MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Honey Moon ll



Setelah menempuh 20jam perjalanan dari Bali. Pagi itu kami akhirnya tiba di kota Paris yang indah, cuaca kota yang hangat bagi orang eropa tetap terasa dingin untukku dan Cresa. Kami menuju Shangrilla Hotel, Pak Samuel memberiku hadiah menginap disana selama Aku dan istriku berada di Paris. Setelah Check in, kami langsung menuju kamar kami. Saat memasuki kamar Cresa menuju balkon. Cresa berteriak riang memanggilku.


"Beb, menara Eifel keliatan banget dari sini!" pekik Cresa girang. Menara kebanggaan kota Paris itu berdiri megah didepan kami, seakan menara itu adalah properti milik hotel itu. Hotel itu menurut cerita adalah bekas kediaman Pangeran Ronald Bonaparte.


"Malam ini kita istirahat dulu ya, beb! Gue masih jetlag dan capek banget!" Ujar Cresa memelukku.


"Ehhh, kita selfie sebentar yuk, beb!" Ajaknya sambil mengarahkan stick tongsisnya berputar-putar untuk mendapat angkle yang dia mau.


"Cium gue beb!" Katanya lagi.


"Cekrekk! Cekreeek!" Entah berapa kali Cresa mengambil gambar kami dengan pose berbeda dengan background menara Eifel.


"Masuk yuk beb, gue kedinginan nih!"


Angin berhembus agak kencang ke arah balkon kamar kami. Kuhidupkan pemanas untuk menghangatkan kamar. Cresa masih mengambil foto saat berada di kamar. Setelah puas berselfie ria, dia menghampiriku yang berbaring di ranjang. Mataku terpejam, Aku butuh 2-3jam untuk menghilangkan Jetlagku. Cresa melepaskan mantelnya. Lalu berbaring disebelahku. Kamar itu akhirnya terasa hangat setelah pemanas ruangan mulai bekerja. Cresa memejamkan matanya. Dia rupanya kelelahan juga. Kubelai wajahnya yang cantik jelita. Dia tersenyum sambil tetap menutup matanya. Kucium bibir lalu pipinya, aku kembali merebahkan tubuhku sambil memeluknya. Kuselimuti tubuh kami berdua. Kami berdua terlelap.


Siang menjelang sore, Aku dan Cresa berjalan menyusuri Sungai Seine yang berada di depan hotel. Kami duduk dibangku yang tersedia ditepi sungai yang indah itu. Cresa lalu mengabadikan pemandangan disekitar dengan ponselnya. Cresa dan aku berfoto bersama dengan gaya candid. Cresa memposting foto kami ke IG miliknya.


"I cant believe. Now i stand here beside him. Thanks for take me here. Beautiful places with my precious hubby. Love u!" mentionnya di IGnya. Lalu ketika udara kembali dingin, kami mampir untuk makan di restoran hotel. Shang Palace adalah tempat yang disarankan oleh pak Samuel untuk kukunjungi. Kami makan di restoran berbintang Michelin itu. Cresa kagum saat melihat makanan yang datang. Piring-piring itu begitu indah.


"Gak tega mau makannya, beb!" ujarnya sambil mengambil foto makanan itu. Selain indah, rasanya tentu sangat lezat. Cresa dan aku sangat menikmati makanan yang tersaji di meja kami.


"Beb, posting foto makanan tadi trus tag Tania!" Ujarku pada Cresa.


"Tea time @Shang with my hubby" tulis Cresa sambil menandai Tania.


***


Ivone sedang berada Bar bersama Angela, mereka berdua menunggu kedatangan Donna.


"What a lucky girl she is!!!" Teriak Ivone yang sedang melihat IG dan mengintip akun Cresa.


"Dia lagi Honeymoon. Enak banget ya Cresa sekarang, La!" ujar Ivone lagi sambil mengamati foto-foto Cresa di Paris.


"Impian gue banget. Cresa beruntung banget dapat laki-laki seperti Rio," gumam Ivone.


"Wiiih, View balkon kamarnya langsung Eiffel tower. Makannya di Shang pula. Gak ada lawan! Hahahaha!" celetuk Angela.


"Iya, bikin ngiri ihh!" ujar Ivone sambil memandangi wajah Rio yang tampak tampan saat mencium Cresa.


"Hahhaha. jadi pengen ya, mbak? Udah lupain dia, Dia udah jadi suaminya Cresa." Ivone tertawa.


"Gue belum menyerah, La. Tunggu tanggal mainnya!" Batinnya dalam hati sambil menenggak segelas Vodka di mejanya sampai tak tersisa setetes pun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam itu cuaca terasa dingin sekali. Aku dan Cresa yang masih lelah memutuskan untuk beristirahat di kamar. Cresa duduk dipangkuanku dikamar hotel yang hangat sambil memandangi menara Eiffel dari balik jendela kamar. Lampu kamar aku matikan beberapa, sehingga cahaya temaram kamar kami membuat suasana makin romantis. Aku dan Cresa saling merayu sambil duduk berpelukan.


"Mudah-mudahan elu cepet hamil ya, sayang!" Ujarku sambil mengusap-usap perutnya yang ramping dengan lembut. Cresa mengangguk manja. Tangannya mengelus-elus otot perutku dengan lembut sambil mencium bibirku sesekali. Lalu Cresa turun dari pangkuanku dan membuka celana piyamaku. Dia berjongkok diantara kedua kakiku. Dia mencengkram otot panjangku yang sudah menegang. Dan membenamkan kepalanya disitu. Aku mendesah, serasa terbang ke awan. Lidah dan bibir Cresa bergerak liar menelusuri otot panjangku. Cresa melepaskan ciumannya di ototku itu. Lalu dia duduk disebelahku dengan tatapan nakalnya yang seksi. Perlahan dia buka kakinya yang jenjang, kaki mulusnya yang tanpa noda itu terbuka dan tampak gundukan dagingnya dihiasi bulu halus yang sudah dicukur rapi itu perlahan terbuka. Tanganku lalu menjelah kesana. Daging yang berwarna merah muda itu kuelus perlahan. Cresa memejamkan matanya menikmati jemariku yang sedang bermain dengan daging kecil berbentuk lonceng kecil itu. Aku lalu bangkit menelusuri pahanya yang mulus dengan lidahku perlahan. Perlahan tapi pasti, lidahku menuju ke pangkal pahanya. Kuciumi lembut pangkal pahanya sambil lidahku bermain-main disana. Cresa menjepit kepalaku yang sedang terbenam disana. Satu tanganku menekan pangkal pahanya, tanganku yang lain meremas bukit indahnya perlahan. Kurasakan dimulutku pangkal pahanya sudah basah. Kugotong tubuhnya dari sofa menuju ranjang.


"Pelan-pelan ya sayang!" kata Cresa sambil tersenyum menatap mataku. Tubuh Cresa sudah sangat basah tapi terasa sempit. Sempit seperti saat aku pertama kali melakukannya dengan Cresa.


"Kok bisa gini? Sempit banget sih, sayang?" ujarku sambil mendorong tubuhku pelan-pelan saat memasuki dirinya.


"Suka banget bebih!" Kulumat bibirnya agar berhenti berbicara. Kupacu tubuhku merasakan kenikmatan tubuhnya. Aku yang sudah tidak bisa menahan diriku, mendapatkan diriku lemas lebih dulu sambil mengulum bibir Cresa yang lembut. Tak lama denyutan ototnya terasa memijat ototku. Cresa menggigit bibirku pelan. Tangannya menekan pantatku sehingga ototku menghujam lebih dalam kedalam tubuhnya.


"Gue sayang elu banget, sayang!" kataku sambil mencium bibir mungilnya.


"Jagain gue ya, sayang! Jagain gue selamanya!" jawabnya membalas ciumanku dengan lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah sarapan, kami mengunjungi menara Eiffel dan kemudian menjelajahi Arc de Triomphe serta jalan Avenue des Champs-Elysees yang ikonik.


Setelahnya kami menikmati pemandangan kota dari atas kapal saat mengikuti Cruise di Seine River sebelum kembali ke hotel.


Kami bangun pagi-pagi hari ini.


Setelah sarapan, pagi ini kami akan berangkat menuju Amsterdam dengan singgah di Brussels, Belgia.


Kami mengunjungi Atomium Museum, Grand Palace, dan Manekin Pis sebelum melanjutkan perjalanan ke Amsterdam untuk menginap di hotel yang telah kami pesan. Aku dan Cresa langsung ambruk saat tiba dikamar hotel. Tanpa membersihkan diri kami tidur sambil berpelukan.


Pagi ini, kita berencana akan mengunjungi Giethorn, desa kecil yang unik dengan kanal-kanalnya di sekitar Amsterdam. Kami pun menyempatkan untuk sarapan pagi.


Kami menikmati pemandangan kanal yang indah dengan naik perahu kecil, sebelum kami melanjutkan perjalanan ke desa Zaans Schans yang terkenal dengan kincir anginnya.


Kami juga tidak melewatkan kesempatan untuk melihat pembuatan sepatu kayu dan pabrik keju Belanda. Sore itu kami menjelajahi juga Amsterdam City Center sebelum kembali ke hotel.


Paginya setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta cepat ke Zurich dengan singgah di Strasbourg untuk menjelajahi Old City dan La Petite France. Kemudian, kunjungi Colmar, desa cantik dengan gaya bangunan ala Venice yang unik.


Sampai di Zurich, nikmati keseruan berbelanja di kawasan Bahnhofstrasse Cresa memborong banyak barang untuk oleh-oleh, kami lalu mengunjungi The Grossmunster serta The Fraumunsters sebelum menuju ke Uetliberg untuk menikmati pemandangan spektakuler. Di malam yang dingin itu kami menyusuri jalan menuju Hotel. Aku dan Cresa bergandengan tangan sambil berpelukan.


5 hari ini kami benar-benar lelah. Setelah sampai hotel kami berdua langsung tidur. Paginya setelah sarapan dengan kami mengunjungi gunung Titlis yang diliputi salju abadi.


Kami menaikinya menggunakan Cable car di Engelberg untuk mencapai puncaknya.


Setelah puas menikmati keindahan alam, perjalanan dilanjutkan ke kota Lucerne yang terkenal dengan kebersihannya.


Kami melintasi Spreuer Bridge dan Kapelbrucke yang indah sebelum kembali ke kota Zurich.


"Beb, gue gak kuat dinginnya. Dingin banget disini, beb!" ujar Cresa sambil merapatkan tubuhnya yang mengigil ke tubuhku.


"Gunungnya pake rompi salju abadi, beb. Makanya dingin banget!" Candaku sambil memeluk tubuh istriku itu. Padahal kami berdua sudah memakai sweeter dilapisi jaket dan mantel. Tapi hawa dingin tetap saja terasa sampai menusuk tulang. Saat sampai kamar hotel kuisi bath tube dikamar mandi dengan air panas. Cresa meringkuk kedinginan diatas ranjang sambil memegangi segelas kopi panas. Kugendong Cresa dengam paksa ke kamar mandi.


"Gue gak mau mandi, beb. Dingin tauuk!" Jeritnya manja. Tapi aku tetap menggendongnya ke kamar mandi untuk berendam bersamaku. Aku berendam bersama Cresa di bath tube yang besar itu sambil memeluk tubuhnya dari belakang. Akhirnya bibir Cresa tidak pucat lagi, badannya sudah tidak menggigil lagi. Tanganku yang memeluk tubuhnya dipegang dengan erat.


"Beb, Gue mau pulang! Gak kuat dinginnya beb!" pintanya dengan nada manja.


"Iya, besok lusa kita pulang."


"Besok gak usah keluar kemana-mana ya, sayang. Gue lebih baik bercinta 10x daripada kedinginan diluar sana!" Aku tertawa mendengar ucapannya.


"Besok kita dikamar aja, bikin baby!Horeeee!" Cresa tertawa mendengar ucapanku.