
2 bulan setelah aku resmi menjadi pengganti Vicenzo, keadaan pun berangsur aman. Mia mengajakku untuk melebarkan sayap ke luar negeri, dengan halus aku menolak ajakkan Mia. Hukum di luar negeri lebih keras daripada hukum di Indonesia dan jumlah penduduk Indonesia lebih besar, jika dibandingkan penduduk gabungan dari 4 negara seperti Filipina, Malaysia, Vietnam dan Singapura. Masih lebih padat indonesia jika jumlah penduduk ke 4 negara itu dijadikan satu. Sehingga dengan pertimbangan itu, Indonesia masih menjadi pasar potensial dibanding negara-negara tetangga tadi.
Tak terasa usia kehamilan Cresa telah memasuki bulan ke 7, badannya makin membuatku gemas. Perutnya yang semakin besar membuatnya lebih cepat lelah. Indra pun membantuku dengan mempekerjakan 2 kerabatnya sebagai ART untuk membantu Cresa. Indra yang mengetahui betul posisiku yang sangat berhati-hati mempekerjakan seseorang yang tidak jelas asal usulnya untuk masuk ke dalam area rumahku.
Dan demi keamanan, kendaraanku yang lama kuberikan kepada anak buahku yang sudah lama membantuku. Indra mendapat Pajero yang biasa dipakai papa. Dion, Jaka, Raka, dan Boni masing-masing mendapatkan mobil Pajero juga. Pak Kadek pun kuberi hadiah mobil yang sama. Karena beliau sudah cukup lama membantuku.
2 Clubku berjalan baik ditangan Tania dan Kakaknya Gito. Hasil Club bisa mengcover seluruh pengeluaran tak terduga dari bisnisku.
Sambil mencoba mobil Jeep Mercedes G 63 yang baru kubeli. Aku dan Indra serta Dion yang mengutitku dengan mobil lain menuju Club ku yang dikelola oleh Gito. Club itu lumayan ramai. Aku dan Indra segera menuju ke tempat kami di lantai 3. Baru saja aku naik, Gito sudah mengejarku ke Roof Top. Ada 2 orang yang ingin bertemu denganku katanya. Kulihat diruang kontrol camera CCTV ternyata yang datang adalah Ivone dan pacarnya. Wajah Gito merah padam menahan emosi saat melihat Ivone datang lagi. Gito yang pernah dikerjai oleh Ivone hingga nyaris bangkrut dan bercerai dengan istrinya, menduga klo Ivone menjadikan aku target selanjutnya.
Aku dan Indra turun ke lantai 2 untuk menemui mereka. Ivone dan Dendy diantar Gito yang bermuka masam, masuk ke ruanganku yang biasa kugunakan saat ada tamu. Gito lalu turun setelah mengantar mereka berdua.
"Apa kabar Ivone dan mas Deny? Maaf gue agak pelupa!" Sapaku mengawali obrolan.
"Nama saya Dendy, bukan Deny, bos!" Jawab pacar Ivone itu sambil tersenyum. Indra tersenyum mendengar Dendy memanggilku bos.
"Baik, Rio. Oiya, Selamat ya atas kehamilan Cresa!" Sambung Ivone. Aku memandangi penampilan Ivone yang berbeda. Tetap cantik, tapi tidak secantik dulu. Aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.
"Ada perlu apa Ivone? Kata Gito kalian kemarin juga kesini mencari gue."
Dendy melirik kearah Indra yang berdiri dibelakangku. Dendy nampak tidak nyaman dengan kehadiran Indra.
"Ngomong aja, dia orang kepercayaan gue!" Dendy lau memperkenalkan bahwa dia adalah orang kepercayaan Mr. Lee dan dia mengajakku untuk bekerja sama untuk pengadaan kokain di Bali dan pulau Jawa. Dendy juga membual dia sudah bekerja dengan kelompok Mia Morclan. Makin lama aku mendengarkan ceritanya aku semakin muak.
"Lalu apa yang elu tawarkan ke gue, Den? Maaf Den, klo elu sudah kerjasama dengan Morclan, gue gak akan berani ngajak elu untuk kerjasama!" Tanyaku memotong cerita bualannya sambil menolak tawaran kerjasamanya. Ivone terlihat tertekan melihat sikapku yang dingin pada pacarnya. Dendy yang bingung menjawab pertanyaanku hanya bisa terdiam.
"Hmmm...Bulan depan gue ada meeting dengan Ketua Morclan dan Perwakilan Mr.Paolo, Coba elu beritahu bosmu untuk bertemu gue di Singapura!"
Mendengar ucapanku itu Dendy terlihat kebingungan.
Indra tersenyum melihat Dendy yang kebingungan.
"Maaf Dendy. Gue benar-benar minta maaf sebelumnya. Apa bisa gue ngomong sama Ivone 4 mata, gue ada sesuatu hal yang perlu gue omongin ke Ivone," ujarku dengan nada sopan pada Dendy.
Dendy tersenyum lebar mendengar permintaanku untuk berbicara 4 mata dengan Ivone.
"No problem, bos. Silakan! Saya permisi dulu. Lebih baik saya nunggu dibawah saja!" ujar Dendy sambil meninggalkan Ivone denganku dan Indra.
Indra pun meninggalkan aku dan lvone di ruangan itu berdua saja. Indra berjaga-jaga di dekat tangga naik.
"Ada apa, Rio? Elu mau ngomong apa?" Ujarnya mencoba tersenyum. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar suara mendesis seperti ular. Kuambil 2 kaleng bir dingin dan kubuka sebotol Jack D.
"Diminum dulu, Von. Kita ngobrol santai ya!" Ujarku sambil menyalakan rokok. Ivone memilih menuang Jack D dan meminumnya. Setelah meminum minumannya Ivone menatap kearahku lagi.
"Dosismu udah berapa banyak, Von?" Tanyaku dengan nada santai. Ivone kaget mendengar pertanyaanku. Dia seperti terlihat marah dan langsung hendak berdiri ingin meninggalkanku.
"Gue cuma mau nolong elu. Elu sodara teman baik gue. Lu disuruh apa sama si cecunguk Dendy itu, Von?"
"Ayo kita ngobrol diatas aja, Von!" Aku lalu naik ke atas Roof top. Ivone tak lama kemudian menyusulku.
"Jujur ke gue! Klo lu jujur, gue akan bantu elu. Elu berapa lama udah pake SS? Dosis lu berapa banyak? Dan elu disuruh deketin gue sama Dendy untuk apa?"
Lalu Ivone menceritakan semuanya. Dan sekarang saat kondisi keuangannya jatuh dia dimanfaatkan oleh pacarnya sendiri. Ivone menangis didepanku setelah menceritakan nasibnya sekarang.
"Elu dapat apa dari si kampret itu? Dapat sabu doank kan? Dapat uang paling juga gak cukup untuk elu beliin kosmetik. Maaf klo cara ngomong gue kasar!" Kataku sambil menatapnya. Ivone kembali menganggukkan kepalanya.
"Terus maksud elu apa, Rio?" balas Ivone dengan mata yang basah.
"Yang bakal gue omongin ini cuma elu, gue dan pengawal gue yang bakal tau!"
"Untuk saat sekarang gue belum butuh bantuan elu, Von. Mungkin lain hari gue akan minta bantuan elu."
"Gue bantu elu, elu bantu gue! Elu pikir dulu sampai besok. Klo elu datang besok ya sukur. Tapi klo lu gak datang besok! Gue gak mau lagi lihat elu nampakin batang hidung lu di club gue!" Ivone mengangguk sambil menyeka wajahnya yang basah.
"Ivone, ini free dari gue, jangan mikir yang macem-macem! Klo lu besok kesini gue pengen liat elu cantik seperti dulu! Sembunyiin duit itu, jangan sampai ketauan pacar kampret lu!" ujarku sambil memberi Ivone 5 bendel uang berwarna merah dari tasku. Ivone lalu kuantar sampai lantai 2 dan kemudian dia turun diantarkan oleh Indra.
...----------------...
"Gimana tadi sayang? Rio mau kerjasama sama gue? Lu rayu gimana dia tadi?" tanya Dendy memberondong Ivone.
"Dia gak ngebahas itu, Den. Gue malu. Rio malah nagih hutang Reno sama dia, dan gue disuruh nyampein itu ke Reno!" Jawab Ivone dan tentu saja itu adalah bohong.
"Fuckkk! Dasar wanita sial!!! Udah turun lu dari mobil gue! Plakk!!!" ujar Dendy memaki lalu menampar wajah Ivone dan menurunkan Ivone dipinggir jalan. Saat mobil Dendy jauh meninggalkannya Ivone tersenyum lebar. Akhirnya dia bisa bebas dari pria durjana itu. Ivone lalu naik taksi menuju mall untuk mempersiapkan dirinya besok saat bertemu Rio.
...----------------...
Gito menyuruh Ivone untuk menunggu di Rooftop. Pelayan mengantar makanan dan minuman untuk Ivone sambil menunggu Rio. Ivone mengawasi mobil yang masuk ke Club itu dari Rooftop. Lalu masuklah mobil Mercedes 2 pintu keluaran terbaru berwarna abu-abu. Pria tampan yang ditunggunya sudah datang bersama pengawalnya. Ivone kembali melihat penampilannya malam itu dilayar ponselnya. Rio tersenyum saat melihat Ivone yang sudah berbeda jauh penampilannya dari kemarin. Ivone memang wanita yang cantik dan seksi, pria mana saja pasti berpikir yang tidak-tidak jika melihat perabot ditubuh Ivone.
"Gimana Dendy?" Ujarku sambil memandangi Ivone yang penampilannya kembali cantik sambil tersenyum.
"Its over now. Udahan Rio, gue kemarin ditampar dan diturunin di pinggir jalan sama dia!"
Lalu Rio tersenyum menjelaskan dan menerangkan apa saja yang akan dia lakukan untuk Ivone jika mau bekerja untuknya.
Rio akan merehabilitasi Ivone melalui dokter kenalannya dari ketergantungan narkoba. Rio akan menyiapkan apartemen mewah dan mobil untuk Ivone. 1 bulan kedepan Ivone diminta Rio merawat dirinya dan semua itu ditanggung oleh Rio. Malam itu pun Ivone kembali diberi uang Rio 100 juta. Itu semua untuk kebutuhan Ivone selama 1 bulan diluar biaya rehabilitasi. Ivone langsung menangis saat menerima uang itu. Baru malam itu Ivone sadar dengan omongan Angela adiknya, klo Rio itu memang pria baik-baik. Total 150 juta sudah digelontorkan Rio padanya. Menatapnya dengan kurang ajar saja Rio tidak melakukannya, apalagi sampai menyentuh atau menggerayangi tubuh Ivone.
"Ivone, tugas elu nanti agak berat. Soal nanti elu mau tidur dengan target lu atau tidak itu terserah elu. Gue gak akan paksa elu untuk itu, gue cuma butuh bukti otentik yang bisa gue gunakan sebagai kartu truf gue. Klo lu gak mau pun gak papa. Gue bisa cari orang lain yang mau. Klo lu nolak kerjaan ini, gue cuma bisa bantu elu sampai 6 bulan kedepan. Jangan ragu untuk nolak,Von. Santai aja!" Kataku lagi. Soal rehab, nanti biar elu diantar Indra. Tapi menurut elu, elu perlu rehab gak?"
"Klo ada obat jalan, mending minum obat jalan aja gue, Rii." jawab Ivone
"OK. Soal obat jalan biar nanti biar dicariin sama Indra ya Von!"