untuk kami berdua. Suara musik pun bisa disesuaikan tidak sama seperti ruangan biasa. Ruangan itu memiliki balkon sehingga bisa melihat pengunjung yang turun di dance floor.
"Mau dibuka sekarang minumannya, mbak?" Kata pelayan itu pada Eva yang sedang bergoyang mengikuti irama EDM yang menghentak mengangguk.
Pelayan itu diberi tips selembar uang merah oleh Eva.
Kulihat dimeja itu ada bermacam-macam minuman. Miras, orange juice, air mineral dan minuman cola. Aku awalnya hanya duduk sambil bergoyang, lalu Eva mematikan lampu ruangan itu. Lampu laser kecil berwarna-warni terlihat menghiasi langit-langit ruangan itu.
"Bentar ya. Tunggu disini aku keluar bentar," bau nafas Eva yang beraroma mint tercium dihidungku lagi. Hembusan nafasnya membuat gairahku bergelora. Aku mengangguk. Kuminum miras import itu, rasa PANAS menjilat ditubuhku dan tubuhku terasa berkeringat. Kutuang lagi dan kuminum
dengan orang juice. Hmmmmm enak sekali rasanya. Segera kutenggak habis minuman campuran itu.
Eva sudah kembali masuk dengan membawa tas kecil ditangannya. Dia lalu masuk ke kamar mandi, tak lama kemudian dia keluar lagi. Dia berdiri didepanku sambil bergoyang dengan memakai tanktop dress yang mencetak lekak-lekuk tubuhnya yang sempurna.
Pinggang ramping, 'perabotnya' yang aduhai,serta kulit putihnya yang kemerahan.
"Rio toast dulu yuk," ujarnya sambil membawa 2 gelas.
"Toast for u and me," katanya sambil melilitkan tangannya ke tanganku. Kuminum minuman yang awalnya terasa manis lalu terasa panas itu. Lalu aku tersenyum pada Eva.
Eva tertawa melihatku yang mulai mabuk. Saat itu kulihat senyumannya manis sekali. Secara tak sadar kupegang bibirnya yang sensual, ternyata dia memiliki gingsul yang membuatnya makin manis.
"Rio, kita pacaran yuk!" Bisiknya ditelingaku. Aku tersenyum mendengar kalimat yang baru dia katakan entah dia mabuk atau tidak, aku tak tau.
Aku hanya memandangnya sambil mengelus wajahnya. Wajahnya mendekat kewajahku, kubelai pipinya yang mulai memerah.
"AKU MULAI MABUK YA, VA," bisikku pelan didepan bibir sensual Eva.
Lalu aku tiba-tiba merasa ingin muntah, aku berdiri dan berlari terhuyung ke kamar mandi. Eva memegangi tubuhku dari belakang. Didalam kamar mandi, aku mencuci rambutku hingga basah. Sejenak aku duduk di closed untuk meredakan mabukku. Beberapa saat kemudian aku merasa agak segar, terasa pengaruh alkohol membuat pusingku agak menghilang.
"Kamu minum banyak banget pantesan kamu udah agak goyang. Duduk dulu yuk!"
Dia memelukku dan menuntunku menuju meja. Bukitnya yang penuh menekan tulang rusukku.Gairahku lelakiku pun terusik tapi kepalaku masih terasa agak pusing. Eva mengecilkan volume musik dikamar, sehingga kamar itu agak hening tidak bising. Kepalaku terkulai disofa yang empuk itu.
"Sori, Va. Gue agak mabuk. Sori klo gue agak kurang ajar sama elu," ujarku sambil memegang jemarinya.
"Elu gak kurang ajar. Cuma kurang pengalaman aja," ujarnya tertawa.
Gigi gingsulnya membuat tertawanya makin manis. Kupegang sudut bibirnya yang gingsul itu. Kubelai lembut bibirnya.
TIBA-TIBA SAAT ITU WAJAH EVA BERUBAH MENJADI WAJAH CRESA! Aku pun tersentak kaget tak percaya dengan apa yang kulihat! Saat itu juga aku tersadar sepenuhnya dari efek mabukku.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!