
Setelah 3 minggu berlibur di Korea. Hari ini kami sudah pulang ke Indonesia. Aku dan Cresa lalu berpisah karena Cresa keesokan harinya harus segera mengecek kliniknya yang berada di Surabaya. Sisa liburku masih ada beberapa hari lagi. Sore itu aku berencana menengok makam Eva. Tak disangka kedatanganku sore itu berbarengan dengan mama Wanda. Kami berdua berjalan berdampingan menuju makam Eva. Setelah menyirami kuburannya dengan air yang sudah kubawa. Aku pun membaca Surat Yasin untuk Eva. Kupandangi makam tempat peristirahatan Eva yang terakhir itu. Kutaburkan bunga diatas makamnya dengan mata berkaca-kaca. Mama Wanda menepuk pundakku yang saat itu sedang duduk termenung menatap batu nisan Eva. Kuelus batu nisan itu sambil berbisik.
"Aku pulang dulu, Sayang!" kataku lalu menyusul langkah kaki mama Wanda. Aku naiki skuter matic sewaanku mengikuti mobil mama Wanda ke arah Villa. Mama Wanda menungguku masuk ke Villanya dan menggandeng tanganku saat memasuki Villanya. Lalu kami berdua duduk di teras Villa.
"Gimana liburanmu, nak? Kata pak Kadek kamu ke Korea? Cewek Korea cantik-cantik lho, gak ada yang nyantol selama liburan?" goda mama Wanda sambil tersenyum.
"Sebentar, ma. Ada oleh-oleh untuk mama!" Ujarku sambil berlari meninggalkan beliau menuju Villaku. Lalu aku kembali kesana sambil membawa 3 bungkusan besar oleh-oleh untuk mama Wanda.
"Banyak banget oleh-olehnya, Rio. Terima kasih ya, nak!" Ujarnya ketika menerima oleh-oleh dariku. Aku tersenyum sambil menatapnya.
"Ma, Rio mau ngomong sebentar sama mama." Kataku dengan suara bergetar.
"Ngomong aja, Rii." Kata mama Wanda sambil memandangiku. Lalu aku ceritakan tentang Cresa pada mama Wanda. Kuceritakan cerita masa laluku dengan Cresa dari awal, bagaimana perpisahanku dengan Cresa sampai akhirnya aku bertemu dengan Eva. Kuceritakan juga cerita tentang kehidupan Cresa saat meninggalkanku sampai akhirnya kami dipertemukan kembali saat Eva sudah tiada. Mama Wanda tersenyum mendengar ceritaku.
"Itu mungkin arti ungkapan orang tua dulu, Rii. Klo jodoh gak akan kemana.
Cresa mungkin jodohmu.
Kamu melewati kejadian yang menguji kesabaran kamu.
Begitu juga dia, dia harus dihadapkan dengan dilema harus memilih cintanya atau orang tuanya.
Mama tidak yakin semua wanita sanggup melewati itu.
Bahkan saat-saat terakhir kamu juga diuji untuk memilih Cresa atau Eva.
Tapi takdir Tuhan membuatmu lebih memilih Eva daripada cinta pertamamu.
Walaupun kisah kamu dan Eva hanya diberi waktu sebentar saja, tapi buat mama keputusan kamu tetap lebih baik daripada pernikahan orang lain yang berjalan dalam jangka waktu lama tapi sedikit memberi arti untuk pasangannya.
Sekali lagi mama mengucapkan terima kasih sama kamu.
Yang mendampingi Eva sampai saat terakhir, dengan penuh kasih sayang dan cinta yang kamu curahkan sepenuh hati kamu untuk anak mama, nak!
Kamu masih muda, kamu harus melanjutkan hidup kamu. Mama yakin walaupun kamu nanti menikah lagi.
Kenanganmu dan Eva tidak akan pernah terhapus dari hatimu!" Tutur mama Wanda padaku yang saat itu menangis.
"Kapan kamu akan kenalin mama sama Cresa?" Tanya mama sambil tersenyum menatapku.
"4 tahun lebih kamu menduda, umurmu masih sangat muda. Mama restui kamu jika kamu ingin menikah lagi!" Ujar mama Wanda sambil mengusap rambutku.
"Terima kasih, ma!" Jawabku sambil tetap memeluk beliau.
"Udah yuk, Temani mama makan siang. Mama lagi pengen makan di Warung Made. Kamu antar mama ya!" Ajak mama Wanda.
Aku mengangguk dan menyeka mukaku yang basah. Lalu aku pergi mengantar beliau untuk makan siang.
Sore itu aku berlatih lagi. Tendanganku membuat karung pasir itu berayun-ayun. Setelah beberapa lama berlatih tendangan, aku beralih melakukan pull up. Kupaksa tubuhku hingga terasa sakit, kemudian aku lanjut dengan push up. Aku terkapar kelelahan dengan posisi telungkup. Lalu aku segera berlari dan melompat ke kolam renang.
"Byuuuur!!!"
suara air terdengar ketika aku menceburkan diriku ke kolam itu. Aku duduk beberapa saat di dasar kolam renang lalu kemudian naik ke permukaan. Kutelpon Cresa sambil duduk dipinggir kolam. Kuminta Cresa datang besok sebelum mama Wanda pulang. Cresa pun menyanggupi permintaanku. Lalu aku pun mandi sore itu dan setelah berganti pakaian, aku langsung menuju ke Club milik Reno yang mengundangku untuk menghadiri ulang tahun adiknya. Saat aku sampai di Club itu suasana sudah ramai. Aku kaget saat melihat ada wajah yang sangat kukenal. Laki-laki berpostur tegap itu adalah Tino mantan pacar Eva! Darahku langsung mendidih saat teringat cerita Almarhum Eva bahwa Tino sudah lama mengetahui bahwa Eva mengidap Leukimia dari kerabatnya yang merupakan seorang dokter ditempat Eva memeriksakan penyakitnya. Sesuatu hal yang mengganjal dibenakku adalah Tino mengenal mama Wanda dengan baik, mengapa dia tidak membocorkan tentang penyakit Eva kepada mamanya?
Penyakit Eva itu malah dijadikan alasan oleh Tino untuk mengaruhi pemegang saham yang lain untuk menggeser posisi Eva.
Tiba-tiba Reno menarikku untuk memperkenalkan aku kepada adiknya.
Donna adalah adik Reno yang ternyata adalah pacar Tino. Akhirnya Tino pun berkenalanku denganku.
Tino rupanya tidak begitu mengenali wajahku. Kuremas keras jari Tino saat berjabat tangan. Dia menahan erangannya didepan orang-orang.
"Apaan sih lu?!!" Hardik Tino padaku dengan muka marah sambil memegangi jarinya.
"APA LU!" Bentakku sambil melotot kearahnya. Reno menarikku sambil merangkul bahuku menjauh dari Tino.
"Calm down, Bro! Ada masalah apa lu bro?!" Tanya Reno padaku yang sedang Emosi.
"Masalah jaman old, bro. Tino itu bajingan, Ren. Sori gue gak mau bikin kacau pesta adik lu, gue permisi dulu. I'm so sorry!" Ujarku sambil melangkah pergi dari Club milik Reno itu. Kulirik Tino yang berbisik kepada 2 laki-laki bertubuh gempal yang berjalan bersamanya dan mereka mengikuti aku keluar. Setelah aku berada di parkiran Club, ke 2 laki-laki bertubuh gempal itu meneriakiku dan Tino muncul dari belakang mereka berdua. Kubalikan badanku menghadap mereka. Tino tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Gue baru ingat! Elu berondongnya Eva kan? Apa maksud lu ngeremas tangan gue tadi? Lu mau bikin masalah sama gue, Hah?" cerocosnya dengan nada mengejek. Dia memberi tanda kepada kedua laki-laki gempal itu. Laki-laki gempal itu berlari ke arahku sambil mengayunkan tinjunya. Kuhindari pukulannya dengan menggeser tubuhku kesamping sambil melompat. Pukulannya mengenai tempat kosong! Saat itu juga tendangan cangkulku yang keras bersarang telak ditengkorak belakang kepalanya. Laki-laki gempal itu langsung pingsan seketika. Temannya yang emosi melihat rekannya tersungkur dalam satu serangan lalu mengeluarkan pisau dari jaketnya. Sabetan pisaunya mengenai kaki dan tanganku. Kulihat luka ditanganku mengucurkan darah segar. "Cuma robek sedikit!" Batinku sambil mengelap lukaku dan menjilat darah dijariku. Aku tersenyum menatap laki-laki yang tertawa karena melihatku terluka itu. Aku menyeringai lalu menerjangnya sambil berputar-putar menghujaninya dengan tendangan putar yang keras. Tendanganku membuatnya lengah saat sikutku menghantam keras rahangnya 2x. Laki-laki itu roboh dengan gigi terlepas. Tino yang panik berlindung di belakang Reno. Kujambak rambutnya dan kuseret dia dari belakang tubuh Reno. "Banci!!! Elu hadapin gue sekarang!!!" Kataku sambil melepaskan jambakkanku di rambutnya. Tino lalu berlutut didepanku.
"Maaf...." sebelum sempat dia berkata apa-apa. Kuberdirikan tubuhnya lalu kuhujani dengan tendangan putarku berkali-kali. Saat aku hendak memberinya tendangan Cangkul kerasku untuk meremukkan bahunya, Tubuhku sudah ditarik dan dipegangi oleh Reno dibantu oleh 2 security Club itu. Saat itu muka Tino sudah babak belur dengan darah mengucur dari hidung dan mulutnya.
"ITU UNTUK ALMARHUM ISTRI GUE, TINO! DASAR BANGSAT LU!"
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!