
Tak kan pernah habis airmataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
Adakah di sana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu kuputar kan kutunggu dirimu
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi
Lagu lama milik Kerispatih masih sering kuputar saat aku kangen pada Almarhum istriku yang sudah meninggalkanku 2 tahun yang lalu.
Evangelista Daisy Mariska semoga engkau tenang disana, Sayang. Tuhan lebih menyayangimu, Dia tidak ingin melihatmu terlalu lama merasakan sakit.
Setelah hampir 2 tahun berjuang melawan Leukimia. Eva pun harus berpulang ke pangkuanNya.
Eva yang masih tetap ceria di hari-hari terakhirnya, seakan dia tidak merasakan sakit yang dideritanya untuk menguatkan aku yang terus menemaninya.
2 tahun usia pernikahan kami. Aku lewati dengan Eva yang harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain.
3 negara kami singgahi demi kesembuhan istriku tercinta itu.
6 bulan sebelum Eva meninggal, Eva minta pulang ke Indonesia. Mungkin ia sudah memiliki firasat bahwa penyakitnya sudah tidak mungkin lagi untuk disembuhkan.
Eva juga mungkin memikirkanku yang lebih memilih resign dari pekerjaanku untuk mendampinginya dan menjaganya berobat.
Aku memang pada akhirnya tetap resign dari kontrak kerjaku dengan Tania dan Robin.
Aku pun dikenai penalti untuk membayar sejumlah uang yang tidak sedikit jumlahnya.
Tapi aku mengambil resiko itu demi kesembuhan Eva. Eva akhirnya meninggal dengan tenang. Wajahnya tetap cantik dimataku walaupun rambut indahnya telah habis akibat efek kemoterapi yang dijalaninya.
Tak terasa sudah 2 tahun Eva meninggalkanku.
Setiap hari aku selalu teringat padanya, marahnya, judesnya, bahkan umpatan dan makiannya saat sedang marah kepadaku, semakin membuat aku rindu padanya. Saat aku sedang sendiri rasa kangenku pada Eva semakin menjadi-jadi.
Aku sangat bersyukur masih sempat mencurahkan seluruh rasa sayang dan cintaku saat merawat dia.
"Gue kangen elu, Sayang. Kenapa sih elu pergi ke tempat yang gue gak bisa datangi, Sayang!"
Kata-kata itu kadang terdengar gila, tapi kata-kata itulah yang selalu aku ucapkan saat aku benar-benar merasa kangen padanya.
Hari ini mama Wanda berulang tahun, beliau mengundangku untuk datang ke rumahnya.
Semenjak Eva dan aku pulang ke Indonesia.
Aku dan Eva menempati Villa mama Wanda di Bali sampai Eva meninggal. Aku pun menyanggupi undangan Mama Wanda untuk datang.
Begitu aku datang, mama Wanda menyambut kedatanganku dengan pelukan hangat dari seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu anaknya. Ternyata kami menghabiskan waktu hanya berdua hari itu. Mama Wanda hanya ingin ngobrol berdua saja denganku di hari ulang tahunnya.
"Klo soal ikhlas, saya sudah ikhlas, Ma. Tapi saya memang belum mampu untuk melupakan Eva, Ma!" Jawabku sambil memutar gelas ditanganku.
"Eva rupanya memang tidak salah pilih. Syukurlah ternyata Eva memang punya tempat spesial di hati kamu, Rii. Tapi apapun itu, kamu harus move on, Rio! Bergaullah lagi seperti dulu, nikmati dan manfaatkan masa mudamu, Rio!"
Aku hanya tersenyum mendengar nasihat mama sambil terus memandangi foto pernikahanku dan Eva yang dipajang mama didinding.
"Rio, sebenarnya mama mengundangmu kesini karena mama mau ngasih ini ke kamu. Ini semua adalah permintaan terakhir Eva sebelum dia meninggal, yang harus mama sampaikan kepada kamu!" Ujar mama sambil menyodorkan sebuah amplop coklat.
Kubuka amplop coklat itu, saat kulihat isinya yang ternyata adalah 2 sertifikat rumah dan 3 lembar bilyet deposito.
"Maksud mama gimana?" Tanyaku lagi pada mama Wanda.
"Ini semua adalah warisan Eva yang diterima dari papanya, yang sekarang diberikan Eva ke kamu. Semua sertifikat itu juga sudah diatas namakan atas nama kamu, Rio."
"Maaf Ma, saya gak bisa nerima ini semua. Maaf, Ma!" Jawabku menolak pemberian mama Wanda.
Mama Wanda meneteskan airmata mendengar perkataanku barusan. Beliau menyodorkan iPad yang dulu sering dipakai Eva. Beliau memutar Rekaman Video pendek. Airmataku tumpah saat menonton rekaman video itu.
"Honey, Gue berharap elu jangan sampai nonton rekaman video ini. Karena saat lu nonton video ini, itu artinya gue udah gak bersama elu lagi, Sayang. Gue yakin elu gak akan mau nerima pemberian gue ini. Tapi gue mohon, terimalah pemberian terakhir gue ini. Elu udah ngerawat gue sepenuh hati dan ngabisin semua uang yang lu punya untuk ngobatin dan nyembuhin gue. Klo lu memang cinta banget sama gue. Lu harus terima hadiah terakhir gue ini. Gue gak mau elu susah setelah gue meninggal. I LOVE U SO MUCH, MY LOVE!" Mama Wanda memelukku yang sedang menangis terisak sambil menonton rekaman video itu.
"Eva memang mengenal kamu banget, karena itu dia sudah prepare karena dia tau kamu bakal menolak pemberiannya.
Karena itu dia siapin rekaman video ini pada waktu mama nengok kalian di Bali waktu itu," kenang mama sambil mengelus rambutku.
"Rio gak bisa nerima ini, Ma!" Ujarku sambil menyeka wajahku yang basah.
"Mama cuma menyampaikan Wasiat dan amanah terakhir Eva istrimu, tolong kamu terima Rio."
Aku tidak menjawab perkataan mama, kuputar lagi video itu. Kucoba mengingat-ingat lagi kapan video itu Eva buat. Malam itu aku menginap di rumah mama Wanda, banyak hal yang kami bicarakan.
Terutama pembicaraan tentang Eva yang tidak pernah ada habisnya kubahas dengan mama malam itu.
Setelah sarapan aku pamit ke mama Wanda untuk mengunjungi papa dan mama. Aku berjanji kepada beliau akan menginap disitu lagi sebelum pulang ke Bali.
Papa dan Mama terlihat bahagia melihat kedatanganku. Dua adikku masih disekolah siang itu, kami mengobrol diruang tengah.
"Berapa lama kamu disini, nak? Cuma sebentar atau...," pertanyaan mama padaku terhenti saat Papa memegang tangan mama. Papa mengisyaratkan mama untuk meninggalkan kami berdua. Mama pun beranjak ke dapur untuk membuat teh.
"Apa kamu baik-baik saja, Rio?" Tanya papa saat kami hanya berdua saja.
"Ini ATM dan buku tabungan atas nama mama, Uang penjualan rumah kamu semuanya ada disitu, Rio!" Kata papa setelah mengambil sebuah amplop dari laci meja kerjanya diruang tengah.
"Makasih, pa. Semua ini papa simpan saja dulu, nanti akan Rio ambil jika Rio butuh, pa!" Ujarku sambil berdiri dan berjalan kearah dinding yang tergantung foto ukuran besar Aku dan Eva saat menikah kemarin. Tanpa kusadari papa sudah memegang bahuku dan berdiri disampingku.
"Kamu yang sabar, nak. Dia sudah ada ditempat yang terbaik!" Ujar papa sambil menepuk pundakku.
"Iya, pa. Makasih ya, pa!" Jawabku dengan suara bergetar. Lalu mama datang membawa minuman hangat dan camilan. Kami bertiga kembali mengobrol.
"Rio rencananya mau kuliah lagi, pa. Tapi masih belum tau mau ambil kuliah dimana," ujarku ketika papa bertanya apa rencanaku waktu dekat ini.
"Papa dan mama akan selalu dukung kamu, Rio!" Sahut papa dan mama berbarengan.
Setelah aku masuk ke kamarku.
Kubuka lagi amplop coklat dari mama Wanda saat aku sendirian dikamarku. Kukeluarkan semua isi amplop itu. 2 Sertifikat Rumah yang sudah diatas namakan namaku. Rumah peninggalan papanya Eva dan Villa yang kutempati saat merawat Eva ternyata sudah dibalik nama menjadi atas namaku atas persetujuan Eva. Kulihat lagi isi amplop yang lain, ternyata isinya 3 bilyet deposito yang masing-masing nilainya 10 milyar. Aku kembali menangis, apa gunanya semua itu klo sekarang Eva sudah gak ada disamping aku! Malam itu aku menangis semalaman. Aku kembali terkenang kenangan indahku saat bersama Eva.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!